Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Pengakuan Bayu
Udara di dalam ruang kerja pribadi Arkananta terasa berat dan statis, seolah-olah oksigen telah digantikan oleh partikel kecurigaan yang menyesakkan. Setelah berhasil memaksa sistem biometrik melakukan pemulihan paksa dan keluar dari isolasi, Arkan membawa Nayara masuk ke ruangan yang paling steril dari jangkauan pelayan High Tower. Di atas meja kerja yang permukaannya masih memiliki retakan halus akibat ledakan energi hampa sebelumnya, sebuah tablet digital dengan layar retak tergeletak seperti mayat teknologi yang baru saja dibedah.
Arkananta berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela ke arah lampu-lampu kota Astinapura yang berkilauan dingin. Tangannya terkepal di belakang punggung, dengan buku jari yang memutih akibat penahanan amarah. Di samping meja, Bayu berdiri dengan posisi kaku, wajahnya pucat dan keringat dingin tampak membasahi kerah kemeja taktisnya.
"Satu cangkir kopi hitam. Tanpa gula, tanpa krim. Saya ingin rasa getir yang murni untuk mendampingi laporan Anda, Bayu," ucap Arkananta. Suaranya datar, namun mengandung otoritas dingin yang membuat bulu kuduk Bayu meremang.
Bayu bergerak dengan gerakan yang hampir mekanis. Ia menuangkan kopi dari teko porselen ke dalam cangkir kecil. Denting sendok logam yang beradu dengan pinggiran cangkir terdengar memekakkan telinga di ruangan yang sunyi itu. Ia meletakkan cangkir tersebut di depan Arkan dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Tuan, pemulihan data dari transmisi ilegal selama masa isolasi telah selesai. Laporan ini mencakup log aktivitas dari gerbang komunikasi sayap barat," ucap Bayu. Ia berbicara dengan suara yang lugas, menyampaikan poin-poin informasi secara padat dan tanpa jeda sedikit pun.
Arkan menyesap kopinya, membiarkan rasa pahit itu membakar lidahnya sebelum ia berbalik. Tatapannya setajam belati yang baru diasah, menembus mata Bayu yang tampak menghindari kontak langsung. "Data itu menyebutkan bahwa koordinat tujuan transmisi berada di luar jangkauan server Empire Group. Jelaskan mengapa asisten kepercayaan saya membiarkan bypass ini terjadi."
Bayu menarik napas panjang, tubuhnya gemetar hebat. Ia menjatuhkan diri berlutut di atas marmer dingin, sebuah tindakan yang jarang sekali ia lakukan. "Saya tidak punya pilihan, Tuan. Erlangga... mereka menemukan lokasi adik saya di perbatasan Terra. Mereka mengancam akan mengeksekusinya jika saya tidak membuka jalur akses cadangan bagi sistem isolasi Nyonya Besar."
Nayara yang duduk di sofa beludru tersentak. Ia menggenggam tasbih kayunya erat-erat, merasakan getaran emosional yang meluap dari Bayu. "Jadi, Anda mengkhianati Arkan demi keselamatan keluarga Anda sendiri, Bayu?" tanya Nayara dengan nada suara yang rendah dan penuh kelembutan, mencoba menyentuh sisi kemanusiaan asisten tersebut di tengah situasi yang kaku.
"Bukan sekadar mengkhianati, Nyonya. Saya membiarkan racun itu masuk. Saya yang memberikan akses kepada pelayan senior untuk menyinkronkan jam digital di kamar Anda dengan frekuensi Kyai Hitam," aku Bayu, suaranya pecah oleh rasa bersalah yang teramat dalam.
Arkananta menghantamkan cangkir kopinya ke meja hingga pecah berkeping-keping. Cairan hitam itu meluap, merembes ke dalam retakan meja. "Anda tahu risikonya, Bayu! Nayara hampir kehilangan kewarasannya karena frekuensi itu! Integritas saya hampir hancur karena Anda membiarkan isolasi itu mengunci saya di saat ia menderita!"
