NovelToon NovelToon
DETERMINED

DETERMINED

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Playboy / Anak Genius / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Murid Genius
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Delapan belas

"Ara yang sabar ya, jangan sedih. Bunda pasti ikut sedih kalau Ara sedih terus." Ayara merasakan usapan lembut di rambutnya.

"Bunda meninggal gara-gara Ara, Om." katanya sambil terus menangis.

Pria di sampingnya menangkup wajah Ayara yang tingginya hanya sebatas pinggangnya, badannya sengaja ia bungkukkan supaya sejajar dengan gadis kecil itu.

"Semuanya sudah takdir Tuhan. Ara tidak boleh menyalahkan diri Ara, Bunda meninggal bukan karena Ara, sayang." terukir senyuman di wajahnya yang sudah tidak muda lagi.

"Ara jangan sedih lagi, ya. Masih ada Papa dan Om disini." Pria itu tak menghilangkan senyumnya. "Oh, iya, minggu depan Om bakalan kenalin anak Om sama Ara. Dia seumuran sama Ara, lho. Om yakin setelah kalian kenal, Ara pasti gak akan kesepian." senyumnya semakin mengembang.

Mata Ayara berbinar, tangisannya langsung hilang begitu mendengar ucapan pria itu. "Wah, janji ya, Om." serunya.

Pria itu mengangguk cepat. "Iya Om janji."

"Asyik, Ara bakalan punya teman baru." seru Ayara riang. Gadis kecil itu seketika melupakan kesedihannya.

"Ara tunggu sebentar ya, Om mau bicara sama Papa Ara dulu. Nanti kita main lagi, oke?" ucap pria itu, pandangannya tertuju pada pria lain yang berdiri di ambang pintu balkon.

Ayara mengangguk mengiyakan. "Oke, Om."

Pria itu meninggalkan Ayara setelah berpamitan dengannya. Ayara duduk di tepi kolam, kakinya ia tenggelamkan ke air dalam kolam itu.

"Bagaimana? Kamu setuju, kan?" tanya pria itu.

Pria lain di hadapannya menatap ke arahnya tajam. "Aku gak terima kalau semuanya di berikan sepenuhnya kepadamu. Kalau tahu begini, dari dulu aku gak usah repot-repot mendirikan Perusahaan ini sama-sama!" nada bicaranya meninggi.

"Dengar, Ren. Walau Perusahaan ini jadi milikku, kamu tetap bisa andil disana. Kamu adikku, mana mungkin aku tega membedakan adik sendiri." jelasnya.

Pria itu menggeleng, wajahnya memerah menahan amarah. "Kamu tahu apa alasan Ayah memberikan hak Perusahaan itu sepenuhnya kepadamu?"

Ia menggeleng lemah. "Aku tidak tahu, aku—"

"Kamu tidak tahu kan?" selanya. "Kalau begitu tidak usah datang padaku lagi. Urusan kita sudah selesai!" lanjutnya.

"Kamu ini kenapa keras kepala sekali!"

"Keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau melihat kamu lagi. Silahkan pergi dari rumahku!" Pria itu menunjuk pintu keluar.

"Ren, Dengarkan dulu—"

"Aku bilang pergi!!" nada bicara pria itu kembali meninggi dengan penuh penekanan pada kalimatnya.

Pria berambut cokelat menghela napas kasar, kemudian mengusap wajahnya frustasi. Ia melirik Ayara sekilas, yang juga sedang menatap kedua pria dewasa itu dengan bingung. Gadis itu sama sekali tidak mengerti topik pembicaraan yang sedang mereka bicarakan. Tidak mau menambah kekesalan, akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari sana meninggalkan keduanya.

"Ayah kenapa kasar sama Om?" Ayara memberanikan diri bertanya.

"Tidak apa-apa, Ara. Masuk, yuk, sudah sore, nanti Ara sakit kalau lama-lama main air terus." nada bicara pria itu melembut, ia memaksakan senyumnya untuk mengembang. Ia tidak boleh menampilkan kekesalannya pada Ayara, mengingat gadis itu baru saja kehilangan Ibunda tersayangnya.

"Ternyata kamu disini, Ra."

Ayara mengangkat kepalanya dan langsung mendapati Meira. "Ira?"

Meira mengerutkan alisnya mendengar kata dari mulut Ayara. "Ira? Tumben manggil aku ira, bukan Mei."

Meira mengibaskan tangannya tepat di depan wajah Ayara ketika cewek itu tidak juga menjawabnya. "Kamu melamun?" tebaknya.

