NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: SABOTASE DI TENGAH MALAM

Malam di Oetimu biasanya membawa ketenangan yang dingin, sebuah jeda setelah matahari membakar kulit sepanjang hari. Namun bagi Jonatan, ketenangan kali ini terasa palsu. Gemericik air yang mengalir dari pipa menuju bak penampungan utama terdengar seperti nyanyian kemenangan, tetapi di telinganya, suara itu juga terdengar seperti undangan bagi bencana. Ia tahu, Tuan Markus bukan tipe orang yang akan mundur hanya karena kalah dalam satu taruhan di depan warga.

Jonatan memutuskan untuk tidur di sebuah balai-balai bambu tepat di samping sumur tua. Ia menyelimuti tubuhnya dengan sarung tenun pemberian ibunya, mencoba memejamkan mata di bawah langit yang bertabur bintang. Di dalam tas kainnya yang ia jadikan bantal, sebuah senter kecil dan kunci inggris tersimpan rapi—berjaga-jaga jika ada komponen yang butuh penyesuaian di tengah malam.

"Jon, tidurlah di rumah. Biar Bapak yang jaga di sini," bisik Pak Berto yang datang membawakan segelas kopi pahit.

"Tidak, Bapak. Alat ini sensitif. Kalau ada getaran yang salah pada pompanya, saya harus segera tahu," jawab Jonatan. Ia menatap wajah ayahnya yang tampak jauh lebih tenang. "Bapak istirahatlah. Besok kita mulai bagi jadwal air untuk kebun warga."

Pak Berto menepuk bahu Jonatan, lalu berlalu menuju rumah. Keheningan kembali menyergap. Pukul dua dini hari, ketika bulan sudah mulai condong ke barat dan suhu udara mencapai titik paling menggigit, Jonatan mendengar sesuatu. Bukan suara angin, bukan pula suara jangkrik.

Krak.

Suara ranting kering yang terinjak. Jaraknya tidak jauh dari tiang penyangga panel surya.

Jonatan tidak langsung bangun. Ia mengatur napasnya agar tetap terdengar teratur, seolah sedang terlelap dalam tidur yang lelap. Matanya terbuka sedikit, mengintip melalui celah sarung. Di balik bayangan pohon asam, ia melihat dua siluet manusia bergerak mengendap-endap. Mereka tidak membawa lampu, namun cahaya bulan yang tipis memantulkan kilatan besi di tangan salah satu dari mereka. Sebuah linggis.

Jantung Jonatan berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan keras. Ia meraba kunci inggris di dalam tasnya.

"Cepat! Hancurkan dudukan panelnya dulu. Kalau miring sedikit saja, kabelnya pasti putus di dalam," bisik sebuah suara yang berat dan kasar. Jonatan mengenali suara itu; itu adalah orang suruhan Tuan Markus yang biasanya menagih hutang ke rumah-rumah warga.

"Bagaimana dengan pompanya?" tanya suara yang lain.

"Siram dengan solar dan pasir. Biar mesinnya macet total. Tuan Markus bilang, besok pagi air ini harus berhenti mengalir kalau kita tidak mau kepala kita yang pecah."

Jonatan tidak bisa menunggu lagi. Jika mereka menyentuh panel surya, riset berbulan-bulan yang ia kerjakan bersama Pak Johan akan hancur dalam hitungan detik. Ia segera meloncat dari balai-balai, menyalakan senternya tepat ke arah wajah kedua orang itu.

"Siapa di sana?!" teriak Jonatan sekuat tenaga.

Kedua pria itu tersentak, menutup mata mereka dari silau lampu senter. Namun, mereka tidak lari. Menyadari bahwa yang menghadapi mereka hanyalah seorang pemuda kurus, pria bertubuh besar dengan linggis itu justru menyeringai.

"Jangan ikut campur, Sarjana. Kembali saja ke mimpimu. Oetimu itu tanah kering, dan akan tetap kering kalau kami yang mau," ancam pria itu sambil melangkah maju, mengangkat linggisnya tinggi-tinggi.

Jonatan mundur satu langkah, posisinya kini membelakangi panel surya. "Kalian tidak akan menyentuh alat ini. Ini milik warga, bukan milik Tuan Markus!"

"Warga tidak punya apa-apa di sini! Semuanya punya Tuan Markus!" pria itu mengayunkan linggisnya ke arah kepala Jonatan.

Jonatan menghindar dengan cepat, linggis itu menghantam tiang bambu balai-balai hingga patah. Ia menggunakan kesempatan itu untuk memukul pergelangan tangan pria tersebut dengan kunci inggris yang ia pegang. Suara tulang yang beradu dengan besi terdengar menyakitkan. Pria itu mengerang kesakitan, linggisnya terjatuh ke tanah.

Namun, pria kedua menyerang dari arah samping. Sebuah bogem mentah mendarat telak di pipi Jonatan, membuatnya tersungkur ke tanah merah yang kasar. Rasa asin darah mulai terasa di mulutnya. Sebelum ia sempat bangun, pria pertama yang tadi memegang linggis menendang perutnya dengan sepatu lars yang keras.

