Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Kenzo datang pagi-pagi sekali ke rumah itu. Udara masih dingin, matahari bahkan belum sepenuhnya naik.
“Pagi, Om. Pagi, Tante,” sapa Kenzo sopan.
Pappi mengangguk santai.
“Naik aja dulu, bangunin Naya.”
Mommy melirik singkat. “Anakmu.”
Pappi tersenyum tipis. “Biarin aja. Lagi anget-angetnya. Tetap di awasi aja.”
Kenzo langsung naik ke lantai atas. Baru sampai depan kamar, ia bertemu Reno yang keluar sambil mengucek mata.
“Ren,” panggil Kenzo.
“Woy,” Reno mendengus. “Pagi banget. Bangunin my princess lo?”
“Myprincess,” Kenzo mengulang dengan sengaja, nada santai.
Reno langsung mencebikkan bibir. “Ih. Jijik gue dengerinnya.”
Kenzo cuma ketawa kecil, lalu melangkah ke pintu kamar Naya.
Pelan, ia mengetuk.
Tok. Tok.
“Nay,” panggilnya lembut. “Bangun.”
Di balik pintu terdengar suara bergeser pelan. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka sedikit. Naya muncul dengan rambut masih acak, wajah ngantuk, kaki digips terlihat jelas.
“Kamu… pagi banget,” gumam Naya.
Kenzo senyum lebar. “Katanya mau dijagain terus.”
Naya mendengus kecil, tapi bibirnya naik tanpa sadar.
“Masuk.”
Kenzo masuk dan menutup pintu pelan. Reno yang masih di luar cuma geleng-geleng.
“Baru pacaran,” gumamnya. “Udah kayak suami istri pagi-pagi.”
Dari bawah, suara Pappi terdengar samar,
“Reno! Sarapan!”
Reno menjawab malas, “Iyaaa.”
Sementara itu, di dalam kamar, Kenzo duduk di tepi ranjang Naya.
“Pagi, my princess,” ucapnya pelan.
Naya menunduk, senyum kecil muncul di wajahnya.
“Pagi…”
Kenzo berdiri sambil merapikan selimut Naya sedikit.
“Siap-siapnya dibantuin Mommy ya,” katanya santai.
“Kenapa?” Naya mendongak.
Kenzo nyengir. “Nanti aku kena tojok Pappi kamu.”
Naya langsung nyengir kecil. “Lebay.”
Kenzo melirik tas sekolah di meja. “Buku pelajaran sama tas udah siap. Tinggal ganti baju aja sama mommy. Nanti aku bantu turun ke bawah buat sarapan.”
Naya mengangguk pelan. Ada rasa hangat yang nyelip di dadanya—diperhatiin, dijagain, tanpa harus minta.
“Iya,” jawabnya lirih.
Mommy masuk ke kamar sambil membawa baju Naya.
“Nih, Mommy bantu,” katanya datar tapi sigap.
Naya mengangguk. Dengan kaki yang masih digips, setiap gerakannya terasa ribet. Mommy membantu memakaikan kaus, lalu merapikan rambut Naya dengan gerakan yang tegas tapi penuh kebiasaan seorang ibu.
“Pacaran jangan lewat batas, Nay,” ucap Mommy tanpa menatap, fokus ke kancing.
“Iya, Mommy,” jawab Naya pelan.
“Perempuan harus bisa jaga diri. Jangan karena sayang jadi lupa aturan.”
Naya diam. Ia paham, walau hatinya sedikit mengkerut.
“Mulai sekarang Kenzo jangan nginep di sini lagi. Bahaya,” lanjut Mommy, nada suaranya final.
Naya refleks menoleh. “Kenzo tidur di kamar Reno, Mom. Bukan kamar Naya.”
Mommy berhenti sebentar, lalu menatap Naya. Tatapannya tajam, membaca—bukan marah, tapi waspada.
“Justru itu,” kata Mommy. “Tetap aja nggak perlu terlalu sering.”
Naya menunduk, menarik napas. “Iya, Mom.”
Mommy merapikan selimut di kaki Naya yang digips. “Ingat ya. Mommy keras bukan karena benci. Mommy cuma mau kamu aman.”
Naya mengangguk lagi. Kali ini lebih pelan, lebih dalam.
Selesai bersiap-siap, Mommy keluar dari kamar lebih dulu.
“Ken!” panggil Mommy dari bawah.
“Iya, Tante,” jawab Kenzo sigap.
“Tuh, Naya udah,” kata Mommy singkat.
