Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
DI KAMPUS
Hari ini cuaca di sekitar Kampus Universitas Hasanuddin cukup sejuk setelah hujan gerimis menyapa pagi tadi.
Tenggara duduk bersama tiga teman sekelasnya di halaman depan fakultas Sejarah – Andi dari Parepare, Siti dari Palopo, dan Rio yang berasal dari Jakarta. Meja kecil mereka dikelilingi oleh buku-buku tebal dan catatan kuliah yang tersebar rapi, namun mereka sedang beristirahat sebentar sebelum kuliah sore dimulai.
" Sudah siap untuk kuliah tentang sejarah perdagangan Nusantara nanti?" ucap Tenggara dengan senyum lebar sambil membawa empat gelas es cendol dari warung dekat kampus.
"Eh Tenggara! Makasih ya sudah beliin es cendol – rasanya enak banget!" teriak Siti dengan mata bersinar. "Kita memang butuh yang dingin-dingin ini setelah menghafal materi tentang kerajaan-kerajaan di Maluku."
Setelah mereka semua menikmati es cendolnya, Andi mulai mengajak pembicaraan dengan nada yang ingin tahu. "Eh, Gara, akhir-akhir ini seringki saya liat senyum-senyum sendiri Ada apa nih? cerita dulu ehh
Tenggara sedikit memerah namun tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Dia tahu bahwa teman-temannya akan segera mengetahuinya jika dia terus menyembunyikan rahasianya. "Haha, iya juga yah akhir-akhir ini seringka senyum memang ada cerita baru ini teman teman
"Aduh, cepat dong ceritainnya!" dorong Rio yang sudah tidak sabar. "Pasti ada hubungan dengan orang spesial kan?"
Tenggara mengangguk perlahan dan mulai menceritakan tentang pertemuannya dengan Khatulistiwa di toko buku Gramedia beberapa waktu yang lalu. Dia menjelaskan bagaimana mereka sama-sama mencari buku tentang sejarah kerajaan Gowa-Tallo, bagaimana dia membantu Khatulistiwa menyelesaikan tugas sekolahnya, hingga kejadian ketika dia menyelamatkannya dari Jesika dan teman-temannya beberapa hari yang lalu.
"Wihh kayak seperti film film ceritanya – bertemu di tempat yang tidak terduga, saling membantu, bahkan jadi pahlawan buatnya."Andy
"Benar tuh!" tambah Siti dengan senyum licik. "Kalau begitu, kamu sudah bilang sama dia belum kalau kamu suka sama dia?"
Tenggara langsung menggigit bibir bawahnya dan sedikit menggeleng. "Belum juga, Siti. Kita baru saja berteman beberapa waktu. Selain itu, dia masih sekolah SMA, jadi saya ingin lebih hati-hati dan tidak ingin membuatnya merasa tertekan."
Rio mengangguk dengan pemahaman. "Pikiran kamu itu benar, Tenggara. Yang penting kamu tetap ada di sisinya sebagai teman yang baik dulu saja."
"Tapii kamu tau ka tidakk?" ucap Andi dengan suara yang lebih rendah. "Kata orang-orang di sini, kalau sudah ada 'bilangan' yang benar, pasti jalannya akan terbuka dengan sendirinya. Nda perlu dipaksakan ".
Tenggara tertawa mendengar kata-kata Andi yang menggunakan bahasa Makassar khas. "Haha, benar juga tuh omonganmu Andi. Kalau memang sudah ditakdirkan, pasti akan terjadi dengan sendirinya."
Siti kemudian memberikan ide yang menarik. "Kalau begitu, mengapa tidak kamu ajak dia datang ke acara pameran budaya yang akan kita gelar minggu depan di kampus? Kita akan menampilkan berbagai jenis tenun songket, kerajinan tangan tradisional, dan bahkan ada makanan khas Sulawesi Selatan. Bisa jadi dia suka dan kamu bisa memperkenalkannya dengan budaya yang kamu cintai ini."
"Ihh bagus juga ideta itu Siti!" ucap Tenggara dengan mata yang bersinar. ". Bisa jadi saya juga mengajaknya ke acara pameran budaya ini agar dia bisa lebih mengenal budaya di sini dengan baik."
"Pastimii dia itu nasukaa!" ucap Andi dengan penuh semangat. "
Bel bunyi menunjukkan bahwa kuliah akan segera dimulai membuat mereka bergegas mengumpulkan buku dan catatan mereka. Sebelum mereka masuk ke kelas, Rio menepuk bahu Tenggara dengan senyum mendukung.
"Semoga semuanya berjalan lancar ya, Mas Tenggara. Kita semua mendukung kamu. Yang penting jujur dan ikuti hati kamu aja."
Tenggara tersenyum dan mengangguk. Dia merasa sangat bersyukur memiliki teman-teman yang baik dan selalu mendukungnya di kampus. Pikirannya sudah mulai membayangkan bagaimana rasanya jika Khatulistiwa bisa datang ke acara pameran budaya dan melihat betapa indahnya budaya yang telah membuatnya jatuh cinta pada Makassar.