Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
“Duduklah, Alisha. Atau aku harus memaksamu dengan cara yang tidak menyenangkan?”
Suara Damian Sagara mengiris kesunyian ruang negosiasi di kantor sementara Sagara Group. Ruangan itu berbau cat baru dan aroma kopi mahal yang pekat.
Alisha berdiri mematung di ambang pintu kayu jati yang berat. Ia mencengkram tali tas selempangnya hingga kuku-kuku jarinya memutih. Ia berusaha keras menundukkan kepala. Rambutnya yang ia ikat asal-asalan jatuh menutupi sebagian wajahnya.
“Aku hanya datang untuk mewakili warga, bukan untuk urusan pribadi,” ujar Alisha tanpa berani mengangkat pandangan.
“Di ruangan ini, aku yang menentukan apa yang penting dan apa yang tidak,” balas Damian dingin.
Damian duduk di kursi kebesaran di ujung meja kaca panjang. Ia melepaskan jasnya dan melipat lengan kemeja putihnya hingga ke siku. Gerakannya sangat efisien dan penuh kendali. Matanya tidak lepas dari sosok wanita di depannya. Ada tarikan magnet yang aneh di dalam dadanya. Rasa yang sangat familiar namun menyakitkan.
“Duduklah. Kita bicarakan tentang sekolah itu!” perintah Damian lagi.
Alisha akhirnya melangkah maju dan duduk di kursi yang paling jauh dari Damian. Ia tetap menunduk, pura-pura sibuk merapikan berkas-berkas tuntutan warga di atas meja. Ia bisa merasakan tatapan Damian yang menguliti setiap gerak-geriknya. Suasana di ruangan itu terasa begitu tegang hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman martil.
“Anda bilang proyek ini memiliki urgensi nasional.” Alisha memulai pembicaraan dengan suara datar.
“Benar. Pelabuhan ini akan menjadi urat nadi ekonomi baru,” jawab Damian sambil menyandarkan punggungnya. “Tapi kau sepertinya lebih tertarik membahas hal lain saat di balai kota tadi.”
“Saya hanya membela hak anak-anak untuk belajar,” potong Alisha cepat.
Damian memajukan tubuhnya ke arah meja. “Kenapa kau terus menunduk, Alisha? Apakah wajahku menakutkan, atau kau sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dariku?”
Alisha membeku. “Saya hanya tidak terbiasa bicara dengan orang di posisi Anda.”
"”Bohong,” desis Damian. “Kau bicara padaku dengan sangat berani enam tahun lalu di sebuah bar di Jakarta. Kau bahkan meninggalkanku sebelum aku sempat menanyakan nama belakangmu.”
Alisha merasa paru-parunya mengecil. Rahasia itu terasa seperti batu besar yang menyumbat tenggorokannya. Ia ingin menyangkal. Ia ingin mengatakan bahwa Damian salah orang. Namun, daya tarik pria itu terlalu kuat untuk diabaikan.
Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka dengan sentakan keras.
“Ibu! Guru bilang aku harus memberikan surat ini sekarang juga!”
Arka melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang mantap. Bocah itu tidak tampak terintimidasi oleh suasana kaku atau pria-pria berjas yang berdiri di sudut ruangan. Ia berjalan lurus menuju ibunya dengan selembar kertas di tangannya. Arka tidak menyadari bahwa kehadirannya baru saja menghentikan detak jantung semua orang di sana.
Seluruh ruangan mendadak hening seketika.
Para asisten Damian saling pandang dengan mata terbelalak. Mereka menatap Arka, lalu menatap bos mereka secara bergantian. Kemiripan itu bukan lagi sekadar kebetulan. Itu adalah cermin yang berjalan.
Damian Sagara terpaku di kursinya. Ia tidak bisa bernafas. Ia menatap Arka dengan intensitas yang bisa menghancurkan kaca. Ia melihat garis rambut Arka yang persis miliknya. Ia melihat cara Arka berdiri yang sangat tegak dan menantang.
