Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.
Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.
Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.
Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.
Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?
Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diusir Dari Kamar Biru
#30
Plak!
Plak!
Gunawan melampiaskan amarahnya pada dua pengawal yang saat itu berjaga di depan kamar Miranda. Pria itu sangat murka karena orang-orangnya telah gagal menjaga anak gadisnya, hingga Miranda berhasil melarikan diri.
Setelah memeriksa CCTV Gunawan baru tahu jika Miranda kabur dengan cara sembunyi di dalam mobil dari freshmart, yang sebelumnya datang untuk mengantarkan kebutuhan dapur.
“Pergi, kalian!” usir Gunawan pada anak buahnya. Pria itu pun berpaling pada istrinya yang tengah duduk menunduk sambil menatap kuku-kuku tangannya.
Gunawan tiba-tiba geram karena Anjani terlihat biasa saja, padahal ia sudah memberinya ultimatum agar mengawasi Miranda. Pria itu mendekat kemudian mencengkram kedua bahu istrinya. “Sepertinya kau menganggap peringatanku seperti hal yang sepele.”
Anjani gemetar, dan wajahnya pias ketakutan, “A-aku tak tahu apa-apa, Mas, Aku sedang tidur siang ketika Miranda pergi,” elak Anjani, padahal di kamar ia bengong. Hanya malas saja keluar kamar sejak resmi menjadi pengangguran.
“Padahal aku sudah menyuruhmu diam di rumah agar fokus mengurus Miranda. Tapi kamu, malah sibuk tidur!” bentak Gunawan, lalu menghempaskan tubuh Anjani, hingga wanita itu nyaris terguling dari kursi yang didudukinya.
Anjani menahan semua sikap kasar itu, entah mengapa, belakangan ini suaminya suaminya semakin kasar dan sikapnya pun semakin dingin. Anjani tak tahu, bahwa Gunawan terus di tekan oleh Pak Menteri, agar pekerjaannya sempurna.
Saat pekerjaannya sudah sempurna, kini berganti masalah yang lainnya, dan semua masalahnya bermula ketika ia tahu bahwa Biru memiliki motif lain selain menjadi mahasiswa magang di Firma nya.
Sepintas, Gunawan mengetahui bahwa Miranda dan Biru menjalin hubungan, maka sebagai orang tua, Gunawan tak bisa membiarkan hal itu terjadi begitu saja. Ia mulai melakukan penyelidikan secara menyeluruh, tentang siapa Biru, latar belakang keluarga, dan yang lainnya.
Sempat merasa lucu lalu amazing ketika tahu siapa orang tua kandung Biru, hingga tiba-tiba otak Gunawan bekerja menghubungkan segala kemungkinan. Dan segala kemungkinan yang Gunawan bayangkan menjadi kenyataan, Biru mulai terlihat menunjukkan gelagat mencurigakan.
Suatu hari ponsel Gunawan menampilkan warning ada yang sedang meretas laptopnya, dan tim IT Gunawan mendeteksi bahwa si peretas adalah orang dalam yang bekerja di kantor Gunawan sendiri.
“Tuan, kami sudah menemukan keberadaan Nona.”
•••
Di rumah sakit.
Meski sudah melewati masa kritis, tapi Biru belum juga sadar, hal itu membuat kedua wanita yang senantiasa berjaga di sampingnya terus merasa gelisah setiap waktu.
Kini Biru sudah dipindahkan ke kamar biasa, tapi berbagai macam kabel masih menempel di tubuhnya, dan layar monitor yang memantau kondisi vital pasien.
Beberapa kali Ayu menghela nafas, begitu pula Giana yang memilih membatalkan begitu banyak jadwal pekerjaan hanya agar bisa menemani Ayu menjaga Biru. Begitu banyak doa mereka panjatkan, agar Biru kembali sadar serta sembuh seperti sedia kala bagaimanapun keadaannya.
Beberapa saat kemudian, sebuah suara memecah keheningan di ruangan tersebut.
Cklek!
“Biru!” pekik Miranda, seketika ia shock melihat kondisi pria itu.
Miranda mendekati pembaringan Biru, hatinya ikut hancur melihat kondisi Biru yang belum membuka mata. Gadis itu menangis sesenggukan, hingga tak menyadari keberadaan Ayu dan Giana di ruangan tersebut.
“Maaf, kamu siapa?” Pertanyaan Ayu mengejutkan Miranda yang sedang menangis sambil menelungkupkan wajahnya di sebelah tangan Biru yang terbebas dari jarum dan peralatan medis lainnya.
