Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tunduk di kaki
Pada waktu sorenya.....
Rubi dan Savitri sudah tiba lebih dahulu ke hotel tempat di adakannya arisan berlian itu begitu juga suami Savitri yang akan bertemu dengan Mahessa nantinya. Nampak di sana juga beberapa teman teman Mischa pun sudah sampai di sana.
Sedangkan Ale memilih berangkat sendiri karena dia tidak ingin membuat keributan terlebih dahulu atau memancing kecurigaan banyak orang.
Zurra datang bersama dengan Altezza, mereka langsung berpisah menuju ruangan mereka masing masing dan dengan tujuan yang sama. Melihat dan menjaga anak anak mereka menyelesaikan masalah mereka.
Arlo datang menemani Mischa sesuai kesepakatan bersama meskipun dia ingin sekali pergi bersama dengan Ale tapi dia tak ingin mengacaukan mood Ale lagi karena Arlo mengajaknya berdebat.
"Ma, kenapa mereka lama sekali ya ma? Padahal aku ingin sekali bertemu dengan Arlo," rengek Rubi pada Savitri.
Savitri juga nampak gelisah menunggu Mischa dan Arlo yang tak kunjung datang, tapi saat Savitri ingin menghubungi Nana pintu ruangan tempat arisan itu terbuka dan nampaklah sosok Arlo yang berjalan gagah dengan Mischa yang ada di sebelahnya.
Arlo sempat melirik ke arah Rubi yang terlihat berbinar saat melihatnya, sementara Savitri sudah membetulkan letak baju dan semua riasannya. Dia ingin terlihat menawan dan mewah di depan Mischa. Tak berapa lama di belakang Mischa nampak Zurra yang masuk di ikuti oleh Nana di belakangnya.
Savitri langsung berdiri menyambut Mischa dengan senang dan nampak sekali dia sok akrab saat ini.
"Ah, apakah ini nyonya Mischa yang terkenal itu? Senang sekali bisa bertemu dengan nyonya Mischa yang masih nampak cantik dan muda sekali," puji Savitri yang terdengar sangat garing bagi semua orang yang ada di sana.
Zurra yang sudah duduk bersama dengan Nana dan beberapa perempuan lainnya acuh tak acuh pada Savitri yang terhitung masih anggota baru itu. Terlihat juga jika Savitri ingin mencari perhatian Mischa yang nampak jengah dengan apa yang di katakan oleh Savitri kepadanya.
Mischa memang terlihat polos dan lugu tapi dia bukan orang bodoh.
"Maaf, apa aku mengenalmu?" tanya Mischa berpura pura polos.
Savitri tertegun di sana dan mengepalkan kedua tangannya karena emosi, dia merasa di permalukan oleh Mischa saat ini yang terang terangan tidak mengenalinya.
"A-apa kamu tidak kenal denganku? Padahal minggu kemarin kita bertemu di acara arisan juga?" tanya Savitri sedikit canggung.
Savitri tak mungkin meluapkan semua emosinya di sana saat ini, apalagi ada banyak orang di sana. Dia tak menyangka jika Mischa malah akan langsung bersikap seperti itu. Sementara Rubi sudah memandang kesal ke arah Mischa yan g seperti mempermalukan mamanya di depan orang banyak.
"Apa itu, sombong sekali jadi orang!" omel Rubi kesal.
Wajah Rubi sudah tak sedap di pandang mata dan dia masih menatap tajam ke arah Mischa. Arlo masih diam memerhatikan apa yang di lakukan mamanya saat ini.
"Maaf tapi aku memang tak bisa mengingat siapa kamu, tapi kalau begitu salam kenal. Aku ingin bertemu yang lainnya." pamit Mischa pada Savitri.
Tapi Savitri segera mencekal lengan Mischa dengan sedikit keras dan hampir saja membuat Arlo berdiri menghampiri sang mama jika dia tak di tahan oleh Zurra. Arlo melihat Zurra menggelengkan kepalanya pelan dan memberi kode untuk bersabar.
