NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 24: TITIK TEMU

Setahun setelah Bu Darmi tinggal bersama mereka, kehidupan menemukan irama baru yang lebih tenang. Bu Darmi kondisinya stabil dengan pengobatan rutin dan terapi. Meski ingatannya masih seperti mozaik kadang jelas, kadang kabur dia sudah bisa berinteraksi dengan keluarga secara bermakna. Dia mengenali Aisha sebagai putrinya, Arka sebagai cucunya, bahkan mulai bisa menyebut nama Nadia dan Arkana.

Yayasan Arkana Harapan terus berkembang, kini merambah ke program dukungan kesehatan mental untuk keluarga pasien kronis inisiatif dari pengalaman langsung Aisha merawat ibunya. Program ini mendapat sambutan luar biasa, karena banyak keluarga yang berjuang tidak hanya dengan penyakit fisik, tapi juga dengan beban psikologis.

Tapi hidup, seperti sungai, terus mengalir dengan riak-riaknya sendiri.

---

Musim penghujan datang dengan deras. Suatu sore, saat hujan mengguyur Jakarta, telepon rumah berdering. Laras yang mengangkat, wajahnya berubah pucat setelah mendengarkan.

"Siapa?" tanya Rafa, waspada melihat ekspresi istrinya.

Laras menutup telepon pelan. "Dari kantor ayah. Ayah… terkena stroke."

Ayah Laras yang selama ini tinggal di Bandung bersama istrinya selalu memiliki hubungan yang baik dengan mereka. Meski awalnya tidak menyetujui keputusan Laras menerima Aisha, lambat laun beliau menerima dan bahkan menyumbang untuk yayasan.

Mereka segera berangkat ke Bandung. Aisha menawarkan ikut, tapi Laras menolak halus. "Kamu harus jaga ibu dan anak-anak. Kami saja dulu."

Tapi di balik penolakan itu, Aisha tahu: ini adalah urusan keluarga inti Laras. Dan posisinya masih ambigu bukan saudara kandung, bukan istri, hanya "teman keluarga".

---

Di Bandung, kondisi ayah Laras cukup serius.

Dia sadar tapi separuh tubuhnya lumpuh. Butuh terapi panjang. Ibu Laras yang sudah sepuh tidak sanggup merawat sendirian.

"Kami harus bawa mereka ke Jakarta," putus Rafa. "Agar lebih mudah dijaga."

Laras setuju, tapi ada kecemasan: di mana mereka akan tinggal? Rumah mereka sudah penuh dengan Aisha dan Bu Darmi sebelumnya, meski sekarang Aisha punya rumah sendiri.

"Rumah kita ada kamar tamu di lantai bawah," usul Rafa. "Bisa kita atur."

Tapi itu berarti dua pasang orang tua dengan kondisi kesehatan rentan akan tinggal dalam satu rumah. Beban fisik dan emosional akan berlipat.

---

Kembali ke Jakarta, Aisha segera menawarkan solusi: "Rumahku masih ada satu kamar kosong. Ibu dan Bapak bisa tinggal di sana sementara. Jadi tidak terlalu penuh di rumah kalian."

"Tapi kamu sudah merawat ibumu," bantah Laras.

"Dan Glenn membantu. Lagipula, ibu dan ibumu bisa jadi teman. Usia mereka tidak terpaut jauh."

Setelah diskusi panjang, mereka setuju. Ibu dan ayah Laras akan pindah sementara ke rumah Aisha, dengan bantuan perawat yang direkomendasikan dr. Arman. Glenn bahkan menawarkan untuk tinggal lebih sering di rumah Aisha untuk membantu.

Keluarga besar yang semakin besar. Dan semakin kompleks.

---

Hari pertama kepindahan itu kacau.

Bu Darmi yang sudah terbiasa dengan rutinitas, terganggu dengan kehadiran orang baru. Dia menjadi cemas, sering mondar-mandir, kadang bertanya: "Siapa mereka? Kenapa di rumah kita?"

Sementara ibu Laras yang berasal dari keluarga tradisional Sunda awalnya canggung menerima kenyataan bahwa putri mereka tinggal serumah dengan mantan pacar suaminya dan ibunya yang sakit jiwa.

"Maaf merepotkan," kata ibu Laras pada Aisha dengan sopan namun menjaga jarak.

"Tidak apa-apa, Bu. Kita saling membantu."

