NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 05: Teror Awal Asrama [4]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Kale menahan napas, tangannya gemetar hebat saat menjauh dari lemari itu. Ia tidak berani bersuara, bahkan untuk sekadar memanggil nama Zack yang kamarnya paling dekat. Dengan langkah yang dipaksa setenang mungkin meski jantungnya berdegup seperti genderang perang, Kale memutar knop pintu kamarnya dan menyelinap keluar ke lorong asrama yang remang-remang.

Lorong itu terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu pijar di langit-langit berkedip tidak stabil, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang seolah merayap di dinding.

Kale setengah berlari menuju kamar Hamu. Ia tahu Hamu adalah orang yang paling logis di asrama ini, dan mungkin Hamu tahu sesuatu tentang "sepupu nyentrik" Rakes yang membawa hawa aneh itu.

Braakk!

Kale tidak mengetuk, ia langsung menerjang masuk ke kamar Hamu.

Hamu yang sedang duduk di meja belajar, masih berkutat dengan tumpukan buku dan laptop yang menyala loncat dari kursinya karena kaget.

"Bangs— Mas Kale! Lo mau bikin gua mati serangan jantung?!"

Kale langsung mengunci pintu kamar Hamu dari dalam dan bersandar di sana dengan napas memburu. "Ham... le-lemari gua... ada yang nggak beres di lemari gua."

Hamu mengernyit, meletakkan kacamatanya. Ia melihat wajah Kale yang pucat pasi, benar-benar seperti orang yang baru saja melihat ajal.

"Pelan-pelan, Mas Kal. Lo halusinasi gara-gara kebanyakan makan martabak 12 topping itu? Kandungan gulanya emang bahaya buat otak."

"Bukan, Ham! Ini serius!" Kale menunjukkan jam pasir mini yang tadi ia temukan di sakunya. "Ini muncul tiba-tiba di saku gua. Pasirnya jalan ke atas, dan ada suara Rakes di dalem lemari gua, tapi... suaranya mati. Kayak rekaman rusak."

Hamu terdiam saat melihat jam pasir itu.

Sebagai orang yang sering mencari tahu kabar tersembunyi, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres sejak Rakes pulang membawa mobil mewah itu. Ia mendekat, hendak mengambil jam pasir itu dari tangan Kale.

Namun, tepat saat jari Hamu akan menyentuh kaca jam pasir itu, laptop Hamu yang tadinya menampilkan pasal-pasal hukum tiba-tiba glitch. Layarnya berubah menjadi hitam, lalu muncul barisan teks berwarna kuning emas yang terus berjalan cepat, menyerupai kode-kode kuno.

Di bawah layar laptop, muncul sebuah notifikasi pesan masuk dari pengirim anonim:

"Kembalikan apa yang dipinjam, atau waktu asrama ini akan berhenti di pukul 03:33."

Hamu melirik jam di sudut kanan bawah laptopnya.

03:30.

"Tiga menit lagi, Mas," bisik Hamu, suaranya kini ikut merendah. "Kita harus bangunin Bang Zack sama si brengsek Rakes sekarang juga."

Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki yang sangat berat dari luar lorong. Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar Hamu.

Tok... Tok... Tok...

"Hamu... Kale... kalian di dalam? mau nitip martabak lagi..."

Itu suara Rakes. Tapi kali ini, suara itu terdengar seperti berlapis-lapis, seolah ada sepuluh Rakes yang berbicara bersamaan di balik pintu.

Ketukan itu tidak lagi pelan.

Duk! Duk! Duk!

Suaranya semakin keras, seolah-olah pintu kayu kamar Hamu akan jebol dalam hitungan detik.

"Hamu... Kale... buka..." suara Rakes di balik pintu kini terdengar lebih parau, diselingi suara statis seperti radio yang kehilangan sinyal.

Hamu menahan tangan Kale yang sudah gemetar hebat. Ia memberi isyarat agar Kale tetap diam. Hamu meraih sebuah penggaris besi panjang di mejanya, hanya itu senjata terdekat yang ia punya, sementara matanya terus melirik ke arah jam di laptop.

