Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya
Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".
Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.
"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-
"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-
"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Sejak pertama kali melihat pintu tua itu di lorong paling pojok, Sandrina tidak pernah benar-benar bisa mengabaikannya. Katanya pintu kayu besar di ujung lorong sayap kiri itu selalu terkunci. Tidak pernah dibuka. Tidak pernah disentuh, kecuali sesekali Rosa mengelap gagangnya sambil bergumam bahwa itu hanya gudang lama yang tak terpakai.
Rosa pernah mengatakan itu gudang tua dan sudah tidak terpakai. Sandrina tidak percaya.
Sudah seminggu Sandrina mengamati pintu itu. Selama dua malam belakangan ini ia menyiapkan kawat tipis yang ia ambil diam-diam dari keranjang alat kebersihan Gianni. Kawat itu ia luruskan, lalu ia tekuk ujungnya dengan sabar di bawah selimut kamar, membentuknya seperti pengait kecil.
“Kalau ini berhasil, aku genius,” gumam Sandrina pelan pada diri sendiri. “Kalau tidak ... ya sudah, pura-pura tidak tahu apa-apa.”
Lorong sore itu sepi. Rosa dan Gianni sedang di dapur kecil bagian belakang. Penjaga jarang masuk ke sayap kiri kecuali patroli malam.
Sandrina berjalan santai, seolah hanya ingin menikmati udara. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat dari langkahnya. Ia berhenti di depan pintu.
“Bismillah, semoga berhasil” bisik gadis itu.
Kawat kecil itu ia masukkan ke lubang kunci. Tangannya gemetar, tapi matanya fokus. Sandrina pernah melihat teknik ini di video yang diam-diam ia tonton dulu. Teorinya terlihat mudah. Praktiknya? Ternyata tidak semudah kelihatannya.
“Kenapa tidak mau—ah!”
Klik.
Suara kecil itu seperti musik kemenangan. Sandrina membeku beberapa detik, tidak percaya. Lalu ia tersenyum lebar. “Aku memang berbakat.”
Sandrina mendorong pintu perlahan. Engsel tua berderit pelan. Ruangan di dalam gelap dan lembap. Aroma kayu tua dan debu menyergap hidungnya. Cahaya dari lorong hanya cukup menerangi sebagian kecil ruangan.
Seperti dugaan Sandrina. Tempat itu bukan gudang, melainkan itu kamar tidur bergaya kuno.
Tempat tidur besar dengan tiang-tiang kayu ukiran rumit berdiri di tengah ruangan. Tirai tebal berwarna gelap menggantung berat. Sebuah meja rias dengan cermin oval berdebu berada di sudut. Di dinding, tergantung lukisan perempuan dengan gaun abad lampau, tatapannya terasa mengikuti siapa pun yang masuk.
“Tuh, benarkan! Ini bukan gudang,” bisik Sandrina.
Gadis itu melangkah masuk lebih jauh, lupa menutup pintu rapat karena terlalu sibuk memandangi detail ukiran dan perabot antik.
“Jangan bilang ini kamar mantan kekasih rahasia Alecio,” gumam Sandrina, setengah ngeri, setengah penasaran.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari lorong. Sandrina membeku. Suara itu pelan, diseret, khas langkah Rosa.
“Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?!” batin Sandrina panik.
Mata Sandrina mengedar ke segala penjuru ruangan itu. Ia berlari kecil ke sudut ruangan dan bersembunyi di balik tirai tebal dekat jendela yang tertutup rapat. Debu langsung membuat hidungnya gatal.
Pintu terbuka sedikit lebih lebar. “Eh?” suara Rosa terdengar bingung. “Perché aperta?”
Rosa berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat. Tangannya gemetar memegang gagang.
“Non possibile, selalu terkunci.”
Sandrina menahan napas. Debu masuk ke hidungnya.
“Jangan bersin. Jangan bersin. Jangan—” Sandrina panik setengah mati menahan bersin.
“Hh… hh—”
Sandrina menutup hidung kuat-kuat.
Rosa melangkah masuk dua langkah, melihat sekeliling. Tidak ada siapa pun yang terlihat.