Tapi di balik kata-kata sopan itu, ada jarak yang perlu dijembatani.

---

Arka menjadi penengah tanpa disadari.

Dia yang memperkenalkan "Nenek Sunda" pada "Nenek Jawa" (sebutannya untuk Bu Darmi). Dia yang mengajak mereka minum teh bersama di teras. Dan dengan polosnya, dia berkata: "Sekarang Arka punya dua nenek dekat. Senang banget."

Kebahagiaan polos anak itu melelehkan es kekakuan. Perlahan-lahan, Bu Darmi dan ibu Laras mulai berbicara. Awalnya tentang cuaca, lalu tentang resep masakan, lalu tentang… cucu-cucu mereka.

"Saya dulu punya kebun kecil di Bandung," cerita ibu Laras. "Tomatnya manis."

Bu Darmi yang biasanya diam, tiba-tiba menanggapi: "Saya juga suka berkebun. Tapi sudah lama…"

Percakapan kecil itu menjadi awal dari persahabatan dua nenek yang tidak pernah mereka bayangkan.

---

Tapi tidak semua berjalan mulus.

Ayah Laras membutuhkan terapi fisik intensif. Perawatnya harus khusus. Biaya membengkak. Dan meskipun Rafa dan Laras mampu, mereka mulai merasa kewalahan.

Aisha, tanpa banyak bicara, menggunakan dana yayasan untuk membuka program perawatan lansia berbasis keluarga. Dengan begitu, ayah Laras bisa mendapat terapi dengan biaya lebih terjangkau sekaligus membantu keluarga lain dalam situasi serupa.

"Kamu tidak harus melakukan ini," kata Laras, terharu.

"Kita keluarga," jawab Aisha sederhana. "Dan yayasan ini lahir dari pengalaman kita. Sekarang pengalaman kita bertambah merawat orang tua sakit. Mari kita gunakan untuk membantu lebih banyak orang."

Kesulitan yang diubah menjadi berkat. Lagi.

---

Glenn, yang menyaksikan semua ini, semakin yakin dengan pilihannya.

Suatu malam, dia mengajak Aisha berbicara serius.

"Aku ingin kita menikah, Aisha."

Aisha terkejut. Mereka belum pernah membicarakan pernikahan secara serius terutama setelah tahun berat merawat ibunya.

"Glenn… dengan semua yang terjadi…"

"Aku tahu. Tapi justru setelah melihat bagaimana kamu merawat ibumu, menerima keluarga Rafa, membantu orang tua Laras… aku semakin yakin. Kamu wanita yang aku inginkan sebagai istri dan ibu untuk Kayla."

"Tapi tanggung jawabku"

"Akan menjadi tanggung jawab kita bersama."

Aisha menatapnya, air mata di pelupuk mata. Dia mencintai Glenn. Tapi dia takut. Takut tidak adil membebani Glenn dengan segala kompleksitas hidupnya.

"Beri aku waktu untuk berpikir," pintanya.

"Seberapa pun lama, aku akan menunggu."

---

Kabar tentang lamaran Glenn sampai ke telinga Rafa dan Laras.

Reaksi mereka berbeda. Laras senang. "Dia pria baik. Aisha pantas bahagia."

Tapi Rafa… diam. Bukan karena tidak setuju, tapi karena ada rasa kehilangan yang aneh. Meski hubungan romantis mereka sudah berakhir, mengetahui Aisha akan benar-benar menjadi milik orang lain membuatnya merasa seperti kehilangan sesuatu yang berharga.

Laras memahami. "Itu wajar, Raf. Kamu dan Aisha punya sejarah panjang."

"Aku hanya ingin dia bahagia."

"Dan Glenn akan membuatnya bahagia."

---

Bu Darmi, dalam momen kesadarannya yang langka, tiba-tiba berkata pada Aisha:

"Kamu harus menikah lagi, Nak. Ibu tidak ingin kamu sendirian seperti ibu."

"Tapi ibu ada di sini. Dan ada Arka."

"Tapi kamu butuh pasangan. Pria itu… Glenn? Dia baik. Ibu lihat caranya memperlakukan kamu."

Kejutan. Ibunya memperhatikan. Dan dia menyetujui.

Bahkan ibu Laras ikut memberikan restu. "Dia pria baik. Dan Kayla anak yang manis."

Dukungan datang dari segala penjuru. Tapi keputusan tetap di tangan Aisha.

