NovelToon NovelToon
MONSTER DI DUNIA MURIM

MONSTER DI DUNIA MURIM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:947
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Lantai kereta tahanan ini terasa sangat keras dan tidak rata. Setiap kali roda kayu menghantam lubang di jalan, tubuhku terpental kecil ke dinding besi yang dingin. Rantai yang melilit pergelangan tanganku mengeluarkan bunyi dentingan yang monoton. Aku hanya bisa menatap tanda bunga teratai kecil di kulitku, sisa dari keberadaan He Ran yang kini entah berada di mana.

"Berhenti menatap tanganmu sendiri, Nak. Rantai itu tidak akan lepas hanya dengan dipelototi," tegur salah satu pengawal yang duduk di sudut kereta.

Aku mengangkat pandanganku perlahan. Pria itu mengenakan zirah merah yang mengilat, tangannya memegang gagang pedang dengan santai namun matanya tetap waspada.

"Aku tidak sedang mencoba melepasnya," sahutku dengan suara yang masih serak.

"Lalu apa? Meratapi nasibmu sebagai pembantai?" tanya pengawal itu sembari mengeluarkan sebatang rumput dari mulutnya.

"Aku hanya sedang berpikir berapa lama lagi kita akan sampai di Kota Guntur," balasku seraya menyandarkan kepala ke dinding kereta yang bergetar.

Pengawal itu tertawa pendek, suaranya terdengar sangat parau. "Kau sangat terburu-buru untuk menemui ajalmu. Biasanya orang-orang sepertimu akan memohon agar perjalanan ini berlangsung selamanya."

Aku tidak menyahuti ucapannya. Pikiranku justru terbang kembali ke momen di mana Jang Mi menghilang dengan kekuatan sistemku. Ada rasa hampa yang luar biasa di dalam dadaku. Bukan karena aku merindukan notifikasi digital itu, melainkan karena aku merasa telah memberikan senjata pemusnah masal kepada orang yang paling membenciku.

Tiba-tiba, kereta berhenti dengan sentakan yang cukup keras. Suara hiruk pikuk di luar mulai terdengar masuk ke dalam ruang tahanan yang sempit ini.

"Kita sudah sampai di Gerbang Utama," lapor seseorang dari balik pintu kayu.

Pintu kereta terbuka dengan bunyi decit yang memekakkan telinga. Cahaya matahari pagi menyambar wajahku, membuat mataku perih sesaat. Dua orang pengawal segera menarik rantai di leherku, memaksaku untuk turun dari kereta.

Aku berdiri di tengah keramaian Kota Guntur. Kota ini jauh lebih besar dari yang kuingat. Bendera-bendera turnamen berkibar di setiap sudut bangunan, namun aura yang kurasakan tidak lagi menyenangkan. Ada ketegangan yang menggantung di udara, seolah semua orang tahu bahwa ada monster yang sedang berjalan di antara mereka.

"Jalan lebih cepat!" bentak pengawal di belakangku sembari mendorong bahuku.

Aku melangkah melewati pasar yang ramai. Orang-orang berhenti dari aktivitas mereka hanya untuk melihatku. Bisik-bisik mulai terdengar, kata-kata seperti 'iblis' dan 'pembantai' menjadi latar belakang perjalananku menuju penjara pusat.

"Lihat matanya, masih merah seperti darah," gumam seorang pedagang tua kepada istrinya.

Aku hanya bisa menundukkan kepala. Aku tidak ingin melihat ketakutan di wajah mereka. Namun, di tengah kerumunan itu, aku melihat sosok yang sangat kukenal. Jang Mi berdiri di lantai dua sebuah penginapan, ia mengenakan jubah mewah dan menatapku dengan senyum kemenangan yang sangat lebar.

Ia tidak sendirian. Di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian resmi Aliansi Murim. Mereka tampak sedang berbincang dengan sangat akrab.

"Kau melihatnya?" tanya pengawal yang menyeret rantai leherku sembari mengikuti arah pandanganku.

"Ya, aku melihatnya," jawabku sembari mengepalkan tangan hingga kuku-kukuku menancap di telapak tangan.

"Dia adalah pahlawan yang melaporkan keberadaanmu kepada Aliansi. Berkat dia, kami bisa menghentikan amukanmu di makam itu," jelas pengawal itu dengan nada yang terdengar sangat bangga.

Aku tertawa pendek, sebuah tawa yang penuh dengan kepahitan. "Pahlawan? Kalian benar-benar buta jika menganggap dia sebagai pahlawan."

"Jaga bicaramu, Tahanan!" gertak pengawal itu sembari menarik rantai leherku lebih kencang hingga aku tersedak.

Kami akhirnya sampai di depan gedung tinggi yang terbuat dari batu hitam. Penjara Besi Guntur. Tempat di mana para kriminal kelas atas dan praktisi ilmu hitam mendekam sebelum eksekusi. Aku digiring masuk ke dalam lorong yang sangat panjang dan berakhir di sebuah sel isolasi yang paling dalam.

Borgol penekan energiku dilepaskan hanya untuk diganti dengan rantai yang tertanam langsung ke dinding sel. Aku terduduk lemas di lantai yang lembap.

