Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Melamar Kerja.
Subuh mulai tiba, suara adzan terdengar sayup-sayup di telinga. Zaki mulai beranjak dari ranjang, untuk kali ini ia benar-benar meminta kekuatan pada Sang pemilik hidup untuk melancarkan segala urusannya, apalagi niatnya ingin serius pada seorang gadis.
Di dalam shalatnya Zaki sujud benar-benar lama, doanya tidak banyak tapi jelas, jika memang Anisa ditakdirkan untuknya, maka berikan dia jalan untuk mencari pekerjaan.
Setelah shalat, Zaki menelpon Anisa sebentar, karena dia tahu pada waktu ini Anisa masih duduk diatas sajadahnya.
"Assalamualaikum Nis," ucap Zaki saat telepon mulai diangkat.
"Walaikum salam ...," sahut Anisa. "Mau ngaji lagi?" tanya Anisa.
"Memangnya ada waktu?" tanya balik Zaki.
"Masih ada," sahut Anisa singkat.
Zaki meraih mushaf yang sudah ia siapkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya. Dengan gerakan hati-hati, ia menegakkan ponselnya agar kamera menghadap wajah dan kitab di tangannya sekaligus.
Di layar, wajah Anisa tampak teduh. Ia pun sudah memegang mushafnya sendiri, duduk rapi dengan punggung bersandar pada dinding kamar kecilnya. Sorot matanya penuh perhatian, menunggu Zaki mulai.
Beberapa detik keduanya terdiam, bukan karena canggung, tapi karena ingin memulai dengan benar.
"Sampai mana?" tanya Zaki pelan.
"Lanjutan kemarin saja, setelah Alfatihah," sahut Anisa.
Zaki mengangguk pelan. Jemarinya menahan mushaf dengan hati-hati, seolah takut salah menyentuh sesuatu yang begitu ia hormati. Ia menarik napas, lalu mulai melantunkan ta’awudz dengan suara rendah dan sedikit bergetar.
“A’udzubillahi minasy-syaithanir rajim…”
Lafalnya belum sepenuhnya fasih. Ada beberapa huruf yang masih terdengar kaku, panjang pendeknya pun kadang belum tepat. Namun Zaki membacanya dengan sungguh-sungguh, tanpa bercanda, tanpa tergesa. Matanya fokus pada setiap baris, bibirnya bergerak hati-hati mengikuti tulisan Arab di hadapannya.
Di layar, Anisa menyimak dengan saksama. Ia tidak memotong, tidak langsung menegur ketika ada makhraj yang kurang tepat. Ia membiarkan Zaki menyelesaikan satu rangkaian ayat lebih dulu, memberinya kesempatan untuk percaya diri.
Baru setelah Zaki berhenti dan menatap layar seolah meminta penilaian, Anisa tersenyum lembut.
“Bagus, Ki. Sudah jauh lebih jelas dari kemarin,” ucapnya pelan.
Zaki mengembuskan napas lega. “Tapi tadi ada yang salah, ya?”
Anisa mengangguk kecil. “Sedikit saja. Di huruf ‘ha’-nya masih kurang keluar. Coba nanti kita ulang pelan-pelan.”
Di dalam layar, terlihat jelas Zaki menganggukkan kepalanya, dan nada suara Anisa yang tidak menghakimi selalu membuat hati Zaki menghangat.
Namun tanpa Anisa sadari dibalik usaha Zaki memperdalam bacaan Qur'an-nya di situ pula tersimpan tekad yang begitu besar untuk menghalalkan dirinya.
Setelah satu jam belajar mengaji, video call terputus, keduanya disibukkan dengan urusan masing-masing, Anisa yang sudah bertempur di dapur, sementara Zaki sibuk mencari-cari kerjaan paruh waktu untuknya yang masih kuliah.
Beberapa restoran sudah ia kirimi surat lamaran kerja, melalui email. Masih belum ada balasan, tapi setidaknya ia sudah berusaha.
Pukul enam pagi semua keluarga sudah berkumpul di meja makan, termasuk Zaki, senyum indah terukir dari bibir adik perempuannya, tapi tidak dengan kedua orang tuanya yang memasang wajah masam.
"Pagi, Abang," kata Nadira.
"Pagi juga Dek," sahut Zaki.
Ia langsung menarik kursi, baru saja Zaki menempelkan bokongnya di kursi ucapan sang ayah, benar-benar membuatnya menoleh.
"Kuliah yang benar, jangan pacaran dulu, apalagi dengan yang gak jelas asal-usulnya," ketus Khalid.
"Siapa yang ingin pacaran Bi," kata Zaki. "Kalau bisa Zaki ingin serius saja," tandasnya membuat Ghina memberhentikan gerakannya.
