Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.
Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.
Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.
Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DB—12
Bumantara melirik pintu kamar Arumi yang pasti di kunci. Malam ini ia berhasil menginap di rumah Arumi, meski dengan banyak cara yang dilakukan perempuan itu untuk mengusir nya, namun ia tetap kekeh, bahkan tak bergerak dari atas kasur lipat yang sudah ia terlentang kan, di depan ruangan tv.
Padahal jika ingin, tidak ada masalah bagi Bumantara membuka kamar Arumi, yang memang sudah pernah ia lakukan.
Waktu di malam itu saat kejadian...
Dimana rumah Arumi hampir di bobol pria yang pernah dibawa kan oleh tetangga sebelah Arumi.
Brio yang di suruh Bumantara untuk mencegah laki-laki cungkring itu yang hendak membobol pintu kontrakan Arumi, sedikit bingung, bagaimana cara dia bisa mencegah dengan keadaan yang senyap, tanpa membuat keributan di area kontrakan yang warga nya sudah pada tidur.
Dan cara yang terpikir di sela-sela langkah kaki nya hanya satu, membuat pria cungkring tapi mesum itu pingsan. Pelan tapi pasti, Brio berjalan di belakang tubuh pria itu yang masih berusaha membuka kunci pintu kontrakan Arumi. Namun ternyata pria cungkring itu tersadar dari bayangan hitam yang menutup tubuhnya.
"Setan!"
Tapi belum sempat pria itu berbalik hendak menyerang, karena Brio sudah terlebih dahulu mengayunkan kayu yang lumayan besar, dan memukul nya di area tekuk dengan sedikit keras, sehingga membuat pria cungkring itu ambruk, pingsan.
"Aduhhh ... enggak bisa mikir aku. Aku kira pekerjaan nya cuma memperhatikan keadaan Mbak Arumi aja, ternyata hal seperti ini juga. Tapi sepadan sih. Bayaran wow banget," kekeh Brio tanpa suara sambil menggaruk belakang kepala nya. lalu dia memperhatikan tubuh pria itu yang masih berbaring di lantai dengan keadaan yang tak sadar.
"Salah banget kamu mencari musuh," kata Brio sambil menendang kaki pria cungkring. "Lapor dulu untuk, Mas Buma," gumam Brio sambil mengambil ponsel di kantong celananya, lalu memberikan laporan jika keadaan nya sudah aman, karena dia berhasil menumbangkan satu musuh. Secepat itu.
Tak lama dari itu, ada beberapa pria berpakaian hitam datang mendekati arah Brio, yang sedang duduk bersandar di depan pintu kontrakan Arumi, lalu Brio beranjak dari duduknya. Sedikit was-was.
"Angkat sampah itu. Bawakan ke mobil, jangan sampai ada yang melihat," perintah Ares, menunjukkan tubuh si cungkring yang masih belum sadar. Tanpa menjawab, mereka empat orang, yang dibawakan Ares dengan cepat mengangkat tubuh pria cungkring itu, di awasi tatapan Brio yang kebingungan.
"Lo siapa Mas?" tanya Brio, mengernyitkan kening, menatap Ares yang sedang memperhatikan anak buahnya yang sudah menjauh.
"Saya Ares. Anda bisa pergi, karena nanti bos Buma akan datang kesini, bos sedang dalam perjalanan." Ares berbalik, lalu melangkah kan kedua kaki nya pergi, meninggal kan Brio yang masih ternganga.
Brio berdecak, "Enggak heran Mas Buma di panggil bos. Karena memang kaya, aku aja masih enggak habis pikir, aku kira dulu hanya anak sekolah yang iseng-iseng jatuh cinta sama wanita yang dewasa. Tau nya ..."
Brio bergumam sambil pergi meninggal kontrakan Arumi. " ... Aku malah dapat bayaran 10 juta, enggak sesuai sama yang aku minta kemaren, hanya 5 juta, itu aja udah banyak." Brio terkikik, membayangkan duit di rekening nya yang sudah terisi saldo, karena biasa nya kosong.
Selepas kepergian Brio, mobil yang di kendarai Bumantara sampai juga, dia memarkirkan nya di bawah pohon mangga, jauh dari kontrakan, karena takutnya menganggu akibat suara mesin mobilnya.
Bumantara memperhatikan area sekitar nya yang sunyi, ia mulai mengambil kunci cadangan di saku celana training nya yang sudah diurus oleh anak buah nya, dengan si pemilik kontrakan.
