Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Keberangkatan dan Kejutan di Gerbang Sekolah
Jam dinding digital di kamarku baru menunjukkan pukul 04:00 pagi. Langit Surabaya di luar jendela masih gelap gulita, diselimuti kesunyian yang menenangkan. Namun, mataku sudah terbuka lebar. Tidak ada rasa kantuk sedikit pun yang tersisa, digantikan oleh detak jantung yang berpacu lebih cepat dari biasanya karena antusiasme yang membuncah. Hari ini adalah hari keberangkatan Kunjungan Industri ke Blitar.
Tanpa membuang waktu, tanganku meraih ponsel yang tergeletak di nakas. Layarnya menyala, menyilaukan mata sejenak. Aku membuka aplikasi pesan, menatap nama kontak Vema. Jari-jariku melayang di atas papan ketik virtual, ragu sejenak sebelum akhirnya mengetik pesan sapaan.
Sarendra: "Selamat pagi, Vema. Maaf jika aku mengirim pesan terlalu dini. Apakah kamu sudah bangun?"
Aku meletakkan ponsel itu di dada, menatap langit-langit kamar. "Mungkin dia masih tidur," gumamku pelan.
Namun, hanya berselang satu menit, ponselku bergetar.
Vema: "Selamat pagi juga, Sarendra. Kebetulan sekali, alarmku baru saja berbunyi. Aku sudah bangun."
Senyumku mengembang seketika. Rasanya seperti kami memiliki sinkronisasi waktu tidur yang tidak disengaja. Aku segera membalasnya, mencoba membangun percakapan ringan untuk memulai hari.
Sarendra: "Syukurlah. Bagaimana persiapan barang-barangmu? Apakah boneka kecil itu sudah masuk ke dalam tas?"
Vema: "Sudah, Dra. Semuanya sudah siap. Boneka itu aman di kantong paling dalam, tertutup jaket supaya tidak ada yang melihat. Kamu sendiri bagaimana?"
Sarendra: "Aku juga sudah siap. Hanya tinggal memeriksa ulang kelengkapan alat tulis. Oh ya, Vem... ada satu hal yang ingin kupastikan."
Aku menarik napas panjang. Ini adalah pertanyaan intinya.
Sarendra: "Mengingat kita berada di bus yang sama, Bus nomor 4... apakah kamu keberatan jika aku duduk di kursi sebelahmu sepanjang perjalanan nanti?"
Tanda 'sedang mengetik' muncul cukup lama di layar. Lima detik, sepuluh detik, hingga hampir setengah menit. Jantungku berdebar menunggu jawaban. Apakah aku terlalu agresif?
Vema: "Tentu saja tidak keberatan, Dra. Justru... aku akan merasa lebih tenang kalau duduk di sebelahmu."
Membaca balasan itu, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Namun, saat aku melirik jam di sudut layar ponsel, mataku terbelalak. Angka digital itu kini menunjukkan pukul 04:45.
Sarendra: "Astaga, Vem. Kita terlalu asyik mengobrol sampai lupa waktu. Sekarang sudah jam 04:45. Aku belum mandi dan belum sarapan. Kita harus segera bersiap atau kita akan terlambat ke titik kumpul."
Vema: "Ya ampun, benar juga! Aku juga belum mandi. Cepat mandi sana, Dra. Jangan sampai telat. Sampai ketemu di sekolah ya!"
Sarendra: "Siap. Sampai jumpa sebentar lagi."
Aku melempar selimut dan bergegas menuju kamar mandi. Air dingin di pagi buta terasa menusuk tulang, namun itu justru membuat kesadaranku pulih sepenuhnya. Setelah bersiap dengan seragam jurusan yang rapi, aku memeriksa ulang tas punggungku, memastikan bekal dan catatan sudah terbawa.
"Bu, Yah, Sarendra berangkat dulu ya. Titik kumpulnya di sekolah jam setengah tujuh," pamitku pada orang tuaku yang sudah bangun di ruang tengah.
"Hati-hati, Nak. Jangan lupa berdoa," pesan Ibu.
Ayah tersenyum sambil mengambil kunci motor. "Ayo, Ayah antar sampai gerbang depan biar kamu tidak capek jalan kaki."
Sesampainya di gerbang SMK Pamasta, suasana sudah cukup ramai. Kabut tipis masih menggantung di udara, bercampur dengan aroma parfum ratusan siswa yang sudah berkumpul. Setelah berpamitan dan mencium tangan Ayah, aku berjalan masuk ke area halaman sekolah.
