Serah Spencer adalah seorang Ratu yang terkhianati oleh tunangannya sendiri, Raja Louis dari kerajaan Mathilda.
Awalnya ia mengira dengan status pertunangannya akan membawa ketenangan juga kedamaian untuk rakyat dan kerajaannya di Regina yang sedang menjadi wilayah perebutan. Namun, setelah mengetahui rencana Louis yang licik, Serah memutuskan untuk tak tinggal diam.
Dia akan membalas Louis dan berdiri sendiri demi kerajaannya. Namun, sebelum itu ia harus lolos dari genggaman Louis.
Apakah Serah akan berhasil kembali ke kerajaannya sendiri yang sedang menjadi wilayah konflik antar Raja Louis dan Raja Grenseal? Sementara kedua Raja itu mulai jatuh cinta kepada Serah.
Apa yang akan dilakukannya nanti untuk melawan Louis sekaligus melindungi kekuasaannya sebagai Negeri yang bebas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3 : Gadis-gadis pilihan
Louis terlihat berjalan mondar-mandir di dalam ruangan dengan tumpukan buku yang berserakan di lantai juga di atas meja.
Pintu ruangan itu kemudian terbuka. Seorang pria yang terlihat lebih tua darinya, dengan rambut coklat gelap bergelombang pendek dan mata senada masuk, dan ia langsung berjalan ke arah sang Raja.
"Yang mulia Louis," ucapnya sebagai tanda penghormatan dan membungkuk. "Ada yang perlu saya bantu?" Sambungnya setelah mengangkat tubuh dan melihat keadaan ruangan yang tidak biasa. Tatapannya mengarah kepada Louis seolah mempertanyakan kondisi ruangan tersebut.
"William, apa kau tau buku mengenai Art of war dan Germania?" Tanya Louis langsung mengungkapkan keingintahuan yang sudah tak mampu ia batasi.
"Ah, ya, saya pernah mengetahui tentang kedua buku itu," jawab sang penasehat, "tapi kenapa anda menanyakannya?" Tatapannya langsung curiga.
"Apa kau bisa mencarikan buku itu?" Tanya sang Raja dengan nada serius. Tatapannya tajam tanpa keraguan. "Aku memiliki begitu banyak buku tapi sepertinya koleksiku kurang dan aku ingin kedua buku itu, apa bisa?" Ia berdiri dekat di antara tumpukan buku yang sudah kacau.
William terdiam seolah mendapat jawaban apa yang telah membuat ruangan itu menjadi kacau.
"Saya minta maaf Yang mulia. Tapi perlu anda ketahui buku itu sangat sulit untuk didapatkan," jawab William dengan sopan, bukan bermaksud untuk membuat sang Raja kecewa.
"Apa maksudmu? Kau tidak bisa mendapatkannya untukku?" Louis tampaknya tidak dapat menerima jawaban itu. Napasnya terdengar kasar dan dia berjalan mendekati William yang menundukkan kepala. "Apa kau tak dengar? Aku ingin kedua buku itu?" Ucapnya sekali lagi tepat di dekat telinga sang penasehat.
"Buku yang anda inginkan sangat sulit dicari dan didapatkan, hanya dimiliki oleh beberapa kerajaan, tapi saya akan mengusahakannya untuk anda." William sedikit bergetar. Ia tak bisa membuat Louis tak senang, bisa-bisa kepalanya akan melayang hanya karena buku.
"Bagus, sekarang cepat pergi," ujar Louis tanpa menurunkan tensi nada bicaranya.
"Baik, Yang mulia." Pria itu membungkuk sekali lagi dan pergi keluar ruangan.
Louis yang masih merasa kesal akhirnya duduk di meja kerjanya yang sudah penuh dengan tumpukan buku. Ia bersandar pada kursi untuk mengontrol emosi.
Pria itu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu sejenak. Raut wajah kesalnya berubah menjadi seringai. Lantas ia berdiri lagi berjalan keluar. Di depan ruangan ia memerintahkan dua pengawal di depan pintu ruangannya untuk merapikan semua kekacauan yang sudah ia buat.
"Bereskan semua barang yang berantakan di dalam. Aku ingin tempat itu sudah beres sebelum aku kembali," ucapnya tegas.
"Baik, Yang mulia!" Balas kedua pengawal itu yang secara cepat langsung masuk ke ruangan.
Louis melirik sesaat ke arah dalam untuk memastikan kedua pengawal itu benar-benar bergerak cepat. Setelah itu ia pun pergi.
.
.
Ternyata Louis pergi ke salah satu ruangan para pelayan wanita biasa dilatih oleh Beatrice, kepala pelayan perempuan istana yang sudah berusia 42 tahun. Dia biasanya melatih, mendidik para pelayan baru terkhusus mereka yang akan dipersembahkan untuk calon Ratu.
Pria itu berdiri di ambang pintu matanya mengedar ke dalam ruangan dan menangkap sosok Helena yang sedang dilatih cara berjalan. Ia terlihat kaku, gerakannya tidak luwes dan anggun, padahal dia adalah seorang putri bangsawan sebelum datang kemari untuk menjadi seorang pelayan.
Tapi saat itu pandangan Louis tidak tertuju pada gerakan wanita itu, melainkan karena ketertarikannya sebagai pria kepada wanita. Helena bisa dikatakan sangat cantik dengan rambut keemasan, kulit bersih dan bibir merekah, juga tubuh yang ideal. Dia pintar memilih gaun yang memperlihatkan keunggulan bentuk tubuhnya dibanding Serah yang lebih tertutup dan hanya memakai gaun dengan satu nada warna polos tanpa banyak ornamen.
