NovelToon NovelToon
Janda Desa Kesayangan Presdir

Janda Desa Kesayangan Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Slice of Life / Romansa pedesaan
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.

Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.

Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.

Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter⁷ — Seorang Istri yang Tidak Dihargai.

Balai desa kembali sunyi.

Malvin mendorong roda kursinya maju beberapa langkah. Gerakannya tenang, meski jelas rasa sakit masih menempel di tubuhnya. Ia berhenti tepat di tengah ruangan, sorot matanya menyapu wajah-wajah yang tadi begitu lantang, dan begitu yakin pada kuasa Surya.

“Maaf mengganggu,” ucap Malvin akhirnya. Suaranya datar, terkendali. “Saya ingin mengatakan beberapa hal.”

Surya mendengus kecil. “Siapa Anda?” tanyanya dingin. “Balai desa ini bukan tempat untuk orang luar ikut campur. Silahkan pergi!”

Malvin tersenyum tipis. “Nama saya Malvin, saya Manajer proyek dari PT Cipta Nusantara.”

Beberapa warga saling berpandangan. Nama perusahaan itu terdengar asing bagi sebagian, namun cukup bergema bagi mereka yang paham dunia proyek.

Kepercayaan diri Surya retak, wajahnya kehilangan warna. Keringat dingin merembes pelan di pelipis, seolah tubuhnya lebih dulu menyadari sesuatu yang pikirannya belum siap terima.

“Saya datang ke desa ini memang sebagai tamu,” ucapnya, sorot matanya lurus tanpa ragu. “Tapi... saya juga adalah penanggung jawab pihak yang akan menanamkan investasi.”

Ia berhenti sejenak, cukup lama untuk membuat udara di sekeliling terasa berat. “Jadi, apakah saya masih harus pergi?”

Surya menoleh cepat ke arah para bawahannya, sorot matanya menuntut kepastian. Beberapa dari mereka segera membuka berkas dan ponsel, saling bertukar pandang sebelum akhirnya mengangguk pelan.

“Data-nya sesuai, Pak,” ujar salah satu dengan suara tertahan. “Orang ini memang penanggung jawab resmi. Dia adalah Manajer proyek dari perusahaan swasta yang akan menanamkan investasi di desa kita.”

Seorang petugas balai desa yang sebelumnya pernah berinteraksi langsung dengan Malvin melangkah maju. Tangannya terangkat, memperlihatkan sebuah kartu nama yang masih rapi. “Tapi ketika Anda datang ke sini beberapa hari lalu, kartu nama yang Anda berikan atas nama Hendra.”

Ia menunduk sejenak, membaca ulang tulisan di sana, lalu mendongak dengan tatapan tajam. “Dan di kartu ini tertulis, jabatan Anda adalah kepala pusat tani.”

Hening sesaat menyergap balai desa.

“Jadi… apakah kartu nama ini palsu?”

Malvin mengangguk pelan, sama sekali tak berusaha mengelak. “Benar, kartu nama itu memang bukan identitas resmi saya.”

Ia menyilangkan tangan di depan dada, suaranya tetap tenang, “Saya datang untuk melakukan inspeksi awal demi memastikan kelancaran proyek.”

Pandangannya berkeliling balai desa, berhenti sejenak di wajah-wajah yang kini tak lagi setenang tadi.

“Namun yang saya temukan justru terlalu banyak kejanggalan.” Ia menarik napas singkat, lalu melanjutkan dengan nada yang jauh lebih dingin. “Dan melihat kondisi saat ini, situasi desa tampaknya tidak kondusif. Sepertinya, saya harus melaporkan hal ini kepada atasan. Dan untuk sementara, rencana investasi ini kemungkinan besar akan kami batalkan."

“Jangan!” Surya bergerak cepat mendekat, nada suaranya berubah drastis. Wibawa yang tadi ia pamerkan luruh seketika, tergantikan senyum kaku yang terlalu dipaksakan.

“Maafkan saya, Pak Malvin,” katanya tergesa, suaranya lebih rendah, nyaris memohon. Ia menelan ludah, matanya tak lepas dari wajah Malvin. “Investasi itu… nilainya masih tiga puluh miliar, bukan?”

“Benar, nilainya tiga puluh miliar rupiah.”

Suara gumam langsung pecah di antara warga. Ada yang terkejut, ada yang tak percaya, ada pula yang spontan berdiri lebih tegak. Angka itu terlalu besar untuk disebut sembarangan.

