Terlahir sebagai putri yang disayangi raja, hidupnya runtuh ketika istana berubah menjadi sarang pengkhianatan. Namanya dihapus, kebenaran dibungkam, dan ia dipaksa memikul dosa yang bukan miliknya.
Dibuang dari tanah kelahiran dan dilempar ke dunia yang kejam, ia belajar satu hal: bertahan saja tidak cukup. Dunia yang menghancurkannya harus dibalas dengan kekuatan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riichann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Bulan di Danau
Keesokan paginya Maerin terbangun karena mendengar suara sedikit berisik. Dia menoleh kearah sumber suara, ternyata Theo sedang berkemas. Maerinpun bertanya, "Anu.. kapan akan berangkat?"
Theo menoleh ke arah Maerin dan menjawab, "Segera setelah bersiap. Dan pakailah baju yang sudah kuletakkan di atas kasur dekat kakimu itu. Itu memang bajuku sih, tapi itu masih layak pakai kok. Dan itu ukuran terkecil yang kumiliki. Nanti diperjalanan, kita akan membeli baju yang lebih nyaman untuk kau pakai. Sementara bertahanlah dulu dengan pakaian itu." Theo melanjutkan berkemas, sementara Maerin tanpa basa basi langsung memakai pakaian itu. Theo yang mengetahuinya langsung memalingkan wajahnya dan berkata dalam hati, 'Apa Maerin benar-benar gak tau konsep rasa malu? Padahal dia sedang di dalam satu ruangan dengan seorang pria dewasa, bisa-bisanya dia gak merasa takut melakukan itu.'
"Ehemmm... Maerin, kurasa aku harus menanyakan sesuatu yang lumayan penting padamu."
"Silakan tanya apapun."
"Jadi gini...Jadi aku ingin bertanya, apakah kamu gak merasa takut maksudku memakai pakaian seperti yang kau lakukan beberapa saat lalu. Harusnya kan itu hal privasi, padahal kau bisa memintaku untuk menunggu sebentar saat kau sedang berpakaian."
"Aku tak memiliki rasa takut atau malu lagi sejak...(Maerin terjeda sesaat).. yah sejak aku kehilangan semua keluargaku waktu kecil."
"Oh, kau tak perlu melanjutkannya, kurang lebih aku bisa memahaminya." Dalam hati Theo berkata, 'jelas itu sesuatu yang menghantam dan menghancurkan dengan keras hingga membuat seseorang mati rasa seperti ini.'
"Tapi lain kali kau harus belajar tentang privasi. Kau pantas punya privasi. Semua makhluk hidup berharga, termasuk kau juga, Maerin. Jadi mulailah belajar menghargai dirimu sendiri." Ucap Theo. Ironis, dia bisa mengucapkan kalimat itu untuk orang lain. Tapi dia gak melakukan hal yang telah diucapkannya itu.
"Aku sudah siap, aku akan membantu membawa barang-barangmu." Kata Maerin yang sudah terlihat siap untuk pergi.
"Kau tak perlu melakukan hal kasar seperti ini. Ayo bergegas turun. Tadi pagi aku tak sengaja membantu seorang pedagang yang hendak pergi ke kota sebelah dan aku bertanya apakah bisa menumpang di kereta barangnya. Pedagang itu membolehkannya. Jadi mari kita pergi sekarang supaya tak membuatnya menunggu lama." Theo sudah siap pergi. Begitupun Maerin yang berjalan di belakang Theo.
Saat kereta pedagang itu datang, Theo bergegas naik ke dalam kereta bersama Maerin. Sebenarnya cerita tentang pedagang yang memberi tumpangan mereka itu dibayar Theo. Theo kan emang punya punya cukup banyak uang, namun dia ingin merahasiakan. Jadi selain menyembunyikan identitas diri, dia juga enggan dikenal banyak orang. Makanya dia bersandiwara seperti itu di depan Maerin. Lalu Theo juga menempatkan dokter untuk bisa mengecek kondisi Maerin secara natural seolah tak sengaja bertemu. Maerin menurut untuk diperiksa. Melihat ekspresi dokter, sudah jelas itu sesuatu yang buruk.
"Ehmmm... kondisi anda terbilang cukup buruk, nona. Memar dan luka dalam, serta kurang gizi. Kurasa selama perjalanan beberapa hari ini, kondisimu bisa kupantau." Kata Dokter.
"Terima kasih, namun saya tak punya uang untuk membayar biasa pemeriksaan." Jawab Maerin dengan jujur.
"Tak perlu membayar. Toh kita dalam kereta yang sama selama beberapa hari, untuk sementara kita rekan seperjalanan. Jadi anggap saja sesama rekan saling menolong." Jawab Dokter.