03:31.

"Rak? Itu lo?" Hamu mencoba memanggil dengan suara setenang mungkin, meski keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.

Ketukan itu mendadak berhenti. Keheningan yang mencekam menyelimuti lorong selama beberapa detik, sebelum akhirnya suara Rakes kembali terdengar, kali ini tepat di depan lubang kunci.

"Gua cuma mau nanya... martabaknya kurang manis ya?"

Tiba-tiba, gagang pintu mulai bergerak-gerak liar.

Sesuatu dari luar mencoba memutar kunci dengan paksa. Cahaya kuning keemasan, persis seperti aliran listrik yang ada di tangan Rakes saat turun dari mobil tadi, mulai merembes masuk lewat celah bawah pintu. Tapi warna kuning itu kini bercampur dengan gumpalan asap hitam yang pekat.

"Ham, buka pintunya!" Kale berteriak tertahan, rasa takutnya sudah mencapai ubun-ubun. "Atau kita lewat jendela!"

Hamu melihat ke jendela, tapi pemandangan di luar bukan lagi halaman belakang asrama. Di luar jendela hanya ada kegelapan total dengan jam pasir raksasa yang melayang di angkasa.

Mereka benar-benar terisolasi.

Brakkk!

Pintu itu bergetar hebat. Kali ini bukan hanya ketukan, tapi hantaman keras. Rakes, atau sosok yang menyerupainya mulai membenturkan tubuhnya ke pintu.

"KALE! HAMU! KELUAR!"

Kali ini suara itu berbeda. Suaranya terdengar jauh lebih nyata dan datang dari arah atas plafon, bukan dari balik pintu. Itu suara Zack.

Tepat saat itu, plafon kamar Hamu jebol. Zack melompat turun dengan wajah beringas, memegang sebuah botol berisi cairan aneh.

"Jangan buka pintunya! Itu bukan Rakes! Itu Echo dari dimensi yang dia tabrak tadi!"

03:32.

Tinggal satu menit lagi. Pintu kamar Hamu mulai retak, dan sosok di balik pintu itu mulai menampakkan jemari yang panjang dengan kuku berwarna hitam legam yang merobek kayu pintu.

Pintu kamar Hamu nyaris hancur saat sebuah hantaman dari luar membuat kayunya terbelah. Di sela-sela retakan itu, muncul mata yang memancarkan cahaya redup, tidak memiliki pupil, hanya kegelapan kosong yang dingin.

Namun, tepat sebelum sosok itu berhasil mendobrak masuk, sebuah kilatan cahaya kuning keemasan yang jauh lebih terang, dan jauh lebih murni, menyambar dari ujung lorong.

"WOI, KELUAR DARI PINTU TEMEN GUA, SETAN!"

Suara itu lantang, penuh emosi, dan sangat berisik sekali. Itu suara Rakes yang asli, soalnya kita bisa tau kalau Rakes itu bakalan berbahasa budi pekerti yang santun.

BUMMM!

Sebuah ledakan energi menghantam lorong. Kale, Hamu, dan Zack yang berada di dalam kamar merasakan getaran hebat hingga mereka terlempar ke arah kasur.

Saat asap tipis mulai menghilang, mereka melihat Rakes berdiri di ambang pintu yang sudah setengah hancur.

Rakes yang ini terlihat berantakan. Ia hanya memakai kaos dalam dan celana pendek, rambutnya acak-adakan, tapi tangannya terbungkus aliran listrik emas yang berderak kencang. Di belakangnya, Gaveen menyusul sambil membawa sebuah kain hitam yang terus bergerak-gerak.

"Rak! Lo yang asli?!" teriak Hamu memastikan, tangannya masih memegang penggaris besi.

"Ya iyalah, emang ada orang ganteng selain gua di asrama ini?!" jawab Rakes sambil terengah-engah. Ia menoleh ke arah "sosok" yang tadi menggedor pintu.

