Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia super
Sepanjang rapat kelas, Bagas hanya menggaruk-garuk kepalanya. Tak ada yang bisa ia lakukan selain mendengar. Keinginan untuk protes memupuk kegelisahannya, tetapi ia yakin tak ada yang akan menggubrisnya.
Ia ingin angkat kaki saja dari sana, namun namanya sudah terlanjur masuk ke dalam daftar.
Selain itu, ia juga tidak bisa membayangkan akan semurka apa Linda jika ia berani melakukannya. Ia tidak punya pilihan lain selain membuang jauh-jauh pemikiran itu.
Di sisi lain, Bagas merasa kalau ini adalah bentuk kejahilan lainnya dari Linda. Perasaannya bilang kalau diikutsertakannya ia dalam drama hanya untuk jadi bahan tertawaannya saja.
Ketika membayangkan dirinya akan ditertawakan satu kelas—bahkan satu sekolahan—ia merasa ingin membalas mereka dengan menampilkan penampilan yang bisa membuat mereka terpukau.
Karena itu, meski tidak mungkin, ia tetap ingin mencoba sebisanya.
Bagas dan beberapa orang yang namanya ada dalam daftar pemeran, tetap tinggal meski jam pulang sekolah telah terlampaui.
Bagas disuruh mengikuti beberapa anak kelasnya sampai pada ruangan ekskul drama. Mereka langsung masuk tanpa mengetuk, seolah memasuki ruangan mereka pribadi.
Begitu masuk, ia disambut tatapan orang-orang yang sedang duduk. Salah seorang bertegur sapa dengan mereka,
"Jadi dia anak yang baru pertama kali akting itu?" tanyanya sambil memicingkan mata ke arah Bagas.
"Kenapa kalian memilih dia?" tanya orang yang ada di sebelahnya.
"Linda yang mau. Kami bisa apa?"
"Apa mungkin dia punya bakat terpendam?" gumam salah seorang.
"Hei, kamu!" Pekiknya ke arah Bagas, "apa kamu pernah akting sebelumnya?"
"Tidak pernah."
"Sama sekali?"
"Sama sekali."
"Kalau bertugas atau tampil di depan umum?"
"Tidak pernah."
"Lalu kenapa Linda memilihmu?" tanya keheranan.
"Entahlah, aku juga ingin tahu."
"Wah, repot juga ternyata. Harus mulai dari dasar dong?"
"Kalau begitu, sambil menunggu Linda, kami akan mengajarimu dasar-dasar berakting."
Mereka menjelaskan panjang lebar. Meski setengah hati, ia tetap berusaha menyimak dengan seksama sampai pada akhirnya kedatangan Linda menginterupsi mereka.
"Baiklah teman-teman, ini naskah untuk dramanya." Ucapnya sembari mengeluarkan setumpuk kertas dari dalam tasnya.
Linda segera membagi rata kertas kepada anggota kelasnya yang berada dalam ruangan,
"Hari ini kita akan latihan dan untuk sebulan ke depan kita akan terus melakukannya sepulang sekolah sampai acara tiba."
Bagas membaca kertas yang ada pada tangannya perlahan. Tepat Seperti yang dibicarakan kemarin. Judulnya "perjuangan yang belum usai".
Sebuah kisah yang menceritakan tentang tiga orang yang hidup pascaperang yang salah satunya diperankan oleh Bagas.
"Ayo langsung saja kita mulai." Ajak Linda.
Mereka semua langsung bergerak mempersiapkan properti yang mendukung penampilan.
Ini adalah salah satu kelebihan yang dimilki kelas Bagas. Mereka memiliki akses ke properti dengan mudah dan bisa menggunakan ruangan ekskul dengan bebas.
Berbeda dengan kelas lain yang tak memiliki akses langsung. Kalaupun bisa, hanya sebatas meminjam properti saja, tidak sampai ruangannya.
Itulah yang dialami kelas Renata.
Ketika kelasnya butuh properti untuk kebutuhan latihan, mereka meminta seseorang untuk meminjamkan beberapa dari ekskul drama.
Renata serta dua orang lainnya mendapat tugas untuk mengambilnya. Karena kelas mereka butuh segera, mereka bergegas menuju ruangan yang dimaksud.
"Maaf, aku tidak bisa."
Gema suara terdengar samar dari kejauhan.
"Oh ayolah, Gas. Angkat kepalamu! Cuma melihat aku saja tidak bisa."
"Hahaha! Lucu sekali! Pemalu sih pemalu, tapi kalau sampai begini lucunya kelewatan."