Pandangan Louis terhenti ketika Helena berjalan berbalik dan gadis itu bersuara karena terkejut melihat Louis yang berada di ambang pintu.
"Ya-Yang mulia, Louis!" Ucapnya secara reflek langsung membungkuk.
"Yang mulia!" Serentak pelayan lain termasuk Beatrice sang kepala pelayan ikut membungkuk.
Louis tersenyum, terkesan dengan sikap para pelayan yang sigap bereaksi saat melihat kehadirannya. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas sebagai sinyal penerimaan hormat yang ditujukan kepadanya.
Pria itu berjalan ke arah Beatrice, dan otomatis pelayan muda lainnya mundur ke belakang, merapat ke arah tembok, termasuk Helena yang berada pada sisi pojok paling kanan. Keduanya sempat saling mencuri pandang satu sama lain ketika semua orang tengah tertunduk.
Mata biru sang Raja bertemu pandang dengan intim dengan sepasang manik hijau Helena yang mengulas senyum tipis yang menggoda. Tapi tatapan itu tak berlangsung lama.
"Lady Beatrice, bagaimana perkembangan mereka semua?" Tanya sang Raja.
"Mereka semua luar biasa Yang mulia," jawab Beatrice yang masih belum mengangkat kepalanya, menatap kepada sang Raja.
"Bagaimana dengan Helena?" Louis sedikit merendahkan volume suaranya agar tidak terdengar dan memastikan hanya Beatrice yang dapat mendengar pertanyaan itu dengan jelas.
Kepala pelayan istana itu terdiam sejenak, gerak tubuhnya terlihat tak nyaman. Lalu, perlahan ia mengangkat kepalanya setengah.
"Yang mulia," ucapnya sembari menundukkan sedikit tubuhnya kembali.
Louis tampaknya mengerti ada hal yang ingin dijelaskan oleh Beatrice, dan berkata, "ikutlah Lady Beatrice."
Louis berjalan lebih dulu ke arah luar ruangan diikuti oleh Beatrice.
Keduanya kemudian berdiri di ambang pintu untuk berbicara sambil mengamati ke dalam, memastikan tidak satu pun dari mereka melangkah mendekat dan mendengar percakapan.
"Katakan padaku, Lady Beatrice. Ada apa dengan Helena?" Tanya Louis untuk memperjelas pertanyaannya yang tak terjawab.
"Helena masih sangat hijau dan jauh untuk mempelajari semua tata-krama istana. Saya takut..., dia tidak bisa ikut serta dalam persembahan hadiah untuk calon Ratu...," jawab Beatrice dengan perasaan ragu ketika menyampaikannya. Namun, ia hanya berusaha jujur di sini. Ia takut nanti pelayanan Helena tidak memuaskan bagi calon Ratu.
"Apa maksudmu dengan itu? Tidak bisa ikut? Dia adalah persembahan khusus dariku, bagaimana mungkin hadiah istimewa Raja sendiri malah tidak bisa ikut serta?" Louis jelas tidak puas. Tatapannya tajam seolah mengancam sang kepala pelayan kalau ia berani tidak mengubah penilaiannya.
"Yang mulia, saya tidak berani." Beatrice kembali menundukkan kepala dalam, menyadari amarah sang Raja yang tak senang dengan keputusannya.
"Aku tidak mau tau, masukkan Helena ke dalam persembahan pelayan hari ini, dan kau akan bertugas untuk mendidiknya sampai ia menjadi lebih baik, kau mengerti?" Ucap perintah Louis dengan tegas.
"Baik, Yang mulia Louis. Saya akan mempersiapkan Helena untuk ikut serta hari ini." Beatrice tak bisa melawan tentu saja meskipun Helena sangatlah payah, tapi ini perintah langsung dari Louis.
"Bagus, sekarang juga persiapkan mereka. Setelah itu kita akan pergi menemui calon Ratu."
Louis pergi begitu saja setelah memberikan perintah yang cukup sulit bagi Beatrice. Helena sangat sulit diatur, dia masih terlalu muda, usianya masih di bawah 20 tahun dan masih suka bebas bertindak sendiri dan suka menyalahi aturan. Dia seharusnya menjadi pelayan kecil dahulu atau pelayan dapur, bukan langsung melayani Ratu.
Wanita itu hanya menghela napas, kembali berdiri tegak saat sosok Louis sudah berlalu. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan, menatap semua para pelayan muda yang berjumlah 15 orang dengan wajah muram.
"Sore ini aku akan membawa kalian ke hadapan Ratu. Tujuh dari kalian akan terpilih dan Helena, khusus untukmu, kau juga harus ikut sebagai persembahan khusus."
Senyuman Helena langsung mengembang. Ia berdiri congkak seakan-akan telah menjadi yang paling hebat di antara pelayan lain yang lebih senior. Sementara beberapa sorot mata tertuju pada Beatrice seolah mempertanyakan keadilan.
"Sekarang bersiaplah karena ini perintah langsung dari Raja Louis, tidak boleh ada yang membantah," ujarnya dengan nada tegas dan berwibawa. Lirikannya teralih pada Helena yang masih berdiri dengan sombong. "Sekalipun orang itu adalah gadis yang tak berguna. Aku yakin dia akan membuat masalah suatu saat nanti," sambungnya bergumam pelan pada akhir kalimatnya.
ato lewat hutan, tinggalkan sj dia😁
serah akan sukarela menyerahkan louis pdmu
jgn ampe louis jd sm serah, gk rela qu
jadi tumbal Louis buat muja kerang ajaib