“Arka, Ibu bilang tunggu di luar,” bisik Alisha dengan suara yang sangat gemetar.
Arka tidak menjawab ibunya. Ia justru memutar tubuhnya menghadap ke arah Damian. Bocah lima tahun itu menatap pria paling berkuasa di ruangan itu dengan sorot mata yang dingin dan penuh selidik. Arka tidak menunduk. Ia justru mengangkat dagunya sedikit, meniru persis gestur Damian saat sedang menghadapi saingan bisnisnya.
“Siapa Anda?” tanya Arka dengan suara yang tegas dan jernih.
Damian menelan ludah dengan susah payah. Suaranya yang biasanya berwibawa kini terdengar serak. “Aku Damian. Siapa namamu, Anak Kecil?”
“Namaku Arka Sagara Alisha,” jawab Arka tanpa ragu.
Mendengar nama tengahnya, Damian merasa jantungnya seperti dihantam gada besi. Ia menatap Alisha dengan tatapan yang penuh kemarahan dan luka. Alisha segera menarik Arka ke dalam pelukannya, berusaha menutupi wajah anaknya dari pandangan Damian.
“Maaf, kami harus pergi sekarang,” ujar Alisha sambil berdiri dengan terburu-buru.
“Jangan bergerak satu inci pun!”. bentak Damian hingga suaranya menggelegar di seluruh ruangan.
Arka tidak berkedip meskipun mendengar bentakan itu. Ia justru menatap Damian dengan tatapan tidak suka. “Anda tidak boleh berteriak pada ibuku. Itu tidak sopan secara etika sosial.”
Damian tertegun. Keberanian bocah ini benar-benar tidak masuk akal. Arka tidak takut padanya. Arka justru menantangnya dengan argumen yang logis. Damian bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan menuju tempat Alisha berdiri.
“Lepaskan dia, Alisha!” perintah Damian dengan nada rendah yang berbahaya.
“Tuan Sagara, tolong jangan lakukan ini.” Mohon Alisha dengan air mata yang mulai menggenang.
Damian berjongkok di depan Arka. Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. Damian bisa melihat setiap detail wajah Arka. Ia melihat bekas luka kecil di alis kiri Arka, posisi yang sama persis dengan luka yang ia miliki sejak kecil. Getaran di tangan Damian tidak bisa ia sembunyikan lagi.
“Kau punya mata yang bagus, Arka,” bisik Damian.
“Terima kasih. Ibu bilang mataku adalah jendela pikiranku,” jawab Arka dengan tenang.
Damian mendongak menatap Alisha yang kini sudah terisak. “Kenapa kau melakukannya, Alisha? Kenapa kau mencuri enam tahun hidupku bersamanya?”
“Anda memiliki tunangan! Anda memiliki dunia yang tidak akan pernah menerima kehadirannya!” teriak Alisha putus asa.
“Kau tidak punya hak untuk memutuskan itu sendirian!” balas Damian dengan nada yang penuh penekanan.
Damian berdiri kembali. Ia tidak lagi melihat ke arah berkas negosiasi pelabuhan. Baginya, proyek triliunan rupiah itu kini tidak lebih berharga daripada helai rambut Arka. Ia mengatur nafasnya, mencoba mengembalikan kendali atas emosinya yang meledak.
“Arka, ikutlah dengan asistenku sebentar. Ada mainan robot yang sangat bagus di ruangan sebelah,” ujar Damian dengan suara yang dipaksakan lembut.
“Aku tidak suka robot. Aku lebih suka set bangunan arsitektur,” jawab Arka dengan lugas.
Damian tersenyum tipis, sebuah senyum jujur yang jarang ia perlihatkan. “Baiklah. Set bangunan arsitektur tercanggih akan ada di sana dalam lima menit.”