“Apa handle pintu rusak?” gumam Rosa pada dirinya sendiri, mencoba meyakinkan hati.
Setelah beberapa detik hening yang terasa seperti satu jam, Rosa mundur keluar, menarik pintu, dan terdengar bunyi klik. Suara kunci diputar dari luar.
Langkah kaki Rosa menjauh.
Sekarang suasana di sana hening. Sandrina keluar dari balik tirai perlahan. Beberapa detik ia hanya berdiri memandangi pintu. Lalu, ia berjalan cepat dan memutar gagangnya. Pintu terkunci.
“Tidak ...! tidak, tidak, tidak ...!”
Sandrina mencoba mendorongnya. Tidak bergerak. “Keren, Sandrina. Sangat pintar. Masuk sendiri, terkunci sendiri.”
Sandrina kembali ke lubang kunci, mencoba memasukkan kawat dari dalam. Namun, kali ini tidak bisa. Entah mekanismenya berbeda.
“Bagus. Sempurna. Kalau aku mati di sini, tolong tulis di batu nisan: ‘Tewas karena kepo.’”
Sandrina memukul pintu sekuat tenaga dan berteriak. “Rosa! Rosa!”
Tidak ada jawaban. Lorong kembali sunyi.
Dinding kamar terasa semakin menekan. Udara lembap membuat napasnya berat.
“Tenang … tenang ....” Sandrina mengusap wajahnya sendiri. “Aku cuma terkunci. Bukan dikubur hidup-hidup.”
Sandrina berjalan memutari ruangan, mencari jendela. Semua tertutup rapat dan tampak disegel dari luar.
“Ini kamar atau penjara zaman Victoria, sih!”
Setelah beberapa menit mencoba berbagai cara yang gagal total, Sandrina mulai kelelahan. Adrenalin yang tadi membantunya kini habis. Ia duduk bersandar pada lemari besar di sisi ruangan.
“Baiklah. Aku akan istirahat lima menit. Lalu berpikir lagi.”
Sandrina menyandarkan punggungnya lebih dalam. Krieeeeeek.
Sandrina mengerutkan kening. “Apa itu tadi?”
Gadis itu bergeser sedikit. Lalu, meraba-raba lemari yang menempel ke dinding.
Krek… krrr ....
Tiba-tiba lemari di belakangnya bergerak..“Eh?”
Sebelum Sandiri sempat berdiri, seluruh lemari itu berputar perlahan, membawa tubuhnya ikut berputar bersama panel kayu besar yang ternyata bukan lemari sungguhan.
“AAAAAAAA—!”
Putaran berhenti dengan bunyi berat. Sandrina terjatuh ke lantai keras di sisi lain.
Di sana sangat gelap sekali. Lebih gelap dari kamar tadi. Bahkan udaranya dingin, lembab, dan menyesakkan dada.
Sandrina terbatuk kecil, mencoba meraba sekeliling. Tangannya menyentuh dinding batu dingin.
“Apa ini sebuah ruang rahasi!” gumam Sandrina.
Jantung Sandrina kembali berpacu. “Baik,” bisiknya dengan suara gemetar setengah histeris. “Aku tidak tahu apakah ini kabar baik atau aku baru saja masuk ke film horor Italia.”
Sandrina berdiri perlahan, meraba-raba dinding mencari sumber cahaya. Di kejauhan, samar-samar terlihat cahaya tipis dari lorong sempit di depan.
Sandrina menelan ludah. “Kalau ini terowongan keluar, berarti aku jenius,” gumamnya. “Kalau ini ruang penyiksaan keluarga mafia, berarti aku benar-benar sial.”
Dengan napas tertahan, Sandrina melangkah maju ke dalam kegelapan. Dan tanpa disadari ia baru saja menemukan sesuatu yang mungkin bahkan Alecio sendiri tidak tahu masih ada di kastil itu.
Permainan kabur-kaburan yang Sandrina rencanakan kini berubah menjadi petualangan yang jauh lebih berbahaya dan jauh lebih besar dari sekadar terkunci di ruang rahasia.
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu