NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Menjadi Pengusaha / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.

Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.

Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.

Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.

⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inkuisisi Abad Pertengahan

Pukul 08.00 WIB.

Kawasan Kotabaru, Yogyakarta, biasanya tenang dengan deretan pohon asam yang menaungi jalanan aspal.

Namun, pagi ini, ketenangan itu tercabik.

Tiga mobil SUV hitam berpelat merah berhenti mendadak di depan Sekar Heritage.

Bukan pelanggan.

Pintu mobil terbuka serempak.

Sekar Ayu berdiri di balik meja kasir, tangannya baru saja selesai menata ulang etalase serum yang kemarin diacak-acak pelanggan yang marah.

Dia melihat rombongan itu turun.

Jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat.

Cortisol spike.

Respons alami tubuh terhadap ancaman predator.

Tapi wajahnya tetap datar.

Topeng 'Jawa Halus'-nya terpasang sempurna.

Dari mobil pertama, turun dua orang pria berseragam abdi dalem Keraton, mengenakan peranakan biru tua dan blangkon.

Dari mobil kedua, tiga orang wanita mengenakan jas putih dokter dengan stetoskop menggantung di leher.

Dan dari mobil ketiga...

GKR Dhaning keluar dengan anggun.

Putri Sulung Keraton itu tidak memakai kebaya hari ini.

Dia mengenakan dress batik sutra modern selutut, kacamata hitam oversized, dan sepatu hak tinggi Stiletto merah darah.

Di sebelahnya, berjalan seorang pria paruh baya bersorban putih dan berjubah gamis.

Kyai Ageng, penasihat spiritual Keraton.

"Selamat pagi, Mbak Sekar," sapa Dhaning saat pintu kaca toko didorong terbuka.

Lonceng pintu berdenting nyaring, terdengar seperti lonceng kematian di telinga Sekar.

Udara sejuk AC toko seketika berubah sesak.

Aroma oud yang kuat dari jubah Kyai Ageng bertabrakan dengan aroma citrus segar khas toko Sekar.

"Selamat pagi, Gusti Dhaning," Sekar menangkupkan kedua tangan di dada, membungkuk sedikit.

"Sebuah kehormatan toko kecil saya dikunjungi rombongan agung."

Dhaning melepas kacamata hitamnya.

Matanya yang tajam menyapu seisi ruangan.

"Maaf kami datang seperti ini, Sekar. Ini prosedur darurat."

Dhaning menoleh pada pria bersorban di sebelahnya.

"Kyai, ini tempatnya. Silakan diperiksa. Saya takut aura negatif di sini mempengaruhi kesehatan mental adik saya, Arya."

Sekar menegakkan punggungnya.

"Aura negatif? Maaf, Gusti, tapi produk saya sudah lulus BPOM."

"Kami tidak bicara soal izin edar, Nak," suara Kyai Ageng terdengar berat dan berwibawa.

"Kami bicara soal syubhat. Keraton menerima laporan bahwa kekayaan dan kecantikanmu tidak wajar."

Pria tua itu menatap Sekar lekat-lekat.

"Ada dugaan praktik klenik. Susuk. Pesugihan. Atau ikatan dengan jin."

Sekar hampir tertawa.

Sebagai ilmuwan yang mendedikasikan hidupnya untuk logika, tuduhan ini terdengar menggelikan.

Namun, dia tahu di mana dia berpijak.

Di tanah Yogyakarta, rumor mistis bisa membunuh bisnis lebih cepat daripada resesi ekonomi.

"Silakan diperiksa, Kyai," kata Sekar tenang, mempersilakan dengan tangan terbuka.

"Saya tidak menyembunyikan demit apa pun di sini."

Dhaning tersenyum tipis.

"Geledah."

Perintah itu singkat.

Para abdi dalem langsung bergerak.

Mereka tidak sopan.

Rak-rak kaca dibuka kasar.

Botol-botol serum Royal Essence diambil, dibuka tutupnya, dan diendus.

"Hati-hati, Pak," tegur Sekar saat seorang abdi dalem mengguncang toples kaca berisi masker organik.

"Itu oksidasi kalau terlalu lama dibuka."

"Diam!" bentak abdi dalem itu.

"Baunya aneh. Seperti tanah kuburan!"

Sekar menghela napas.

Itu aroma Vetiver, akar wangi.

Tanaman tropis biasa.

Di sudut lain, Arya masuk dengan napas terengah.

Dia baru saja tiba, kemejanya sedikit berantakan.