Damian memberi isyarat pada asistennya untuk membawa Arka keluar. Begitu pintu tertutup, Damian berbalik menghadap Alisha.
Wajahnya kembali menjadi dingin dan tanpa ampun. Ia melangkah mendekati Alisha hingga wanita itu terdesak ke dinding ruangan.
“Kau pikir kau bisa lari dariku setelah menunjukkan anak itu padaku?” tanya Damian dengan suara mengancam.
“Dia bukan urusanmu, Damian! Kau hanya orang asing yang tidak sengaja kutemui malam itu!” Alisha mencoba melawan.
Damian memukul dinding di samping kepala Alisha dengan telapak tangannya.
“Dia memiliki darahku! Dia bicara seperti aku! Dia menatapku seperti aku menatap musuh-musuhku! Jangan pernah berani bilang dia bukan urusanku!”
Alisha memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir deras. “Kau akan menghancurkan hidupnya. Keluargamu akan mengambilnya dariku. Aku hanya ingin dia tumbuh dengan tenang di sini.”
“Tenang?” Damian tertawa getir. “Dia adalah seorang Sagara. Tidak ada kata tenang dalam takdirnya. Dan aku tidak akan membiarkan anakku tinggal di kota kecil ini tanpa pengakuan.”
Damian menjauhkan tubuhnya dari Alisha. Ia merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Ia berjalan menuju meja kerjanya dan menekan tombol interkom dengan keras. Ia tidak lagi tampak seperti seorang negosiator lahan. Ia tampak seperti seorang raja yang baru saja menemukan ahli warisnya yang hilang.
Asisten pribadinya masuk ke ruangan dengan wajah pucat dan penuh rasa ingin tahu.
“Pak Damian, jadwal rapat dengan Gubernur dimulai sepuluh menit lagi,” ujar sang asisten dengan suara gemetar.
Damian menatap asistennya dengan pandangan yang sangat tajam dan tidak bisa dibantah. “Batalkan semua rapat hari ini. Batalkan semua agenda untuk sisa minggu ini.”
“Tapi Pak, ini proyek strategis nasional….”
“Aku tidak peduli!” potong Damian dengan suara yang menggetarkan ruangan. “Lakukan apa yang aku perintahkan. Ambil sampel DNA dari sisir atau apa pun yang disentuh bocah itu jika perlu.”
Damian menarik nafas dalam-dalam. Matanya beralih ke arah Alisha yang masih gemetar di sudut ruangan.
“Dan kau, Alisha. Kau tidak akan pergi ke mana pun.”
“Cari tahu siapa wanita itu sebenarnya selama enam tahun terakhir!” perintah Damian pada asistennya. “Cari tahu di mana dia tinggal, siapa yang membantunya, dan cari tahu siapa pria yang berani mendekatinya selama ini.”
Damian terdiam sejenak, lalu ia menambahkan dengan nada bicara yang lebih rendah namun mengandung ancaman yang sangat nyata.
“Dan yang paling penting, cari tahu siapa ayah dari anak itu di dalam dokumen resminya. Jika nama itu bukan namaku, pastikan orang yang menulisnya tidak akan pernah bekerja di negara ini lagi.”
Alisha terjatuh lemas di lantai. Ia tahu benteng yang ia bangun dengan susah payah selama enam tahun kini telah runtuh sepenuhnya.
Damian Sagara telah menemukan jejaknya, dan pria itu tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi.
Damian berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah pelabuhan. Ia melihat bayangan dirinya di kaca. Bayangan itu kini memiliki kelanjutan.
“Satu malam, Alisha. Hanya satu malam, tapi kau mengubah hidupku menjadi selamanya,” gumam Damian.
Di ruangan sebelah, Arka sedang menyusun balok bangunan dengan sangat teliti. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa jam kedepan, seluruh dunianya yang tenang akan diseret masuk ke dalam pusaran kekuasaan keluarga Sagara yang kejam. Badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.