---

Arka punya pendapatnya sendiri.

"Kalau Bunda nikah sama Om Glenn, Arka punya ayah tiri ya?"

"Kamu sudah punya Ayah, sayang."

"Tapi Arka bisa punya dua ayah. Seperti punya dua nenek."

Logika anak-anak lagi-lagi sederhana namun dalam. Cinta tidak terbatas jumlahnya. Bisa diperbanyak, bukan dibagi.

---

Aisha akhirnya menjawab Glenn tapi bukan dengan kata "ya" atau "tidak".

Dia mengajaknya duduk bersama semua keluarga: Bu Darmi, Rafa, Laras, orang tua Laras, Arka, Nadia, Arkana, dan Kayla.

"Keluargaku rumit," katanya di depan mereka semua. "Ada ibu yang sakit. Ada mantan dan keluarganya yang sekarang seperti saudara. Ada yayasan yang harus dijalankan. Dan ada anak yang adalah segalanya bagiku."

Dia menatap Glenn. "Jika kamu menikahiku, kamu menikahi semuanya. Bukan hanya aku. Kamu siap?"

Glenn tidak langsung menjawab. Dia melihat sekeliling: pada Bu Darmi yang tersenyum kecil, pada Rafa yang mengangguk hormat, pada Laras yang tersenyum mendukung, pada anak-anak yang menatapnya penuh harap.

Lalu dia berjalan ke tengah ruangan, mengambil tangan Aisha, dan berkata dengan suara jelas:

"Aku tidak hanya siap. Aku bersyukur. Karena dengan menikahimu, aku mendapat keluarga besar yang luar biasa. Ibu Darmi akan menjadi ibuku juga. Arka akan menjadi putra keduaku. Dan semua orang di ruangan ini… akan menjadi keluargaku."

Dia menoleh pada Rafa dan Laras. "Jika kalian mengizinkan."

Rafa berdiri, berjalan menghampiri Glenn, menjabat tangannya erat. "Kami mengizinkan. Dan… terima kasih. Untuk mencintainya dengan tulus."

Laras menangis bahagia. Bahkan Bu Darmi mengangguk pelan, air matanya menggenang.

---

Mereka memutuskan untuk tidak terburu-buru.

Perencanaan pernikahan akan dilakukan perlahan, sambil menstabilkan kondisi kedua orang tua yang sakit. Mungkin enam bulan lagi. Atau setahun. Yang penting komitmen sudah diucapkan, restu sudah diberikan.

---

Tapi kehidupan punya caranya sendiri menguji komitmen itu.

Dua minggu kemudian, Bu Darmi jatuh sakit parah. Infeksi paru-paru yang dengan cepat berkembang menjadi pneumonia. Di usianya yang sudah senja dan dengan kondisi kesehatan mental yang mempengaruhi fisik, prognosisnya tidak baik.

Aisha hampir kolaps. Baru saja menemukan ibunya, sekarang mungkin akan kehilangan lagi.

dr. Arman langsung mengambil alih perawatan. Bu Darmi dirawat intensif di rumah sakit. Aisha tidak meninggalkan sisinya. Glenn, Rafa, Laras semua bergantian menunggui.

Di hari ketiga perawatan, Bu Darmi sadar sebentar. Matanya mencari Aisha.

"Aisha…"

"Ibu, saya di sini."

"Ibu… bahagia. Akhirnya… bisa lihat kamu besar. Bahagia."

"Jangan bicara begitu, Bu. Ibu harus sembuh."

Bu Darmi tersenyum kecil, lalu tangannya meraba saku bajunya. Dari dalamnya, dia mengeluarkan sebuah liontin tua foto Aisha kecil.

"Simpan… untuk Arka."

Itu kata-kata terakhirnya yang jelas. Malam itu, kondisi Bu Darmi memburuk. Dan di pagi buta, dengan Aisha, Arka, dan Glenn di sampingnya, Bu Darmi mengembuskan napas terakhir dengan tenang.

---

Kepergian Bu Darmi menyatukan mereka lebih dalam lagi.

Upacara pemakaman sederhana diadakan di Jakarta. Keluarga besar Aisha dari desa datang kali ini tanpa kemarahan, hanya dengan penyesalan yang dalam. Mereka meminta maaf pada Aisha.

"Kami salah menyembunyikan ibumu. Dan kami salah meninggalkanmu."

