NovelToon NovelToon
Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Pengasuh Tiga Kembar Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Karena Taruhan / Bad Boy / Cinta pada Pandangan Pertama / Harem / Enemy to Lovers / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26.

"Sementara ini, aku harus menyimpan rahasia kematian ayah dari kedua adikku. Aku tidak ingin beban ini menghancurkan kebahagiaan mereka," gumam Nolan sambil duduk sendirian di balkon kamarnya yang gelap.

Hatinya merasa sangat sedih dan belum siap menghadapi kenyataan bahwa sang ayah telah tiada. Meskipun awalnya ragu dengan berita yang disampaikan oleh Mirna, ibu kandungnya, kini setelah melihat foto dan video berita internasional sebagai bukti yang di tunjukkan oleh Mirna, akhirnya Nolan harus menerima kenyataan pahit ini.

"Uang sebanyak apapun yang ditinggalkan ayah pasti akan habis jika aku tidak bekerja. Aku harus menerima tawaran untuk mengelola bisnis ayah, meskipun aku masih merasa marah dan benci pada Mirna, ibu yang telah meninggalkanku selama bertahun-tahun. Tapi ucapan mamah ada benarnya, demi adik-adikku yang nantinya membutuhkan biaya hidup, aku harus menahan perasaanku," gumam Nolan, berusaha menguatkan hatinya di tengah kepedihan yang semakin menjadi-jadi.

"Aku harus tegar demi mereka, aku harus melangkah maju dan menjaga kedua adikku, itulah keinginan terakhir ayah." Pikir Nolan, dengan harapan bahwa kekuatan itu akan datang untuk menenangkan hatinya yang hancur.

Nolan, yang sebelumnya kuat menahan air mata, kini tak mampu lagi menutupi kesedihan yang membuncah. Ia pun melepaskan isakan yang sebelumnya sempat terpendam, seiring terungkapnya fakta bahwa ayah yang selama ini menjadi pondasi bagi kehidupannya kini telah tiada.

Bayang bayang dan kenangan perihal ayahnya sewaktu kecil hingga dewasa terus menerus berputar putar di otaknya.

"Ayah, mengapa kau pergi?" bisik Nolan lemah, kehilangan pegangan dan arah.

"Aku tahu selama ini aku tak sempurna sebagai anakmu. Aku seringkali membuatmu kecewa dan malu. Aku sering bolos sekolah, bahkan telah membuat kedua adikku, Natan dan Noah, meniru kelakuan buruk ku."

Nolan meratapi kesalahannya dan menyesali setiap momen yang tak bisa diulang.

"Namun, ayah... aku berjanji mulai hari ini aku akan berubah, menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab. Aku akan menjaga dan membimbing Natan dan Noah ke arah yang lebih baik."

Nolan berbicara dengan sepenuh hati, berharap ayahnya mendengar janji itu dari kejauhan.

"Semoga Tuhan menempatkan mu di tempat terbaik-Nya, ayah. Aku mohon maafkan jika selama ini aku tak bisa menjadi anak yang kau harapkan." Ucap Nolan di sela tangisannya, mencoba menguatkan hati untuk menghadapi kenyataan yang terasa begitu pahit.

**

Di dalam mobil, tanpa sadar mata Natan terus tertuju pada Qiara. Ia tak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap kecantikan yang terpancar dari wajah gadis itu.

Bahkan saking fokusnya ke dua bola mata Natan saat menatap Qiara, ia sampai tidak melihat ke arah jalan.

"Natan ... Awas," teriak Qiara dengan nada panik.

Natan tersadar dari lamunannya dan segera fokus mengemudi. Ia refleks memutar setir mobilnya ke arah kanan, beruntung tak ada kecelakaan yang terjadi.

"Makanya kalau nyetir itu lihat ke arah depan. Bukan malah melirik sana-sini. Dasar mesum," tegur Qiara marah.

"Astaga Qiara, lo salah paham. Dari tadi gue cuma ngeliatin wajah lo, doang" sahut Natan mencoba menjelaskan.

"Alah, bohong! Bukannya kata lo gue jelek dan otak udang?" balas Qiara dengan kesal.

