"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Tantangan di Meja Belajar
Bab 12: Tantangan di Meja Belajar
Dua minggu telah berlalu sejak insiden pingsannya Anindya di gudang atas. Bekas luka di telapak tangannya kini telah mengering, meninggalkan garis tipis kemerahan yang menjadi pengingat bisu akan batas kekuatan raganya. Namun, semangat Anindya justru tumbuh lebih kuat dari sebelumnya. Tubuhnya mungkin sudah kembali tunduk pada rutinitas mencuci dan menyapu, tetapi pikirannya telah berkelana jauh melampaui pagar tinggi rumah keluarga Wijaya.
Pagi itu, cuaca sangat cerah. Anindya sedang sibuk mengelap kaca jendela di ruang tengah. Ia menggunakan koran bekas dan air cuka, sebuah teknik yang diajarkan Mbok Sum agar kaca tampak berkilau tanpa bercak. Sambil tangannya bergerak memutar, matanya sesekali melirik ke arah Satria yang duduk di meja jati besar, tampak frustrasi dengan buku tugas di depannya.
Satria sudah hampir tiga puluh menit berkutat dengan sebuah soal geometri. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membolak-balik halaman buku dengan kasar hingga kertasnya berbunyi kresek-kresek yang mengganggu keheningan ruangan. Nyonya Lastri sedang berada di dapur, sedang memarahi Mbok Sum karena masalah belanjaan, sehingga ruang tengah itu hanya berisi mereka berdua.
"Ck! Kenapa susah sekali, sih!" umpat Satria pelan. Ia melemparkan penggaris plastiknya ke atas meja.
Anindya menghentikan gerakannya. Ia melihat soal yang sedang dikerjakan Satria dari kejauhan. Itu tentang mencari luas segitiga yang digabungkan dengan persegi panjang. Di dalam kepalanya, Anindya sudah mulai membagi bangun datar itu menjadi dua bagian. Ia sudah menghitung alas dan tingginya.
Luas persegi panjangnya dua puluh empat, segitiganya dua belas. Totalnya tiga puluh enam, batin Anindya tanpa sadar.
Satria menoleh secara tiba-tiba, menangkap basah Anindya yang sedang menatap bukunya. "Apa yang kau lihat, Pelayan?" gertak Satria, meski nada suaranya tidak sekasar biasanya. Ada sedikit rasa malu karena ia tahu Anindya mungkin menyadari kebingungannya.
Anindya cepat-cepat menunduk dan kembali menggosok kaca. "Maaf, Tuan Muda. Nin tidak bermaksud lancang."
Satria diam sejenak. Ia melihat kertas coret-coretannya yang penuh dengan angka yang salah. Entah setan apa yang merasukinya, atau mungkin rasa penasaran yang sudah menumpuk sejak kejadian kertas buram waktu itu, Satria tiba-tiba mendorong bukunya ke arah Anindya.
"Sini," perintah Satria.
Anindya gemetar. Ia meletakkan kain lapnya dan mendekat dengan ragu. "Ada apa, Tuan Muda?"
"Kau... kau yang menulis di kertas buram waktu itu, kan?" Satria menatap mata Anindya dengan tajam, mencoba mencari kejujuran di sana.
Anindya menelan ludah. Ia merasa tidak bisa lagi bersembunyi. "Iya, Tuan Muda. Maafkan Nin."
Satria tidak marah. Ia justru mengerutkan kening. "Bagaimana kau bisa? Kau bahkan tidak sekolah. Kau hanya mendengarkan dari balik pintu!"
"Nin... Nin hanya suka angka, Tuan Muda. Angka itu jujur. Kalau kita hitung dengan benar, hasilnya pasti selalu sama," jawab Anindya pelan, suaranya mengandung ketulusan yang murni.
Satria menyodorkan pensilnya. "Kalau begitu, kerjakan soal nomor lima ini. Kalau kau benar, aku tidak akan mengadukanmu pada Ibu soal buku biru yang kau sembunyikan di balik dinding."
Jantung Anindya seolah berhenti berdetak. Satria tahu! Satria tahu tentang tempat persembunyiannya! Ketakutan hebat menjalar di sekujur tubuhnya, namun ia sadar ini adalah sebuah ujian. Satria sedang memberikan tawaran gencatan senjata.
Dengan tangan yang masih sedikit bergetar, Anindya mengambil pensil itu. Ia membungkuk sedikit, tidak berani duduk di kursi. Di atas pinggiran kertas yang kosong, ia mulai menggambar garis bantu. Ia menuliskan rumus L \= p \times l dan L \= \frac{1}{2} \times a \times t. Ia mengerjakan soal itu dengan sangat sistematis, langkah demi langkah, seolah-olah ia sedang menjelaskan pada dirinya sendiri.
Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit, Anindya meletakkan kembali pensil itu. "Hasilnya tiga puluh enam, Tuan Muda."
