Zhang Liu gadis malang yang di paksa menikahi seorang raja aneh, demi menolak pernikahan dan menjaga kesucian Zhang Liu bunuh diri dengan menenggelamkan diri di dalam danau, namun siapa yang menyangka setelah kepergian Zhang Liu dari tubuhnya, seorang gadis dari dimensi lain terjebak di dalam tubuhnya, apakah yang akan di lakukan gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auliya Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kediaman Putri Agung
"Nak kau sudah banyak menderita karena kesalahan ku" Putri Agung menatap cucunya dengan tatapan sendu,
Mata Liu Yan masih terpejam, meski tak tertidur ia masih harus terus bersandiwara, jika melakukan suatu hal bukankah harusnya di lakukan sampai selesai, dengan simpati orang besar seperti putri agung, siapa yang berani meragukannya?.
"A Xu, maafkan ibu karena terlambat" Ia menengadah menatap langit langit kereta, putrinya meninggal di usia muda, hanya dua cucu yang di tinggalkan dan di mata putri agung kedua cucu itu seperti permata berharga yang harus di jaga dan di manjakan
Ia merasa bersalah pada putrinya, ia menyesal karena saat itu tidak sedikit lebih memaksa agar Liu Yan bisa tinggal bersama di istananya, dengan demikian hidup Liu Yan tak akan menjadi begitu menyedihkan.
Kereta terus berjalan mengarung keramaian hingga akhirnya berhenti di sebuah istana megah, di atasnya terdapat papan plakat yang bertuliskan istana Hu
"Liu Er, bangunlah, kita sudah sampai"
"Ah nenek, maaf aku kehilangan ke sopanan ku" Liu Yan bangkit dengan tergesa, duduk dengan sopan sembari merapikan pakaian agar tak terlihat berantakan
Perjalanan dari kediaman perdana Mentri Zhang dan istana Hu cukup jauh ternyata, bahkan ia sudah sedikit lelah untuk terus berpura pura tidur.
"Kau tidak bersalah" Gadis ini, ia terlalu terbiasa berhati hati, apa salahnya tertidur, jika di hadapan seorang nenek cucu yang tak terlalu menjaga jarak akan membuat hatinya tenang
Tapi kembali pada cara pendidikannya, Cucu kecilnya sudah terbiasa hidup dengan penuh rasa was was di kediamannya, seolah kesalahan kecil bisa menimbulkan konsekuensi yang tak terbayangkan
"Yang mulia mohon ampuni nona, nona sudah bekerja sepanjang malam dan di siang hari juga harus berlutut, nona sangat lelah" Wei Yuan berlutut di depan kereta
"Wei Yuan" Sebuah teguran untuk pelayan yang melakukan hal tanpa menunggu perintah tuannya
"Maaf nona, saya hanya mengatakan yang sejujurnya" Wei Yuan masih membungkuk penuh tekad
"Nenek, ayah memperlakukan ku dengan baik, hukuman ini karena aku yang membuatnya tak bahagia, di hari biasa ayah selalu memanjakan Liu er" Melihat tatapan sang nenek, Liu Yan mengambil tangan sang nenek dan menatapnya lekat,
Mata keduanya bertemu, putri agung terdiam sejenak melihat ketangguhan cucunya, tatapan itu begitu dalam seolah mengatakan jika setiap ucapan keluar dari mulutnya adalah ketulusan
"Kau sangat baik nak, ayah mu benar benar buta, lebih menyukai putri pelayan dari pada dirimu, mulai sekarang kau tidak sendirian lagi, keluarga Hu akan selalu bersama mu" Jika pria Zhang itu sangat menyukai pelayan maka biarkan saja mereka hidup di sana
Cucunya sangat berharga, ia tak akan membiarkan cucunya yang baik di telantarkan di tempat yang ia anggap rumah
"Nenek, kau sangat baik padaku, seumur hidup aku hanya memiliki kakak yang benar benar mencintai ku" Kepalanya tertunduk seolah benar benar teraniaya, namun itu hanya sekejap, setelahnya kembali menatap neneknya dengan senyuman indah
"Nenek, tak ada yang menganggu Liu er di sana" Ucapan kali ini penuh keteguhan dan keyakinan,
Melihat betapa kerasnya Liu Yan membela pria Zhang ia merasa kasihan, cucunya benar benar menderita, bahkan tak berani menyampaikan pendapatnya sendiri
"Sekarang sudah ada nenek yang akan menjaga mu, Wei Yuan bawa nona mu ke kamar dan panggilkan tabib" Senyuman berat putri agung membuat Liu Yan mengangguk lembut
"Aku sudah lebih baik nek, aku hanya ingin beristirahat"
"Baiklah, jika demikian pergilah ke kamar dan beristirahatlah dengan baik, kamar mu masih berada di tempat yang sama" nyonya Hu berucap pelan
Ia sudah menyiapkan kamar dan tempat terbaik di istana putri agung, hal ini ia lakukan karena ia sangat sayang pada cucunya, hanya saja putrinya meninggal saat melahirkan, hingga kamar yang di buat untuk Liu Yan tak pernah di huni.