Di dalam hati Natan, ia menyesal telah salah mengatakan hal itu. Meskipun dalam kenyataannya, Natan terpesona dengan kecantikan Qiara yang sebenarnya dan sulit untuk mengalihkan pandangannya darinya.

"Hem." Hembusan nafas kasar terlihat keluar dari bibir Natan.

Natan nampak bingung dengan apa yang menimpa dirinya sendiri.

"Kenapa gue jadi begini? Kenapa gue malah yang ngeyel untuk pergi ke party sama Qiara?" tanya Natan dalam hatinya. Dia mencoba mengerti perasaan yang muncul di dalam dirinya.

"Tidak... ini tidak mungkin terjadi, bukan? Gak mungkin gue jatuh cinta sama Qiara, kan?" dia terus berdebat dalam hatinya.

Natan teringat, siang tadi, ia sebenarnya sudah bertekad mengajak Tania untuk pergi ke party bersama agar benar-benar bisa untuk melupakan bayang bayang Qiara. Namun, yang sekarang terjadi, benar-benar kebalikannya. Ia merasa kehilangan kontrol, seperti ada sesuatu yang menariknya pada gadis itu.

Walaupun sekarang ini matanya ingin terus melihat ke arah Qiara, Natan berusaha keras untuk mengendalikannya.

"Gak... Pokoknya gue harus fokus menyetir. Gue gak boleh terus melihat ke arah Qiara," tekadnya.

Sementara itu, Qiara sendiri hanya diam seraya melihat ke arah jendela di mobil Natan. Dia malah terus memikirkan Nolan yang sedang sakit dan sendirian di rumah.

"Kenapa gue malah kepikiran Nolan terus? Apakah karena peristiwa buruk malam itu, atau... Astaga, apa gue jatuh cinta sama Nolan?" gumam Qiara, terkejut dengan pemikirannya sendiri.

"Tapi ... Nolan sudah mempunyai Kinara. Gak ... Gak ... Qiara, walaupun Nolan berjanji akan tanggung jawab sama lo. Lo gak boleh jatuh cinta dan terlalu berharap. Ingat ada Kinara okey," gumam Qiara dalam hatinya, ia nampak mengubah keinginan nya.

Waktu pun terus berlalu, di barengi dengan mobil Natan yang terus melaju dengan kecepatan sedang.

Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Natan berhenti di depan parkiran basement hotel mewah.

"Ya ampun!" Qiara tak bisa menahan kekagumannya, matanya melotot dan bibirnya terbuka lebar saat melihat gedung mewah tersebut.

Tanpa ragu, Natan segera menepuk telapak tangannya di atas bibir Qiara yang terbuka.

"Eh, kenapa lo mangap gitu sih, kayak ikan? Nanti lalat masuk gimana?" tegur Natan dengan ekspresi tidak suka.

"Aduh, jangan pegang pegang bibir gue dong!" protes Qiara, merasa terganggu oleh ulah Natan yang mengagetkannya.

"Gue lagi asik mengagumi keindahan ciptaan Tuhan nih, jadi malah mood gue rusak gara-gara lo!" tambah Qiara sambil menatap tajam ke arah Natan.

"Bodoh! Itu bukan ciptaan Tuhan, tapi ciptaan seorang arsitek, astaga Qiara!" sahut Natan sembari menjitak jidat Qiara.

"Lama lama gue bener bener gak tahan dengan kebodohan yang lo miliki!"

Natan merasa gemas melihat tingkah laku Qiara yang terkesan bodoh.

"Natan...!" pekik Qiara dengan marah, saat ia hendak membalas perbuatan Natan, tiba-tiba saja mobil bergoyang dan membuat Qiara menjadi terkejut.

Sontak saja amarah Qiara langsung sirna begitu saja. Berganti menjadi rasa takut yang tak tertahankan.

"Natan, apa yang terjadi? Gue takut," ucap Qiara dengan mata membulat sempurna, tangan menggenggam erat pergelangan tangan Natan.

Di sudut hati Natan, sentuhan tangan Qiara tadi seakan memberinya perasaan yang sulit diungkapkan. Ada suatu energi yang dirasakan di sanubari Natan saat itu, membuat jantungnya terkesiap sejenak.

Segera menyadari efek sentuhan tersebut, Natan buru-buru menjauhkan tangan Qiara dari lengannya dengan kasar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!