Lastri menoleh cepat ke arah Malvin. Matanya membesar, napasnya tertahan. Ia jelas tidak mengetahui apa pun tentang ini.

Malvin menangkap tatapan itu, lalu kembali fokus. “Investasi ini mencakup pengembangan lahan pertanian terpadu, perbaikan akses jalan desa, dan pembangunan fasilitas pengolahan hasil tani. Proyek jangka panjang, legal, tercatat resmi. Dan... sangat bergantung pada stabilitas sosial desa ini.”

Surya terkejut. “Apa maksud Anda?”

“Maksud saya sederhana,” jawab Malvin tenang. “Perusahaan kami tidak akan menanamkan dana di wilayah yang dipimpin oleh seseorang yang menggunakan ancaman dan kekerasan terhadap warganya sendiri.”

Balai desa membeku, para warga menatap Surya.

Malvin menarik napas pelan. “Saya sudah mempelajari desa ini beberapa hari ini. Termasuk siapa saja yang berkontribusi, siapa yang dipinggirkan, dan siapa yang selama ini dipaksa mengalah demi kata ‘kerukunan’.”

Pandangan Malvin berhenti pada Lastri, meski sekilas tapi cukup untuk membuat dada perempuan itu bergetar pelan.

“Dan sebagai catatan,” lanjutnya, suaranya kini lebih dingin, “PT Cipta Nusantara tidak akan bekerja sama dengan kepala desa yang menciptakan sanksi sosial dan kekerasan sebagai alat kekuasaan.”

Surya mengepalkan tangan, wajahnya tetap tenang tapi rahangnya mengeras. “Anda tidak bisa memutuskan sepihak seperti itu.“

Malvin tetap tenang, suaranya datar namun tak memberi ruang tawar. “Keputusan yang diambil di ruangan ini, akan menentukan apakah dana tiga puluh miliar itu masuk ke desa ini... atau kami alihkan ke desa lain.”

Tatapannya tak bergeser sedikit pun, seolah keputusan itu memang sepenuhnya berada di tangannya.

Hening jatuh kembali.

Lastri menelan ludah. Tekadnya yang sempat goyah, perlahan menemukan pijakan baru.

Malvin kembali mendorong kursi rodanya sedikit dekat ke arah Lastri. Suaranya tetap tenang, namun kini setiap kata mengandung tekanan yang tak bisa diabaikan. “Ada satu alasan lagi, mengapa saya datang ke balai desa ini.”

Malvin menoleh ke arah Lastri. Beberapa warga mengikuti arah pandang itu, wajah-wajah yang tadi memihak Surya kini terlihat ragu.

“Saya memilih berinvestasi di desa ini,” kata Malvin pelan namun jelas, “Karena ada satu orang yang selama ini bekerja keras demi desa ini dalam diamnya.”

Lastri terdiam, jantungnya berdegup tidak beraturan.

“Orang itu adalah Lastri.” Ucap Malvin.

Balai desa kembali bergemuruh, gumaman muncul dari berbagai arah. Ada yang terkejut, ada yang tak percaya, ada pula yang spontan menggeleng.

Surya terkekeh pendek, senyumnya miring dan dingin. “Dia, hanya seorang janda.”

Tatapannya melirik ke arah Lastri sekilas dengan pandangan meremehkan, lalu kembali pada Malvin. “Mantan istri saya ini bahkan tak bisa patuh pada saya sebagai suaminya. Apa hubungannya perempuan seperti ini dengan proyek pertanian?”

Malvin menatap Surya dengan tajam.

“Justru karena itu, selama Anda menjabat... Lastri yang turun langsung mengecek pertanian dan pembangunan di desa. Lastri yang berbicara dengan petani, yang mencatat kebutuhan pupuk, yang mengatur pola tanam, dan yang mencari cara agar hasil panen meningkat.”

Beberapa warga mulai saling berpandangan. Kebenaran ucapan Malvin bukan lagi dugaan—itu nyata. Mereka adalah saksi hidup. Orang-orang yang tahu betul bagaimana Lastri bekerja dalam diam ketika masih menjadi istri kepala desa. Dari ladang ke ladang, dari rapat ke rapat kecil yang tak pernah dicatat, Lastri ada di sana. Namun, tak satu pun dari mereka melangkah maju untuk membela Lastri. Ketakutan lebih dulu menahan kaki mereka, kekuasaan Surya terlalu nyata. Maka kebenaran itu hanya berputar di antara tatapan-tatapan yang menunduk, diakui dalam hati tapi tak pernah sampai terucap untuk membela Lastri.

