Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.
Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"
Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.
"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."
Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.
Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.
Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wabah yang Tak Bernama
Shen Yi duduk di tepi ranjang Bupati Wijaya, jari-jarinya masih memegang pergelangan tangan pasien itu meski nadi sudah dibaca berkali-kali. Bintik hitam di leher Bupati tidak lagi menyebar secepat kemarin, tapi juga tidak surut. Malah, di bawah cahaya lilin malam, titik-titik itu tampak seperti tinta yang merembes pelan di kertas kulit.
Napas bupati pendek-pendek, kadang disertai suara mengi yang hampir tak terdengar, seperti angin yang terperangkap di lorong sempit.
Lian'er berdiri di sisi lain ranjang, memegang mangkuk kecil berisi ramuan penghangat yang baru saja dia seduh. Aroma ginseng, jahe liar, dan sedikit daun teratai kering menguar lembut, tapi aroma itu kalah dengan bau aneh yang mulai tercium di kamar: bau amis seperti air danau yang mengendap terlalu lama, bercampur sesuatu yang metalik dan dingin.
“Demamnya turun satu derajat,” kata Shen Yi pelan, melepaskan pergelangan tangan itu. “Tapi meridian paru-parunya masih dingin sekali. Seperti ada es yang menempel di dalam, bukan di kulit.”
Raden Arya Wijaya berdiri di sudut kamar, tangannya mengepal kain sutra jubahnya. Wajah pemuda itu semakin pucat setiap hari. “Tabib, ayahanda semakin lemah. Tadi siang beliau tak bisa bicara lagi. Hanya bisa menggeliat dan mengigau tentang ‘dingin yang hidup’. Apa ini penyakit menular?”
Shen Yi dan Lian'er saling pandang. Pertanyaan itu sudah mereka takuti sejak hari pertama tiba di kota.
“Belum pasti,” jawab Shen Yi hati-hati. “Tapi bintik hitam ini bukan penyakit biasa. Ini seperti energi dingin yang meracuni dari dalam. Kalau hanya satu orang, mungkin bisa kita tangani. Tapi kalau menyebar…”
Lian'er melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Kami sudah periksa dua pelayan yang merawat Bupati. Mereka mulai merasa dingin di dada. Satu di antaranya sudah muncul bintik kecil di pergelangan tangan. Ini bisa jadi wabah.”
Raden Arya tersentak. “Wabah?”
Shen Yi mengangguk pelan. “Kami belum tahu nama atau asalnya. Tapi gejalanya mirip racun dingin yang pernah kami hadapi dulu. Bisa dari air, udara, atau kontak. Kalau benar wabah, kota ini harus mulai dikarantina. Pintu gerbang ditutup, orang tak boleh keluar masuk sembarangan. Pasar dibatasi. Orang sakit harus dipisah.”
Raden Arya menatap mereka dengan mata penuh ketakutan dan keraguan. “Karantina? Itu berarti perdagangan berhenti. Rakyat akan marah. Ayahanda Bupati tak pernah izinkan kota ditutup meski ada wabah cacar dulu. Kalau aku lakukan itu sekarang, mereka akan bilang aku lemah, tak punya nyali.”
Shen Yi menatapnya tajam. “Kalau tidak ditutup, dalam dua minggu kota ini bisa jadi kuburan. Aku pernah lihat wabah kecil di desa tetangga dulu. Satu orang sakit, lalu tiga, lalu seluruh kampung. Orang mati lebih cepat dari yang bisa dikubur. Kau mau itu terjadi di sini?”
Raden Arya menunduk. “Aku… akan bicara dengan para pejabat besok pagi. Tapi Tabib… ayahanda harus sembuh dulu. Kalau beliau mati sebelum aku ambil alih, posisi bupati bisa direbut paman atau saudara tiri. Mereka tak akan peduli wabah. Mereka hanya mau kekuasaan.”
Lian'er meletakkan mangkuk ramuan di meja samping ranjang. “Kami akan usahakan sekuat tenaga. Tapi Bupati butuh istirahat total. Tak boleh diganggu urusan politik. Dan kami perlu akses ke sumur dan sungai di kota. Kalau penyakit ini dari air, kita harus cari sumbernya.”
Raden Arya mengangguk lemah. “Baik. Aku akan beri surat izin. Kalian boleh periksa apa saja.”
Malam itu, setelah meninggalkan kamar Bupati, Shen Yi dan Lian'er berjalan menyusuri koridor panjang kediaman. Cahaya lentera tembaga menerangi wajah mereka yang lelah.
“Kau yakin ini es hitam?” tanya Lian'er pelan.
Shen Yi mengangguk. “Bintiknya sama persis dengan yang pernah ada di tubuhku dulu. Tapi lebih lemah. Seperti sisa-sisa yang lolos dari danau setelah ritual Xue Han. Mungkin terbawa angin atau air saat kita kembali.”
Lian'er menggigit bibir. “Kalau benar begitu ini tanggung jawab kita juga. Kita yang bawa pulang sisa es hitam itu.”
Shen Yi memegang tangannya. “Bukan salah kita. Kita sudah coba bersihkan semaksimal mungkin. Yang penting sekarang hentikan sebelum jadi wabah besar.”
Keesokan paginya, Shen Yi dan Lian'er mulai keliling kota dengan surat izin dari Raden Arya. Mereka pergi ke pasar pagi, tempat yang biasanya ramai dengan pedagang sayur, ikan, kain, dan rempah. Tapi hari ini pasar terasa lebih sepi. Beberapa kios sudah tutup. Orang-orang berjalan dengan langkah cepat, kain penutup mulut diikat di wajah.
