NovelToon NovelToon
ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO

ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Pelakor jahat / CEO / Romantis / Ibu Pengganti / Duda / Tamat
Popularitas:3.3M
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Selama tiga tahun menikah, Elena mencintai suaminya sepenuh hati, bahkan ketika dunia menuduhnya mandul.

Namun cinta tak cukup bagi seorang pria yang haus akan "keturunan".
Tanpa sepengetahuannya, suaminya diam-diam tidur dengan wanita lain dan berkata akan menikahinya tanpa mau menceraikan Elena.

Tapi takdir membawanya bertemu dengan Hans Morelli, seorang duda, CEO dengan satu anak laki-laki. Pertemuan yang seharusnya singkat, berubah menjadi titik balik hidup Elena. ketika bocah kecil itu memanggil Elena dengan sebutan;

"Mama."

Mampukah Elena lari dari suaminya dan menemukan takdir baru sebagai seorang ibu yang tidak bisa ia dapatkan saat bersama suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. PAGI SETELAH MALAM ITU

Sinar matahari pagi menembus tirai tipis kamar VVIP hotel itu, menggambar garis keemasan di lantai marmer yang mengilap. Udara masih mengandung sisa aroma mawar dan champagne dari pesta semalam, bercampur samar dengan wangi lembut yang berasal dari tubuh Elena. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu dimulai, ruangan itu terasa seperti tempat yang benar-benar milik mereka, bukan milik Morelli, bukan milik Alvarez, bukan milik siapa pun yang mencoba mengatur hidup mereka. Hanya Hans dan Elena.

Dan Hans ... seperti yang bisa diduga, sudah bangun duluan.

Hans menyandarkan punggungnya pada headboard tempat tidur, rambut hitamnya berantakan namun entah bagaimana tetap terlihat elegan. Kemeja hitamnya tidak dikancingkan hingga dada, memerlihatkan kulitnya yang hangat dan beberapa goresan kecil yang ia dapatkan semalam.

Dan di sampingnya, Elena masih meringkuk di bawah selimut putih tebal dengan pipi memerah seperti buah persik.

Hans memandang wajah itu lama, terlalu lama. Sampai akhirnya Elena menggeliat pelan, mengerutkan hidungnya, lalu menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya.

"Aku tahu kau menatapku," ucap Elena dengan suara serak bangun tidur.

Hans tersenyum miring. "Kau sudah bangun. Kupikir kau masih pingsan setelah semalam."

"Kau-!"Elena langsung menarik selimut untuk memukulnya, tapi Hans sudah memegang ujungnya duluan.

"Apa?" Hans menaikkan sebelah alis. "Fakta tidak bisa dibantah, Love."

"Diam." Ia memalingkan wajah. Pipinya kini benar-benar merah. "Kalau kau menggoda seperti itu lagi, aku akan-"

"Kau akan apa?" Hans mencondongkan tubuh, suaranya menurun menjadi rendah dan berbahaya. "Mau kabur dari ranjangku?"

Elena makin menenggelamkan wajah ke bantal. "I hate you."

Hans terkekeh pelan. "Love you too."

Hans menatap Elena yang gelisah, lalu tanpa peringatan, Hans mengusap rambut Elena yang berantakan. Sentuhan itu lembut, berbeda dari sikapnya yang biasanya galak dan penuh dominasi.

"Kau tidur nyenyak? bagaimana tubuhmu? Baik-baik saja?" tanya Hans penuh kekhawatiran.

Elena ingin menjawab sinis, tapi tubuhnya masih terlalu rileks, dan pipinya masih terasa hangat ketika mengingat malu-malu semua hal yang terjadi semalam.

"Sedikit sakit, tapi tidurku lumayan nyenyak," jawabnya akhirnya. "... kecuali kau yang tadi malam-"

"Elena." Hans memotong cepat. "Kalau kau mengulang lagi pembicaraan itu, aku tidak keberatan melakukan 'itu' lagi."

Elena langsung menegakkan tubuhnya. "Kau! Bisa tidak berhenti menggodaku?!"

"Tidak bisa." Hans menjawab santai sambil meraih gelas air di nakas. "Terlalu menyenangkan melihat kau cepat marah pagi-pagi."

Elena ingin melempar bantal, tapi selimut masih terlilit di kakinya. Ia merutuk dalam hati, sementara Hans meneguk air dengan tenang seolah tidak bersalah sama sekali.