Bumantara memutar kuncinya, setelah berhasil terbuka ia masuk kedalam kontrakan Arumi, lalu kembali menutup pintu itu. Tujuan utama nya adalah kamar Arumi, yang ternyata tak terkunci.
"Bisa-bisanya pintu kamar ini enggak terkunci."
Bumantara menggelengkan kepalanya tak habis pikir, dengan kecerobohan Arumi, bagaimana jika pria mesum tadi berhasil masuk pintu utama, dan melenggang dengan bebas masuk ke kamar yang pintu nya bahkan tidak terkunci.
Bumantara berdiri di ambang pintu, tersenyum, lalu perlahan melangkah kaki nya kearah Arumi yang masih tertidur lelap di atas kasur. Bumantara mendudukkan dirinya dengan perlahan disisi kasur lantai milik Arumi.
"Tidur mu bahkan enggak terganggu dengan ada nya orang didalam kamar mu hm. Lalu pakaian apa yang sedang kamu kenakan ini, Arumi?" lirih Bumantara sambil mengusap pipi Arumi dengan gerakan yang lembut menggunakan jari telunjuk nya.
Tidak hanya wajah yang disentuh Bumantara. Tapi, juga dada Arumi yang terlihat karena memang hanya mengenakan baju tidur tipis, bertali satu, nampak seperti lingerie.
"Kamu seperti sedang menggoda ku, Arumi." Bumantara dengan nakal nya memasukkan tangan kedalam pakaian tipis Arumi, lalu berlabuh di area dada yang bebas dari namanya bra.
Dia mulai memijat benda bulat itu dengan lembut, sembari memperhatikan wajah Arumi, yang kening nya berkerut. Lalu Bumantara melepas kan tangannya dari sana, meski sedikit keberatan, namun ia harus melepaskan nya, karena ia tak ingin Arumi terbangun dan melihat nya yang sedang berbuat hal mesum.
"Besok kita bertemu lagi, baby," ucap Bumantara dengan suara serak, karena dia sedang menahan dirinya, sedangkan benda kebanggaan nya sudah menegang.
---
Arumi terbangun dari tidurnya, ia ingin mencari air minum di dapur sambil menguap, lalu langkah kakinya terhenti saat melihat Bumantara yang masih tertidur di tempat nya tadi.
Arumi mendesah pasrah, "Aku kira dia akan pulang, karena enggak betah tidur di kasur itu, bahkan mungkin aja ada nyamuk yang sedang mengelilingi nya," ucap Arumi sambil berjalan mendekat kearah Bumantara yang tidur tak mengenakan pakaian, dia hanya mengenakan celana pendeknya saja.
"Kok... badannya bisa terbentuk gitu ya? Kan dia masih anak sekolahan," gumam Arumi, ia sedang memperhatikan setiap lekuk tubuh Bumantara yang tidur terlentang, tanpa selimut, karena tidak ia berikan.
Arumi bergidik, saat tak sengaja matanya mengarah kearah benda milik Bumantara yang menonjol meski tidak tegang.
"Itu pasti besar," gumam Arumi sambil berlalu menjauh, ia ingin minum untuk membasahi tenggorokan nya yang kering. Arumi meneguk air, sambil menyentuh wajahnya yang terasa panas, bayangan benda yang tertutup kain itu sungguh mengganggu pikiran Arumi, yang biasa nya polos menjadi berisik.
"Sial! Apa sih yang sedang kamu pikir kan Arumi. Kenapa kamu mesum sekali sih," gerutu Arumi, kepada dirinya sendiri sambil meletakan gelas dengan sedikit keras, ia berdecak kesal beberapa kali, saat pikiran dan hati nya tak sejalan. Namun, tubuh Arumi menegang seketika, saat merasakan perutnya menghangat.
"Seperti nya kamu memang sudah mesum, Arumi," bisik Bumantara sambil memeluk Arumi, lalu menggigit cuping Arumi dengan pelan. Dia tau semua apa yang dilakukan Arumi, dari keluar dari kamar, lalu menghampiri tempat nya tidur, dan tatapan yang di berikan Arumi tadi membuat darah nya berdesir.
"Dan ... benar. Benda itu sangat besar... Arumi. Kamu mau coba hm." Bumantara menyusupkan tangannya kedalam baju Arumi, lalu mengusap perut rata itu.
"Sstt ... Buma," desis Arumi, memegang tangan Bumantara, supaya tidak menjalar kemana-mana.
"Hentikan....!"
---
---
Bersambung....