Miranda langsung berdiri tegak, buru-buru mengusap air mata yang membasahi wajahnya, malu sekaligus gugup. Sebab ia tak menyadari bahwa ada orang lain di ruangan tersebut. “Saya, Miranda, Tante,” katanya memperkenalkan diri.
“Teman Biru?”
“Eh, sebenarnya kami adalah sepasang kekasih,” ungkap Miranda malu-malu.
Giana dan Ayu saling pandang, rupanya yang berdiri di hadapan mereka saat ini adalah Miranda, putri Gunawan dan Anjani. Dua orang yang paling mereka benci. “Pergilah! Jangan pernah temui Biru.”
Miranda begitu kaget, karena tiba-tiba ia diusir oleh Giana. “A-apa salah saya, Tante?”
“Salahmu? Tidak ada! Tapi berkat jasa kedua orang tuamu, kamu menjadi salah satu orang yang paling kami benci!”
Meski kalimat Giana sudah begitu tegas, Miranda tetap memohon agar ia bisa berada di sisi Biru sedikit lebih lama.
Miranda maju lalu menggenggam tangan dan lengan Giana, “Jangan usir saya, Tante. Saya tulus mencintai Biru, dan Tante juga harus tahu, betapa besar usaha yang saya tempuh agar bisa sampai di tempat ini,” rengek Miranda, berharap Giana memberinya belas kasihan.
“Pergilah, Nak. Kehadiranmu hanya akan membuat masalah semakin rumit. Katakan pada orang tuamu, kami tak akan tinggal diam, kami akan terus menyelidiki kasus kecelakaan yang menimpa Biru!”
Miranda semakin heran, “Apa hubungannya dengan orang tua saya, Tante? Papi saya baik, kok, dia menerima Biru agar bisa bekerja di kantornya—”
Giana buru-buru menyela ucapan Miranda. “Iya, pada awalnya. Tapi kamu lihat, Biru nyaris meregang nyawa, semua karena pria bernama Gunawan!”
Meski tak sepantasnya mereka meluapkan kemarahan pada Miranda, tapi Miranda bisa menjadi jembatan penghubung antara dirinya dengan Gunawan.
Sepertinya Gunawan memang sangat menyayangi Miranda, hingga ia begitu menjaga Miranda agar tidak sampai mengetahui perbuatan jahatnya pada Biru.
Brak!
Pintu kamar dibanting dengan keras, Giana yang marah, tapi Miranda yang merasa remuk serta hatinya mulai retak.
Ia bertanya-tanya, apa benar kecelakaan Biru adalah rekayasa?
Tapi, sisi lain hatinya menolak percaya bahwa semua itu adalah ulah sang papi.
Miranda terus berjalan dengan tatapan mata yang kosong. Bahkan ketika anak buah Gunawan membawanya pergi, ia sama sekali tak menolak, atau bicara apa-apa lagi.
Kembali ke kamar Biru.
“Kak, apa tadi kita tidak kelewatan?”
“Aku tahu, sikapku tadi sedikit kelewatan, karena sejauh ini, yang bersalah adalah Gunawan dan Anjani, anak itu bahkan tak tahu menahu. Tapi—” Giana tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
Secara tidak langsung, perasaan Giana masih begitu sakit akibat pengkhianatan Gunawan dahulu, maka amarahnya tak bisa lagi dibendung, apalagi ia berhadapan dengan anak yang dahulu menjadi penyebab perpisahannya dengan Gunawan.
Ayu terdiam, memang saat ini mereka terkesan jahat, karena menyakiti Miranda yang tidak tahu apa-apa. Tapi itu semua sebanding dengan mental dan perasaan Biru yang sudah porak poranda sejak masih anak-anak.
•••
Di kantor polisi.
Mahar dan Tuan Dandi baru saja keluar dari kantor polisi, mereka menggugat Anjani dan Gunawan di waktu bersamaan. Walau belum tahu, kemana arah keberuntungan akan berpihak.
Apakah ke pihak Giana dan Ayu sebagai korban, atau justru kembali pada Gunawan yang memiliki jaringan dan koneksi kekuasaan yang kuat di bidang hukum.
“Kalian tak lupa pada janji, kan?” ujar Jono.
“Ada di dalam mobilmu,” jawab Mahar datar.
“Uyueeaahh!” Jono berseru dan bersiul girang.
“Tapi, mulai sekarang, sembunyikan dirimu dengan benar,” pesan Mahar.
Jono menatap kepergian Mahar, acuh tak acuh pada peringatan penting yang Mahar sampaikan.