"Mbakyu!" seru Arya, menatap Dhaning tajam.

"Apa-apaan ini? Ini properti pribadi!"

"Ini perintah Ayahanda, Dimas," potong Dhaning dingin.

Dia tidak menatap Arya, matanya fokus pada Sekar.

"Ayahanda ingin memastikan calon menantunya bersih. Bersih secara medis, dan bersih secara spiritual. Kamu tidak mau punya istri jelmaan siluman ular, kan?"

Arya mengepalkan tangannya.

Rahangnya mengeras hingga urat lehernya terlihat.

Dia ingin maju, mengusir mereka semua.

Tapi tangan Sekar menyentuh lengan Arya pelan.

"Biarkan, Gusti," bisik Sekar.

Arya menatap Sekar.

Mata gadis itu tenang.

Terlalu tenang.

Seperti permukaan danau beku.

"Kalau kita melawan, mereka akan bilang kita takut ketahuan," kata Sekar logis.

Di belakang meja kasir, tim dokter forensik mulai membuka tas peralatan mereka.

Salah satu dokter wanita, Dr. Rina, mendekati Sekar.

"Maaf, Mbak Sekar. Sesuai protokol, kami harus melakukan pemeriksaan fisik."

"Pemeriksaan fisik?" alis Sekar naik sebelah.

"Untuk toko kosmetik?"

"Untuk mencari tanda stigmata diaboli," sela Kyai Ageng.

"Tanda perjanjian dengan gaib. Biasanya berupa bekas luka aneh, tahi lalat di tempat tersembunyi, atau bagian tubuh yang membusuk/terluka."

Sekar memejamkan mata sejenak.

Ini bukan audit.

Ini inkuisisi abad pertengahan.

"Di sini?" tanya Sekar.

"Di ruang tertutup.

Tapi pintu tidak boleh dikunci," jawab Dr. Rina.

Sekar mengangguk.

Dia berjalan menuju ruang perawatan facial di belakang, diikuti tiga dokter wanita dan Kyai Ageng yang menunggu di ambang pintu luar.

Arya hendak menyusul, tapi dua abdi dalem menghalangi jalannya.

"Maaf, Gusti Pangeran. Pria dilarang masuk area pemeriksaan wanita."

Arya menendang tong sampah aluminium di dekatnya hingga penyok.

Bunyi berisik itu membuat semua orang tersentak, kecuali Dhaning yang hanya melirik bosan.

Ruang Perawatan VIP.

Lampu dimmer dinyalakan terang maksimal.

Sekar duduk di tepi ranjang facial.

"Buka kebaya Anda, Mbak," perintah Dr. Rina.

Nadanya datar, profesional, tapi matanya menyiratkan rasa jijik yang tertahan.

Sekar menarik napas.

Dia menekan egonya dalam-dalam.

Ini hanya pemeriksaan dermatologis, batin Sekar mencoba merasionalisasi.

Anggap saja General Check-up.

Dia membuka kancing kebayanya satu per satu.

Udara dingin AC menyentuh kulitnya.

Tiga pasang mata dokter meneliti setiap inci kulit punggung, lengan, dan lehernya.

Mereka mencari jarum emas, susuk.

Mereka mencari tato gaib.

"Kulitnya... terlalu halus," gumam salah satu dokter muda.

Dia menyentuh lengan Sekar dengan sarung tangan lateks.

"Tidak ada pori-pori yang terlihat jelas.

Epidermis-nya sangat rapat.

Ini tidak normal untuk orang yang tinggal di iklim tropis tanpa AC sentral 24 jam."

"Catat itu," kata Dr. Rina.

"Indikasi penggunaan zat non-medis atau pemeliharaan supranatural."

Sekar ingin membantah.

Itu efek Centella Asiatica dari tanah hitam ruang spasial yang kaya nitrogen!

Itu biologi, bodoh!

Tapi dia diam.

Dr. Rina mengambil kapas alkohol.

Menggosokkannya dengan kasar ke pipi Sekar.

Memastikan tidak ada bedak tebal yang menutupi cacat wajah.

Kulit itu memerah sedikit karena gesekan, tapi tetap mulus.

"Angkat tangan kiri," perintah Dr. Rina.

Jantung Sekar berhenti berdetak sesaat.

Tangan kiri.

Jari manis.

Tempat "pintu masuk" ruang spasialnya berada.

Tanda lahir berbentuk bulir padi utuh.

Sekar mengulurkan tangannya perlahan.

Dr. Rina menyalakan lampu senter medis, menyorot tepat ke jari manis Sekar.