Satria mengambil buku itu dan mencocokkannya dengan kunci jawaban di halaman belakang yang sengaja ia lipat sedikit. Matanya membelalak. Benar.
Sama persis. Bahkan cara Anindya membagi bangun datar itu jauh lebih sederhana daripada cara yang dijelaskan Pak Guru kemarin.
"Kau... kau ini monster apa?" bisik Satria, setengah tidak percaya.
Anindya hanya menunduk. "Nin hanya belajar dari apa yang Tuan Muda buang."
Kalimat itu memukul telak harga diri Satria. Apa yang ia buang—buku bekas, majalah robek, bahkan perhatian saat pelajaran—ternyata menjadi ilmu yang sangat berharga bagi orang lain. Satria menatap Anindya dengan pandangan yang benar-benar baru.
Di depannya bukan lagi sekadar "barang" yang dibeli ayahnya untuk melunasi hutang. Di depannya berdiri seorang jenius yang sedang terperangkap dalam kemiskinan.
"Dengar," Satria merendahkan suaranya, memastikan ibunya tidak mendengar dari dapur. "Aku tidak akan memberitahu Ibu tentang bukumu. Tapi sebagai imbalannya, kau harus membantuku mengerjakan tugas-tugas sulit setiap sore. Kalau nilaiku bagus, Ayah akan memberiku uang saku lebih, dan aku bisa membelikanmu... entahlah, mungkin buku atau alat tulis baru."
Anindya mendongak. Matanya berbinar haru. Ini adalah sebuah kesepakatan rahasia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Membantu Satria berarti ia juga akan belajar materi yang lebih sulit. Ini adalah akses gratis menuju pengetahuan yang selama ini tertutup rapat baginya.
"Benar, Tuan Muda? Tuan Muda tidak akan memberitahu Nyonya?"
"Aku pegang janjiku. Tapi ingat, jangan sampai Ibu tahu. Kalau Ibu tahu kau membantuku, dia akan berpikir aku bodoh, dan dia akan semakin membencimu karena dianggap mencuri ilmuku," ucap Satria dengan nada memperingatkan.
"Nin janji, Tuan Muda. Nin janji akan merahasiakannya," Anindya tersenyum lebar, senyum tulus pertama yang ia tunjukkan di rumah itu.
Namun, kebahagiaan itu segera terputus saat suara langkah kaki Nyonya Lastri mendekat. Anindya dengan sigap menyambar kain lapnya dan kembali ke jendela, sementara Satria berpura-pura sedang berpikir keras di atas bukunya.
"Satria, sudah selesai tugasmu?" Nyonya Lastri masuk sambil mengelap tangannya dengan serbet.
"Sudah, Bu. Hampir selesai," jawab Satria tanpa menoleh.
Nyonya Lastri melirik ke arah Anindya yang sedang sibuk bekerja. "Bagus. Anindya, kalau sudah selesai mengelap kaca, bersihkan kolam ikan. Airnya sudah mulai keruh."
"Baik, Bu," jawab Anindya patuh.
Meskipun tugas yang diberikan Nyonya Lastri semakin berat, perasaan Anindya siang itu terasa sangat ringan. Ia merasa seolah-olah bebannya telah berkurang separuh karena sekarang ia punya "sekutu" di rumah ini, meskipun sekutu itu adalah suaminya sendiri yang biasanya kasar.
Malam harinya, di bawah tangga, Anindya tidak lagi merasa kesepian. Ia menatap telapak tangannya yang luka. Luka itu mungkin akan berbekas, tapi setiap goresan di sana kini terasa sepadan dengan ilmu yang ia dapatkan. Ia mulai membayangkan masa depan di mana ia dan Satria tidak lagi dalam hubungan majikan dan pelayan, melainkan dua orang yang saling berbagi pengetahuan.
Anindya mengambil pulpennya dan menulis di halaman terakhir bukunya: Hari ini, pintu yang tertutup mulai terbuka sedikit. Aku akan terus mendorongnya sampai aku bisa keluar ke arah cahaya.
Di kamar mewahnya, Satria pun tidak bisa tidur. Ia menatap buku matematikanya, lalu menatap langit-langit. Ia merasa malu, sekaligus kagum. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa status dan kekayaan keluarganya tidak ada artinya di depan kecerdasan murni seorang gadis kecil yang bahkan tidak punya sepatu sekolah.
Persekutuan rahasia itu pun dimulai. Sebuah persekutuan yang akan mengubah jalannya sejarah keluarga Wijaya, dan menjadi langkah awal bagi Anindya untuk menjemput kembali takdirnya yang sempat tergadai. Namun, mereka tidak tahu bahwa di rumah sebesar itu, rahasia sepahit apa pun pasti akan tercium baunya suatu hari nanti. Dan saat hari itu tiba, badai yang lebih besar dari sekadar hukuman hujan akan datang menerjang mereka berdua.