Di dekat pos satpam, aku melihat Netta dan Nadin sedang berdiri sambil mengobrol. Mereka melambaikan tangan begitu melihatku.
"Wah, lihat siapa yang datang dengan wajah cerah sekali pagi ini," sapa Nadin dengan nada menggoda.
"Pagi, Nadin, Netta," balasku sopan sambil merapikan tas.
Netta tersenyum penuh arti. "Pasti semangat sekali ya, Dra? Mentang-mentang di Bus 4 nanti bakal duduk berduaan selama tiga jam perjalanan."
Aku tertawa kecil, berusaha menutupi rasa maluku. "Kalian ini ada-ada saja. Itu hanya pembagian tempat duduk biasa."
"Biasa apanya? Itu namanya takdir yang direkayasa," timpal Nadin sambil menyenggol bahu Netta. "Pokoknya nanti jagain sahabatku itu ya."
Saat aku hendak membalas gurauan mereka, tiba-tiba pandanganku menjadi gelap. Sepasang tangan yang halus dan sedikit dingin menutup kedua mataku dari arah belakang. Aroma sampo stroberi yang manis dan familiar tercium samar.
"Siapa aku..." bisik sebuah suara di dekat telingaku, mencoba menyamarkan nadanya menjadi lebih berat, namun gagal total karena tawa kecil yang tertahan di ujung kalimatnya.
Aku terkekeh pelan. Tidak perlu analisis mendalam untuk menebak siapa pemilik tangan mungil ini. "Hmm, siapa ya? Dari suaranya yang lembut dan wangi stroberinya... ini pasti Vema, kan?"
Perlahan, tangan itu terlepas dari wajahku. Aku membalikkan badan untuk menghadap sosok di belakangku.
Dan saat itulah, duniaku seolah berhenti berputar selama beberapa detik.
Vema berdiri di sana. Ia mengenakan seragam jurusan TKJ yang pas di tubuhnya, dipadukan dengan jaket hoodie berwarna krem yang sedikit kebesaran. Rambut pendeknya tertata rapi, membingkai wajahnya yang pagi ini terlihat luar biasa cerah. Entah karena efek cahaya matahari pagi atau karena suasana hatinya, kulit wajahnya tampak bercahaya, bersih, dan sangat menawan. Ada sedikit polesan pelembab bibir yang membuat senyumnya terlihat lebih segar dari biasanya.
Tanpa sadar, mulutku bergerak lebih cepat daripada filter di otakku.
"Astaga... kamu cantik banget hari ini, Vem," ucapku spontan, suaraku terdengar jujur dan tanpa tedeng aling-aling.
Hening satu detik.
Wajah Vema langsung memerah padam, bahkan lebih merah dari saat di rumahnya kemarin. Matanya membulat kaget mendengar pujian langsung di tempat umum seperti ini. Reaksi refleksnya sungguh menggemaskan; ia langsung melompat kecil bersembunyi di balik punggung Nadin, memegang lengan Nadin dengan erat seolah mencari perlindungan dari rasa malunya sendiri.
"Nadin... tolong..." cicit Vema pelan sambil menyembunyikan wajahnya di bahu sahabatnya.
Nadin dan Netta yang menyaksikan adegan itu langsung tertawa lepas.
"Duh, pagi-pagi sudah ada drama romantis di gerbang sekolah," goda Netta.
"Vema, jangan sembunyi dong. Sarendra kan cuma jujur," tambah Nadin sambil menepuk-nepuk tangan Vema yang memegang lengannya. "Tapi memang benar sih, Dra. Sahabatku ini hari ini niat banget dandan tipis-tipis."
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, ikut tersenyum canggung namun bahagia melihat tingkahnya. "Maaf, Vem. Aku tidak bermaksud membuatmu kaget. Itu murni refleks."
Vema perlahan mengintip dari balik bahu Nadin, wajahnya masih merona. "Kamu... jangan bicara begitu keras-keras, Dra. Malu didengar orang."
Setelah tawa kami mereda, aku mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman sekolah yang semakin padat. Kami berempat sudah berkumpul, tapi ada satu orang yang kurang.
"Tunggu sebentar," kataku sambil mengerutkan kening. "Kalian melihat Bagas tidak? Sejak tadi aku belum melihat batang hidungnya."
Netta ikut melihat ke sekeliling. "Benar juga. Anak itu biasanya paling ribut kalau sudah kumpul. Harusnya dia di sini bersama kita sebelum masuk ke Bus 1."
Nadin melihat jam tangannya. "Ini sudah hampir jam tujuh. Jangan-jangan dia terlambat?"
