Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Di Ambang Kehampaan dan Amarah Sang Naga
Dunia terasa berputar dengan kecepatan yang menyakitkan saat Nala mencoba membuka matanya. Rasa pening yang luar biasa menghantam pangkal tengkoraknya, sebuah efek samping dari cairan kimia yang dipaksakan masuk ke dalam sistem pernapasannya beberapa saat lalu. Nala mengerang pelan, mencoba menggerakkan tangannya, namun ia segera menyadari bahwa pergelangan tangannya telah terikat kuat dengan tali tambang yang kasar. Kulitnya terasa perih akibat gesekan material tersebut, memberikan sensasi terbakar yang nyata.
Nala mencoba menghirup udara, namun yang masuk ke dalam paru-parunya hanyalah angin malam yang sangat dingin dan berbau debu beton. Ia memberanikan diri untuk mendongak dan melihat sekeliling. Ia berada di sebuah lantai luas yang tidak memiliki dinding pembatas. Tiang-tiang beton yang belum selesai dikerjakan menjulang seperti tulang-tulang raksasa di sekelilingnya. Cahaya bulan yang pucat masuk tanpa penghalang, menyinari lantai yang penuh dengan tumpukan pasir dan sampah konstruksi.
Saat Nala menoleh ke arah kanan, jantungnya seolah berhenti berdetak. Kursi tempatnya terikat berada tepat di ujung lantai beton tersebut. Hanya berjarak beberapa sentimeter dari kakinya, terdapat jurang kegelapan yang sangat dalam. Lampu-lampu jalanan Jakarta di bawah sana tampak seperti butiran pasir kecil yang bercahaya, menandakan bahwa ia berada di ketinggian yang luar biasa. Rasa mual seketika menyerang perut Nala. Ketakutan akan ketinggian yang selama ini ia tekan kini meledak dengan hebat.
"Selamat bangun dari tidur panjangmu, Nyonya Muda Adhitama," sebuah suara parau terdengar dari belakangnya.
Nala menoleh dengan kaku. Burhan Prasetya berdiri di sana, berdiri di bawah bayang-bayang tiang beton besar. Pria tua itu memegang tongkatnya dengan kedua tangan, menatap Nala dengan senyuman yang sangat menjijikkan. Tidak ada lagi sisa-sisa kesopanan palsu yang ia tunjukkan di pesta tadi. Di tempat ini, Burhan adalah predator yang sesungguhnya.
"Apa yang Anda inginkan, Tuan Burhan? Jika ini tentang kekuasaan perusahaan, Mas Raga sudah membuktikan bahwa Anda tidak memiliki celah untuk menang," ucap Nala dengan suara yang gemetar namun ia berusaha keras untuk tetap terdengar tegas.
Burhan tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan kertas amplas di atas kayu. Ia melangkah mendekat, suara ketukan tongkatnya di atas lantai beton yang kasar terdengar sangat mengintimidasi.
"Kekuasaan? Harta? Semua itu bisa dicari, Nala. Namun melihat kehancuran di mata Raga Adhitama adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang satu triliun pun," jawab Burhan. Ia berhenti tepat di depan Nala, menatap wajah gadis itu dengan pandangan yang penuh kebencian. "Lima tahun lalu, suamimu itu merenggut segalanya dariku. Dia membuatku menjadi buronan, dia membuat keluargaku malu, dan dia membuat kakiku cacat seperti ini. Malam ini, aku akan mengambil sesuatu yang paling berharga darinya."
"Anda salah jika menganggap saya sangat berharga baginya. Kami menikah hanya karena sebuah kontrak bisnis. Anda hanya membuang waktu Anda dengan menculik saya," dusta Nala. Ia mencoba menggunakan taktik psikologis untuk merendahkan nilai dirinya sendiri di mata penculik, berharap Burhan akan kehilangan minat.