Shen Yi mendekati seorang pedagang ikan tua yang sedang mengipas dagangannya dengan daun pisang.
“Kakek, ada orang sakit di sekitar sini?”
Pedagang itu menatap Shen Yi dan Lian'er dengan mata curiga. “Tabib dari gunung ya? Sudah dengar. Bupati sakit, katanya. Tapi kalau tanya orang sakit di sini ya ada. Anak kecil di gang belakang mulai demam tiga hari lalu. Bintik hitam di leher. Ibunya takut bawa ke tabib kota, takut dituduh bawa penyakit.”
Shen Yi dan Lian'er saling pandang.
“Bawa kami ke sana,” kata Lian'er lembut. “Kami tak minta bayaran.”
Pedagang itu ragu, tapi akhirnya mengangguk. Dia menutup kiosnya dan mengantar mereka ke gang sempit di belakang pasar. Rumah-rumah di sana kecil, berdinding bambu dan atap genteng pecah. Bau sampah dan air got bercampur dengan aroma asap dapur.
Di salah satu rumah, seorang ibu muda duduk di beranda memeluk anak laki-laki berusia sekitar enam tahun. Anak itu menggigil, wajahnya pucat, bintik hitam kecil terlihat di leher dan dada.
Shen Yi berlutut di depan anak itu. “Boleh saya periksa?”
Ibu itu menangis pelan. “Tolong… anak saya… dia mulai demam tiga hari lalu. Tadi malam bintiknya muncul. Saya takut seperti yang dikatakan orang, penyakit bupati.”
Shen Yi memegang pergelangan anak itu. Nadi lemah, dingin di meridian paru. Bintik hitamnya sama seperti Bupati—tapi lebih kecil, lebih baru.
“Ini sama,” bisik Shen Yi ke Lian'er. “Mulai dari anak ini. mungkin dari air atau makanan di pasar.”
Lian'er mengeluarkan daun teratai kering dari sabuknya. Dia menggosokkan daun itu di dada anak, lalu meniup pelan. Energi teratai putih mengalir masuk. Bintik hitam bergetar, lalu memudar sedikit.
Anak itu membuka mata. “Ibu… dinginnya berkurang” katanya dengan lemah.
Ibu itu menangis haru. “Terima kasih. terima kasih banyak…”
Shen Yi dan Lian'er melanjutkan ke rumah-rumah lain di gang itu. Total mereka temukan enam orang dengan gejala sama: tiga anak, dua orang tua, satu pemuda pedagang. Semua mulai demam, bintik hitam, dingin di dada.
Saat matahari condong ke barat, mereka kembali ke kediaman bupati. Raden Arya sudah menunggu di beranda dengan wajah semakin cemas.
“Tabib… ada kabar buruk. Dua pelayan di rumah ini mulai sakit. Bintik hitam muncul di lengan mereka. Dan… di pasar pagi tadi, seorang pedagang ikan bilang ada lima orang lagi di kampung nelayan dengan gejala sama.”
Shen Yi menarik napas dalam. “Ini sudah mulai menyebar. Kita harus umumkan karantina sekarang. Tutup pasar, batasi orang keluar masuk kota. Siapkan rumah sakit darurat di aula besar. Isolasi semua yang sakit.”
Raden Arya menggeleng. “Para pejabat tak setuju. Mereka bilang kalau kota ditutup, pedagang akan memberontak. Ekonomi akan runtuh. Mereka minta kita sembunyikan dulu. Rawat diam-diam.”
Lian'er melangkah maju. “Sembunyikan? Kalau besok ada seratus orang sakit, lalu seribu? Kota ini akan jadi kota mati. Rakyat berhak tahu. Mereka berhak dilindungi.”
Raden Arya menunduk. “Aku tahu. Tapi… kalau ayahanda mati, dan aku tak bisa kendalikan pejabat, posisi bupati bisa direbut paman. Dia orang yang serakah. Dia tak akan peduli wabah. Dia cuma mau kekuasaan.”
Shen Yi memandangnya tajam. “Kalau kau biarkan wabah ini menyebar karena takut kehilangan posisi… kau sama saja dengan pamanmu itu.”
Raden Arya tersentak. Matanya berkaca-kaca. “Aku… aku tak mau jadi seperti dia. Tapi aku tak tahu harus bagaimana.”
Shen Yi meletakkan tangan di bahu pemuda itu. “Mulai dari yang benar. Umumkan karantina besok pagi. Aku dan Lian'er akan rawat sebanyak mungkin. Kita cari sumber penyakitnya. Kalau kita tunjukkan bahwa kita berjuang untuk rakyat… rakyat akan dukung kau.”
Raden Arya diam lama. Lalu dia mengangguk pelan. “Baik. Besok pagi aku umumkan. Kota akan dikarantina. Dan kalian… tolong selamatkan ayahanda. Selamatkan kota ini.”
Shen Yi dan Lian'er mengangguk.
Malam itu, mereka kembali ke kamar tamu. Lian'er duduk di tepi tempat tidur, memandang Shen Yi yang sedang memeriksa ramuan.
“Shen Yi… kalau ini benar wabah es hitam yang lolos… kita mungkin tak bisa sembuhkan semua orang.”
Shen Yi mengangguk. “Aku tahu. Tapi kita harus coba. Satu per satu. Seperti dulu kau dan aku… satu per satu.”
Lian'er tersenyum lelah. “Satu per satu.”
Di luar jendela, kota kabupaten mulai diam. Lampu-lampu rumah menyala lebih sedikit.
Orang-orang mulai takut keluar. Bintik hitam mulai muncul di lebih banyak kulit.
Wabah yang tak bernama sudah mulai bernapas di kota itu.