"Sudah puas membuatku malu?" tanya Elena ketus.

"Belum." Hans menaruh gelas itu, lalu menyeringai. "Baru pemanasan."

Elena memukul lengannya. "Hans!"

"Auu," desis datar. "Tidak sakit, tapi kau boleh lanjut kalau mau."

Gadis itu benar-benar ingin pergi dari ranjang itu tapi tubuhnya enggan bangkit. Terlalu nyaman. Terlalu hangat. Dan meskipun Hans hanya bermulut pedas, ia juga satu-satunya orang yang membuat Elena merasa aman dalam ruangan itu.

Hans akhirnya turun dari tempat tidur, berjalan menuju jendela. Ia menarik sedikit tirai, membiarkan cahaya masuk, lalu mengintip ke luar.

"Aku tidak pernah membayangkan," ujar Hans terlihat serius.

"Membayangkan apa?" tanya Elena penasaran.

"Melihat kau tidak berdaya di ranjangku setelah malam panas kita," canda Hans yang langsung merubah wajah seriusnya.

Elena menutup wajah dengan bantal sambil merintih. "Bisakah kamu berhenti?!"

"Tidak bisa." Hans mendekat lagi, duduk di tepi tempat tidur, lalu menarik bantal dari wajah Elena. "Aku ingin melihat wajahmu, bukan bantal."

Elena terpaksa menatapnya. Mata biru Hans menelusuri seluruh wajahnya, membuat gadis itu semakin gemetar.

"Apa lagi?" desis Elena. "Ada komentar menjengkelkan lainnya?"

Hans tersenyum tipis, sentuhannya lembut ketika menyibakkan rambut Elena. "Tidak. Aku hanya ... suka melihatmu seperti ini."

"S-seperti apa?" tanya Elena.

"Seperti istri," Hans berbisik.

Elena membeku.

Hans sendiri terdiam setelah mengucapkan itu. Ada sesuatu di dalam suaranya yang tidak lagi berupa candaan. Tapi ia terlalu cepat menyadari kejujurannya sendiri, sehingga ia segera mengalihkan pandangan.

"Jadi," kata Hans akhirnya, kembali ke mode menggoda, "bagaimana rasanya menjadi Nyonya Morelli pagi ini?"

"Berisik." Elena bangkit sambil memeluk bantal. "Aku mau mandi."

"Bagus." Hans menyandarkan tubuhnya pada kedua lengan di kasur. "Kalau kau butuh bantuan-"

Elena melempar bantal sekuatnya. "TIDAK!"

Hans tertawa keras untuk pertama kalinya pagi itu.

Kamar mandi hotel itu luas, dengan bathtub marmer dan shower kaca transparan. Elena berdiri di depan cermin, meraih sikat gigi dengan pipi masih merona. Tubuhnya memar-memar kecil. Pikirannya kembali memutar kejadian semalam.

"Astaga, Elena ... apa yang kau lakukan semalam," gumamnya malu sendiri.

Wanita itu menunduk, menggigit bibir. Bayangan Hans yang mendekat, senyumnya, sentuhannya, semua kembali membuat jantungnya berdebar tak karuan.

Ia menghela napas panjang.

"Kenapa Hans jadi seperti ini, sih? Buat gugup saja," bisiknya, meskipun suaranya sendiri terdengar gugup pula.

Ketukan pintu tiba-tiba terdengar. "Elena?"

Suara Hans.

Elena hampir menjatuhkan sikat gigi. "A-apa?"

"Kau sudah selesai? Aku mau masuk," kata Hans.

"Tidak!" Elena merapatkan handuk. "Aku masih-"

Pintu terbuka sedikit. Hans menyembulkan kepala. "Aku cuma mau ambil handuk, tenang saja."

Mata Elena membesar. "Keluar!"

Hans justru mengamati Elena dari kepala sampai kaki, lalu tersenyum tipis. "Warna wajahmu sama seperti semalam."

"Keluar!" seru Elena.

Hans mengambil handuk sambil berkata santai, "Jangan lama-lama. Aku lapar."

"Pergi!" seru Elena dengan wajah merah padan, terutama ketika mendengar suara tawa dari Hans di luar sana.

Pintu menutup. Elena menutupi wajah dengan tangan.