"Ada tanda lahir di sini," kata Dr. Rina.

Dia mendekatkan wajahnya.

"Bentuknya aneh. Seperti... biji tanaman? Warnanya emas kecokelatan."

Di ambang pintu, telinga Kyai Ageng menajam.

"Emas? Itu tanda susuk cair!"

"Bukan, Kyai," Dr. Rina menekan tanda lahir itu dengan ujung jempolnya.

Keras.

Sakit.

Sekar meringis dalam hati.

Jangan aktif.

Jangan aktif.

Kumohon, jangan aktif.

Jika dia masuk ke ruang spasial sekarang, tubuh fisiknya akan jatuh tertidur (koma) di depan mereka, membenarkan tuduhan bahwa dia "mati suri" untuk ritual.

Sekar menggigit lidahnya sendiri, menggunakan rasa sakit fisik untuk menjaga kesadarannya tetap tertambat di dunia nyata.

"Ini hanya hiperpigmentasi melanin, Kyai," Dr. Rina akhirnya menarik diri.

"Strukturnya menyatu dengan jaringan kulit.

Bukan benda asing yang ditanam."

Sekar menghembuskan napas yang tak sadar dia tahan.

"Tapi..." Dr. Rina mengambil sampel rambut Sekar dan memotongnya sedikit.

"Kami akan bawa ini ke lab. Dan sampel darah."

"Silakan," jawab Sekar dingin.

"Ambil sebanyak yang Anda butuhkan.

Asal jangan lupa disterilkan jarumnya.

Saya tidak mau kena Tetanus dari prosedur yang barbar."

Dr. Rina menatap Sekar tajam, tersinggung dengan komentar itu, lalu menusukkan jarum suntik ke vena lengan Sekar sedikit lebih kasar dari yang seharusnya.

Darah merah segar mengalir ke tabung vakum.

"Selesai," kata Dr. Rina.

"Pakai baju Anda."

Setengah jam kemudian.

Toko itu berantakan.

Kain-kain batik tulis yang dilipat rapi kini terhampar di meja, kusut.

Beberapa botol face mist tumpah.

Dhaning berdiri di tengah kekacauan itu, wajahnya tampak puas meski hasilnya nihil.

"Tidak ada jenglot, Kyai?" tanya Dhaning, nadanya pura-pura kecewa.

"Belum ditemukan wujud fisiknya, Gusti," jawab Kyai Ageng sambil menggeleng.

"Tapi hawa di sini terlalu bersih. Terlalu wangi. Biasanya tempat yang memakai penglaris itu memang disamarkan dengan wewangian bunga."

Logika macam apa itu?

Sekar memutar bola matanya dalam hati.

Bersih salah, kotor salah.

"Baiklah," Dhaning menatap Sekar yang baru keluar dari ruang belakang sambil membenarkan kancing kebayanya.

"Untuk sementara, toko ini kami segel secara adat.

Sampai hasil lab keluar dan Kyai Ageng selesai melakukan ruwatan jarak jauh."

"Disegel?" Arya maju selangkah.

"Mbak Yu, kamu tidak punya hak hukum—"

"Aku punya hak moral sebagai kakakmu!" bentak Dhaning, topeng tenangnya retak sedikit.

"Lihat gadis ini, Arya!

Dia bukan level kita.

Dia datang dari desa, miskin, bapaknya penjilat, ibunya tidak jelas, dan tiba-tiba dia punya segalanya?

Kau lulusan Ekonomi, kau tahu hitungan Return on Investment-nya tidak masuk akal!"

Dhaning menunjuk wajah Sekar.

"Tunggu saja hasil lab forensik.

Kalau terbukti ada zat narkotika atau merkuri di darahnya, aku sendiri yang akan menjebloskannya ke penjara."

Dhaning berbalik, tumit sepatunya berbunyi tak-tak-tak keras saat dia berjalan keluar.

Rombongan itu pergi.

Meninggalkan keheningan yang menyakitkan.

Laras, asisten toko, menangis sesenggukan di pojok ruangan sambil memunguti botol serum yang pecah.

Arya berdiri mematung.

Wajahnya merah padam menahan murka dan rasa malu.

Dia pangeran, tapi dia tidak berdaya melawan hierarki keluarganya sendiri di depan umum.

Sekar berjalan melewati Arya.

Dia tidak menangis.

Air mata adalah respons emosional yang tidak efisien saat ini.

Itu hanya membuang elektrolit dan membuat mata bengkak.

Sekar berjongkok di samping Laras.