Kekhawatiran mulai muncul di benakku. Bagas memang sering santai, tapi dia jarang melewatkan acara besar seperti ini. Tepat saat aku hendak mengambil ponsel untuk menghubunginya, suara dengung pengeras suara toa memecah keriuhan.
"Perhatian kepada seluruh siswa kelas sepuluh peserta Kunjungan Industri. Harap segera berkumpul sesuai dengan nomor bus masing-masing untuk dilakukan presensi terakhir sebelum keberangkatan!"
Suara guru piket menggema keras. Siswa-siswi mulai bergerak riuh mencari kelompok busnya.
"Ayo, kita harus baris," ajak Netta. "Soal Bagas, nanti kita cek di barisan Bus 1."
Kami pun berpencar. Netta dan Nadin menuju barisan Bus 3, sementara aku dan Vema berjalan berdampingan menuju barisan Bus 4. Namun, mataku tetap awas memindai barisan Bus 1 yang berada di ujung lapangan. Guru pendamping di sana tampak memanggil nama-nama siswa dari daftar absensi. Aku melihat beliau memanggil nama Bagas dua kali, namun tidak ada yang menyahut dan tidak ada sosok laki-laki tinggi yang mengangkat tangan.
"Bagas tidak ada di sana," gumamku pelan pada Vema.
Vema menatapku dengan tatapan bertanya. "Mungkin dia sakit mendadak, Dra? Atau ada urusan keluarga?"
"Semoga saja hanya itu," jawabku, mencoba menepis perasaan tidak enak. "Nanti coba aku hubungi lagi saat di perjalanan."
Setelah presensi selesai dan guru memastikan jumlah siswa (minus Bagas yang dikonfirmasi absen tanpa keterangan jelas saat itu), kami dipersilakan masuk ke dalam bus.
Bus Pariwisata ber-AC itu terasa dingin begitu kami melangkah masuk. Aku memilih bangku di deretan tengah yang dekat dengan jendela, posisi yang strategis untuk melihat pemandangan namun minim guncangan roda. Aku mempersilakan Vema masuk lebih dulu untuk duduk di dekat jendela, sementara aku duduk di sisi lorong.
"Nyaman duduk di situ?" tanyaku sambil meletakkan tas kami di bagasi kabin atas.
"Nyaman kok," jawab Vema sambil merapikan jaketnya.
Aku duduk di sebelahnya, merasakan jarak bahu kami yang cukup dekat. Mesin bus mulai menderu halus, siap untuk berangkat. Aku menoleh ke arahnya, teringat rute perjalanan yang cukup berkelok menuju Blitar.
"Vem," panggilku pelan.
"Ya, Dra?"
"Aku ingin bertanya serius. Apakah kamu tipe orang yang mudah mabuk darat?" tanyaku memastikan. "Aku bawa minyak kayu putih dan permen mint kalau kamu butuh."
Vema langsung menegakkan punggungnya, memasang wajah percaya diri yang sedikit dipaksakan namun lucu. "Eumm... engga sih. Aku kan cewek kuat, Dra. Anak teknik masa mabuk darat? Mana mungkin."
Aku menahan senyum mendengar klaim 'cewek kuat' itu. Padahal aku tahu betul dia membawa boneka penenang di dalam tasnya.
"Baiklah kalau begitu, Nona Kuat," jawabku sambil mengangguk-angguk. "Tapi kalau nanti tiba-tiba pusing, bilang saja ya. Tidak usah gengsi."
"Iya, iya, huh cerewet," balas Vema sambil terkekeh pelan.
Perlahan, bus mulai bergerak meninggalkan pelataran SMK Pamasta. Pemandangan gerbang
sekolah perlahan mundur menjauh.
"Mau permen?" tawarku sambil membuka satu bungkus permen rasa kopi.
"Boleh," Vema mengambilnya. Lalu ia merogoh saku tasnya dan mengeluarkan sebungkus biskuit coklat kecil. "Tukar ya. Ini buat kamu."
"Terima kasih," aku menerima biskuit itu.
Perjalanan panjang menuju Blitar pun dimulai. Diiringi deru mesin bus dan pemandangan kota Surabaya yang mulai sibuk, kami berdua terlibat dalam obrolan-obrolan kecil, berbagi camilan, dan menikmati kehadiran satu sama lain tanpa gangguan hal-hal mistis yang biasanya menghantui. Untuk saat ini, hanya ada aku, Vema, dan jalan panjang yang membentang di depan kami.
ada apa dgn vema
lanjuuut...