Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Di Antara
Setelah hari itu, Senja mulai merasa hidupnya berada di satu ruang yang aneh.
Bukan di titik terendah.
Tapi juga belum di titik yang bisa ia sebut “baik-baik saja”.
Seperti berdiri di tengah jembatan.
Di belakangnya ada versi dirinya yang lelah, kosong, dan ingin menghilang.
Di depannya ada versi dirinya yang belum jelas bentuknya.
Dan ia… berdiri di antaranya.
Tidak jatuh.
Tidak melompat.
Hanya berdiri.
Kadang ia merasa itu membosankan.
Kadang ia merasa itu menakutkan.
Kadang ia merasa itu cukup.
Pagi itu, Senja bangun dengan kepala sedikit berat.
Bukan karena kurang tidur.
Tapi karena pikirannya terasa penuh.
Ia duduk di tepi kasur, menatap lantai.
Biasanya, ia akan langsung menyalahkan dirinya sendiri.
“Kenapa sih aku selalu begini?”
“Kenapa aku nggak bisa normal?”
“Kenapa orang lain kelihatannya gampang banget hidup?”
Hari ini, ia mencoba sesuatu yang baru.
Ia bertanya pelan ke dirinya sendiri:
“Apa yang sebenarnya aku rasakan?”
Pertanyaannya sederhana.
Tapi jawabannya tidak langsung muncul.
Ia hanya merasa… campur aduk.
Tidak sedih.
Tidak bahagia.
Tidak kosong sepenuhnya.
Hanya ada.
Dan entah kenapa, itu cukup membuatnya sedikit lebih tenang.
Di kampus, Nara duduk di sebelahnya saat kelas kosong.
“Kamu keliatan melamun,” kata Nara.
“Aku lagi mikir,” jawab Senja.
“Mikir apa?”
“Mikir… aku lagi di mana dalam hidupku.”
Nara mengangkat alis. “Berat banget buat jam sebelas siang.”
Senja tersenyum tipis.
“Aku juga ngerasa gitu.”
Mereka terdiam beberapa detik.
“Terus kamu nemu jawabannya?” tanya Nara.
Senja menggeleng.
“Nggak. Tapi aku sadar aku lagi nggak di titik nol. Aku cuma lagi… di tengah.”
Nara menatapnya. “Di tengah itu kadang lebih capek dari di bawah.”
“Kenapa?”
“Karena kalau di bawah, kamu tau kamu butuh naik.
Kalau di atas, kamu tau kamu udah sampai.
Kalau di tengah, kamu nggak tau harus ke mana, tapi juga nggak mau balik.”
Kalimat itu terasa terlalu akurat.
“Iya,” kata Senja pelan.
“Rasanya kayak hidup lagi nunggu sesuatu, tapi aku nggak tau apa.”
Nara tersenyum kecil.
“Mungkin kamu bukan nunggu sesuatu. Mungkin kamu lagi belajar hidup tanpa dikejar apa pun.”
Senja terdiam.
Ia tidak pernah memikirkan itu.
Selama ini, hidupnya selalu terasa seperti lomba.
Harus cepat.
Harus jelas.
Harus punya tujuan.
Padahal sekarang, ia tidak sedang berlomba dengan siapa pun.
Sore itu, Kay menelponnya.
“Kamu lagi di mana?”
“Di halte depan kampus.”
“Sendirian?”
“Iya.”
“Aku ke sana.”
Beberapa menit kemudian, Kay datang dengan motor.
Mereka duduk berdampingan, menunggu bus lewat.
“Kamu keliatan capek,” kata Kay.
“Aku capek mikir.”
“Mikir apa?”
“Mikir aku lagi di fase apa sekarang.”
Kay tersenyum kecil.
“Fase hidup?”
“Fase diriku sendiri.”
Kay berpikir sejenak.
“Mungkin kamu lagi di fase transisi.”
“Transisi ke mana?”
“Nggak tau. Tapi kamu jelas udah bukan versi lama. Dan kamu juga belum jadi versi baru.”
Senja menatap jalan.
Bus lewat satu, dua kali.
Tidak ada yang mereka naiki.
“Rasanya aneh,” kata Senja.
“Aku nggak sedih kayak dulu. Tapi aku juga nggak bahagia. Aku cuma… ada.”
Kay mengangguk.
“Itu ruang di antara.”
“Ruang di antara apa?”
“Antara bertahan dan hidup.”
Kalimat itu membuat Senja terdiam lama.
Selama ini, ia hidup hanya untuk bertahan.
Bangun. Masuk kelas. Pulang. Tidur. Ulang.
Sekarang, ia belum benar-benar hidup.
Tapi ia juga sudah tidak sekadar bertahan.
Ia berada di ruang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Malamnya, Senja duduk di kamarnya dengan jendela terbuka.
Angin malam masuk pelan.
Ia membuka catatan ponselnya.
“Aku lagi di ruang di antara.
Aku tidak sepenuhnya hancur.
Aku juga belum benar-benar utuh.
Aku hanya… berhenti jatuh, tapi belum berani terbang.”
Ia membaca ulang tulisannya.
Kalimat itu terasa jujur.
Tidak indah.
Tidak dramatis.
Tapi nyata.
Selama ini, ia selalu ingin cepat sampai.
Ingin cepat sembuh.
Ingin cepat bahagia.
Ingin cepat punya jawaban.
Padahal mungkin hidup tidak bekerja seperti itu.
Mungkin ada fase yang memang tidak punya judul.
Tidak punya kesimpulan.
Tidak punya puncak emosi.
Hanya fase di mana kita belajar duduk di dalam diri sendiri
tanpa ingin kabur,
tanpa ingin menyalahkan,
tanpa ingin memaksa berubah.
Sebelum tidur, Senja mematikan lampu.
Berbaring di kasur, menatap gelap.
Ia masih belum tahu mau ke mana.
Masih sering bingung.
Masih sering merasa asing di tubuhnya sendiri.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya,
ia tidak menganggap kebingungan itu sebagai musuh.
Ia tidak lagi merasa harus segera keluar dari ruang ini.
Ia mulai menerima satu hal sederhana:
Mungkin hidup bukan tentang selalu bergerak maju.
Kadang hidup hanya tentang berhenti lari.
Dan berani tinggal di ruang di antara
cukup lama
sampai kita benar-benar siap melangkah lagi.