Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Az Zahra — Mau Tapi Malu
Di sebuah pesantren yang berdiri tenang di pinggir kota, hari selalu dimulai dengan keteraturan. Pagi dibuka dengan langkah-langkah rapi menuju kelas, siang dipenuhi pelajaran formal, sore hingga malam tenggelam dalam kitab, doa, dan disiplin yang tak pernah longgar.
Di tempat seperti itulah Zahra tumbuh.
Usianya delapan belas tahun. Bukan siapa-siapa. Bukan anak orang terpandang, bukan pula sosok yang mudah mencuri perhatian. Zahra hanyalah gadis biasa—santri sekaligus siswi—yang menjalani hidupnya dengan cara paling sederhana: patuh, diam, dan menjaga jarak.
Wajahnya selalu terlihat dingin. Bukan karena sombong, melainkan karena ia tak terbiasa mengekspresikan apa pun. Senyumnya jarang. Tawanya hampir tak pernah terdengar. Zahra lebih sering menunduk, berjalan lurus, dan berbicara seperlunya.
Ia cuek—begitulah orang-orang menilainya.
Namun sebenarnya, Zahra hanya sangat berhati-hati.
Sejak kecil, ia terbiasa diajarkan tentang batas. Tentang apa yang boleh dan apa yang tidak. Tentang jarak antara perempuan dan laki-laki. Tentang kehormatan yang harus dijaga, bahkan dari hal-hal kecil yang tampak sepele.
Zahra tidak pernah bersentuhan dengan pria.
Tidak sengaja.
Tidak bercanda.
Tidak pula karena dorongan apa pun.
Satu-satunya sentuhan yang ia kenal hanyalah dari keluarganya—itu pun dengan jarak emosional yang sama dinginnya. Maka baginya, menjauh adalah refleks. Menahan diri adalah kebiasaan. Dan mengabaikan rasa adalah bentuk perlindungan.
Ia percaya, perasaan hanya akan mengganggu ketenangan.
Di luar tembok pesantren itu, dunia bergerak dengan cara yang jauh berbeda.
Dan di dunia itulah Schevenko hidup.
Usianya dua puluh tahun. Nama keluarganya dikenal. Kekayaannya cukup untuk membeli hampir apa saja. Kehidupannya, di mata orang lain, terlihat sempurna. Namun tak satu pun dari itu mampu menutup kekosongan yang sudah lama bersarang di dalam dirinya.
Schevenko kehilangan peran orang tua sejak kecil.
Bukan kehilangan secara tiba-tiba, melainkan perlahan—hingga ia belajar bahwa kesendirian adalah hal yang tak bisa dihindari.
Ia tumbuh tanpa tempat bersandar.
Tanpa suara yang menenangkan.
Tanpa tangan yang menuntun.
Maka ia belajar hidup sendiri.
Schevenko dingin. Sikapnya cuek. Kata-katanya singkat. Tatapannya datar. Ia tidak peduli pada basa-basi, tidak tertarik pada keakraban, dan tidak percaya pada perasaan yang datang terlalu cepat.
Baginya, hidup adalah tentang bertahan—bukan tentang merasa.
Rumah besar yang ia tinggali terlalu sunyi.
Kemewahan yang mengelilinginya terlalu hampa.
Ia punya segalanya, kecuali satu hal: kehangatan.
Dan karena terlalu lama hidup tanpa itu, Schevenko berhenti mencarinya.
Tak ada yang menyangka bahwa dua orang seperti Zahra dan Schevenko akan berada di satu garis cerita yang sama.
Seorang gadis pesantren yang menjaga diri dengan sangat ketat.
Seorang pemuda kaya yang menjaga hatinya dengan jarak yang sama dinginnya.
Mereka sama-sama cuek.
Sama-sama tertutup.
Sama-sama tidak terbiasa memberi ruang bagi siapa pun.
Namun perbedaan dunia mereka justru membuat pertemuan itu terasa janggal.
Zahra hidup dalam aturan dan keteraturan.
Schevenko hidup dalam kebebasan yang sunyi.
Zahra takut melanggar batas.
Schevenko takut berharap.
Dan ketika pandangan mereka bertemu untuk pertama kalinya—bukan sentuhan, bukan kata-kata—hanya diam yang menggantung di antara jarak itu.
Tak ada yang berani melangkah lebih dulu.
Zahra memilih menunduk.
Schevenko memilih berpaling.
Namun ada sesuatu yang tertinggal.
Bukan rasa yang meledak-ledak.
Bukan cinta yang berani.
Hanya kegelisahan kecil…
yang perlahan tumbuh.
Zahra tidak tahu kapan tepatnya hatinya mulai bertanya.
Schevenko tidak tahu kapan tepatnya pikirannya mulai terusik.
Yang mereka tahu, ada sesuatu yang seharusnya tidak ada—
namun tetap tinggal.
Dan dari situlah cerita ini bermula.
Tentang dua orang dingin yang perlahan diuji oleh rasa.
Tentang keinginan yang tak pernah diucapkan.
Tentang jarak yang semakin dekat, meski keduanya berpura-pura tidak menyadarinya.
Mau… tapi malu.
Ingin… tapi takut.
Dan terkadang, perasaan paling berbahaya
bukanlah yang diungkapkan—
melainkan yang terus disimpan.