Mischa sendiri sudah menaikkan sebelah alisnya tak suka dengan apa yang di lakukan Savitri kepadanya. Tapi Savitri tak peduli dengan itu, dia masih menebalkan wajahnya agar Mischa mau mengobrol dengannya.
"Bisa lepaskan tanganku?"
Suara Mischa tiba tiba datar dan dingin dan reflek Savitri langsung melepaskan karena merasa takut dengan pandangan Mischa.
Setelahnya Mischa meninggalkan Savitri dengan kesal dan duduk di sebelah Zurra yang sedang memandangnya aneh.
Setelahnya Zurra melihat lengan Mischa dan nampak memerah tapi dia membiarkannya saja, berbeda dengan Arlo yang sudah tak bisa menahan amarahnya.
"Maafkan aku, tadi aku reflek karena terlalu senang bisa bertemu dengan kamu karena aku ingin mengenalkan putriku Rubi kepadamu," ucap Savitri berusaha untuk terus ramah dan tersenyum ke arah Mischa.
"Rubi ini suka sekali dengan Arlo dan aku berharap mereka berdua bisa dekat karena menurutku Rubi dan Arlo anakmu cocok," ucap Savitri lagi dengan tak tahu malunya.
Arlo masih diam tak menanggapi dan dia malah sibuk dengan ponselnya karena menunggu Ale yang belum datang ke sana. Sementara Rubi sudah mendekat dan berdiri di depan Arlo yang membuat Arlo mengerutkan keningnya. Bau parfum yang Rubi kenakan juga sangat menyengat hidungnya dan tanpa sadar Arlo bersin di depan mereka semua berkali kali.
"Ah, ada apa sama lo? Apa lo sakit?" tanya Rubi tiba tiba dan ingin memegang Arlo.
Tapi tiba tiba saja ada tangan yang mencekal pergelangan tangan Rubi dengan kuat.
"Menjauhlah dari Arlo karena dia alergi sama parfum milik lo!" ucap orang itu dengan wajah datar dan dingin.
Setelahnya Ale yang baru saja datang itu mendekat ke arah Arlo dan memberinya obat yang selalu dia bawa untuk persediaan dan berjaga jaga jika ada hal yang seperti ini.
Zurra memberikan sebotol air putih yang ada di sana dan Arlo langsung menerimanya.
Tak lama setelah meminum obat itu bersin Arlo mereda dan hanya meninggalkan ruam yang sedikit memerah.
"Kamu nggak apa apa sayang?" tanya Ale khawatir.
Ale segera memeriksa semua badan Arlo dan dia bernapas lega karena semua ruam yang sempat muncul tadi sudah hilang dan Arlo sudah kembali normal.
"Apa-apaan lo ini?" sergah Rubi pada Ale.
Ale berbalik dan menatap tajam ke arah Rubi, ingin sekali dia menghajar Rubi kali ini tapi dia masih menahannya. Ale sudah berkacak pinggang di depan Rubi dengan wajah galaknya.
"Lo yang apa apaan, lo buta ya? Gara gara lo Arlo jadi bersin bersin. Dan lagi lo pake parfum apa sih baunya kayak gini banget, mana baunya astaga bikin gue mual banget." ucap Ale keras.
Rubi melototkan matanya dan ingin membalas perkataan Ale tapi suara Mischa menghentikannya saat ini.
"Arlo memang alergi parfum dan parfum kamu sudah sangat menyengat, jadi bisakah kamu menjauh dari putraku?"
Rubi menghentakkan kakinya kesal dan beranjak dari depan Arlo dan Ale kembali ke tempat duduknya lagi dengan perasaan jengkel. Savitri yang geram dengan kejadian itu mengikuti putrinya yang sudah kembali duduk di tempatnya tadi.
