"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Labirin Kebohongan dan Hujan di Balik Kaca
Alana melangkah keluar dari mansion itu tanpa menoleh lagi. Hujan turun membasahi bumi dengan kasar, seolah-olah langit sedang ikut mengamuk mendengar pengakuan Bayu di layar tadi. Mochi meringkuk ketakutan di dalam dekapan hoodie Alana, sementara sandal jepit yang baru saja ia pinjam dari pelayan mansion terasa licin menginjak aspal.
"Nyonya! Nyonya Alana, mohon kembali! Di luar sangat berbahaya!" teriak salah satu pengawal yang mencoba mengejarnya.
"Jangan mendekat!" Alana berbalik, matanya menyala dalam kegelapan. "Kasih tahu bos kalian, kalau dia berani nyuruh orang buat nangkep aku lagi, aku bakal teriak penculikan di tengah jalan raya! Biar sekalian saham perusahaannya terjun bebas ke kerak bumi!"
Pengawal itu ragu-ragu. Mereka tahu Nyonya mereka ini bukan tipe wanita yang cuma menggertak. Alana terus berjalan menembus gerbang yang terbuka, menuju jalanan sepi yang hanya diterangi lampu kuning temaram. Ia tidak punya tujuan pasti. Rumahnya hangus, uangnya terbatas, dan pria yang baru saja ia panggil "suami" ternyata menyimpan bangkai di dalam lemari besinya.
Bener-bener ya, hidup aku kayak drakor makjang yang penulisnya lagi mabuk, batin Alana pedih. Air hujan bercampur dengan air matanya yang akhirnya tumpah juga.
Di dalam mansion, Arkan berdiri mematung di depan jendela kaca besar. Ia melihat sosok Alana yang perlahan menghilang ditelan kegelapan dan tirai hujan. Tangannya mengepal sampai kukunya melukai telapak tangannya sendiri.
"Tuan, apakah kami harus menjemputnya paksa?" tanya asisten kepercayaannya yang baru saja tiba.
"Jangan," suara Arkan terdengar serak, seperti ada duri yang mengganjal di tenggorokannya. "Biarkan dia pergi. Beri dia jarak, tapi pastikan dua tim pengawas berpakaian preman mengikutinya dari jarak jauh. Kalau ada satu helai rambutnya yang terluka karena Dion atau Bayu... kalian tahu konsekuensinya."
Arkan berbalik, menatap sobekan foto lama di atas meja. Kecelakaan lima tahun lalu itu adalah mimpi buruk yang ingin ia hapus dari sejarah. Namun, hantu masa lalu tidak pernah benar-benar mati; mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk menyeretmu kembali ke liang lahat.
Alana akhirnya sampai di sebuah minimarket 24 jam yang terang benderang. Ia duduk di kursi plastik depan toko, membelikan Mochi satu kaleng makanan kucing dan untuk dirinya sendiri sebuah mie instan dalam cup.
"Makan yang banyak, Chi. Kayaknya kita bakal jadi gelandangan elit malam ini," gumam Alana sambil menyuap mie instan yang terasa hambar.
"Boleh aku duduk di sini?"
Alana tersentak. Ia hampir saja menyiramkan kuah mie panas ke arah orang yang menyapanya. Ternyata itu adalah seorang wanita tua yang memakai seragam petugas kebersihan minimarket. Wajahnya ramah, dengan kerutan yang menunjukkan dia sudah banyak makan asam garam kehidupan.
"Eh, silakan, Nek," Alana menggeser duduknya.
Wanita itu memperhatikan Alana sejenak. "Neng cantik-cantik kok hujanan begini? Habis berantem sama pacar?"
Alana tertawa hambar. "Pacar sih enggak, Nek. Tapi sama suami yang ternyata drakula berbaju sutra."
Wanita itu tersenyum kecil. "Laki-laki itu emang sering bikin pusing, Neng. Tapi biasanya, kalau kita cuma denger dari satu pihak, kita nggak bakal pernah tahu kebenarannya. Hati itu kayak bawang, harus dikupas lapis demi lapis baru kelihatan intinya. Kadang emang bikin perih mata, tapi itu satu-satunya cara buat tahu isinya busuk atau nggak."