Gelak tawa mereka terdengar hingga keluar ruangan. Menyita perhatian Renata dan kawan-kawannya yang berdiri tak jauh dari ruangan di mana asal suara berada.
Mereka tak menghentikan langkah sampai di depan pintu. Sebelum salah seorang pergi mengetuk, Renata mencari tahu apa yang sedang terjadi melalui celah tirai.
Bagas nampak sedang bersikeras menolak untuk menatap gadis dihadapannya. Membuat alisnya terangkat.
Pemandangan itu membuatnya bertanya-tanya.
Mereka sedang latihan 'kan? Apa dia ikut dalam drama nanti? Kenapa? Apa karena didorong keinginannya untuk sembuh? Atau...
Ruangan itu terbuka. Seseorang menyambut kedatangan mereka. Seseorang menyampaikan kedatangan mereka kepada orang itu.
Setelah mendapat yang mereka butuhkan, Renata serta kawan-kawannya segera kembali ke kelas. Namun, keheranan Renata belum juga hilang.
Apa mungkin ada yang memaksanya? Tapi untuk tujuan apa?
Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya, namun tak ada satu pun yang terjawab.
Tiba-tiba ia terngiang soal alasan lelaki itu diberi hukuman.
Karena sering tidak mengerjakan PR.
Padahal kupikir dia anak yang rajin. Buktinya dia cermat saat membuat kue. Mana mungkin dia anak yang pemalas?
Bahkan ingatan saat di laboratorium pun ikut menyembul. Lelaki itu bahkan membersihkan laboratorium hingga mengkilap.
Selama interaksinya, tak ada yang menunjukkan kalau lelaki itu pemalas atau bodoh.
Dari semua pemikiran itu, terciptalah sebuah kesimpulan,
Dia pasti sedang dirundung.
...----------------...
Tubuh Renata kini dipenuhi oleh keringat dalam pembaringannya, walau pendingin ruangan telah diatur hingga ke titik terendahnya.
Perlahan napasnya mulai stabil. Pria yang sedang berbagi kehangatan dengannya tersenyum puas.
"Apa yang kamu rasakan saat ini, Ren? Senang 'kan?"
Tatapannya menelisik ke dalam matanya. Seolah sedang menggali sesuatu dari dalam dirinya.
"Aku tidak merasakan apa-apa."
"HAHAHA ..., kamu memang menarik, Ran!"
Renata hanya diam, tak satu pun kata keluar untuk menanggapinya.
"Kamu berbeda sekali dengan semua gadis yang pernah kutemui. Semua gadis yang kutiduri bilang kalau mereka bahagia, tapi melihat kamu sekarang, tidak ada apa-apa dalam ekspresimu."
Renata tetap diam, ia membuang tatapannya. Menatap ke arah televisi padam yang memantulkan bayangan mereka. Menampakkan tato ular cobra yang ada pada punggung pria di hadapannya.
"Tapi karena itu, aku jatuh cinta denganmu, Ren. Apa kamu tidak merasakan hal yang sama?"
Renata masih tak bergeming. Ia merasa tak perlu menanggapi kalimat yang bukan pertama kali ia dengar itu.
Ia menoleh kembali. Menatap mata yang masih memandangnya lekat-lekat.
Cinta memanglah kata yang lazim ia dengar. Meski terlampau sering, bukan berarti ia bisa mengerti arti dari kata itu.
"Jatuh cinta itu rasanya seperti apa?" Tanya Renata tiba-tiba.
"Rasanya? Seperti menjadi manusia super yang bisa melakukan apa saja demi orang yang dicintai."
"Walaupun harus mati demi orang itu?"
"Ya, walaupun harus mati. Orang jatuh cinta itu tidak akan takut meski nyawanya menjadi bayarannya."
"Berarti orang yang jatuh cinta tidak takut apapun?"
"Tidak juga. Tetap ada hal yang menakutkan baginya."
"Apa itu?"
"Tidak bersama lagi dengan orang yang ia cintai."
"Kenapa begitu? Padahal ia sendiri tidak takut dengan mati?"
"Tidak bersama dengan orang yang dicintai itu lebih buruk daripada mati."
"Kenapa begitu?"
"Karena hanya akan ada rasa sakit di sisa hidupnya."
Renata memandangnya pria itu lebih intens. Lelaki di hadapannya sadar akan tatapan yang kini tertuju padanya.
Pantas saja ibu melakukannya.
"Kalau begitu, aku tidak akan jatuh cinta seumur hidup."
Lelaki itu untuk sesaat terkejut. Lalu tertawa hambar. Hanya sesaat.