Ayara seketika tersadar, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. "Eh? Lo ngapain kesini?" ia membenarkan posisi duduknya di tepi kolam.

"Kamu kenapa tiba-tiba pergi dari sekolah? Aku teleponin juga gak kamu angkat." Ayara ikut duduk di sebelah Ayara. Pandangannya beredar ke sekeliling halaman itu, keningnya kembali berkerut. "Aku baru tahu ada kolam renang disini, Ra."

"Lain kali bisa gak ketuk pintu dulu sebelum masuk?" Ayara tak menghiraukan ucapan Meira, wajahnya berubah masam.

Meira menoleh, perubahan ekspresi Ayara membuatnya merasa heran. "Aku udah ketuk loh tadi, tapi kamu nya diem aja. Emangnya ada yang salah ya, kalo aku masuk ke sini?"

Ayara bangkit. "Nggak, lo bikin gue kaget." cewek itu berjalan untuk kembali masuk ke dalam rumah.

"Kaget?" Meira berucap pelan. "Perasaan aku gak ngagetin deh." ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Kayaknya gue harus suruh Pak Hari buat bersihin halaman ini." ucap Ayara seraya pergi meninggalkan Meira.

"Ayara, tunggu." Meira mengejar langkah lebar Ayara. "Aku belum selesai ngomong." ia berhasil menghentikan langkah cewek itu dengan sedikit tarikan pada lengannya.

"Apa lagi, sih?!" Ayara menepis pegangan tangan Meira.

Meira membuang napas kasar sekali lagi. "Aku mau minta maaf soal kejadian tadi pagi."

Ayara memutar bola matanya malas seraya menyilangkan tangannya di dada. "Gue udah gak mau denger penjelasan dari lo. Terserah apa rencana lo sekarang. Tapi asal lo tahu, cobalah berpikir secara luas, masih banyak cara buat nyelesain masalah. Bukan malah ngorbanin diri sendiri alih-alih nutupin masalah orang lain!" kata Ayara dingin.

"Iya aku tahu, Ra. Aku lakuin ini semua juga karena alasan yang kuat. Aku cuma nyoba buat ikutin naluri aku."

"Naluri? Gue gak yakin naluri lo bisa sejalan sama apa yang udah lo perbuat sekarang." Ayara tersenyum miring lalu melanjutkan langkahnya. Ia buru-buru menutup pintu kamar dan menguncinya agar Meira tidak bisa lagi mengejarnya.

"Ayara, kamu jangan egois dong." Meira mengetuk-ngetuk pintu kamar, berusaha membujuk Ayara.

"Gue mau sendiri!"

"Ayara, please.." mohon Meira. "Mau sampai kapan kamu marah-marah gini?" ketukannya masih belum berhenti.

"Ya udah kalau gitu aku gak mau lagi bantuin kamu deket sama Abil, deh."

Ayara mengerang keras di dalam kamar, kekesalannya bertambah ketika Meira mulai mengancamnya. Ayara mengacak-acak rambutnya frustasi. Beberapa detik kemudian, mau tak mau ia membuka pintu kamarnya, meski sebelumnya ia sempat mencak-mencak terlebih dahulu.

"Iya gue maafin, puas lo?" ucap Ayara kesal, kepalanya muncul dari balik pintu.

"Bener ya?"

Ayara berdecak. "Iya, Meira Adisty! Udah lo jangan berisik deh, mending bikinin gue makanan. Gue laper." perintahnya kemudian.

"Makasih Ayara, kamu makin cantik, deh." Senyum Meira mengembang, ia mencubit kedua pipi Ayara dengan gemas, yang tentu saja langsung ditepisnya.

"Lepasin tangan lo, sakit!" serunya. "Besok bantuin gue bujuk Abil buat kerjain tugas bareng di rumah."

"Siap, Bos. Nanti aku ajak dia lewat chat." Hormat Meira.

Pelan-pelan ekspresi cemberut Ayara hilang berganti dengan kekehan kecil ketika melihat tingkah Meira. "Udah cepet buatin makanan, laper nih." Ayara membalikkan badan Meira dan mendorongnya pelan ke arah dapur. "Spaghetti!"

...\~\~\~...

1
Zanahhan226
ups, penuh misteri sekali ini..
listia_putu
ceritanya bagus kok, udah melewati 10 bab yg aku baca. tp kenapa pembacanya sedikit??? heran....
Zanahhan226
menarik dan misterius..
Zanahhan226
halo, aku mampir, Kak..
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
anggita
mampir ng👍like aja☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!