Sosok itu kini menyusut, berubah menjadi gumpalan bayangan hitam yang menggeliat di lantai, mencoba melarikan diri lewat celah ubin.

"Tangkep, Veen!" perintah Rakes.

Gaveen dengan cekatan melempar kain hitam itu ke atas bayangan tersebut. Begitu bayangan itu tertutup kain, suasan mencekam di kamar Hamu mendadak lenyap. Suhu udara kembali normal, dan jam pasir mini di saku Kale pecah menjadi debu.

03:33.

Angka di laptop Hamu berhenti berkedip dan kembali ke tampilan desktop biasa.

Rakes menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu yang rusak, keringat dingin membasahi wajahnya.

"Sorry, Bang Zack, Ham, Mas Kal... Gua ngga tau kalau ada 'penumpang gelap' yang nyangkut di ban mobil si Gaveen."

Gaveen mendengus, berusaha melipat kain hitam yang kini terasa berat. "Gua udah bilang, kalau lewat jalur Interdimensional, mobilnya harus dicuci dulu pake air suci. Lo malah buru-buru pengen nganter martabak!"

Zack berjalan mendekati Rakes, menatap adiknya itu dengan tatapan tajam yang membuat Rakes ciut.

"Jelasin ke kita, Rak. Sekarang juga. Apa yang kalian lakuin sebenernya?"

Rakes terdiam, ia melirik ke arah pipinya yang luka, luka emas itu kini berpendar lebih terang. "Gua... gua ngga sengaja nemu sesuatu yang seharusnya ngga ada di zaman kita, Bang. Dan kayaknya, benda itu pengen balik ke asrama ini bareng gua."

Rakes menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang terdengar sangat berat seolah ia baru saja memikul beban seluruh dunia di pundaknya. Ia melirik Zack yang masih menatapnya menuntut, lalu beralih pada Kale yang masih pucat, dan Hamu yang sudah siap dengan catatan di kepalanya.

"Oke, oke. Duduk dulu. Ini bakal jadi penjelasan yang panjang, dan gua ngga mau ada yang motong sampai gua selesai, karena kalau gua berhenti di tengah, gua takut nggak bakal punya keberanian buat lanjutin," ujar Rakes sambil menyeret kursi belajar Hamu yang tersisa.

"Disini dinilai dari kepercayaan, gua tau lo semua kagak bakalan percaya apa yang gua omongin dah karena ini udah diluar naluri manusia bener-bener kagak masuk akal. Pokoknya, apa yang gua bilang ini sepenuhnya ini kehidupan gua sendiri. "

Gaveen menutup pintu kamar yang sudah hancur itu sebisa mungkin dengan lemari kecil, menciptakan privasi semu di antara mereka berlima. Ruangan itu mendadak terasa sempit, penuh dengan aroma martabak yang bercampur dengan bau sisa energi listrik Rakes.

"Seminggu yang lalu, pas gua menghilang," Rakes memulai, "Gua ngga cuma sekadar bolos atau main ke tempat Gaveen. Gua dapet panggilan. Bukan telepon, tapi semacam getaran di tulang belakang gua yang cuma dirasain sama keturunan darah Polarios kalau ada retakan di struktur waktu."

Rakes menjelaskan bahwa keluarga Polarios sebenarnya adalah penjaga gerbang yang menghubungkan masa kini, masa depan, dan masa lalu. Sebuah dimensi antara yang memastikan waktu berjalan linear. Namun, ada sebuah faksi yang disebut "Tanah Darah"—manusia-manusia dari masa tidak diketahui yang mencoba kembali ke masa lalu untuk mengubah satu kejadian spesifik contohnya peristiwa Bom Gereja kemarin.

"Zack, lo bantu di sana, kan? Lo ngerasa ngga kalau ada yang aneh? Bom itu harusnya ngga meledak sekuat itu. Harusnya korbannya ngga sebanyak itu. Tapi ada yang memanipulasi ledakannya," Rakes menatap Zack dalam-dalam.