“Program pertanian yang Anda banggakan, sebagian besar disusun oleh Lastri. Ia yang mengusulkan sistem tanam bergilir, ia yang memperjuangkan bibit lebih baik, dan ia pula yang mengajarkan cara pengolahan pascapanen agar harga jual naik.”

Surya hendak menyela, namun Malvin lebih dulu mengangkat tangannya. Gerakan itu kecil, tapi sangat tegas.

“Masalahnya sederhana, yang dilihat warga selama ini hanya nama kepala desa. Setiap keberhasilan selalu Anda yang mengambil.”

Malvin lalu menoleh ke arah Lastri. “Sementara kerja keras Lastri dihapus, dianggap tidak pernah ada. Hanya karena... dulu dia seorang istri yang tidak dihargai, dan tidak pernah diberi tempat.”

Ruangan itu hening.

Lastri menunduk, rahangnya mengeras. Kenangan tentang hari-hari di ladang, tentang lumpur yang menempel di kakinya, tentang malam-malam mencatat hasil panen setiap petani, semuanya kembali menghantam dadanya.

Malvin menatap para warga satu per satu. “Perusahaan kami tidak memilih mitra berdasarkan jabatan, tapi kami memilih berdasarkan kapasitas dan rekam jejak.”

Malvin kembali menoleh ke arah Lastri. Pandangannya tak lagi sekadar menilai, tapi menetapkan. “Dan itulah alasan saya, memilih Lastri sebagai pendamping utama dalam proyek ini.”

Suasana balai desa membeku.

“Jika keputusan ini ditolak,” lanjutnya tanpa ragu, “Maka seluruh rencana investasi untuk pengembangan desa akan kami hentikan.”

Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, tak menyisakan satu pun wajah tanpa beban. “Kami akan mencari desa lain. Dan saat itu terjadi, yang rugi bukan perusahaan kami. Akan tetapi, kalian semua.”

“APA?!” Surya tersentak, kali ini ia benar-benar kehilangan kendali atas keterkejutannya.

Sementara beberapa warga mulai gelisah. Ada yang terlihat bersalah, ada pula yang menunduk, tak berani menatap Lastri.

Lastri mengangkat kepalanya perlahan, matanya berkaca-kaca. Ia terharu, karena untuk pertama kalinya ada seseorang yang menyebut kerja kerasnya dengan nama yang pantas.

Balai desa yang sejak tadi tunduk pada kuasa bernama kepala desa, perlahan bergeser.

Keberpihakan yang semula mengalir pada jabatan, kini mulai condong arah pada Lastri.

1
Shee_👚
ini malvin perusahaan lagi gonjang ganjing dia malah santai 🤭
Shee_👚
kasian jadi vina di manfaatin orang terus dengan sifat polosnya.
semoga kalvin nanti jatuh cinta
Fia Ayu
CATATAT, hanya pura2,
Awas aja klo sampe bucin kau kalvin🫵
Fia Ayu
Ngakak sama kelakuan vina🤣
Fia Ayu
Aku deg deg kan wee😁
Tiara Bella
yah kasian Vina Kalvin GK ada rasa sm km vin ...
Tiara Bella
waahhhh Alya sm Arsen Vina sm Kalvin.....Revan sm Fahira dipenjara
anita
kamu ibarat anak TK lawan org dewasa revan..gk seimbang bingiittss
vj'z tri
muntahin Alya muntahin jangan di tahan tahan bisa jadi penyakit tar /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Dian Rahmawati
wah jahat si fahira
Shee_👚
wow dia ngikutin jejak arsen yang pura-pura hilang ingatan 🤭
anita
jodohmu alyaa
Fia Ayu
Eeeeaaaaa,,,,, dan benih benih cinta tanpa di sadari telah tumbuh🤭
Tiara Bella
bener Alya lupa ingatan .... mudah² Vina berpihak sm Arsen ya
Eka Haslinda
tanya sama Arsen tentang apa saja yg telah dikerjakan Alya.. Arsen kan tau semuanya
Shee_👚
jangan sampai alya hilang ingatan, pokoknya Alya harus sadar🤭
Tiara Bella
semoga Alya gk hilang ingatan ya....
Tiara Bella
Alya sm arsen mudah²an Selamat ya....selamat bt Lastri sm Malvin atas kehamilannya ..
Shee_👚
semoga alya dan arsen baik-baik aja
Shee_👚
nyesel revan tar kalau udah jatoh dan di tahan, karena dan berkhianat sama alya dan perusahaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!