Alana terdiam. Perkataan nenek itu sederhana, tapi menohok tepat di dadanya. Selama ini, dia hanya mendengar tuduhan Bayu. Dia belum mendengar penjelasan Arkan yang utuh. Tapi, bukankah diamnya Arkan tadi adalah sebuah pengakuan?
Tiba-tiba, ponsel di saku Alana bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor rahasia yang sejak awal menerornya. Tapi kali ini isinya berbeda.
"Alana, kalau kamu mau tahu kebenaran soal kecelakaan itu, datanglah ke alamat ini sekarang. Aku punya rekaman asli kotak hitam mobil Lastri yang disembunyikan Arkan selama lima tahun. Datang sendiri, atau rahasia ini akan terkubur selamanya."
Di bawahnya tertera sebuah alamat gudang tua di pelabuhan utara.
Alana menatap layar ponsel itu lama. Logikanya bilang ini jebakan batman. Sisi "julid"-nya bilang ini adalah cara tercepat untuk mati konyol. Tapi rasa penasarannya jauh lebih besar. Ia harus tahu, apakah ia sedang jatuh cinta pada seorang pria malang atau seorang pembunuh berdarah dingin.
"Nek, makasih ya mie ayam... eh, pencerahannya," Alana berdiri, memberikan sisa makanannya pada Mochi yang ia titipkan sebentar pada nenek itu. "Saya titip kucing saya bentar ya, Nek. Saya ada urusan bisnis bentar."
Alana mencegat taksi yang kebetulan lewat. "Ke Pelabuhan Utara, Pak. Cepat!"
Suasana pelabuhan sangat mencekam. Bunyi ombak yang menghantam dermaga terdengar seperti detak jantung yang tak beraturan. Alana turun dari taksi di depan sebuah gudang tua yang lampunya berkedip-kedip.
"Halo? Ada orang di sini?!" teriak Alana. Suaranya bergema di antara kontainer-kontainer besi.
"Kamu berani juga ya, Lana," suara itu muncul dari kegelapan.
Bukan Bayu. Bukan Dion. Melainkan Tante Sofia.
Wanita paruh baya itu keluar dari balik tumpukan kayu, masih terlihat anggun namun matanya memancarkan kegilaan. Di tangannya, ia memegang sebuah flashdisk kecil.
"Tante Sofia? Jadi Tante yang kirim semua pesan itu?!" Alana terperanjat.
"Siapa lagi? Arkan pikir dia bisa menyingkirkanku begitu saja? Dia pikir dengan menikahimu, dia bisa mengamankan segalanya?" Sofia tertawa sinis. "Alana, Arkan memang memotong kabel rem itu. Tapi bukan karena dia mau membunuh Lastri. Dia ingin membunuh ayahnya sendiri yang saat itu sedang berada di mobil yang sama dengan Lastri! Dia ingin warisan itu jatuh ke tangannya lebih cepat!"
Alana menggeleng kuat. "Nggak mungkin! Mas Arkan nggak mungkin sejahat itu!"
"Oh ya? Lihat sendiri rekamannya!" Sofia melemparkan flashdisk itu ke arah Alana.
Baru saja Alana hendak mengambilnya, sebuah tembakan peringatan terdengar. Duar!
Peluru itu menyerempet lantai semen tepat di depan kaki Alana. Dari arah pintu masuk, Arkan muncul dengan napas terengah-engah. Jasnya sudah hilang, kemeja putihnya basah kuyup dan kotor. Di tangannya, ia memegang senjata api.
"Lana, menjauh dari dia!" teriak Arkan.
"Mas Arkan! Apa bener Mas yang potong kabel rem itu?!" tanya Alana dengan suara melengking, air matanya kembali mengalir deras.
Arkan berhenti melangkah. Wajahnya tampak hancur dalam kesedihan. "Lana, saya... saya memang berada di garasi malam itu. Saya memegang tang yang digunakan untuk memotong kabel itu. Tapi itu bukan untuk membunuh Ayah atau Lastri."
