Demi menyelamatkan citra, PBSI dan keluarganya memaksa Livia bertunangan dengan Rangga Adiwinata—rival bebuyutan yang dikenal sebagai "Pangeran Suci" badminton. Rangga yang dingin dan santun tampak seperti penyelamat di depan kamera.
Namun, di balik pintu tertutup, Rangga melepaskan topengnya.
"Aku tidak akan tidur denganmu sebelum kita menikah," bisik Rangga posesif sambil meremas pinggang Livia. "Karena kalau aku menyentuhmu lebih dari ini, aku tidak akan tahu caranya untuk berhenti."
Kini Livia terjebak: Mateo mengancam menyebarkan video panas mereka dan mengklaim Livia mengandung anaknya, sementara gairah gelap Rangga jauh lebih mematikan dari yang ia bayangkan.
Di lapangan Livia adalah ratu, tapi dalam permainan cinta ini, siapa yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martha Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Bukan Istri Penakut
Cahaya matahari Solo yang menembus celah gorden guest house pagi itu terasa seperti penghinaan. Livia terbangun dengan rasa nyeri yang menjalar dari pangkal paha hingga ke tulang belakang, sebuah pengingat fisik tentang betapa brutalnya "pertempuran" di atas net dan di bawah seprai semalam. Ia meraba sisi tempat tidur. Kosong. Dingin.
Rangga sudah pergi, meninggalkan aroma maskulin yang bercampur bau wiski di bantal, seolah-olah pria itu baru saja selesai menandai wilayah kekuasaannya sebelum kembali ke singgasananya.
Di atas meja nakas, terletak sebuah memo dengan kop surat Adiwinata Group, sebuah ponsel baru yang masih terbungkus plastik, dan sebuah kotak beludru hitam. Livia membaca tulisan tangan Rangga yang tajam dan miring—tipikal pria yang terbiasa memberi perintah, bukan meminta izin.
Rangga: Liv, aku berangkat ke Jakarta pukul 05.00 pagi ini untuk urusan darurat Papa dan tanda tangan posisi CEO. Hadi akan menjemputmu pukul 10.00. Jangan buat drama. Pakai cincin di kotak itu. Mulai hari ini, kamu adalah wajah dari Adiwinata. Tunggu aku di apartemen Senopati.
Livia meremas kertas itu hingga hancur dalam genggamannya. "Drama? Kamu yang baru saja membunuh karierku dan menyebutnya sebagai 'solusi', Rangga!"
Ia mencoba berdiri, namun kakinya gemetar—kombinasi antara kelelahan fisik dan kemarahan yang meluap. Saat ia melangkah menuju lemari untuk mencari pakaian, ia menemukan kenyataan pahit lainnya: Lemari itu kosong melompong. Semua raketnya, jersey latihannya, hingga sepatu lari kesayangannya telah raib. Yang tersisa hanyalah deretan gaun chic rancangan desainer ternama dan blazer kaku yang sepertinya dipilihkan oleh ibu mertuanya, Ratna.
Rangga tidak hanya ingin membawanya ke Jakarta. Dia ingin menghapus identitas Livia sebagai atlet dan menggantinya dengan sosok trophy wife yang sempurna.
"Sialan kamu, Rangga Adiwinata," desisnya.
Namun, saat ia mencoba merapikan meja rias, ia menemukan sebuah map cokelat yang terselip di bawah tumpukan majalah. Tampaknya terjatuh atau sengaja ditinggalkan dalam kekacauan semalam. Livia membukanya dengan rasa ingin tahu yang membuncah.
Isinya bukan dokumen perusahaan. Itu adalah laporan intelijen pribadi. Isinya mencakup detail tentang foto skandal yang membuat mereka bertengkar hebat kemarin. Di sana tertulis jelas: Foto direkayasa oleh faksi Komisaris Utama untuk memaksa Rangga pensiun dan fokus pada perusahaan. Yang membuat Livia nyaris muntah adalah lampiran di lembar terakhir. Ada bukti transfer dari rekening perusahaan Adiwinata ke agen manajemen pelatnas Livia.
Mereka tidak hanya menjebak Rangga. Mereka menyuap manajer Livia agar mengeluarkan Livia dari tim utama dengan alasan "masalah disiplin dan stabilitas mental," sehingga Livia tidak punya pilihan selain berlindung di bawah ketiak suaminya.
Pernikahan ini, kariernya yang hancur, bahkan "hukuman" semalam... semuanya adalah bagian dari skenario besar untuk menjadikan mereka pasangan penguasa korporat yang patuh.
"Kalian pikir aku bakal duduk manis jadi pajangan di Senopati?" Livia menyeringai pahit, matanya berkaca-kaca namun penuh tekad. "Kalian salah pilih lawan."
***
Pukul 09.15. Livia tahu ia hanya punya waktu 45 menit sebelum Hadi—asisten kepercayaan Rangga yang punya insting seperti anjing pelacak—sampai di depan pintu.