"Maksudnya apa?" tanya Ghina dengan sinis.
"Ya, Zaki ingin segera menikah saja," sahutnya dengan enteng.
"Kau pikir nikah itu enteng, apalagi kau masih belum punya pekerjaan," potong Khalid.
Zaki terdiam, ia menatap kedua orang tuanya secara bergantian. "Umi, Abi. Zaki sudah dewasa, biarkan Zaki memilih jalan Zaki sendiri," ujarnya pelan.
Zaki langsung beranjak dari kursinya meninggalkan sarapan yang belum ia sentuh sama sekali, sementara Ghina menggerutu, seolah tidak terima dengan sikap sang anak yang membangkang.
"Tuh Bi, lihat saja semenjak kenal perempuan itu anak kita jadi berubah," dengus Ghina dengan kesal.
"Biarkan saja, biar dia tahu, gimana hidup tanpa uluran tangan kita," sahut Khalid enteng.
Ghina tambah beringsut seolah tidak puas dengan ucapan suaminya. "Gak bisa pokonya secepatnya Umi harus tegur itu perempuan," ketus Ghina.
"Terserah Umi saja," sahut Khalid.
☘️☘️☘️☘️☘️
Seusai dari kampus Zaki tidak langsung pulang ia memilih duduk di sebuah kafe kecil, tak jauh dari area kampus, laptop ia buka di depannya, secangkir kopi masih melepuh belum ia sentuh, netranya terlalu fokus menatap layar email.
Satu per satu folder ia klik. Inbox chat spam semuanya ia buka, semuanya kosong, tak ada balasan satu pun, Zaki menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, matanya terpejam cukup lama.
Dalam benaknya ia teringat cerita Anisa kemarin, yang diperlakukan tidak adil oleh rekan kerjanya, dan itu benar-benar membuat Zaki harus segera mengentas gadis itu dari tempat yang selalu menyudutkannya.
"Astagfirullah ... hari ini masih belum ada rejekinya," gumamnya pelan.
Zaki memijat pelipisnya yang terasa pusing, pemuda itu tiba-tiba teringat dengan saudara jauhnya yang ada di Tambun Bekasi sana, ia ingat betul jika saudara dari abinya itu memiliki sebuah restauran besar yang sudah bercabang.
"Ah, Om Farid," ucapnya begitu semangat seolah menemukan air di tengah-tengah gurun pasir.
Tanpa berpikir lama, ia mengambil ponsel dan menghubungi nomor yang masih tersimpan.
“Assalamualaikum, Om Farid.”
“Waalaikumsalam. Eh, Zaki? Ada apa, Nak?”
Zaki menelan ludah sebentar. Harga dirinya sedikit terusik, tapi tekadnya lebih besar.
“Om… di restoran Om masih butuh karyawan nggak?”
Di seberang sana terdengar tawa kecil, seolah tidak percaya. “Kamu mau kerja? Serius?”
“Serius, Om.” Nada suara Zaki tidak terdengar sedang bercanda.
Beberapa detik hening, lalu terdengar suara kembali dari seberang sana. “Datang saja dua hari lagi. Kebetulan memang lagi butuh tambahan orang.”
Deg.
Hati Zaki bergetar kecil, bukan karena sakit hati tapi karena terlalu bahagia, akhirnya ia menemukan jalan.
“Bagian apa, Om?” tanya Zaki hati-hati.
“Waiters sudah penuh. Tapi bagian belakang masih kurang orang. Cuci piring.”
Zaki terdiam sepersekian detik, rasanya tidak mungkin, dia anak orang berada yang terbiasa hidup nyaman dengan fasilitas yang ada, dan sekarang ditawari jadi tukang cuci piring. Bukan penolakan yang ia pikirkan untuk saat ini, justru wajah teduh Anisa yang terlintas di benaknya.
“Aku ambil, Om,” jawabnya mantap.
Om Farid terdiam, mungkin tidak menyangka jawaban itu secepat itu.
“Yakin? Kerjanya berat. Berdiri lama. Panas. Shift bisa sampai malam.”
“InsyaAllah sanggup.”
Nada suaranya tidak ragu.
“Baiklah. Aku tunggu dua hari lagi. Kita lihat dulu seminggu percobaan.”
“Siap, Om. Terima kasih banyak.”
Telepon akhirnya terputus. Zaki menatap layar ponselnya lama. Dalam hidupnya baru kali ini ia mencari pekerjaan, bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk masa depannya bersama seorang gadis, yang mulai hidup di dalam hatinya.
"Secepatnya aku harus menemui Anisa," gumamnya sambil menutup laptop yang sedari tadi kebuka.
Bersambung ....