Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.
Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Penebusan dan Pengorbanan
Cahaya lampu meja kerja Arlan berpendar redup, kontras dengan layar ponsel yang menampilkan wajah lelah ibunya melalui panggilan video. Di latar belakang, terlihat ruangan rumah sakit yang serba putih dan sunyi.
"Bagaimana keadaan Keira sekarang, Bu?" tanya Arlan, suaranya parau karena kurang tidur.
"Sudah jauh lebih baik, Arlan. Demamnya sudah turun," jawab Bu Ratna sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah brankar.
Di sana, Keira tampak duduk bersila, fokus menyusun kepingan puzzle di hadapannya. Meski pucat, ketenangan di wajah anak itu adalah anugerah bagi Arlan.
"Hanya saja, dokter menyarankan agar setelah keluar dari sini, Keira kembali mengikuti sesi terapi intensif untuk menstabilkan emosinya yang sempat kolaps."
"Tidak masalah, Bu. Apapun yang terbaik untuknya," sahut Arlan lirih.
"Bagaimana dengan urusan yang Ibu minta? Apa kamu sudah menemui gadis itu?" Arlan terdiam sejenak sebelum menjawab.
"Aku baru saja menemuinya tadi sore. Dua hari lagi aku akan mendengar jawabannya. Tapi, Bu..." Arlan meragu.
Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, lebih berat daripada tumpukan berkas kredit macet di kantornya.
"Kenapa, Nak? Apa ada kendala?"
"Soal pamannya... Om Arman. Aku harus bagaimana menghadapi pria seperti itu?" tanya Arlan terus terang.
Bayangan wajah sangar Om Arman dengan bekas luka di pelipis dan aura intimidasi yang pekat kembali menghantui pikirannya. Arlan adalah pria terpelajar, dunia yang ia kenal adalah angka dan logika, bukan kepalan tinju dan ancaman. Jika Arman tidak setuju, Arlan tahu ia tidak akan pernah bisa membawa Gisel keluar dari gang itu.
"Mungkin saja dia akan meminta tebusan atas kebebasan Gisel," Bu Ratna mencoba menerka-nerka dengan nada pragmatis.
Beliau tahu, di lingkungan seperti Jalan Bunga, segala sesuatu memiliki label harga.
"Tebusan? Maksud Ibu, dia akan menjual keponakannya sendiri?"
"Ibu hanya menebak, Arlan. Yang penting kamu persiapkan saja kemungkinan terburuk. Ingat, yang dibutuhkan Keira saat ini adalah sosok yang memberikannya rasa aman dan kasih sayang yang tulus, bukan sekadar tenaga profesional dengan segala metode kaku mereka. Jika uang adalah pintu masuknya, maka siapkanlah."
Setelah memutuskan sambungan video, Arlan melangkah ke pojok ruangan. Ia membuka brankas pribadinya yang tersembunyi di balik lemari buku. Di dalamnya tersimpan tumpukan uang tunai yang memang ia sisihkan secara terpisah dari rekening banknya.
Sebagai orang perbankan, ia tahu bahwa dalam situasi darurat, lembaran uang tunai sering kali lebih berguna daripada transfer digital yang meninggalkan jejak.
Dengan tangan sedikit gemetar, Arlan memasukkan beberapa ikat uang dengan total sepuluh juta rupiah ke dalam amplop cokelat. Ia menatap amplop itu dengan getir. Entah jumlah itu cukup atau justru akan dianggap sebagai penghinaan oleh Om Arman, ia tidak tahu. Namun, setidaknya ia sudah menyiapkan "peluru" untuk negosiasi nanti.
Di sisi lain kota, di sebuah gudang tua di belakang kafe Jalan Bunga, Om Arman sedang mendengarkan laporan dari Barong, anak buahnya yang paling lihai dalam mencari informasi. Udara di ruangan itu terasa pengap, hanya diterangi satu lampu bohlam yang berayun pelan.
"Jadi, siapa sebenarnya Aldi Sanjaya ini?" tanya Om Arman, suaranya terdengar seperti geraman rendah.