"Kenapa suamiku begitu menjengkelkan," gumamnya ... lalu ia berhenti. "... suamiku?"

Elen menatap pantulan dirinya lagi.

Suami.

Istri.

Hans.

Elena merasa lututnya kembali lemas.

Agh, aku tidak pernah merasa salah tingkah seperti saat saat bersama Raven dulu. Kenapa rasanya benar-benar seperti baru pertama menikah saja? batin Elena malu.

Ketika Elena keluar dari ruang cuci muka, Hans sudah berbaring di tempat tidur, rambutnya basah dan hanya mengenakan handuk di pinggang.

Elena langsung berhenti di ambang pintu.

"Apa yang kau lakukan?" Elena memandangnya dengan tatapan campur antara marah, bingung, dan terpesona.

"Menunggu kau turun dari awan-awan pikiranmu," jawab Hans santai. "Dan juga menunggu sarapan."

Elena melengos, mengambil hairdryer. "Kalau lapar ya pesan room service, Hans."

Hans menatap punggung Elena lama. "Kenapa kau memakai kemejaku semalam sebagai baju tidur? Ada banyak pilihan lain."

Elena berkedip. "Ini yang paling dekat."

"Kau terlihat cantik ... tapi aku lebih suka kau tanpa-"

"Diam, Hans!"

Hans tersenyum puas. Reaksi Elena selalu menjadi hiburan baginya.

Hans bangkit dari tempat tidur, berjalan mendekat, lalu berhenti tepat di belakang Elena yang sedang mengeringkan rambutnya.

Tanpa peringatan, Hans meraih ujung rambut Elena, membiarkannya jatuh perlahan melalui jemarinya.

Elena membeku lagi. "H-Hans?"

"Jangan bergerak." Suaranya rendah, lembut, dan entah bagaimana membuat bulu kuduk Elena berdiri. "Aku sedang menikmati pemandangan."

Elena memalingkan wajah sedikit. "Kau ini ... pagi-pagi jangan seperti itu."

"Aku tidak melakukan apa-apa." Hans mendekat lebih dekat. "Hanya berdiri di sini."

"Tapi kau terlalu dekat," bisik Elena.

"Kalau kau tidak suka, aku bisa lebih dekat lagi," ujar Hans.

Elena menahan napas. "Kau menyebalkan."

Hans tersenyum. "Kau sudah bilang itu tiga kali pagi ini."

Karena jika aku bilang 'aku suka', itu terlalu berbahaya, gumam Elena dalam hati.

Hans akhirnya memesan sarapan: pancake, omelet, kopi, dan buah-buahan. Ketika pelayan datang, Elena buru-buru bersembunyi di balik pintu kamar mandi karena Hans masih bertelanjang dada, dan ia malu jika ada orang lain melihat mereka dalam keadaan begini.

"Hans! Baju!" bisiknya dari balik pintu.

"Ini kamarku, Sayang. Lagi pula mereka juga tahu kalau kita pengantin baru," kata Hans seraya mengedipkan wajahnya.

Elena mau pingsan mendengar kata 'Sayang' itu. "HANSS!"

Pelayan menghilang. Hans menutup pintu lalu berkata, "Kamu bisa keluar, My Queen."

Elena cemberut. "Aku tidak mau keluar kalau kamu masih seperti itu."

Hans mengangkat alis. "Seperti apa?"

"Telanjang dada!" jawab Elena.

Hans tersenyum. "Maaf, Elena. Aku tidak memakai baju saat tidur. Kau bisa tanya dirimu sendiri, kau lihat sendiri semalam."

Elena langsung melempar bantal kedua ke wajahnya. "BERHENTI BICARA! DAN INI MASIH PAGI BUKAN MALAM!"

Hans tertawa ... lagi.

Sepertinya Hans benar-benar akan candu tentang istrinya ini.