"Nikmati waktu istirahatmu, Han Wol. Besok kau akan dibawa ke depan Sidang Aliansi," ucap pemimpin pengawal sembari menutup pintu besi dengan keras.

Kesunyian kembali menyergapku. Aku memejamkan mata, mencoba mencari koneksi dengan esensi He Ran yang tersisa di pergelangan tanganku. Namun, yang kutemukan justru suara pria misterius dari makam itu kembali bergema di dalam kepalaku.

"Kau membiarkan dirimu dikurung seperti anjing, Vanguard," bisik suara itu sembari tertawa kecil.

"Keluar dari kepalaku," desisku sembari memukul dinding batu dengan tangan kananku yang dirantai.

"Aku tidak ada di kepalamu, Nak. Aku ada di sampingmu," sahut suara itu dengan nada yang sangat santai.

Aku membuka mata dan terkejut melihat pria itu duduk di sudut salku, bersandar dengan kaki menyilang seolah ia sedang berada di kedai teh. Ia masih mengenakan pakaian usang yang sama, namun auranya tidak lagi menekan seperti di makam.

"Bagaimana kau bisa masuk ke sini?" tanyaku sembari berusaha mengatur napas.

"Ini rumahku jauh sebelum Aliansi membangun gedung megah ini di atasnya," jawab pria itu sembari menunjuk ke bawah lantai.

"Apa yang kau inginkan?" tanyaku dengan nada curiga.

"Aku hanya ingin memberitahumu bahwa Jang Mi sedang mempersiapkan sesuatu yang besar untuk sidang besok. Ia akan menggunakan esensi Night Crawler untuk memfitnahmu di depan seluruh pemimpin sekte," jelas pria itu sembari menatapku tajam.

"Aku sudah tahu itu. Dia selalu licik," balasku sembari kembali bersandar pada dinding yang dingin.

"Masalahnya bukan hanya itu, Han Wol. Dia tidak hanya mengambil sistemmu. Dia juga mengambil kunci untuk membuka Patahan Asura yang sesungguhnya," tambahnya dengan raut wajah yang mendadak berubah serius.

Aku tertegun. Patahan Asura adalah tempat di mana He Ran terjebak. "Maksudmu dia bisa mengeluarkan apa saja dari sana?"

"Atau memasukkan apa saja ke sana, termasuk kau," jawab pria itu sembari bangkit berdiri.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari luar sel. Pria misterius itu menghilang dalam sekejap, menyisakan debu yang melayang di udara. Pintu sel terbuka kembali, memperlihatkan sosok yang paling tidak ingin kulihat saat ini.

Jang Mi melangkah masuk dengan langkah yang anggun, tangannya memegang sebuah gulungan kertas resmi.

"Bagaimana kabarmu di dalam sini, Han Wol?" tanya Jang Mi sembari menutup pintu sel di belakangnya.

"Sangat nyaman dibandingkan harus melihat wajahmu setiap detik," sahutku sembari tetap duduk di lantai.

Jang Mi tertawa kecil. Ia berjalan mendekat dan berjongkok di hadapanku. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh daguku dengan jarinya yang kini memiliki kuku berwarna hitam pekat.

"Kau masih punya harga diri yang tinggi ya," ucap Jang Mi sembari menatap mataku dalam-dalam. "Tapi tahukah kau? Aliansi sudah memutuskan bahwa kau akan dieksekusi secara publik besok pagi."

"Aku tidak terkejut," balasku sembari menepis tangannya dengan kasar.

"Oh, kau harus terkejut. Karena aku yang akan menjadi algojomu," bisik Jang Mi tepat di telingaku. "Aku akan menggunakan cakar yang pernah kau gunakan untuk membunuh kakakku untuk merobek jantungmu sendiri."

Aku menatapnya dengan penuh kebencian. "Kau tidak akan pernah bisa mengendalikan kekuatan itu sepenuhnya, Jang Mi."

"Kita lihat saja nanti," tantang Jang Mi sembari berdiri kembali. "Ngomong-ngomong, He Ran mengirimkan salam untukmu dari tempat persembunyiannya."

Jantungku berdegup kencang. "Dia bersamamu?"

Jang Mi hanya tersenyum misterius tanpa memberikan jawaban pasti. Ia berbalik dan melangkah keluar dari sel, meninggalkan aromanya yang kini terasa sangat asing dan berbau busuk di hidungku.

Aku mencengkeram rantai di tanganku hingga berderak. Jika He Ran benar-benar ada di tangannya, maka aku tidak punya pilihan lain selain melakukan apa yang paling kutakuti sejak awal.

Aku harus menjadi monster yang sesungguhnya agar bisa menghancurkan iblis di depanku.

1
johanes ronald
ceritanya agak bingung, kl rantai hitamnya diserap, trs wkt penjaga masuk, apa gak liat rantainya sdh gak ada?
johanes ronald
hidup jang mi ulat sekali ya?
johanes ronald
bingung + excited mo smp dimna ceritanya berakhir
johanes ronald
politiknya bnyk skali
KanzaCyr_ 🐼🌻
❤️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!