Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - SETELAH KEMENANGAN
SEMINGGU SETELAH KEJUARAAN - DOJO AKSELIA JAKARTA
Trofi kejuaraan nasional dipajang di etalase kaca depan dojo, simbol kebangkitan yang menginspirasi setiap murid yang masuk. Akselia menatapnya sebentar setiap pagi sebelum memulai kelas, tidak dengan kesombongan, tapi dengan rasa syukur.
"Kak Akselia, ada paket dari Bandung!" Rina masuk dengan kotak besar.
Akselia membuka kotak itu, di dalamnya kue ulang tahun besar berbentuk ring tinju dengan tulisan: "Selamat Juara! Dari Keluarga Besar Kinanti Dojo Bandung"
Di sampingnya, kartu ucapan ditandatangani semua instruktur dan murid Bandung. Yang paling menonjol, tulisan tangan Rangga di bagian bawah: "Kami bangga punya pemimpin seperti Anda. Terus menginspirasi kami semua. - Rangga"
Akselia tersenyum membaca kartu itu. Rangga memang instruktur yang sangat baik, profesional, dedikasi tinggi, dan yang penting tulus peduli pada murid-murid.
Ponselnya berdering. Video call dari Rangga.
"Halo, Pak Rangga," sapa Akselia sambil menerima panggilan.
Wajah Rangga muncul di layar, tersenyum lebar. "Nona Akselia! Sudah terima paketnya?"
"Baru saja. Terima kasih banyak. Ini terlalu berlebihan..."
"Tidak berlebihan sama sekali! Kemenangan Anda itu prestasi luar biasa!" Di belakang Rangga, terlihat murid-murid Bandung berkumpul, ikut melambaikan tangan dan berteriak selamat.
Akselia tertawa, terharu. "Terima kasih semuanya! Kalian yang bikin saya semangat!"
"Oh ya, Nona Akselia," kata Rangga setelah murid-murid bubar. "Saya mau lapor, pendaftaran murid bulan ini naik tiga puluh persen. Banyak yang terinspirasi setelah lihat kemenangan Anda di televisi."
"Wah, itu kabar bagus! Tapi kita harus pastikan kualitas pengajaran tetap terjaga meski jumlah murid bertambah."
"Sudah saya antisipasi. Saya tambah dua instruktur junior dan bagi kelas jadi lebih banyak sesi."
Akselia mengangguk puas. "Bagus. Kamu memang bisa diandalkan, Rangga."
Rangga tersenyum... senyum yang sedikit berbeda dari biasanya. Ada sesuatu di matanya yang Akselia tidak bisa definisikan.
"Terima kasih, Nona. Eh, saya mau tanya, kapan Anda ke Bandung lagi? Sudah sebulan sejak kunjungan terakhir."
"Bulan depan mungkin. Kenapa?"
"Tidak, cuma murid-murid kangen. Mereka sering tanya kapan 'Ibu Besar' datang lagi." Rangga tertawa.
"Ibu Besar? Nama apa itu?"
"Itu julukan mereka untuk Anda. Karena Anda seperti ibu dari semua dojo Kinanti."
Akselia menggelengkan kepala, geli. "Oke, oke. Bulan depan saya pastikan datang."
Setelah video call berakhir, Akselia menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Ada sesuatu tentang Rangga yang berbeda akhir-akhir ini. Lebih perhatian? Atau dia yang terlalu sensitif?
"Kakak melamun?" Rina tiba-tiba muncul di sampingnya, menggoda.
"Tidak. Cuma pikir soal jadwal kunjungan Bandung."
"Atau mikir soal Pak Rangga?" Rina mengedipkan mata nakal.
"Rina!"
"Apa? Dia baik, ganteng, profesional, single. Kenapa tidak?" Rina tertawa lari sebelum Akselia sempat lempar bantal sofa ke arahnya.
Tapi kata-kata Rina menggema di kepala Akselia.
Rangga memang baik. Profesional. Dan ya tampan, meski Akselia jarang memperhatikan itu.
Tapi, apakah dia siap untuk membuka hati lagi?
***
MALAM HARI - APARTEMEN AKSELIA
Akselia duduk di balkon dengan secangkir teh hangat, menatang bintang yang jarang terlihat di langit Jakarta.
Ponselnya bergetar. Pesan dari Arjuna.
[Akselia, ada investor besar yang tertarik biayai ekspansi Kinanti Dojo ke lima kota sekaligus. Mau meeting minggu depan?]
Lima kota sekaligus. Itu lompatan besar. Sangat besar.
Akselia mengetik balasan: [Serius, Pak? Lima kota?]
"Sangat serius. Mereka lihat potensi besar setelah kemenangan kompetisimu. Pikirkan baik-baik. Ini peluang emas."
Akselia menatap pesan itu lama. Lima cabang baru berarti butuh instruktur lebih banyak, sistem manajemen lebih kompleks, tanggung jawab lebih besar.
Tapi juga lebih banyak perempuan yang bisa dibantu. Lebih banyak nyawa yang bisa diubah.
"Oke. Saya akan pikirkan. Terima kasih, Pak."
Setelah menutup ponsel, Akselia menatap langit lagi. Hidupnya berubah drastis dalam setahun. Dari perempuan hancur di apartemen sempit, jadi pemilik dua dojo sukses dan juara nasional.
Dan sekarang, kesempatan untuk ekspansi besar-besaran.
"Apa aku siap?" gumamnya pada malam.
