NovelToon NovelToon
Kembali Ke Akhir Dunia

Kembali Ke Akhir Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serigala Kecil

Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir malah kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad, Elle bersumpah akan melawan kejahatan dan zombie.

Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya, sebab Elle tidak sendirian. Disamping orang kepercayaannya, ia bertemu seseorang yang membuat hatinya berdebar. Tapi fakta yang disembunyikan oleh laki-laki ini, mampu membuat Elle kehilangan kendali atas dirinya. Sebab dialah yang bertanggungjawab atas situasi dan kondisi di dunia tersebut.

Bagaimana Elle mengatasi tantangan atas rasa sakit, dan perjuangan secara bersamaan? Mampukah ia pada akhirnya sampai ke garis akhir atas perjuangannya, atau justru mati digerus kejinya akhir dunia?

Yuk ikuti terus ceritanya ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kawanan Kelinci

"Kami melompat bersama, aku tidak tahu bagaimana keadaan adikku disana, sebab begitu bangun aku sudah berada disini. Komunitas itu adalah tempat pertama aku bangun, itu pertama kalinya aku melihatmu, dengan tekad kuat membawa kami menuju jalan terang."

Luca menatap Elle lekat, melihat ekspresinya yang tidak berubah sama sekali, kecuali matanya yang berubah kosong. Luca takut akan responnya, ia tidak marah, tidak mengamuk, tidak berteriak, tapi hanya diam. Membuat Luca tidak tahu harus mengambil tindakan apa setelahnya.

"Elle, maaf karena kau harus menjalani hidup sesulit ini, maaf atas semua rasa sakit yang kau alami, maaf karena menempatkanmu dalam situasi ini..." Ucap Luca pelan, matanya memerah menahan tangis. Tapi Elle tetap tidak bergeming, membuat Luca semakin merasa bersalah.

"Elle...perasaanku tumbuh sejak hari itu. Aku sungguh-sungguh." Ucapnya lagi. Yang kali ini membuat Elle menatapnya dengan nanar.

"Kau yakin? Tumbuh karena apa? Rasa bersalah? Kau merasa bertanggung jawab atas hidupku? Atas semua hal yang menimpaku?" Tanya Elle dengan tawa sinis keluar dari mulutnya. "OMONG KOSONG!" Teriaknya setelahnya, dengan mata merah dan amarah yang memuncak.

"Tidak, sungguh. Aku bahkan tidak tahu kau peran utama dalam cerita adikku sebelum tahu kau punya ruang ini." Geleng Luca kuat-kuat. Matanya yang memerah kini sudah meneteskan air mata. "Aku bersumpah, Elle. Perasaanku nyata. Tapi atas rasa sakit yang kau alami, kau bisa melampiaskannya padaku, hukum aku, pukul aku, lampiaskan semuanya, meski aku mati sekalipun ditanganmu aku sanggup." Lanjut Luca, kini ia sudah berlutut memohon pada Elle. Bersujud berkali-kali membenturkan kepala, memohon ampun.

Tapi meski dahi Luca sudah berdarah pun, Elle tetap tidak menggubrisnya. Elle tidak mau menyerah begitu saja, hatinya menolak menyerah. Atas segala rasa sakit, kesulitan dan kesesakan hidupnya, meski bukan Luca yang benar-benar bertanggungjawab, tapi adiknya.... Adiknya yang--andai saja Luca tidak menyarankannya...

Keduanya bertahan dalam posisi masing-masing dengan perasaan yang benar-benar kacau. Cukup lama, sampai suara gonggongan anjing kecilnya menyadarkannya, ia langsung membawa Luca keluar dari sub-ruangnya.

Elle menghapus air matanya, mencoba berlaku sebiasa mungkin sebelum mengambil anjing kecil yang menjaga tempat keduanya menghilang. "Ada apa, dudu?" Tanya Elle pada anjing kecilnya, yang sudah dinamai Dudu sejak tiga hari lalu.

Dudu menggonggong keras, ia berontak dari pelukan Elle dan mendarat di tanah. Lalu ia berlari, sesekali melihat kebelakang, membuat Elle beranggapan bahwa Dudu ingin diikuti.

Dan benar saja, begitu Dudu berhenti, disanalah terlihat semua orang dalam timnya, kecuali dua anak kecil, kini sedang bertarung dengan kawanan kelinci mutan. Kelinci mutan berwarna hitam dengan corak ungu dan mata merah. Laku ada satu yang mencolok, kelinci putih yang lebih besar daripada yang lain, dengan corak ungu dan mata ungu.

Membuat Elle membelalakkan kedua matanya, iapun berlari menghampiri timnya yang sudah mulai bertarung. Begitupula Luca yang dari awal bingung karena Elle tiba-tiba membawanya keluar dari ruang, langsung berlari mengikuti Dudu. Lalu ketika Elle berlari, lantas iapun ikut berlari dengan tangan yang langsung mengambil belati dari pinggangnya.

**

"Sial! Kok tiba-tiba banyak kelinci?!" Teriak Sam marah. Baru tiga hari merasa tenang, berlatih dengan tenang dan menaikkan tingkat kemampuan dengan tenang. Kini, sudah muncul masalah baru lagi yang membuat repot.