Sejak lahir Liu Yan di rawat keluarga Zhang, penyesalannya adalah keterlambatan mereka, jika mereka lebih cepat Liu Yan tak akan menderita seperti ini.
"Nenek, ku dengar adik sepupu sudah kembali, di mana dia?, aku ingin melihat adik sepupu" Hu Guan dan Hu Lian langsung bersemangat saat mendengar jika neneknya sudah membawa sepupunya kembali, kembali ke istana dengan penuh semangat.
Sejak awal mereka tak suka dengan keluarga Zhang, putri selir bahkan berpenampilan berlebihan dan terlihat megah sedangkan sepupu mereka?, sepupu mereka bahkan terlihat begitu murung dan di asingkan
"Bocah bocah nakal, jangan menganggu"
"Nenek, kami tidak menganggu, kami sudah tidak melihat sepupu selama beberapa tahun ini, kami sangat merindukannya"
"Jangan membuat keributan, sepupu mu masih lelah dan beristirahat, jadi kalian bisa bertemu dengannya di lain hari" Dua anak ini, entah mendapat berita dari mana, Langsung datang untuk mengangguk sepupunya yang kelelahan
"Sayang sekali, aku membawa banyak makanan lezat untuk sepupu, saat pertama kali mendengar sepupu akan tinggal bersama kita aku senang sekali, aku membeli banyak hadiah untuk sepupu ku" Mereka hanya memiliki Liu Yan sebagai sepupu perempuan, di saat muda mereka cukup sedeng bermain dengan Hu Xuan di kediaman Zhang namun bibi mereka meningal di usia muda.
Meninggalkan sepupu mereka di kediaman Zhang, saat muda mereka cukup sering bermain main di sana tapi sejak saat Zhang Zhichen masuk kamp Kediaman Zhang memiliki banyak alasan untuk menolak mereka kedatangan mereka seolah tak di sambut membuat hati mereka kesal, dan lambat laun mereka enggan ke kediaman Zhang,
Saat ini mereka hanya bisa bertemu beberapa kali dalam setahun, itu pun terjadi karena ulang tahun neneknya jika tidak sepupu cantik mereka akan di kurung di dalam kediaman itu
"Aku juga membawa banyak barang indah untuk sepupu ku" Hu Jian juga tak mau kalah
Ia telah menyiapkan banyak hadiah untuk sang sepupu, beberapa waktu lalu seorang pelayan memberi tahu jika Mentri Zhang menganggu sepupu mereka
Awalnya ia ingin datang dan membela sepupunya, tapi karena sudah ada sang nenek maka kedua pemuda itu berputar arah, nenek mereka sudah turun tangan, jadi keduanya hanya perlu menyiapkan banyak hadiah untuk sang sepupu.
"Kalian berdua anak nakal sepanjang hari hanya bisa bermain main" Dua anak ini adalah pria nakal di ibu kota bahkan ia mendapat kabar setelah Liu Yan sampai, ia belum sempat menarik nafas dan dua anak ini datang dengan persiapan yang heboh seolah semua sudah di rencanakan
"Nenek Jagan menuduh kami dengan tuduhan kejam itu nenek, itu sangat menyakiti hati kami" Mereka hanya terlalu bersemangat, terakhir kali bertemu beberapa bulan lalu, pada hari ulang tahun neneknya, sepupu mereka sangat cantik dan menggemaskan, mereka sangat suka melihat senyumannya.