tentang dia yang samar keberadaannya tapi pasti tentang rasa cintanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: JALAN TOL MENUJU UTARA
Mobil sedan hitam milik Elara membelah kegelapan jalan tol M1 dengan kecepatan yang nyaris melampaui batas legal. Di dalam kabin yang kedap suara, hanya ada deru mesin yang halus dan gema statis dari pemutar musik yang sengaja ia matikan. Ia membutuhkan keheningan untuk memproses ledakan emosi yang baru saja menghancurkan dinding pertahanannya, namun ironisnya, keheningan itu justru menjadi ruang paling berisik yang pernah ia tempati. Pikiran-pikirannya melompat-lompat seperti sinyal radio yang rusak, menangkap fragmen-fragmen percakapan sepuluh tahun lalu yang seharusnya sudah membusuk di sudut memorinya.
London perlahan menghilang di spion tengah, berubah menjadi kerlip lampu yang menjauh, seperti harapan-harapan palsu yang pernah ia bangun dengan susah payah. Elara mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap marka jalan yang ia lewati terasa seperti hitungan mundur menuju sebuah konfrontasi yang ia sendiri tidak tahu apakah ia sanggup menghadapinya. Manchester bukan sekadar kota di peta baginya; itu adalah sebuah luka yang dibungkus dengan batu bata merah dan aroma hujan yang abadi.
Ia teringat pertama kali mereka menemukan "tempat bintang yang tak pernah ada" itu. Saat itu mereka baru berusia delapan belas tahun, usia di mana dunia terasa seperti panggung besar yang menunggu untuk mereka taklukkan, padahal sebenarnya mereka hanyalah dua remaja tersesat yang mencoba mencari makna di tengah kebosanan kota industri.
"El, lihat ini," seru Arlo malam itu, sambil menarik tangan Elara menaiki tangga besi yang berkarat di samping gudang tekstil tua di daerah Ancoats. Tangga itu berderit mengerikan, seolah-olah akan menyerah pada gravitasi di setiap langkah yang mereka ambil.
"Arlo, kita bisa mati kalau jatuh dari sini!" Elara berteriak, namun ada nada kegembiraan yang tak bisa ia sembunyikan dalam suaranya. Kegilaan Arlo selalu memiliki cara untuk membuatnya merasa lebih hidup daripada siapa pun.
"Kita tidak akan mati, El. Kita hanya sedang pindah frekuensi," jawab Arlo dengan tawa khasnya yang terdengar seperti deburan ombak di malam hari.
Ketika mereka sampai di atap, pemandangan yang menyambut mereka bukanlah langit bertabur bintang seperti di film-film romantis. Sebaliknya, yang mereka lihat adalah langit Manchester yang berwarna jingga keruh akibat polusi cahaya dari pabrik-pabrik dan lampu jalan. Awan-awan rendah menggantung berat, menutupi setiap benda angkasa yang mungkin ada di sana.
Arlo berdiri di tepi atap, merentangkan tangannya lebar-lebar seolah ingin memeluk seluruh kota yang suram itu. "Lihat? Tidak ada bintang. Tidak ada satu pun. Kota ini terlalu sombong untuk membiarkan langit menunjukkan keindahannya."
Elara mendekat, memeluk tubuhnya sendiri karena angin malam yang menusuk. "Lalu kenapa kita di sini? Ini tempat paling menyedihkan yang pernah aku lihat."
Arlo menoleh, matanya bersinar dengan intensitas yang selalu membuat Elara merasa telanjang. "Karena kalau bintangnya tidak ada, kita harus membuatnya sendiri. Itu aturannya, El. Kita tidak bisa menunggu semesta memberikan apa yang kita mau. Kita harus menggambarnya."
Lalu, dari saku jaket denimnya yang selalu berantakan, Arlo mengeluarkan beberapa bongkah kapur tulis putih yang ia curi dari kelas seni. Ia berlutut di atas permukaan semen atap yang kasar dan mulai menggambar lingkaran-lingkaran kecil, titik-titik, dan garis-garis imajiner yang menghubungkan satu sama lain.
"Ini Orion," kata Arlo sambil menunjuk sebuah gambar abstrak di bawah kakinya. "Dan ini Cassiopeia. Mereka tidak ada di langit, tapi mereka ada di sini, di bawah kaki kita. Dan karena kita yang menggambarnya, mereka tidak akan pernah pergi. Mereka tidak akan tertutup awan, dan mereka tidak akan mati saat fajar tiba."
Elara tertawa, sebuah tawa yang jujur dan hangat. Ia ikut berlutut di samping Arlo, mengambil sepotong kapur, dan mulai menambahkan "bintang-bintang" versinya sendiri. Di atap gedung tua itu, di bawah langit yang kosong, mereka menciptakan alam semesta mereka sendiri. Sebuah tempat di mana realitas tidak memiliki kuasa, dan di mana satu-satunya hal yang nyata adalah detak jantung mereka yang saling bersahutan.
Kenangan itu menghantam Elara begitu keras hingga ia terpaksa menepi di sebuah rest area di dekat Leicester. Napasnya tersengal. Ia menyandarkan kepalanya di setir, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai tak beraturan. Mengapa sekarang? Mengapa setelah sepuluh tahun Arlo menggunakan referensi itu?
Ia mengambil ponselnya kembali, menatap layar yang masih menunjukkan link lagu demo tersebut. Lagu "About You" yang versi radio selalu terdengar seperti sebuah perayaan atas nostalgia, sebuah pengakuan bahwa meskipun waktu berlalu, ada bagian dari seseorang yang akan selalu tertinggal di dalam diri kita. Tapi versi demo yang Arlo kirimkan—atau siapa pun pengirimnya—terasa lebih seperti sebuah peringatan. Suaranya lebih gelap, lebih penuh dengan distorsi yang menyakitkan, seolah-olah Arlo sedang tenggelam dan satu-satunya cara ia bisa bernapas adalah dengan menyanyikan nama Elara.
Elara teringat tahun terakhir mereka bersama, 2014. Itu adalah tahun di mana distorsi dalam hidup Arlo mulai mengalahkan melodinya. Arlo mulai terobsesi dengan suara-suara yang tidak bisa didengar orang lain. Ia menghabiskan waktu berjam-jam di studio kecil yang mereka sewa, mencoba merekam suara hujan, suara percikan listrik, bahkan suara napas Elara saat ia tidur.
"Kau sedang mencari apa, Arlo?" tanya Elara suatu hari, ketika ia menemukan Arlo sedang duduk di lantai studio dengan puluhan kaset tape yang pitanya terburai.
"Aku sedang mencari celah di antara nada, El," jawab Arlo tanpa menoleh. Matanya merah dan ada lingkaran hitam yang dalam di bawahnya. "Ada sebuah frekuensi di mana masa lalu dan masa depan bertemu. Kalau aku bisa menemukannya, aku bisa memperbaiki semuanya. Aku bisa membuat kita tetap berada di atap itu selamanya."
Saat itu, Elara merasa takut. Ia melihat pria yang ia cintai perlahan-lahan kehilangan pijakan pada realitas. Ia mencoba menarik Arlo kembali, mengajaknya untuk hidup di dunia nyata, dunia di mana mereka harus membayar sewa, dunia di mana musik hanyalah hobi dan bukan obsesi yang menghancurkan jiwa. Namun semakin keras Elara menarik, semakin jauh Arlo menjauh.
"Kau tidak mengerti, El," kata Arlo di malam terakhir mereka. Hujan turun begitu deras di luar flat mereka di Manchester. "Kau ingin aku menjadi normal. Kau ingin aku menjadi suara yang bersih. Tapi aku adalah distorsi. Aku adalah feedback. Tanpa itu, aku tidak ada."
Elara menyerah malam itu. Ia mengambil kopernya, berjalan menuju stasiun, dan tidak pernah menoleh lagi. Ia pergi ke London, mengganti namanya di lingkungan pergaulan baru, belajar akuntansi, dan menjadi wanita yang "bersih" dari segala jenis distorsi. Ia berhasil. Atau setidaknya, ia pikir ia berhasil.
Namun sekarang, duduk di dalam mobilnya di tengah rest area yang sepi, ia menyadari bahwa ia hanyalah sebuah lagu yang sedang di-*mute*. Selama sepuluh tahun, volumenya diturunkan hingga nol, tapi lagunya masih terus berjalan di latar belakang. Dan sekarang, seseorang telah menekan tombol *play* dan menaikkan volumenya hingga maksimal.
Ia kembali menjalankan mobilnya, masuk kembali ke jalur tol. Papan penunjuk jalan kini menunjukkan jarak yang semakin dekat: Manchester 40 miles.
Setiap mil yang ia tempuh terasa seperti lapisan kulit yang terkelupas. Ia mulai merasakan aroma Manchester—campuran antara aspal basah, asap knalpot, dan sesuatu yang manis seperti harapan yang basi. Ia tahu bahwa ia mungkin tidak akan menemukan Arlo di sana. Mungkin ini semua hanyalah lelucon kejam dari seseorang yang tahu masa lalunya. Atau mungkin, ini adalah cara semesta untuk memaksanya menyelesaikan apa yang ia tinggalkan secara menggantung.
"Do you think I have forgotten?"
Baris lirik itu kembali berputar di kepalanya. Tidak, Arlo. Aku tidak pernah lupa. Aku hanya menyimpannya di tempat yang sangat dalam, di mana aku pikir aku tidak akan bisa menjangkaunya lagi. Tapi kau selalu tahu cara meretas sistemku. Kau selalu tahu frekuensi mana yang bisa membuatku hancur.
Saat ia melewati batas kota Salford dan masuk ke wilayah Manchester, hujan mulai turun. Bukan hujan yang lebat, melainkan rintik-rintik halus yang khas, yang seolah-olah menempel di kaca depan mobilnya seperti kenangan yang menolak untuk dihapus. Lampu-lampu jalanan berwarna jingga mulai menyambutnya, sama seperti warna langit malam itu di atap gedung.
Elara mematikan navigasi GPS-nya. Ia tidak membutuhkannya. Kakinya seolah-olah sudah hafal ke mana harus pergi. Ia melewati jalan-jalan sempit dengan bangunan bata merah yang kini sudah banyak yang berubah menjadi apartemen mewah, namun esensi dari kota itu tetap sama bagi Elara: dingin, jujur, dan penuh gema.
Ia memarkir mobilnya beberapa blok dari gudang tekstil tua itu. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di atas suara rintik hujan. Ia keluar dari mobil, membiarkan rambutnya basah, dan mulai berjalan menuju gang sempit di mana tangga besi itu berada.
Gang itu gelap dan berbau sampah basah, namun bagi Elara, ini adalah jalan menuju pintu masuk alam semestanya yang hilang. Ia sampai di depan tangga besi tersebut. Tangga itu masih ada di sana, tampak lebih berkarat dan lebih rapuh dari sepuluh tahun lalu, namun masih berdiri tegak, menantang waktu.
Elara meletakkan tangannya di atas pegangan tangga yang dingin. Ia bisa merasakan getaran dari masa lalu merambat melalui telapak tangannya. Ia mulai mendaki. Langkah demi langkah. Berderit. Berderit. Suaranya terdengar seperti simfoni yang sumbang di tengah kesunyian malam.
Setiap anak tangga yang ia injak membawanya kembali pada memori tentang tangan Arlo yang menariknya ke atas. Ia bisa merasakan kehadiran pria itu di sampingnya, bisikan tawanya, dan janji-janji yang mereka buat di bawah pengaruh adrenalin dan cinta remaja.
Ketika kepalanya melewati ambang batas atap, ia berhenti sejenak. Ia takut untuk melihat. Ia takut jika atap itu kosong, atau lebih buruk lagi, jika semua gambar bintang yang mereka buat sudah terhapus oleh hujan dan waktu selama sepuluh tahun.
Namun, saat ia melangkah sepenuhnya ke atas atap, napasnya tertahan.
Hujan yang membasahi permukaan semen atap membuat sesuatu berkilau di bawah cahaya lampu jalan yang redup. Di sana, di tengah-tengah atap, masih ada sisa-sisa garis putih yang samar. Bukan gambar yang asli, melainkan gambar baru. Seseorang telah menggambarnya kembali. Seseorang telah menebalkan gambar Orion dan Cassiopeia itu dengan kapur baru yang masih bersih.
Dan di tengah-tengah rasi bintang buatan itu, ada sebuah pemutar piringan hitam portabel yang diletakkan di atas kotak kayu. Piringan hitamnya sedang berputar, dan meskipun tidak ada suara yang keluar karena tidak ada speaker yang tersambung, Elara tahu persis lagu apa yang sedang diputar di sana.
"Arlo?" bisik Elara, suaranya hilang ditelan angin malam Manchester.
Ia menoleh ke sekeliling atap yang luas itu, mencari siluet pria dengan rambut berantakan dan jaket denim belel. Namun, yang ada hanyalah bayangan bangunan-bangunan di sekitarnya dan suara rintik hujan yang jatuh di atas permukaan semen.
Lalu, ia melihatnya. Di sudut atap, di dekat tumpukan batu bata yang runtuh, ada sebuah amplop cokelat yang ditindih dengan sebuah bongkahan kapur tulis putih.
Elara berjalan mendekat dengan kaki gemetar. Ia mengambil amplop itu. Di depannya, tertulis sebuah kalimat dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal—tulisan yang miring, berantakan, dan penuh dengan karakter.
*Untuk Elara, yang selalu menjadi satu-satunya bintang nyata di langitku yang kosong.*
Elara merobek amplop itu dengan tangan yang basah oleh hujan. Di dalamnya ada sebuah kaset tape lama dan sebuah catatan kecil.
Aku tidak pernah benar-benar pergi, El. Aku hanya terjebak di dalam distorsi ini, menunggumu untuk menaikkan volumenya. Jika kau ingin tahu ke mana perginya melodi kita, dengarkan kaset ini. Tapi ingat, begitu kau menekannya, kau tidak bisa kembali menjadi wanita 'bersih' di London lagi. Kau akan kembali menjadi bagian dari feedback ini. Kau siap?
Aku suka gaya tulisan seperti ini. Cara kamu ngedeskripsiin tiap bait suasana, benda dan waktu, bikin aku bener-bener masuk ke dalam diri El. Sukses selalu thor, semangat ⭐