Masalahnya, bukan satu dua seperti sapi tiga hari lalu. Tapi puluhan kelinci, tiba-tiba datang dan mengepung tim yang sedang dalam pelatihan. Kalau saja Sasa dan Lio tidak sadar dan tidak bicara lebih awal, mungkin sudah ada banyak korban disana.

"Hati-hati semuanya! Lihat matanya yang merah, mungkin mereka memangsa kita!" Teriak Paman Jergh yang badannya sudah berubah besar berotot.

"Uh huh! Hampir saja aku digigit kelinci itu. Untung saja Sasa melemparkan daging miliknya!" Pekik Shirley ngeri dengan keadaan disekitar. Bola api sudah mengapung diatas tangannya.

"Hei! Berhenti mengobrol, aku rasa kelinci itu mulai serius." Ucap Darrion mengingatkan, apalagi ketika kelinci hitam itu membawakan daging pada kelinci paling besar, yang memakannya dalam satu suapan.

Darrion jelas melihat bahwa mata ungu kelinci besar itu berbinar, seolah mereka menemukan harta karun. "Dia mengincar daging! Tidakkah mereka pikir kita adalah daging yang tuannya makan?!" Pekiknya berlanjut.

"Oh tidak! Kau benar, kak!" Balas Avin yang sudah mulai menebaskan belati pada kelinci hitam yang melompat dengan mulut terbuka memperlihatkan gigi tajamnya.

"Bertarung! Berhenti bicara!" Timpal Sam, yang sama-sama sudah mulai menebaskan belati.

Satu orang masing-masing melawan 4 sampai 5 kelinci. Sekitar 23 kelinci maju, dengan sisa kelinci sekitar 30 an setia menjadi penjaga sang tuan, yakni kelinci paling besar yang berdiri diatas batu, bulu putih corak ungunya memancar tersinari sedikit cahaya bulan yang mengintip dari langit.

Swoosh! Swoosh!

Srettt!

Crash!

Shoooo sssshhooo

Dagh! Bruk!

Benturan suara dari pertarungan bercampur dengan cicitan kelinci yang lumayan nyaring. Semuanya bertarung dengan serius, beberapa terdesak dan kesulitan melawan sebab kelinci melompat dengan sangat lincah.

Kelinci putih menatap medan pertempuran dengan tidak senang, matanya melirik ke kiri dan ke kanan sampai akhirnya berhenti di Van, dimana Sasa dan Lio berada. Menatap beberapa saat, mengedip, mengedip kemudian mencicit.

Mendengar cicitan yang berarti perintah, majulah 15 kelinci menuju Van yang ditempati Sasa dan Lio. Membuat dua anak kecil saling memeluk ketakutan, tapi tidak berani bersuara untuk meminta tolong. Sebab keduanya melihat, semua orang sedang sama-sama sibuk.

"KAKAK! SASA DAN LIO!" Teriak Avin yang sempat melirik keduanya dan melihat jalannya 15 kelinci bersamaan menuju arah Van. Lantas ia menghilang ditempat, berencana pergi menyelamatkan keduanya. "AKU TIDAK AKAN SEMPAT!" Teriak Avin dengan panik, setelah melihat kecepatan kelinci tersebut.

"OH TIDAK! SAM! BANTU SASA DAN LIO!" Teriak Shirley panik, tapi ia tidak bisa berhenti melawan. Pilihannya saat ini adalah Sam, sebab dengan kekuatan percepatannya, Sam masih mampu untuk sekedar melarikan diri dari kelima kelinci yang meyerangnya.

"DATANG!" Teriak Sam lalu pergi dengan cepat meninggalkan medan pertempuran, tapi ia malah kembali dihadang lima kelinci, total sepuluh kelinci yang kini melawannya. "SIAL! MAU APA KALIAN?!" Teriaknya frustasi. "Shirley, aku kesulitan!" Teriak Sam memberitahu.

"SASA! LIO!" Teriak Shirley ketakutan. Ia kemudian menggunakan semua energinya membentuk sebuah bola api besar kemudian membakar semua kelinci yang ada dihadapannya dan sekitar yang dekat dengannya. Setelahnya ia pergi, menuju Sasa dan Lio tapi dengan kecepatannya, ia sama sekali tidak akan sampai tepat waktu, ditambah tubuhnya kini lemah karena kehabisan energi.

"TIDAK!!" Teriak Shirley terjatuh, tangannya terulur menatap dua anaknya dengan mata yang berlinang air.

SRRR SRRR SRRRR

GRRRRH GRRRR GUK! GUK! GUK! GUK!

**

1
Windy Hapsarini
akhirnya Luca bertindak,so sweet 😍😍😍🥰🥰 lanjut Thor n semangat n sehat selalu ✊✊✊🥰🥰🥰
Windy Hapsarini
Elle klw suka ngomong,entar diambil zombie nangis bombai de'.. semangat Thor 🥰🥰🥰
Douyin Rndm FP
Bagus
azka aldric Pratama
hadir 😁
Windy Hapsarini
lanjut Thor 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!