Luka.
Adalah kata yang membuat perasaan carut marut, tak terlukiskan.
Setiap insan pasti pernah merasakannya atau bahkan masih memilikinya. Entah hanya sekadar di kulit, atau bahkan di bagian terdalam dari jiwa.
Layaknya Bagas.Terpendam jauh, tak kasat mata.
Luka adalah bukti.
Bukti kelemahan raga, keruhnya jiwa. Bukti kalau dirinya hanyalah makhluk fana yang sedang dijahili takdir.
Akal dan hati yang tumpang tindih. Tak mudah untuk dipahami. Menenun jejak penuh liku dan terjal. Dalam manis-pahitnya sebuah perjalanan hidup.
Bukan cerita dongeng, namun hanyalah cerita manusia biasa yang terluka.
*Update setiap hari kecuali Senin dan Rabu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baginda Bram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelanggan Terakhir
Renata mendapat kabar kalau profilnya sudah hilang dari aplikasi. Beberapa orang yang sadar, mempertanyakan hal itu kepadanya. Ia memanfaatkan momen itu untuk menyampaikan soal dirinya yang berhenti.
Dengan kata lain, sudah tak akan ada lagi pesanan yang masuk. Itu juga pertanda kalau ia sudah menjadi pengangguran.
Meski begitu, urusannya belum benar-benar selesai. Pesanan yang terlanjur masuk, harus ia tuntaskan.
Tidak tahu mengapa, Renata merasakan lega dari dalam hatinya. Padahal sebelumnya hanya rasa ragu saja yang memojokkannya.
Tidak akan ada keanehan pelanggan lagi. Tidak akan ada tekanan untuk memuaskan lagi. Tidak akan ada hal-hal aneh yang melekat pada tubuhnya lagi. Tidak akan ada sosok bernama Rena lagi.
Memang tidak bisa dipungkiri kalau hatinya mersa lebih baik. Namun, kini otaknya harus bekerja lebih ekstra.
Mencari jalan keluar demi mendapatkan pundi-pundi rupiah. Tentu agar ia dan keluarganya bisa hidup, juga agar dirinya tak kembali terperosok ke dalam jurang gelap itu lagi.
Hal pertama yang terpikir olehnya adalah meminta saran kepada seseorang. Namun, tak ada satu orang pun yang bisa memberikannya.
Teman-teman sekolahnya pasti enggan berbagi saran dengannya. Tetangganya juga serupa. Jangankan meminta saran, kenal dengan mereka saja tidak.
Bagas? Mana mungkin dia bisa. Mommy? Ah nanti merepotkannya lagi.
Opsinya telah habis dengan sendirinya. Hanya ada satu jalan yang bisa ia lakukan:
Mencarinya sendiri.
Masalahnya mencari kerja saat ini sangatlah sulit. Bahkan yang kuliah tinggi-tinggi pun masih berebut. Apalagi yang hanya lulusan SMA seperti dirinya?
Renata menjadi pesimis tiba-tiba. Namun, tidak ada cara lain selain berusaha semaksimal mungkin.
Sudah saatnya ia membuang lembaran lama yang gelap, lalu mengisi lembaran baru dengan warna cerah.
Lembaran baru yang baru ia buka, haruslah berisi hal baik.
Hanya kalimat itu yang ia ukir dalam hatinya.
...----------------...
Renata masih memliki tiga buah pesanan yang tersisa. Semuanya berada di hari yang berbeda. Ia jadi harus tetap berangkat untuk beberapa hari ke depan untuk menuntaskan urusannya.
Dua orang adalah orang asing. Satunya adalah pelanggan tetapnya yang setiap minggu pasti tak pernah ketinggalan mengantre. Di antara para pelanggannya, ialah salah satu yang paling aktif.
Selain untuk menuntaskan tugasnya, ia juga akan berpamitan kepada lelaki itu sebagai bentuk tanda terima kasihnya.
Entah mungkin kebetulan. ia juga sekaligus menjadi pelanggan terakhirnya.
Renata bersiap seperti biasa. Dengan pakaian modis, make up tebal, dan poni yang menutup seluruh keningnya, ia datang ke hotel yang dimaksud.
Begitu sampai, lelaki itu sudah berada di tempat. Renata sudah hafal kalau lelaki itu pasti akan datang lebih dulu. Bahkan ia sudah mendapat pesan untuk masuk saja langsung.
Ia mendapati lelaki itu sedang terlelap di atas ranjang bertelanjang dada. Berapa kali pun ia melihat tato ular yang ada di punggungnya, selalu tampak menakutkan.
"Kak, masih bangun?" tanya Renata memastikan.
"Oh sudah datang?" sahutnya dengan suara serak khas orang yang baru bangun. "Kemari." Sambungnya lirih sembari mengusap ranjang dengan tangannya.
Renata yang sudah hafal melepas jaketnya. Bergerak naik ke atas ranjang. Begitu cukup dekat, lelaki itu mengangkat sebelah tangannya. Merangkul penuh pundaknya.
"Kamu apa kabar?"
"Seperti biasa."
"Sudah kuduga pasti kamu akan bilang begitu." Ucap lelaki itu sembari mencubit pipinya.
"Kakak sendiri kelihatan capek seperti biasa."
"Maklum, kerjaanku tidak ada habisnya."
"Tapi jadi banyak uang 'kan?"
"Iya, dong. Buat siapa lagi kalau bukan buat kita."
"Kita?" tanya Renata heran.