"Hukum saya, Tuan. Saya tidak akan membela diri. Tapi tolong... selamatkan adik saya. Erlangga hanya menggunakan saya sebagai pion untuk memastikan Anda tidak bisa mengintervensi ritual darah yang sedang mereka siapkan di Terra," Bayu menundukkan kepala hingga menyentuh lantai.
Nayara bangkit berdiri, melangkah mendekati Bayu meskipun kepalanya masih terasa pening. Ia meletakkan tangannya di atas bahu Bayu yang bergetar. "Arkan, kemarahan tidak akan memulangkan adik Bayu. Bayu adalah korban dari sistem yang sama yang mencoba menghancurkan kita. Ia bicara jujur sekarang karena martabatnya sebagai manusia sedang memberontak."
Arkan menatap istrinya, lalu beralih pada Bayu. Energi Void di tangannya perlahan memudar, digantikan oleh ketenangan dingin yang lebih mematikan. "Berdiri, Bayu. Seorang asisten saya tidak memohon dengan cara seperti ini. Jika Anda ingin menebus dosa ini, maka Anda harus menjadi mata-mata ganda di dalam sarang Erlangga malam ini juga."
Bayu mendongak, matanya yang kemerahan menatap Arkan dengan secercah harapan. "Apapun, Tuan. Saya akan melakukan apapun."
"Berikan saya akses ke server pribadi Erlangga melalui jalur yang mereka pikir masih aman. Saya ingin semua bukti penyanderaan itu dikonversi menjadi berkas hukum yang akan menghancurkan karir politiknya sebelum fajar menyingsing," perintah Arkananta, suaranya kembali tajam dan menyerang langsung pada sasaran.
"Sudah saya siapkan, Tuan. Sebenarnya, saat sistem isolasi aktif tadi, saya diam-diam menanamkan virus pelacak pada transmisi balik mereka. Koordinat adik saya sudah terkunci," Bayu segera bangkit dan mengoperasikan tablet digitalnya dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh seorang ahli intelijen.
Nayara tersenyum tipis. "Melihat kebenaran memang menyakitkan, tapi ia membebaskan kita dari rantai ketakutan. Bayu, terima kasih karena telah memilih untuk jujur."
"Saya yang seharusnya berterima kasih, Nyonya. Kelembutan Anda tadi... itu lebih menghancurkan tembok pertahanan saya daripada ancaman fisik manapun," ucap Bayu tulus.
Arkananta mendekati Bayu, meletakkan tangannya di pundak pria itu dengan cengkeraman yang kuat. "Selamatkan adikmu, Bayu. Dan setelah itu, pastikan Erlangga tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi di kota ini. Ini bukan lagi soal pertahanan, ini adalah serangan balik total."
"Siap, Tuan. Seluruh unit bayangan di lantai bawah sudah saya siapkan. Mereka hanya menunggu kode eksekusi dari Anda," jawab Bayu, suaranya kini kembali mantap dan penuh kepercayaan profesional.
"Bagus. Nayara, bersiaplah. Kita akan meninggalkan High Tower menuju zona netral di Terra. Tempat ini sudah terlalu banyak memiliki telinga dan mata yang beracun," ucap Arkan sembari mengambil jas hitamnya yang tersampir di kursi.
Nayara mengangguk, ia merasa kekuatannya kembali pulih secara bertahap. "Tasbih ini mungkin retak, Arkan, tapi iman saya tidak. Mari kita tunjukkan pada mereka bahwa panti asuhan telah mengajarkan kita cara bertahan di tengah badai yang paling gelap sekalipun."
Mereka bertiga melangkah keluar dari ruang kerja, melewati lorong-lorong sunyi High Tower yang kini terasa seperti labirin yang mulai runtuh. Pengakuan Bayu telah menjadi kunci pertama yang membuka kotak pandora konspirasi keluarga besar, dan malam yang panjang di Astinapura baru saja dimulai.