Belum sempat Naya bilang apa-apa, Kenzo sudah muncul di ambang pintu. Tatapannya langsung lembut begitu melihat Naya.
“Siap, my princess?” katanya pelan.
Naya mengangguk kecil.
Tanpa banyak bicara, Kenzo menunduk dan menggendong Naya dengan hati-hati. Satu tangan menopang punggung, satu lagi di bawah lutut—pelan, seolah takut salah gerak.
“Pelan-pelan, Ken,” ujar Mommy mengingatkan.
“Iya, Tante,” jawab Kenzo sopan.
Naya otomatis melingkarkan tangannya di leher Kenzo. Wajahnya sedikit memerah, tapi bibirnya tersenyum kecil.
Mereka turun ke lantai bawah. Di meja makan, Pappi dan Reno sudah duduk.
“Buset, kayak pengantin baru,” celetuk Reno.
“Berisik,” balas Kenzo tanpa menoleh.
Pappi hanya menghela napas sambil menggeleng kecil. “Hati-hati putri om itu.”
Kenzo menatap Pappi singkat. “Siap, Om.”
Kenzo mendudukkan Naya di kursi makan dengan hati-hati sebelum ikut duduk di sampingnya.
“Sarapan dulu,” kata Kenzo pelan. “Nggak boleh bandel hari ini.”
Naya menoleh, menatap Kenzo sebentar.
“Iya,” jawabnya, kali ini dengan senyum yang lebih nyata.
Sampai di sekolah, Kenzo turun lebih dulu. Ia memapah Naya dengan sabar, satu tangannya melingkar di pinggang Naya, tangan lain menenteng tas Naya.
“Pelan,” ucap Kenzo tiap kali Naya melangkah terlalu cepat.
“Tau,” gumam Naya, tapi tetap nurut.
Tatapan siswa lain otomatis mengarah ke mereka. Ada yang bisik-bisik, ada yang terang-terangan melirik. Kenzo cuek. Fokusnya cuma satu: Naya sampai kelas dengan aman.
Begitu tiba di depan kelas—
“Nay?” suara Citra terdengar panik.
Citra langsung berdiri dari bangkunya, menghampiri.
“Are you okay?” matanya menyapu kaki Naya yang digips.
“Nggak apa-apa kok,” jawab Naya pelan, senyum tipis.
“Gue panik banget tau,” kata Citra, lalu langsung memeluk Naya hati-hati, takut kena kakinya.
Naya membalas pelukan itu. “Lebay.”
“Emang gue lebay kalo soal lo,” Citra mendengus.
Kenzo berdiri di samping mereka, masih megang tas Naya.
“Jangan lama-lama dipeluk. Dudukin aja dulu,” katanya tenang tapi protektif.
“Ih posesif,” sindir Citra.
“Emang,” jawab Kenzo santai.
Kenzo membantu Naya duduk di bangkunya, lalu menggantungkan tas di sisi kursi.
“Kalau kenapa-kenapa bilang. Jangan sok kuat,” bisik Kenzo ke Naya.
Naya menoleh, menatap Kenzo sebentar.
“Iya,” katanya lirih.
Kenzo mengangguk kecil, lalu melangkah mundur. Sebelum pergi, ia menoleh lagi.
“Gue jemput nanti.”
Dan entah kenapa, meski kaki Naya masih sakit, dada Naya terasa hangat.
“Ciee udah jadian nihh sama ayang,” Citra nyengir lebar, nadanya sengaja dilebih-lebihin.
“Bilangnya sih nggak nggak mulu, tau-tau ajaah huuh.”
Naya cuma nyengir kecil.
“Hehee.”
“HEHEE doang?” Citra mendekat, duduk di bangku sebelah. “Kemarin siapa yang paling denial? ‘Enggak kok, cuma temen kakak gue.’”
“Berisik,” Naya menutup wajahnya pakai buku. Telinganya merah.
“Terus sekarang digendong, dianter sampe kelas, dibisikin segala. Itu temen?” Citra melirik nakal.
Naya nurunin bukunya sedikit.
“Ya… kebetulan aja.”
“KEBETULAN KATANYA,” Citra ngakak. “Yaudah deh, kebetulan paling manis se-sekolah.”
Naya tertawa kecil, matanya berbinar tanpa sadar.
“Jangan ribut ah. Nanti dia denger.”
“Lah emang kenapa kalo denger?” Citra nyengir. “Biar tau pacarnya malu tapi seneng.”
Naya diam sebentar, lalu berbisik,
“…iya.”
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...