Tidak ada jawaban dari bintang-bintang. Tapi di dalam hatinya dia tahu dia harus coba.
***
HARI SABTU - MAKAM AKSANA
Akselia duduk di depan nisan Aksana, membawa bunga lili segar dan trofi kecil replika dari kejuaraan kemarin.
"Hai, Aksana," bisiknya lembut. "Kakak datang lagi."
Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan pagi.
"Kakak menang kompetisi, Aksana. Juara nasional." Akselia meletakkan trofi kecil di depan nisan. "Ini untuk kita berdua. Karena dulu kita impikan ini bareng, ingat?"
Dia diam sebentar, membiarkan kenangan mengalir.
"Dan sekarang, ada kesempatan buka lima cabang baru sekaligus. Tapi kakak bingung, Aksana. Apa kakak siap? Apa kakak tidak terlalu terburu-buru?"
Seekor kupu-kupu putih hinggap di nisan Kinan sebentar, lalu terbang menjauh.
Akselia tersenyum, mengingat Aksana dulu suka bilang kupu-kupu itu utusan dari surga.
"Oke. Kakak anggap itu tanda kamu setuju." Akselia berdiri, mengusap nisan lembut. "Kakak akan ambil kesempatan ini. Untuk kita. Untuk semua perempuan yang butuh bantuan."
Sebelum pergi, dia berbisik, "Doakan kakak ya, Aksana. Dan kalau ada jodoh untuk kakak, tolong pilihkan yang baik. Yang tidak akan sakiti kakak lagi."
***
MINGGU PAGI - DOJO AKSELIA
Akselia memimpin kelas pagi seperti biasa. Murid-muridnya semakin banyak, dari yang dulu lima orang, sekarang mencapai tujuh puluh orang di Jakarta saja.
Di tengah latihan, pintu dojo terbuka. Rangga masuk, mengejutkan semua orang karena dia seharusnya di Bandung.
"Pak Rangga?!" Rina berlari menghampiri. "Kenapa ke Jakarta?"
"Ada urusan mendadak. Dan sekalian mau ketemu Nona Akselia." Rangga tersenyum pada Akselia yang masih di ring. "Boleh ganggu sebentar?"
Akselia turun dari ring, menyerahkan kelas pada Sari. "Ada apa? Ada masalah di Bandung?"
"Tidak ada masalah. Justru sebaliknya ada kabar baik." Rangga mengeluarkan tablet, menunjukkan grafik statistik. "Lihat ini. Retention rate murid kita sembilan puluh persen. Kepuasan murid sembilan puluh lima persen. Dan yang paling penting delapan puluh persen murid bilang hidup mereka berubah setelah bergabung."
Akselia menatap angka-angka itu dengan mata berbinar. "Ini... ini luar biasa."
"Dan ini semua karena visi Anda. Karena Anda tidak cuma mengajar bela diri, tapi mengajar perempuan untuk percaya pada diri sendiri." Rangga menatapnya dengan tatapan, yang Akselia baru sadari penuh kekaguman.
"Terima kasih, Rangga. Tapi ini juga karena kerja keras kamu dan semua instruktur."
"Boleh aku... boleh kita ngobrol sebentar? Di luar? Ada yang mau aku bicarakan."
Akselia mengangguk, sedikit bingung. Mereka keluar ke taman kecil di samping dojo.
Rangga terlihat gugup, tidak seperti biasanya yang selalu tenang dan profesional.
"Ada apa, Rangga? Kamu terlihat... berbeda."
Rangga menarik napas panjang. "Nona Akselia... Akselia... aku..." dia meralat, menggunakan nama pertama untuk pertama kalinya, "...aku harus jujur soal sesuatu."
Jantung Akselia mulai berdegup lebih cepat. "Apa?"
"Aku..." Rangga menatapnya langsung, "...aku mulai punya perasaan padamu. Lebih dari sekadar hormat profesional. Lebih dari sekadar kagum. Aku... aku pikir aku jatuh cinta padamu."
Akselia tersentak. Tidak menyangka konfesi ini datang hari ini atau datang sama sekali.
"Rangga—"
"Aku tahu ini tidak profesional. Aku tahu kita atasan dan bawahan. Dan aku tahu kamu baru bangkit dari masa sulit, mungkin belum siap untuk hubungan baru." Rangga bicara cepat, seperti takut kehabisan keberanian. "Tapi aku tidak bisa diam lagi. Aku harus bilang, karena kalau tidak, aku akan menyesal selamanya."
Akselia menatapnya... pria baik yang sudah bekerja keras untuk dojo, yang dedikasi pada murid-murid, yang selalu profesional dan tidak pernah melewati batas.
Sampai sekarang.
"Aku tidak minta jawaban sekarang," lanjut Rangga. "Aku cuma mau kamu tahu. Dan apa pun keputusanmu, aku akan hormati. Kalau kamu tidak merasakan hal yang sama, aku akan tetap profesional. Aku janji."
Akselia membuka mulut, tapi tidak ada kata-kata keluar. Karena jujur dia tidak tahu apa yang dia rasakan.
Apakah dia siap untuk cinta lagi?
Atau dia masih terlalu takut untuk membuka hati?
jadi seharusnya kurang lebih 8 THN yg lalu bukan?
maaf kalau salah.
tipikal awal malu malu, tp akhirnya malu maluin, sok-sok'an masih takut membuka hati tp ternyata lebih agresif.... eeehhh....
🤭🤭🤭🏃🏃🏃
gk setuju aq/Drowsy//Drowsy/
semangat❤️