"Ck, sombong sekali ternyata mereka, awas aja habis ini lo bakal bertekuk lutut di bawah kaki gue!" ucap Rubi lirih.
Savitri menenangkan putrinya meskipun dia sendiri sudah sangat kesal dengan kelakuan Mischa dan perempuan yang baru saja datang itu.
"Ma, itu tunangannya Arlo tapi aku nggak tahu dia siapa," bisik Rubi pada Savitri.
Savitri melihat Ale yang nampak akrab dengan Mischa dan Nana serta Zurra tapi melihat pakaian Ale yang sederhana dan terlihat biasa tak mungkin Ale berasal dari keluarga yang kaya juga, itu yang ada di pikiran Savitri.
"Siapa gadis yang baru saja datang itu, kenapa nyonya Mischa tak ingin mengenalkannya pada kami?"
Savitri menyela obrolan Mischa seolah dia mewakili semuanya saat ini untuk berbicara dengan Mischa.
"Maaf nyonya Savitri, tapi kami semua di sini sudah mengenal Ale tunangan Arlo ini. Jadi kenapa dia harus berkenalan dengan kami lagi?" tanya salah satu ibu ibu yang ada di sana.
Ya, mereka adalah istri kolega Altezza, Mahessa dan juga Roy yang memang dari kalangan atas dan khusus karena suami mereka juga dari dunia bawah dan merupakan sekutu Altezza.
"Apa? Jadi hanya aku yang tak mengenal gadis yang baru saja datang ini? Tapi apa dia juga dari kalangan sama seperti kita? Ah, maksudku apa dia juga...?"
Sebelum Savitri melanjutkan perkataannya Ale sudah menyelanya terlebih dahulu.
"Kenapa jika gue bukan berasal dari kalangan atas? Apa gue nggak pantas bersanding dengan Arlo?" tanya Ale pada Savitri.
Semua nampak saling pandang mulai merasakan hawa tak nyaman di sana kecuali satu orang yang dari tadi nampak santai, dan sekarang muncul senyum samar dari bibir manisnya melihat Ale yang sudah mengeluarkan taringnya.
"Ehm, bukan begitu, hanya saja yang aku tahu Arlo kan anak seorang pengusaha terkenal dan nyonya Mischa juga seorang designer. Jadi, bukannya yang pantas dengannya harus sepadan dengannya juga," sindir Savitri pada Ale.
Mata Savitri sudah memindai penampilan Ale yiang nampak biasa saja saat ini. Dan itu membuat Ale tersinggung tapi dia tak akan membiarkan Savitri bertindak semaunya di sini.
"Lantas, siapa yang pantes buat Arlo kalau gitu, jika bukan gue?" tanya Ale lagi.
Savitri tersenyum lebar dan menatap remeh pada Ale, dia memegang tangan putrinya yang sejak tadi sudah menampilkan wajah congkaknya pada semua orang di sana tanpa tahu jika dia sama saja dengan mempermalukan dirinya sendiri sejak tadi.
Bagaimana tidak, dandanan Rubi seperti tante tante yang akan bekerja di club malam dan bahkan tak cuma Arlo saja yang sakit mata karena pakaian Rubi terlalu mencolok. Belum lagi parfum yang di pakainya yang memang semenjak tadi membuat semua orang yang ada di sana merasakan mual dan pusing secara bersamaan.
"Rubi putriku, dia terlihat lebih elegan karena dia cantik dan pintar memilih gaun untuk pergi ke acara formal seperti ini," balas Savitri cepat.
Mendengar jawaban Savitri semua orang saling pandang karena merasa aneh jika Savitri malah menyuruh anaknya seperti itu, dan itu seperti wanita penggoda menurut mereka.
"Yakin banget Arlo malah suka spek yang seperti tante tante yang akan menjajakan dirinya dari pada gadis imut seperti gue." Ejek Ale terang terangan.