1
ollyooliver🍌🥒🍆
kan bukan elenanya..dia menyesal hanya karena fakta ..dia tdk.merasa sakit dan buakn cemburu karena elena gk spesial buat raven😌
ollyooliver🍌🥒🍆
bukan karena elenanya tapi fakta ttng mandul
ollyooliver🍌🥒🍆
lah..kok kebahagian elena mengunrangi rasa bersalahnya? enak banget..emnya yg bagaimana ada keterikatan anatara bahagia elena dan rasa bersalah?
ollyooliver🍌🥒🍆
coba deh kalau gk tau fakta itu apakah raven akan meminta maaf? gk kan..bahkan setelah dia menghina..gk ada rasa bersalah atau menyesal karena ya..sampai sekarang dia minta maaf bukan karena elenanya tapi karena sebuah fakta
ollyooliver🍌🥒🍆
nahkan..bapaknya aja dibuat liat seperti anaknya gk menyesal karena kehilangan elena akan perbuatannya..gw dah bilang pemain wanita utama.kalah saing sama jessy🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
tapi semua yg dikatakan raven bukanlah penyesalan setelah kehilangan elena..tapi karena fakta ttng dirinyaa. so dia gk bener" menyesal karena elena. justru sebaliknya jika bayi itu anak kandungnya..aadkah penyesalannya dan rasa bersalahnya pd elena? jawabannya..gk ada. so elena itu gk berrti apa" bahkan pesonanya kalah dengan jessy🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
enk dong revannya..masih bisa nyari wanita lain jadi istrinya..harusnya jangan hanya dibuat mandul, lumpuh juga..biar dia tau bahwa dia gk layak hidup berdampingn dengan wanita. seperti dia yg ingin melempar jessy, jessy itu lebih banyak ruginya sedangkan raven? mandul doang
ollyooliver🍌🥒🍆
lah...jadi kalau anak itu anak kandungnya. jessy ndk akan diputuskan? jadi kesimpulannya..penghianat ttp bersaama memjadi keluarga cemara begitu? trus sia" dong kebahagian alena. sdh disakitin eh penghianat malah bahagia🙂
ollyooliver🍌🥒🍆
dia kasihan pd jessy atau karena raven gk bisa memproduksi anak laagi pd jessy?
Memey Nyoman
gblk sih kata akuuu
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
nah kan, mana nih si diana diani itu pengen di sodorin hasil usg nya di depan mata nya langsung 😜
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kan di bilang juga ape, mulutnya di jaga, kemarin ngehina elena perkara rahim, sekarang sm Yang Kuasa di bikin dia yg ga ada rahim 😔
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini kalo sampe elena nanti bisa hamil awas aja ya, ku ketawain sambil ngopi caramel machiato sm makan bakwan kawi di pojokan 😜
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
bisa2 nya anak seumur jagung ngomong tentang ga bisa punya anak 🥲 pr matematika lu noh di garap, malah ngurusin ibu nya temen kayak ibu2 komplek julid aja 😌
Archiemorarty: Tapi banyak tahu kak anak kayak gitu zaman sekarang 🙄
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kalo mah status jelas harusnya jangan mau sama suami orang, dimana2 stigma selingkuhan itu ga baik dia malah test drive 🙏🏻🙂
Archiemorarty: Hahaha... selingkuhan kan kalau baper gitu, lupa dia siapa🤣
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
miris bgt masih ada yg percaya sm kata laki-laki "kalo hamil aku bakal tanggung jawab" padahal ga ada jaminan apa2, orang pinjem duit aja pake jaminan tanda pengenal, ini dia ngasih harga diri nya ga pake jaminan apa2 ke cowo yg bahkan dia tau udah beristri 🙂 secara umur dia bukan anak di bawah umur yg harusnya paham perempuan adalah pihak yg paling rugi slnya kalo udah ga di nikahin tp mau di gituin 🙂
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lagi hamil ih mulutnya jangan jahat2 mbak wkwk di dunia ini aku percaya kuasa Tuhan di atas segalanya, Tuhan bisa bikin elena hamil & Tuhan juga bisa bikin kamu tiba2 rahim nya rusak karena rahim itu area kekuasaan-Nya jd mulutnya di jaga 🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
gua kalo jd orang butiknya malah pengen ngakak, dia kalo ngomong berdasarkan apa sih, bisa dia ngatain "baru selesai ttd cerai udah nempel sama laki lain" lah kalo udah cerai ya gapapa ga ngerebut laki orang juga emang situ status laki orang masih sah dia mau dijadiin selingkuhan, trus ngatain "numpang hidup", numpang dr mana nya keluarga raven sm alvarez aja setara, sama2 pengusaha, yg di pertanyakan malah elu, kontribusi lu ape di hidup raven sm keluarga nya? 😏
Ellis Singerita
seruuuu
cerita nya 👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!