Rakes bercerita bahwa ia dan Gaveen dipaksa untuk masuk ke dalam celah waktu di bawah koordinasi keluarga besar mereka. Di sana, di sebuah tempat yang tidak memiliki siang dan malam, mereka bertarung melawan entitas yang tidak memiliki bentuk fisik, yang disebut Echo. Echo adalah sisa-sisa kesadaran dari orang-orang yang waktunya terhapus.

Perjalanan di Kecepatan Cahaya dan Pagani yang "Dimodifikasi"

Gaveen menyela sebentar, menjelaskan tentang mobil Pagani tersebut. Mobil itu bukan sekadar kendaraan mewah. Itu adalah artefak mekanis yang mesinnya telah diganti dengan jantung Chronos. Itulah alasan mengapa Rakes bisa menempuh jarak ribuan kilometer dan menembus batas dimensi hanya dalam hitungan hari.

"Waktu gua di sana, gua ketemu sama sosok yang pake topeng perak yang tadi kalian liat bayangannya," lanjut Rakes. "Dia itu bukan orang asing. Dia adalah... kemungkinan versi masa depan dari salah satu penghuni asrama ini kalau kita gagal hari ini."

Kale menelan ludah. "Maksud lo, salah satu dari kita bakal jadi monster itu?"

Rakes mengangguk pelan. "Itu alasan kenapa gua telat balik. Gua harus mastiin garis waktu itu terputus. gua harus berantem sama 'takdir' gua sendiri di sana. Pipi gua ini? Ini bukan luka kena sabetan pedang biasa. Ini luka Temporal Burn. Kulit gua terbakar karena gua nyentuh diri gua sendiri dari garis waktu yang berbeda."

Mengapa Martabak?

"Terus kenapa lo pake nanya nitip apa dan bawa martabak segala kalau situasinya segenting itu?" tanya Hamu, masih merasa ada yang tidak logis.

Rakes tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sedih. "Karena di dimensi itu, hal yang paling bikin kita tetep waras adalah ingatan tentang hal-hal sepele. Gua butuh jangkar. Pesan Saka tentang martabak itu adalah satu-satunya hal yang bikin gua inget kalau gua punya 'rumah' buat pulang. Kalau gua nggak mikirin martabak itu, mungkin gua udah tersesat di sana dan nggak bakal balik lagi. Martabak itu jaminan kalau gua masih manusia, bukan cuma sekadar energi listrik yang terbang di ruang hampa."

Rakes menjelaskan bahwa setiap topping di martabak itu sebenarnya adalah simbol dari frekuensi koordinat asrama mereka. Keju, cokelat, kacang... itu semua adalah kode yang dia gunakan untuk menyelaraskan mesin mobil Gaveen agar bisa mendarat tepat di halaman belakang asrama, bukan di tengah samudera atau di zaman prasejarah.

Rakes kemudian menjelaskan tentang teror yang dialami Kale. Saat mobil Pagani itu menabrak ruang dan waktu untuk kembali ke sini, ada sebuah entitas yang menyelip di bawah bayangan mobil. Entitas itu adalah Echo yang lapar akan waktu hidup.

"Jam pasir yang lo temuin di saku lo Mas Kal... itu adalah umpan. Dia mau nuker waktu hidup lo buat dia bisa bermanifestasi sepenuhnya di dunia ini. Kalau tadi pukul 03:33 lo masih di dalem kamar sendirian dan jam itu ngga pecah, lo bakal 'terhapus' dari ingatan semua orang. Kita nggak bakal inget kalau pernah ada orang namanya Kale di asrama ini. Kursi lo di meja makan bakal kosong, tapi kita bakal ngerasa itu hal yang biasa."

Mendengar itu, Kale gemetar hebat. Ia baru menyadari betapa dekatnya ia dengan kematian.

