Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Samudera yang mengalah pada fajar
Malam itu, setelah insiden di galeri, Biru tidak membawaku pulang ke apartemenku yang dingin. Dia seolah tahu bahwa jika aku dibiarkan sendirian di sana, aku hanya akan mengunci pintu dan membiarkan diriku membeku lebih keras dari sebelumnya.
Dia membawaku ke tepi pantai utara. Bukan pantai wisata yang gemerlap, melainkan sebuah dermaga kayu tua yang menjorok ke arah laut lepas. Angin laut yang asin menerpa wajahku, mencoba mengeringkan sisa-sisa air mata yang membuat pipiku perih.
"Kenapa kita ke sini?" tanyaku lirih, suaraku masih serak.
Biru mematikan mesin mobilnya. Dia tidak langsung menjawab. Dia keluar, berjalan ke depan kap mobil, dan duduk di sana sambil menatap garis cakrawala yang hitam pekat. Aku mengikutinya, duduk di sampingnya namun tetap memberi jarak.
"Kamu tahu, Aruna," Biru memulai, suaranya menyatu dengan deburan ombak. "Samudra itu luas, tapi dia tidak pernah mencoba menahan ombak. Dia membiarkan ombak itu pecah di karang, dia membiarkan badai mengaduk-aduk permukaannya. Karena dia tahu, sedalam apa pun badainya, dasar laut akan tetap tenang."
Aku menunduk, memainkan ujung jaketku. "Aku bukan samudra, Biru. Aku cuma genangan air yang baru saja diinjak-injak sampai kotor."
"Bukan," sela Biru cepat. Dia menoleh padaku. "Kamu adalah Aruna. Fajar yang sedang dipaksa oleh malam untuk berhenti bersinar. Tapi kamu lupa satu hal: tanpa malam, fajar tidak akan pernah terlihat istimewa."
Aku terdiam. Kalimatnya selalu punya cara untuk menyelinap masuk ke celah-celah hatiku yang retak.
"Abhinara..." aku menyebut nama itu dengan susah payah. "Dia adalah segalanya bagiku dulu. Saat dia pergi, dia tidak hanya membawa cintanya, tapi dia membawa harga diriku. Dia membuatku merasa bahwa aku adalah sesuatu yang bisa digantikan, sesuatu yang tidak cukup layak untuk diperjuangkan."
"Dan Maira?" tanya Biru pelan.
"Maira adalah pengingat bahwa meskipun aku memberikan segalanya, seseorang yang 'lebih baru' dan 'lebih menjanjikan' akan selalu bisa menang. Sejak saat itu, aku benci matahari. Aku benci segala sesuatu yang hangat karena hangat itu fana. Hanya dingin yang jujur, Biru. Dingin tidak pernah menjanjikan apa-apa."
Tiba-tiba, Biru meraih tanganku. Tangannya sangat hangat, kontras dengan jemariku yang sedingin es. Dia tidak menggenggamnya dengan posesif, melainkan dengan cara yang seolah-olah dia sedang menyalurkan seluruh sisa hidupnya padaku.
"Aruna Rembulan Maharani, lihat aku."
Aku mendongak. Di bawah cahaya bulan yang remang, mata Biru Laksmana Langit tampak berkilau.
"Aku bukan Abhinara yang menjanjikan semesta tapi hanya memberimu luka. Aku adalah Biru. Aku tidak punya matahari untuk diberikan padamu, tapi aku punya langit dan samudra yang bisa menampung semua musim dinginmu. Jika kamu takut mencair karena takut hanyut, maka biarkan aku yang menjadi wadahnya."
Degup jantungku yang selama tiga tahun ini stabil dan datar, tiba-tiba melonjak. Ada rasa sakit di dadaku, tapi kali ini bukan karena benci. Itu adalah rasa sakit dari sesuatu yang sudah lama mati namun dipaksa hidup kembali.
"Kenapa kamu melakukan ini?" bisikku. "Kamu bisa mendapatkan wanita mana pun yang lebih 'hangat' dan tidak rusak seperti aku."
Biru terkekeh pelan, sebuah tawa yang terdengar sangat tulus. "Karena wanita yang hangat tidak butuh aku. Tapi fajar yang sedang kedinginan... dia butuh seseorang yang tahu cara menunggu pagi tanpa mengeluh."
Malam itu, di tepi samudra, aku menyadari sesuatu yang menakutkan sekaligus melegakan. Benteng esku tidak dihancurkan dengan api, melainkan dikikis perlahan oleh air yang sabar. Biru tidak memaksaku untuk berubah; dia hanya membuatku merasa bahwa tidak apa-apa untuk menjadi hancur, asalkan aku hancur di tempat yang tepat.
Namun, tepat saat aku merasa aman, ponselku di saku jaket kembali bergetar. Sebuah pesan masuk. Bukan dari Abhinara.
Pesan itu datang dari nomor tidak dikenal, berisi sebuah foto: Foto Biru yang sedang memotretku di dermaga tempo hari, diambil dari kejauhan oleh orang asing.
Di bawahnya ada tulisan:
"Jangan terlalu percaya pada langit yang terlihat tenang, Aruna. Dia juga bisa menyimpan petir yang akan menghancurkanmu dua kali lebih hebat."
Tanganku gemetar lagi. Siapa yang mengawasi kami? Apakah masa lalu benar-benar belum selesai denganku, atau ini adalah awal dari badai yang lebih besar?
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...