Ia tidak menyentuh gaun-gaun mahal itu. Ia membongkar koper kecil yang sempat ia sembunyikan di bawah tempat tidur sebelum mereka berangkat ke Solo. Di dalamnya ada hoodie hitam, celana kargo, dan topi . Ia juga mengambil kartu kredit cadangan miliknya yang tidak pernah dipantau oleh akuntan keluarga Adiwinata.
Livia tidak keluar lewat pintu depan. Ia memanjat jendela kamar mandi, mendarat di atas rumput basah yang semalam menjadi saksi bisu kehancurannya. Ia berlari menuju pagar belakang, melewati celah semak-semak yang biasa digunakan para pelayan untuk keluar-masuk secara diam-diam.
Ia tidak memesan taksi ke bandara. Bandara Solo adalah wilayah kekuasaan Adiwinata; setiap petugas di sana pasti mengenali wajahnya. Ia memilih jalur yang lebih lambat namun lebih sulit dilacak: Stasiun Balapan.
Di dalam gerbong kereta api Luxury yang menuju Jakarta, Livia duduk di pojok paling gelap. Ia memakai kacamata hitam besar untuk menutupi matanya yang sembab dan tanda merah di lehernya yang masih terasa berdenyut. Setiap kali kereta berguncang, ia teringat bagaimana Rangga mencengkeram pinggulnya semalam, mengklaimnya seolah-olah ia adalah aset perusahaan yang baru saja diakuisisi.
Ia menyalakan ponsel lamanya sebentar, hanya untuk melihat notifikasi yang masuk. Ratusan panggilan tak terjawab dari Rangga. Puluhan pesan singkat yang nadanya berubah dari otoriter menjadi panik, lalu menjadi ancaman dingin.
Rangga: Liv, Hadi bilang kamu tidak ada di guest house. Jangan bermain api. Kamu tidak tahu siapa yang sedang kamu hadapi di Jakarta.
Rangga: Kalau kamu tidak muncul di apartemen dalam dua jam, aku akan buat kontrak manajermu di pelatnas hangus selamanya. Jangan paksa aku jadi kejam, Livia.
Livia mematikan ponselnya kembali. "Kamu sudah kejam, Rangga. Kamu yang mulai perang ini."
***
Jakarta, Jam 19.00 WIB
Jakarta menyambutnya dengan hujan rintik-rintik dan kemacetan yang menyesakkan. Livia turun di Stasiun Gambir, menarik napas dalam-dalam menghirup udara polusi yang terasa lebih jujur daripada kemewahan palsu di Solo.
Ia tidak pergi ke apartemen Senopati. Ia tahu apartemen itu sudah dijaga ketat oleh orang-orang Rangga. Sebaliknya, ia menyewa sebuah kamar di hotel butik kecil di daerah Cikini menggunakan nama samaran dan uang tunai. Kamarnya sempit, berbau pembersih lantai murah, tapi baginya, ini adalah markas besar.
Ia membuka laptopnya, menyambungkan koneksi internet publik, dan mulai mengunggah data-data yang ia curi dari map cokelat tadi ke cloud.
Tiba-tiba, sebuah pop-up muncul di layarnya. Seseorang mencoba melakukan panggilan video terenkripsi ke akun pribadinya yang seharusnya anonim. Livia ragu sejenak, namun akhirnya mengangkatnya.
Layar menunjukkan sebuah ruangan gelap. Hanya terlihat siluet seorang pria yang sedang merokok.
"Kamu nekat, Livia," suara itu bukan suara Rangga. Itu suara manajernya di Pelatnas, pria yang ia kira telah mengkhianatinya. "Rangga sekarang sedang menghancurkan seisi kantor karena kehilanganmu. Tapi kamu harus tahu satu hal... Rangga tidak tahu soal suap ke pihak manajemen. Itu dilakukan ibunya di balik punggungnya."
Livia terpaku. "Apa maksudmu? Rangga bilang dia yang menandatangani pengunduran diriku."
"Dia menandatanganinya karena dia pikir kamu yang memintanya melalui surat kuasa palsu yang dibuat ibunya. Kalian berdua sedang diadu domba oleh sistem Adiwinata agar kalian saling benci dan tidak punya pilihan selain bersandar pada perusahaan."
Jantung Livia berdegup kencang. Kebencian yang ia rasakan semalam mulai bercampur dengan kebingungan yang menyiksa. Apakah Rangga benar-benar menghancurkan hidupnya, atau pria itu juga hanyalah pion yang sama hancurnya?
"Di mana dia sekarang?" tanya Livia parau.
"Dia di bar lantai teratas gedung Adiwinata. Sendirian. Mabuk berat. Dan dia memegang pistol, Livia. Dia pikir kamu kabur dengan pria lain karena foto rekayasa itu."
Livia menutup laptopnya dengan keras. Ia tidak tahu apakah ini jebakan lain atau kebenaran. Namun, satu hal yang pasti: malam ini di Jakarta akan menjadi jauh lebih berdarah daripada malam badai di Solo.
Ia meraih jaketnya, keluar dari kamar hotel, dan mencegat taksi. "Ke Gedung Adiwinata. Secepatnya."