"Iya, 'kan buat menyewa kamu. Apa lagi kalau aku kaya raya, aku pasti akan menyewamu setiap hari."
"Kenapa kamu sampai melakukannya sejauh itu?"
"Karena aku cinta padamu, memangnya ada alasan lain lagi?"
Renata menahan helaan nafasnya. Ia sudah tidak lagi kaget dengan apa yang keluar dari mulut lelaki itu.
Lelaki itu mencium keningnya. Lalu turun ke pipinya. Ia tak ingin menyia-nyiakan lagi apa yang sudah ia bayar.
Sudah seperti penjajah yang mengeruk habis segala hal yang ada di bawah jajahannya tanpa terkecuali.
Renata sesekali melenguh kecil. Hanya merespon segala yang terjadi ala kadarnya. Hingga dirinya lepas dari jajahan lelaki itu dengan sendirinya.
Mereka terbaring lemas. Terlebih Renata yang merasakan nyeri di beberapa bagian. Menatapi langi-langit kamar sembari mengatur nafas hampir bersamaan.
"Kak, hari ini adalah hari terakhirku."
"Oh kamu mau liburan?" tanyanya mencari maksud kata yang ia dengar.
"Bukan hanya liburan. Aku akan berhenti melakukan pekerjaan ini."
"Apa ya sebutannya? Hiatus ya? Memangnya ada masalah apa? Mau kuliah?" terkanya kembali.
"Bukan begitu. Tapi, aku akan berhenti selamanya."
"HAH!?" Ia tiba-tiba bangun dari tidurnya. Terkejut bukan main. "Itu berarti kita tidak bisa bertemu lagi?"
"Iya."
"Kenapa!? Kenapa kamu mau berhenti?"
"Tidak ada alasan khusus. Aku cuma ingin hidup lebih baik saja."
"Kalau kamu ingin hidup lebih baik, bagaimana kalau kita menikah saja? Aku janji akan membahagiakanmu seumur hidup." ucapnya sembari menatap Renata lekat-lekat.
Renata kebingungan mendengar kata-katanya kali ini. Ia memang hafal dengan ucapan-ucapan lelaki itu. Namun, ia tak pernah menduga akan sampai sejauh ini.
"Aku adalah perempuan kotor yang tidak punya kelebihan apa-apa. Aku pendek dan tidak menarik. Kamu yakin mengatakan hal itu kepadaku?"
"Tidak, Rena. Kamu adalah wanita paling menarik yang kukenal. Tidak ada wanita sepertimu lagi di dunia ini."
Ia tak pernah menduga akan mendapatkan ajakan menikah seperti ini. Dengan seluruh hal kelam yang terjadi, kata menikah terlalu indah di telinganya.
Bahkan tak pernah terbesit sekalipun. Tak pernah terbayang sesaat pun dirinya bisa berdiri di pelaminan bersama dengan seseorang.
Apa jangan-jangan hanya dia yang mau menerimaku apa adanya?
Apa jangan-jangan jika aku melepaskannya di sini, aku akan melewatkan hal yang tidak mungkin ada lagi seumur hidupku?
Apa jangan-jangan aku bisa benar-benar bahagia jika bersamanya?
Pikirannya mendadak kalut. Kebahagiaan. Adalah kata yang sudah lama tidak ada dalam kamusnya. Tidak masuk akal jika ada seseorang yang bilang akan membahagiakannya.
Dengan segala kata-kata dan perbuatan yang lelaki itu lakukan kepadanya, ia masih tak mendapatkan kesimpulan kalau itu adalah sebuah kebahagiaan.
Lalu apa arti dari kebahagiaan?
Ia menguras habis isi kepalanya. Mencari sampai ke dalam isi hatinya. Hanya demi mencari jawabannya.
Hatinya merasa mendapat sesuatu saat melihat adiknya riang gembira. Hatinya seolah mendapat sesuatu ketika melihat seseorang bisa tersenyum karenanya.
Hatinya seolah kehilangan sesuatu saat melihat seseorang meneteskan air mata untuknya.
Apa itu adalah kebahagiaan?
Jika sesimpel itu, aku tidak akan pernah repot karenanya.
Namun ia masih belum lega. Seolah masih ada pengganjal yang menghalangi.
Apa aku bisa benar-benar bahagia bersama lelaki ini?
Renata benar-benar tidak mengerti jawabannya.
Kalau orang itu bukan dia, apa aku juga bisa bahagia?
Seandainya orang itu ... Bagas.
Tanpa angin, tanpa hujan. Nama itu tiba-tiba terlintas dalam benaknya begitu saja.
Renata sadar kalau Bagas adalah lelaki yang tidak bisa disamakan dengan lelaki pada umumnya.
Kesan kalau laki-laki adalah makhluk yang mengancamnya jika lengah, tidak bisa ia dapatkan darinya. Bahkan, hatinya yang selalu waspada dengan lelaki, tidak ada kekhawatiran apapun saat bersamanya.
Maka dari itu, kenangan bersamanya adalah masa muda terindah yang pernah ia miliki.
Jika orang itu adalah Bagas, mungkin saja ... aku bisa.
Maka dari itu, ia tidak bisa.
Ia merasa sudah cukup bahagia. Itu hal yang tak terbantahkan. Ia tidak akan menuntut lebih dari yang seharusnya.
Karena itu, keputusannya untuk hidup tanpa menikah yang sudah ada sejak dahulu kala, tetap tidak akan berubah.