Burhan tersenyum sinis, ia mencengkeram dagu Nala dengan tangannya yang kasar dan dingin. "Jangan mencoba membohongiku, Nak. Aku melihat bagaimana dia menatapmu di pesta tadi. Aku melihat bagaimana dia mencium tanganmu. Raga tidak pernah menyentuh wanita mana pun selama lima tahun ini. Kau adalah kelemahannya yang paling nyata, dan kau akan menjadi alasan mengapa dia akan kehilangan kewarasannya malam ini."
Burhan melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Ia berjalan menuju tepian gedung, menatap ke arah kejauhan di mana lampu-lampu kota berkedip. "Aku sudah mengirimkan koordinat tempat ini kepadanya. Dia akan datang ke sini dalam hitungan menit. Dan aku sangat menantikan saat di mana dia harus memilih, tetap berada di kursi rodanya yang mewah atau melihatmu jatuh ke tanah dari lantai tiga puluh ini."
Nala memejamkan mata, air mata dingin mulai mengalir di pipinya. Ia teringat wajah Raga. Ia teringat janji mereka untuk pergi ke pantai bersama. Rasa takut akan kematian kini bercampur dengan rasa bersalah karena ia kembali menjadi beban bagi pria yang ia cintai. Nala mencoba menggerakkan ikatan tangannya, namun tali itu justru semakin menjerat kulitnya. Ia merasa sangat tidak berdaya di hadapan kegilaan Burhan.
Di sisi lain kota, sebuah mobil SUV hitam melaju dengan kecepatan yang sangat tidak masuk akal, membelah jalanan protokol yang mulai lengang. Di dalam kabin mobil yang gelap, suasana terasa sangat mencekam. Raga duduk di kursi belakang, namun ia tidak lagi bersandar dengan tenang. Tubuhnya condong ke depan, tangannya mencengkeram tablet digital yang menampilkan titik merah berkedip di sebuah area konstruksi terbengkalai di pinggiran Jakarta.
Mata Raga memancarkan kemurkaan yang sangat murni. Topeng peraknya telah dilepas, memperlihatkan wajah aslinya yang penuh dengan guratan luka bakar. Namun, luka fisik itu tidak sebanding dengan luka di dalam dadanya saat ini. Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun penyiksaan baginya. Ia merasa gagal. Ia merasa bodoh karena membiarkan musuhnya memiliki kesempatan untuk menyentuh Nala.
"Sera, berapa lama lagi kita akan sampai ke lokasi tersebut?" tanya Raga. Suaranya terdengar sangat rendah dan berbahaya, jenis suara yang membuat siapa pun yang mendengarnya akan merasa merinding.
"Lima menit lagi, Tuan Muda. Tim dua sudah mengepung area bawah. Namun Burhan memasang banyak jebakan peledak di tangga darurat. Kami harus bergerak sangat hati-hati agar gedung itu tidak runtuh," lapor Sera dari kursi depan. Wajah Sera tampak sangat pucat, ia tahu bahwa satu kesalahan kecil malam ini akan membuat nyawanya dan seluruh timnya berakhir di tangan Raga.
Raga melempar tabletnya ke lantai mobil dengan sangat keras hingga layar perangkat tersebut retak. "Aku tidak peduli dengan gedung itu! Aku tidak peduli dengan peledaknya! Jika ada satu goresan kecil saja di tubuh Nala, aku bersumpah akan membunuh Burhan dengan tanganku sendiri, dan aku tidak akan memberikan dia kematian yang cepat!"
Raga mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya memutih. Ingatannya kembali pada saat asap tebal memenuhi aula pesta. Saat ia kehilangan genggaman pada tangan Nala, ia merasa sebagian dari jiwanya telah direnggut paksa. Selama lima tahun ia hidup dalam kegelapan dan dendam, dan Nala adalah satu-satunya cahaya yang berhasil menembus kegelapan itu. Ia tidak akan membiarkan cahaya itu padam hanya karena ulah seorang pria tua yang gila.