"Terima kasih banyak, Dokter. Akan saya ingat kebaikan dokter seumur hidup saya. Jika berkesempatan bertemu kembali di masa depan, akan saya balas semua kebaikan dokter." Ucap Maerin sambil mata berkaca-kaca saking terharunya menerima kebaikan dari orang lain. Dokterpun memberikan beberapa obat untuk Maerin dan menjelaskan kapan waktunya mengkonsumsi dan berapa kali dalam sehari, penjelasan khas seperti dokter pada umumnya. Dokter mengeluarkan bungkusan, ternyata beberapa potong roti. Lalu memberikan satu untuk Maerin, sebagai isyarat supaya Maerin bisa mulai meminum obat yang telah diresepkan padanya.
Sementara Theo hanya mengamati dalam diam. Dia menyadari bahwa betapa keras sekali hidup yang dilalui Maerin. Hanya mendapatkan perlakuan secara minim seperti itu saja sudah membuatnya terharu. Bahkan sampai berkaca-kaca, Theo pun baru benar-benar sadar bahwa warna mata Maerin sungguh indah. Mungkin seumur hidup Theo baru sekali ini melihat mata berwarna abu-abu yang begitu cantik, rambut hitam tak rapi serta kulit yang dekil yang jelas sekali tak pernah dibersihkan. 'Entah sudah berapa lama Maerin tak mandi, memang tercium bau yang kurang sedap darinya. Kurasa diperistirahatan nanti semoga dekat sumber air, supaya aku bisa menyuruh Maerin untuk membersihkan diri.' Ucap Theo dalam hati.
Perjalanan hari itu lancar tanpa gangguan, saat hari mulai gelap. Mereka memutuskan untuk berhenti dan beristirahat untuk memulihkan tenaga demi melanjutkan perjalanan besok. Theo berkeliling di saat orang-orang sedang sibuk, ada yang memasak, menyiapkan tempat beristirahat, dan tugas-tugas lain yang dibagi sama rata. Theo mendekati kuda-kuda yang sedang beristirahat, dia mengajak bicara kuda-kuda, "Terima kasih untuk kalian yang telah membawa kami sampai sini. Istirahat dan pulihkan tenaga kalian ya, Kawan. Dan makanlah yang banyak. Ini semua hak kalian." Sambil mengelus-elus kuda-kuda itu.
Sedangkan Maerin yang berusaha membantu rombongan, tak dikasih kerjaan sama sekali. Yang ada semua orang memintanya untuk beristirahat saja, dia merasa gak enak jika istirahat sendirian sementara orang lain sedang sibuk. Akhirnya Maerin memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar namun gak begitu jauh. Tanpa disengaja dia mendengar obrolan sepihak Theo dengan kuda-kuda yang sedang beristirahat. Entah kenapa hal itu membuat Maerin tertarik dan dia tanpa sadar berjalan mendekati Theo dengan hati-hati. Lalu dengan pelan memuji Theo,"Anda benar-benar orang yang sangat perhatian."
Theo sedikit terkejut karena dia gak mendengar suara langkah kaki sebelumnya, namun dia tetap bersikap tenang dan menoleh ke arah Maerin,"Apa kau sedang memata-mataiku?"
"Oh, te-tentu tidak. Saya tak punya niat semacam itu sama sekali." Maerin gugup, suaranya sedikit bergetar.
"Aku hanya bercanda, maaf malah membuatmu gak nyaman." Theo agak panik. Kemudian dia mengajak Maerin berkeliling, tak di sangka mereka cukup jauh berjalan dan menemukan danau yang tak terlalu besar. Theo mengajak duduk Maerin untuk melihat cahaya bulan yang indah yang terpantul diperlukan danau, danaupun seolah berkilau. Maerin pun bergumam, "Betapa cantiknya, ingin rasanya berendam sambil memandangi bulan."
Theo mendengar gumaman Maerin dan dia merespon, "Kau bisa melakukannya. Aku akan duduk membelakangimu sembari kau melakukan itu. Inginku sih gak mengganggu privasimu, tapi untuk berjaga-jaga saja makanya aku akan tetap di sini. Jangan khawatir, aku tak akan mengintipmu kok."
"Benarkah? Saya boleh berendam?" Tanya Maerin dengan antusias, mata berbinar senang.
"Ya lakukan. Tapi jangan terlalu lama, karena ini di alam bebas." Ucap Theo sambil membalikkan badan memunggungi danau.
"Saya akan melakukannya dengan cepat." Maerin berlari ke arah danau sambil melepaskan pakaiannya.
"Ya gak harus cepat-cepat. Kau bisa menikmatinya, namun jangan terlalu lama." Imbuh Theo
Namun seperti Maerin sudah tak mendengar ucapan Theo, Theo yang terduduk memunggungi danau hanya mendengar suara gemercik air yang dimainkan oleh Maerin. Dia gak tau mau ngapain selama nungguin Maerin. Akhirnya hanya benar-benar duduk tanpa melakukan hal lain.
Waktupun berlalu, Maerin sudah memakai kembali pakaiannya. Dia berjalan ke arah Theo duduk dan menyapanya, "Saya sudah selesai."
Theo menoleh, dia terkejut dan bengong.
Bersambung...