"Jangan menangis, Laras.

Air matamu terlalu mahal untuk orang-orang itu," kata Sekar lembut.

Dia mengambil sapu dari sudut ruangan.

"Sekar..." suara Arya serak.

"Maafkan aku. Aku... aku akan bicara pada Ayahanda sekarang juga."

Sekar berdiri, memegang gagang sapu erat-erat.

Dia menatap Arya.

Tatapan itu bukan tatapan kekasih yang butuh perlindungan.

Itu tatapan seorang ilmuwan yang baru saja menemukan variabel baru dalam eksperimennya.

Variabel yang harus dieliminasi.

"Jangan, Gusti," larang Sekar.

"Kenapa?

Harga dirimu diinjak-injak!"

"Kalau Gusti ngamuk ke Sultan sekarang, Gusti Dhaning menang.

Dia ingin Gusti terlihat emosional dan tidak rasional karena dipengaruhi 'guna-guna' saya."

Sekar mulai menyapu pecahan kaca di lantai.

Suara krak kaca yang beradu terdengar ngilu.

"Mereka ingin perang pembuktian?" gumam Sekar, lebih pada dirinya sendiri.

Otaknya berputar cepat.

Menyusun strategi.

Mereka menuduhnya menggunakan sihir karena tidak paham sains di balik produknya.

Mereka menuduhnya "mati suri" karena tidak paham konsep meditasi gelombang otak Theta yang dilakukannya saat masuk ruang spasial.

Ketidaktahuan atau Ignoransi adalah musuh utama sains.

Maka, cara melawannya bukan dengan marah.

Tapi dengan edukasi.

Edukasi yang brutal dan tak terbantahkan.

"Laras," panggil Sekar.

"I-iya, Mbak?"

"Bersihkan tempat ini.

Jangan ada satu pun debu yang tertinggal.

Besok kita buka lagi."

"Tapi... mereka bilang disegel?"

Sekar tersenyum.

Senyum dingin yang membuat Arya merinding.

"Mereka menyegel secara adat.

Tidak ada surat kepolisian.

Toko ini buka besok."

Sekar menatap Arya.

"Dan Gusti Arya... tolong siapkan proyektor LCD dan sound system terbaik."

Arya mengerutkan kening.

"Untuk apa?"

"Mereka mau bukti kalau saya bukan dukun?"

Sekar mengambil satu botol serum yang masih utuh, mengangkatnya hingga terkena cahaya matahari.

Cairan di dalamnya berkilau keemasan.

"Saya akan berikan mereka kuliah umum.

Saya akan bedah 'ilmu hitam' ini dengan pisau bedah sains di depan hidung mereka."

1
Annisa fadhilah
bagus bgt
tutiana
ya ampun mimpi apa semalam Thor, trimakasih crazy up nya
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
tutiana
gass ken arya,,, tumbangin rangga
🌸nofa🌸
butuh energi buat menghadapi Dhaning
🌸nofa🌸
mantap arya
tutiana
wuenakkk banget kan ,,Rangga,,Rangga kuapok
Aretha Shanum
upnya good
borongan
lin sya
keren sekar, bkn hnya jenius tp cerdik, mental baja, pandai membalikan situasi yg hrusnya dia kalah justru musuhnya yang balik menjdi pelindung buat para kacungnya daning 💪
gina altira
menunggu kehancuran Rangga
🌸nofa🌸
waduh malah nantangin😄
🌸nofa🌸
judulnya keren banget😄
sahabat pena
kapan nafasnya? teror trs .hayo patah kan sayap musuh mu sekar.. biar ga berulah lagi
INeeTha: seri 2 ini memang di stel mode tahan nafas ka🙏🙏🙏
total 1 replies
INeeTha
Yang nyariin Arya, dia nungguin kalian di bab selanjutnya 🤣🤣🤣
gina altira
Aryanya kemana inii,, kayakanya udah dijegal duluan sama Dhaning
sahabat pena
kurang greget sama Arya ya? kasian sejar selalu berjuang sendiri
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Sekar keren banget 😍😍😍😍😘
sahabat pena
rasakan itu rangga 🤣🤣🤣🤣rasanya mau bersembunyi di lubang semut🤣🤣🤣🤣malu nya.. euy🤣🤣
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Rangga terlalu bodoh untuk melawan seorang profesor 😏😏🙄🙄
🌸nofa🌸
wkwkwkwkwk
kena banget jebakan sekar buat rangga😄
🌸nofa🌸
kebalik padahal😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!