"Ugh!" Jonatan terbatuk, oksigen seolah-olah lenyap dari paru-parunya.

Dalam rasa sakit yang luar biasa, Jonatan melihat pria kedua mulai mendekati kotak kontroler dengan botol berisi cairan gelap—solar. Ia mencoba merangkak, meraih kaki pria itu, namun kepalanya kembali diinjak ke tanah oleh pria pertama.

"Lihat ini, Sarjana! Besok kau akan menangis bersama ibumu yang penyakitan itu!" teriak pria itu jahat.

Tepat saat pria kedua hendak menuangkan solar ke dalam celah mesin, sebuah teriakan membahana dari arah perkampungan.

"Woi! Siapa itu di sumur?!"

Itu suara Pak Berto. Tak lama kemudian, cahaya obor mulai bermunculan satu per satu dari arah rumah-rumah warga. Rupanya, teriakan Jonatan di awal tadi telah membangunkan ayahnya, dan Pak Berto tidak datang sendiri. Ia telah memukul lonceng desa—sebuah potongan besi rel kereta yang digantung di depan rumah kepala desa.

"Ada pencuri! Jaga sumur!" teriak warga yang lain.

Menyadari situasi tidak lagi memihak mereka, kedua pria suruhan Tuan Markus itu panik. Pria yang menginjak Jonatan memberikan satu tendangan terakhir ke bahu Jonatan sebelum akhirnya mereka melompat ke arah kegelapan hutan sabana.

Jonatan terkapar, napasnya memburu, wajahnya penuh debu dan darah. Pak Berto adalah orang pertama yang sampai di sampingnya, diikuti oleh beberapa pemuda desa yang membawa parang dan kayu.

"Jon! Kau tidak apa-apa?!" Pak Berto mengangkat kepala anaknya ke pangkuannya.

"Alatnya... Bapak... lihat alatnya..." bisik Jonatan lemah.

Dua orang pemuda memeriksa panel surya dan kotak mesin. "Aman, Jon. Mereka baru sempat menyiram sedikit solar di lantai, belum masuk ke mesin. Kabel-kabel juga masih utuh."

Jonatan memejamkan mata, mengembuskan napas lega yang panjang. Rasa sakit di tubuhnya seolah memudar berganti dengan rasa syukur yang mendalam. Warga desa berkumpul mengelilingi sumur, wajah-wajah mereka tampak marah. Mereka yang selama ini takut pada Tuan Markus, kini mulai merasa bahwa ada sesuatu yang lebih berharga daripada hutang mereka: harapan untuk hidup.

"Ini keterlaluan," ucap salah satu tetangga Jonatan. "Tuan Markus mau membunuh kita semua dengan mematikan air ini."

Malam itu juga, warga desa melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi selama puluhan tahun di Oetimu. Tanpa perintah dari kepala desa, para pemuda bergantian menjaga sumur. Mereka menyalakan api unggun besar di dekat panel surya, duduk melingkar dengan senjata di tangan. Jonatan dibawa kembali ke rumah, ibunya menangis saat melihat memar di wajah putranya, namun Jonatan hanya tersenyum.

"Jangan menangis, Mama. Ini tandanya air kita memang sangat berharga," hibur Jonatan sambil menahan perih saat lukanya dibasuh air hangat.

Di kegelapan kamarnya, Jonatan tidak bisa tidur. Ia menyadari bahwa sabotase ini hanyalah permulaan. Tuan Markus tidak akan berhenti di sini. Pria itu memiliki koneksi dengan pejabat di kabupaten, bahkan mungkin di provinsi. Esok hari, pertarungan mungkin tidak lagi menggunakan linggis dan solar, melainkan surat-surat sita tanah atau laporan polisi palsu.

Ia mengambil buku catatannya, menulis dengan tangan yang masih sedikit gemetar:

Bab 17. Malam ini, tanah merah ini meminum sedikit darahku. Tapi itu tidak apa-apa, asalkan ia tidak lagi berhenti meminum air bening dari bawah sana. Tuan Markus telah menunjukkan wajah aslinya, dan sekarang warga mulai melihat siapa musuh yang sebenarnya. Tantangan berikutnya adalah birokrasi. Aku harus menghubungi Pak Johan.

Saat matahari pagi mulai mengintip dari balik bukit, Jonatan berdiri di teras rumah. Ia melihat warga desa mulai mengantre air dengan tertib, membawa jerigen-jerigen tua yang kini terisi penuh. Di kejauhan, ia melihat motor Tuan Markus melintas pelan di jalan raya, berhenti sejenak menatap ke arah sumur, lalu pergi dengan kecepatan tinggi.

Jonatan tahu, ia harus segera kembali ke kota untuk mengurus paten dan legalitas proyek ini. Oetimu sudah punya air, tapi ia harus memastikan air itu tetap mengalir tanpa bayang-bayang ketakutan.

"Pertarungan yang sebenarnya baru saja dimulai," bisiknya sambil menatap langit biru yang luas.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!