Aisha memaafkan. Dia terlalu lelah untuk menyimpan dendam. Dan ibunya pasti ingin dia memaafkan.

Di pemakaman, Arka meletakkan sekuntum bunga di peti neneknya. "Selamat jalan, Nek. Nanti ketemu lagi ya."

Kematian mengajarkan mereka tentang hidup, cinta, dan arti keluarga.

---

Beberapa minggu setelah pemakaman, Aisha menemukan surat tersembunyi di antara barang-barang ibunya surat yang ditulis Bu Darmi saat masih cukup sadar.

"Untuk Aisha, putriku.

Jika kamu membaca ini, berarti ibu sudah pergi. Jangan sedih. Ibu sudah bahagia akhir-akhir ini, dikelilingi cintamu dan cucu-cucu.

Ibu minta maaf untuk semua tahun yang hilang. Tapi ibu percaya, semuanya terjadi agar kita bertemu lagi di akhir dengan hati bersih.

Nikahlah dengan Glenn. Dia baik. Dan jaga Arka baik-baik.

Ibu mencintaimu, sekarang dan selamanya.

"~Ibumu"

Aisha menangis membaca surat itu. Closure. Dari ibunya sendiri.

---

Enam bulan kemudian, di sebuah taman kecil yang dikelilingi keluarga dan teman terdekat, Aisha dan Glenn akhirnya menikah.

Upacara sederhana, penuh air mata bahagia. Arka berdiri di samping Glenn sebagai "penjaga cincin". Kayla berdiri di samping Aisha sebagai "pendamping pengantin".

Rafa memberikan Aisha kepada Glenn sebagai simbol restu keluarga pertamanya untuk keluarga barunya. Laras menangis sepanjang upacara, kali ini air mata kebahagiaan murni.

Saat tukar cincin, Glenn berjanji: "Aku akan mencintaimu dan semua yang kamu cintai."

Aisha membalas: "Dan aku akan mencintaimu dengan seluruh cerita hidupku yang lalu, yang sekarang, dan yang akan datang."

---

Mereka tidak pindah jauh.

Glenn dan Kayla pindah ke rumah Aisha, yang kini juga menjadi rumah bagi kenangan Bu Darmi. Dan rumah Rafa-Laras tetap hanya lima menit berjalan kaki.

Keluarga besar mereka sekarang terdiri dari: Rumah 1: Rafa, Laras, Nadia, Arkana, orang tua Laras. Rumah 2: Aisha, Glenn, Arka, Kayla.

Setiap akhir pekan, mereka berkumpul. Kadang di rumah Rafa, kadang di rumah Aisha. Dua keluarga yang terpisah alamat, tapi bersatu hati.

---

Arka, di usia 10 tahun sekarang, menulis di buku hariannya:

"Aku punya keluarga paling aneh sedunia. Tapi juga paling keren. Ada Ayah, Mama Laras, Bunda, Papa Glenn, Nenek Sunda, Kakek, adik-adik, dan Kak Kayla. Ginjal Ayah masih baik di perutku. Dan aku janji, kalau besar mau bantu banyak anak sakit seperti aku dulu."

---

Mungkin perjalanan mereka belum benar-benar berakhir.

Masih akan ada tantangan kesehatan orang tua Laras, perkembangan yayasan, tumbuh kembang anak-anak, dan dinamika rumah tangga masing-masing.

Tapi satu hal yang mereka pelajari: tidak ada badai yang abadi. Dan setelah hujan, selalu ada pelangi meski terkadang harus menunggu cukup lama untuk melihatnya.

Mereka mungkin tidak pernah menjadi keluarga yang konvensional. Tapi mereka menjadi keluarga yang dipilih dengan sengaja, dirajut dengan pengorbanan, dan diperkuat oleh cinta yang lebih besar dari semua luka.

---

(Di suatu sore cerah, mereka semua duduk di halaman rumah Aisha-Glenn. Anak-anak bermain, orang tua tua tersenyum melihat mereka, Rafa dan Laras berpegangan tangan, Aisha dan Glenn saling bersandar. Tidak ada kata-kata yang perlu diucapkan. Karena dalam keheningan itu, terdengar jelas: mereka akhirnya sampai di tempat yang disebut "rumah".)

Apakah kisah ini harus berakhir...

Atau masih ada kisah yang harus diceritakan?

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!