Rakes memberi kode pada Gaveen. Gaveen perlahan membuka kain hitam yang tadi ia gunakan untuk menangkap bayangan. Di dalamnya bukan lagi bayangan hitam, melainkan sebuah pecahan kristal yang berdenyut dengan cahaya biru tua.

"Ini adalah darah untuk mereka yang terpilih," bisik Rakes. "Ini yang mereka incer. Benda ini yang bikin peristiwa bom kemarin terjadi. Seseorang sengaja ngelempar benda ini ke dunia kita buat ngetes seberapa kuat pertahanan dimensi kita. Dan parahnya... benda ini nggak sengaja nempel di jaket gua pas gua mau balik."

Rakes menjelaskan bahwa selama benda itu ada di asrama, mereka semua dalam bahaya. Namun, mereka tidak bisa membuangnya begitu saja. Jika dibuang tanpa prosedur, benda itu bisa meledak dan menghapus seluruh kota dari peta.

"Jadi, Bang Zack, Hamu, Saka, Kale... gua balik bukan cuma bawa makanan. Gua bawa tanggung jawab yang harus kita pikul bareng-bareng. Asrama ini bukan lagi sekadar tempat tinggal mahasiswa. Mulai detik ini, tempat ini adalah benteng terakhir buat jagain benda ini supaya nggak jatuh ke tangan yang salah."

Konsekuensi Bagi Rakes

Rakes terdiam sejenak, menatap tangannya yang masih memercikkan bunga api kecil. "Ada harga yang harus gua bayar. Dengan gua narik kalian ke urusan ini, hidup normal kalian berakhir semalam. Kita bakal sering kedatengan tamu kayak tadi. Kita bakal sering dapet teror yang nggak masuk akal."

Ia menatap Zack, "Bang, gua butuh latihan lo. gua butuh insting lo buat jagain gerbang."

Ia menatap Hamu, "Ham, gua butuh otak lo buat nerjemahin kode-kode yang bakal muncul di laptop lo."

Ia menatap Kale, "Mas Kale, sori... tapi keberanian lo tadi bukti kalau lo lebih kuat dari yang lo kira."

Suasana kamar menjadi sangat hening. Penjelasan panjang Rakes seolah menyedot oksigen di ruangan itu. Mereka semua menyadari bahwa martabak yang mereka makan beberapa menit lalu mungkin adalah makanan "normal" terakhir yang bisa mereka nikmati dengan tenang.

"Gua tau ini kedengeran gila," Rakes menutup penjelasannya. "Tapi liat sisi positifnya... kita punya mobil Pagani di halaman belakang kalo misalkan setan nya muncul kita tabrak pakai mobil. "

Saka mendengus, mencoba mencairkan suasana. "Iya, enak. Tapi sekarang masalahnya, siapa yang mau bayar ganti rugi pintu kamar Bang Hamu yang hancur ini?"

"Gua ngga bawa duit cash yeee.. " celetuk Gaveen.

Rakes tertawa kecil, meski matanya tetap waspada menatap setiap sudut ruangan. Ia tahu, di luar sana, waktu terus berjalan, dan ancaman yang sebenarnya baru saja dimulai.

"Besok kita perbaiki," kata Rakes pelan. "Tapi malam ini, kita harus tetep bangun. Sampai matahari terbit. Karena di jam-jam kayak gini, waktu adalah musuh terbesar kita."

Zack akhirnya berdiri, menepuk pundak Rakes dengan keras, setengah memberikan semangat, setengah melampiaskan kekesalannya. "Lain kali, kalau mau bawa masalah segede ini, minimal bawa martabak dua puluh kotak, Rak. Dua ngga cukup buat bayar nyawa kita yang hampir melayang."

"Harus banget nih kode nya martabak? walau gua suka, tapi ke ngga elite bener dah. " ucap Kale.

Rakes tersenyum lebar. Untuk sesaat, ia merasa benar-benar telah pulang. Meski ia tahu, "rumah" yang ia kenal sudah tidak akan pernah sama lagi.

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!