"Apa kata lo? Lo bilang gue kayak tante tante, ngaca nggak lo kalau dandanan lo malah kayak orang gembel salah tempat. Lagian lo juga nggak cocok bareng Arlo. Apa ibu lo nggak pernah ngajarin lo tata cara berbusana dan bersikap sampai lo terus bersikap sombong sejak tadi?" hardik Rubi yang sudah kembali berdiri karena ulah Ale.
Ale menyeringai melihat Rubi yang semakin emosi, dia ingin sekali mempercepat perdebatan ini dan menjatuhkan Rubi sejatuh jatuhnya sampai dia tak bisa bangkit kembali bahkan melihat wajahnya sendiri pun tak sanggup.
"Kata mami gue pakaian ini cantik dan bagus meskipun sederhana, karena banyak gadis gadis dari kalangan atas lebih memilih penampilan seperti ini dari pada berdandan menor seperti orang mau jualan malam malam!" balas Ale tak kalah panasnya.
"Lo...!" tunjuk Rubi pada Ale.
"Tapi memang benar apa yang di katakan nona Ale, dua putriku yang menginjak remaja pun suka sekali dengan penampilan seperti ini. Dan mereka sudah langganan di tempat yang sama dengan baju yang nona Ale kenakan. Dan lagi nggak ada yang di kenakan nona Ale seperti gembel, itu malah sesuai dengan umurnya dan malah terlihat imut."
"Iya, dan jelas jika tuan muda Arlo memilih nona Ale, soalnya dia sudah di cap dari lahir menjadi milik tuan muda Arlo."
"Iya, anakku pun suka dengan baju modelan yang di pakai nona Ale, dan itu harganya nggak murah. Pas anakku beli aku syok karena bajunya saja seharga mobil sport yang baru karena memang bahannya berkualitas," timpal ibu yang lainnya.
Nampak Rubi terdiam karena kalah dalam adu debat itu dan jelas terlihat jika Ale mendapat belaan dari ibu ibu di sana.
"Ck, kalian mungkin buta, bagaimana gaun seperti itu bisa dapat satu mobil?" ejek Savitri membantu putrinya yang di serang ibu ibu yang ada di sana.
"Coba aja jeng Savitri browsing dan ketik butik 2AA, dan lihat sendiri harga di sana jika tak percaya. Iya kan nyonya Mischa?"
Mischa mengangguk mengiyakan apa yang di katakan oleh salah satu temannya itu.
Savitri yang penasaran segera mencari nama butik yang di sebutkan itu dan matanya langsung terbelalak saat menemukan nama butik itu di media sosial miliknya.
"Nggak mungkin gadis itu bisa membelinya, di lihat dari penampilannya saja dia gadis biasa, "batin Savitri yang masih belum percaya.
"Sudah, kita kesini untuk acara arisan bukan, tapi kenapa malah berdebat yang tak jelas begini. Dan untuk lo Savitri, bisakah lo menjaga sikap lo dan juga anak lo? Jangan sampai semua itu berbalik dan bikin lo kembali hancur dan tinggal di jalanan lagi,"
Suara Zurra menggema di sana dan nampak terasa hawa dingin di setiap perkataannya. Yang lainnya tak berani berkata apa apa lagi jika Zurra sudah mengeluarkan suara emasnya.
"Dan lagi lo cuma orang baru di sini, jangan sampai lo berbuat seenaknya sendiri!"
Savitri yang kesal kembali duduk di tempatnya dan mereka akhirnya memulai arisan itu dengan tenang dan tak ada gangguan dari Savitri dan anaknya.
Tapi Rubi sudah menahan gemuruh di hatinya melihat Arlo yang nampak memeluk Ale dengan posesif, dia lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu untuk segera memulai rencananya.
Ale yang melihat itu hanya memerhatikan dalam diam, dia masih menunggu apa yang akan terjadi nanti dan apa yang di rencakan Rubi kepada Arlo.
"Kita lihat siapa yang akan tunduk di kaki siapa nanti!"
to be continued...