"Dia anak pertama dari istri kedua Robi Sanjaya, Om. Robi itu anak kedua di dinasti keluarga Sanjaya," lapor Barong sambil menyeka keringat di dahinya.
"Aldi tahu keberadaan Gisel dari sepupunya yang satu sekolah dengan Gisel. Sepertinya informasi tentang 'Mawar Jalan Bunga' sudah menyebar di kalangan mereka. Hanya saja, aku belum bisa memastikan apa motif Aldi yang sebenarnya, selain ketertarikan fisik."
Om Arman menggertakkan giginya hingga rahangnya mengeras. Tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut, niat Aldi Sanjaya sudah terbaca jelas di matanya.
Keluarga Sanjaya adalah predator kelas atas. Mereka terbiasa mendapatkan apa pun yang mereka inginkan dengan kekuatan uang atau kekuasaan. Jika Aldi sudah mulai mengincar Gisel, itu berarti keponakannya berada dalam bahaya besar. Gisel bukan lagi sekadar gadis sekolah di mata keluarga Sanjaya, dia adalah mainan baru yang eksotis.
Om Arman segera beranjak dan melajukan motor besarnya membelah kemacetan malam. Ia mendatangi beberapa kenalan lama, orang-orang yang berutang budi padanya, bahkan beberapa aparat yang biasa ia suap. Namun, hasilnya nihil.
Begitu nama "Sanjaya" diucapkan, mereka semua mendadak tuli dan buta. Ketakutan terhadap keluarga itu jauh lebih besar daripada rasa hormat mereka pada Arman.
Prang!
Om Arman membanting cangkir kopi yang baru saja diletakkan Tante Ira di meja teras. Porselen itu hancur berkeping-keping, sama seperti harga diri Arman yang merasa tak berdaya malam itu.
"Tidak ada gunanya kamu melampiaskannya pada benda mati, Arman." ucap Tante Ira dengan nada tenang yang justru terasa menyakitkan.
Ia duduk di kursi seberang, menyulut rokoknya dengan santai.
"Dunia kita ini tidak mengenal negosiasi yang adil. Kamu hanya punya dua pilihan sekarang." Arman menatap istrinya dengan mata merah penuh amarah.
"Apa?"
"Pertama, kamu mempertahankan Gisel di sini, menjaga harga dirimu sebagai pelindung, tapi bersiaplah hancur bersama saat keluarga Sanjaya meratakan tempat ini karena kamu menolak mereka. Kedua, kamu melepaskannya dan bersiap kehilangan. Jika predator itu sudah benar-benar mengunci taringnya, tidak akan ada tempat yang aman untuknya." Jawab Ira seraya mengembuskan asap rokoknya pelan.
"Dunia abu-abu ini hanya mengenal siapa yang paling kuat, punya paling banyak uang, atau kekuasaan paling besar. Dan kita... kita tidak punya ketiganya di hadapan Sanjaya."
Jelas saja Om Arman tahu hal itu. Bukan berarti Om Arman tidak memikirkan jalan keluar lain. Di kepalanya, bayangan Arlan pria bank yang tampak lemah namun memiliki akses ke dunia "putih" terus muncul.
Arlan menawarkan jaminan pendidikan dan biaya hidup. Itu adalah pintu keluar yang selama ini Om Arman impikan untuk Gisel, namun ia masih tidak rela. Tidak ada kepastian bahwa Arlan akan benar-benar melindungi Gisel, atau justru Arlan adalah predator jenis lain.
Om Arman menarik napas dalam, merasakan sesak yang menghimpit dadanya. Apakah ia benar-benar harus menggantungkan masa depan Gisel pada pilihan yang tidak pasti itu? Memberikan mawar kesayangannya kepada orang asing demi menyelamatkannya dari serigala yang lebih ganas?
Di kamar belakang, Gisel masih terjaga, tidak tahu bahwa di luar sana, hidupnya sedang ditimbang di atas meja judi.
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