"Bohong! Dia bohong, Alana!" Sofia berteriak provokatif.
"Dengarkan saya dulu!" Arkan berteriak balik. "Malam itu, saya tahu Ayah ingin membawa Lastri pergi jauh untuk selamanya agar rahasia mereka tidak terbongkar. Ayah yang menyuruh orang untuk merusak rem mobil itu supaya mereka 'menghilang' bersama dalam sebuah kecelakaan romantis. Saya mencoba memperbaikinya, Lana! Saya mencoba menyambung kembali kabel yang sudah dipotong orang suruhan Ayah, tapi saya terlambat! Mereka sudah berangkat!"
Alana terpaku. Plot twist di atas plot twist.
"Dan Sofia tahu hal itu!" Arkan menunjuk Sofia dengan senjatanya. "Sofia yang menyuruh orang suruhan Ayah itu supaya dia bisa jadi janda kaya tanpa ada selingkuhan yang mengganggu! Dia memutarbalikkan fakta dan mengancam akan menjebloskan saya ke penjara kalau saya tidak diam selama lima tahun ini!"
Sofia tertawa histeris. "Hahaha! Tapi siapa yang akan percaya padamu, Arkan? Bukti di flashdisk itu sudah saya edit sedemikian rupa sehingga hanya memperlihatkan kamu memegang tang di bawah mobil itu! Dunia akan melihatmu sebagai pembunuh!"
Tiba-tiba, Alana tertawa. Tertawa kecil yang perlahan menjadi tawa yang sangat keras, membuat Arkan dan Sofia bingung.
"Tante Sofia... Tante Sofia," Alana menyeka air matanya, sisi "julid"-nya kembali bangkit di tengah badai. "Tante beneran ngeremehin aku ya? Tante pikir aku cuma gadis yang gampang ditipu pakai video editan?"
Alana mengangkat ponselnya yang ternyata sejak tadi sedang melakukan Live Streaming di akun TikTok "Ruang Cerita" miliknya yang memiliki ratusan ribu pengikut—berkat hobinya membagikan gosip selama ini.
"Halo, para followers tersayang! Denger sendiri kan pengakuan Tante Sofia barusan? Ratusan ribu orang lagi nonton Tante sekarang. Tante bilang videonya diedit? Tante bilang Mas Arkan dijebak? Wah, Tante... kayanya Tante harus siap-siap ganti baju dari sutra ke baju oranye deh. Soalnya bukti pengakuan Tante ini... live dan nggak bisa diedit!"
Wajah Sofia mendadak berubah menjadi sangat pucat, seputih kapas. Ia melihat ke arah layar ponsel Alana yang dipenuhi komentar: "WAH, TANTE JAHAT BANGET!", "TANGKAP TANTE SOFIA!", "GILA, PLOT TWISTNYA KEREN!"
Arkan menatap Alana dengan tatapan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Antara takjub, bingung, dan ingin tertawa di saat yang sama.
"Jadi... dari tadi kamu Live Streaming?" tanya Arkan bodoh.
"Ya iyalah, Mas! Zaman sekarang kalau mau lawan penjahat kelas kakap ya pakainya kekuatan netizen! Lebih ampuh daripada pistol karatan Mas itu!" sahut Alana sambil menjulurkan lidah.
Polisi yang memang sudah dikontak Arkan sebelumnya akhirnya masuk dan membekuk Sofia. Namun, saat Sofia dibawa pergi, ia sempat membisikkan sesuatu yang membuat senyum Alana menghilang. "Kamu pikir kamu menang, Alana? Kamu lupa Bayu masih di luar sana. Dan dia tidak punya akun TikTok untuk dikalahkan. Dia punya bom yang siap meledak di bawah mobil yang kamu tumpangi tadi!"
Alana menoleh ke arah taksi yang masih menunggunya di depan gudang. Detik itu juga, sebuah ledakan besar menghancurkan taksi tersebut, melemparkan Alana dan Arkan ke lantai gudang yang dingin.