"Pak Hadi, hubungi pihak kepolisian. Katakan pada mereka untuk menutup seluruh akses dalam radius dua kilometer. Jangan biarkan ada satu pun kendaraan yang lewat. Aku ingin area ini menjadi sunyi sepenuhnya," perintah Raga lagi melalui ponselnya.
"Baik, Tuan Muda. Semuanya sudah dalam proses. Namun, Tuan Muda, saya mohon untuk tetap tenang. Burhan ingin Anda bertindak tanpa berpikir jernih," ucap Pak Hadi dari seberang telepon dengan nada yang sangat khawatir.
Raga tidak menjawab. Ia menatap ke luar jendela, melihat gedung-gedung yang terlewati dengan cepat. Pikirannya hanya terfokus pada satu hal: Nala. Ia membayangkan Nala yang sedang ketakutan, Nala yang mungkin sedang menangis memanggil namanya. Rasa sesak di dadanya semakin menjadi-jadi. Raga menyadari bahwa sandiwara kelumpuhannya kini terasa sangat tidak berarti jika ia tidak bisa berdiri untuk melindungi istrinya.
Mobil tiba-tiba mengerem dengan sangat keras di depan sebuah gerbang seng yang tinggi. Mereka telah sampai di lokasi gedung terbengkalai tersebut. Gedung itu menjulang tinggi ke langit, tampak seperti raksasa hitam yang sedang mengawasi mereka dengan niat jahat. Raga segera membuka pintu mobil bahkan sebelum kendaraan itu berhenti sempurna. Pengawal dengan sigap menyiapkan kursi rodanya, namun Raga menepis tangan mereka dengan kasar.
"Siapkan senjata kalian. Jangan ada yang melepaskan tembakan tanpa perintah dariku. Aku ingin bertemu dengan pria tua itu secara pribadi di atas sana," ucap Raga sambil mengatur posisi duduknya di kursi roda.
Sera mendekat dan memberikan sebuah rompi antipeluru kepada Raga. "Tuan Muda, menurut laporan tim pemantau, Burhan berada di lantai paling atas. Dia menaruh Nyonya Muda di tepian gedung. Ini adalah situasi yang sangat berisiko."
Raga menatap ke puncak gedung yang tertutup kabut tipis. Matanya menyipit penuh dendam. "Dia ingin bermain dengan ketinggian? Dia ingin melihat bagaimana aku hancur? Maka aku akan memberikan dia pemandangan yang paling mengerikan di dalam sisa hidupnya yang singkat."
Raga menjalankan kursi rodanya menuju pintu masuk gedung yang gelap. Di belakangnya, puluhan anggota tim Alpha mengikuti dengan gerakan yang sangat senyap dan taktis. Raga merasakan setiap getaran di lantai beton yang ia lewati. Amarahnya kini telah berubah menjadi energi yang sangat dingin dan terkontrol. Ia tidak lagi peduli dengan aturan main atau protokol apa pun. Malam ini, hukum Adhitama akan ditegakkan dengan darah.
Langkah demi langkah menuju lantai atas terasa sangat lambat. Raga harus menggunakan lift konstruksi yang suaranya sangat bising, namun ia tidak peduli. Ia terus menatap ke atas, ke tempat di mana Nala sedang berada di ujung maut. Di dalam hatinya, sebuah janji besar telah ia ikrarkan. Ia akan membawa Nala pulang, apa pun harganya. Meskipun ia harus mengorbankan rahasia yang telah ia jaga selama lima tahun, ia akan melakukannya demi wanita yang telah mengajarinya cara untuk mencintai kehidupan kembali.
Pertarungan terakhir ini bukan lagi tentang aset perusahaan atau penggelapan dana. Ini adalah tentang hidup dan mati, tentang sebuah penebusan dosa masa lalu, dan tentang seorang pria yang siap meledakkan seluruh dunianya demi menyelamatkan wanita yang menjadi pusat semestanya.
ceritanya bagu😍