Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Vano menangkap kegelisahan di wajah Iren. Tatapan wanita itu masih tertuju ke pintu kamar Kevin, seolah berharap pintu itu terbuka kembali atau justru takut jika benar-benar terbuka. Ia segera mendekat, suaranya dibuat lembut.
“Iren, kamu tenang,” ujar Vano, “aku yakin Kevin cuma menggertak. Kamu sendiri tahu, sekarang dia bukan siapa-siapa.”
Iren masih berdiri di tempatnya, jemarinya saling meremas.
“Ta… tapi caranya bicara tadi beda,” ucapnya lirih dan sedikit ragu, “aku belum pernah melihat dia setenang itu.”
“Justru itu, karena dia ingin kamu lebih perhatian,” Vano tersenyum tipis, penuh keyakinan, “dia tahu satu-satunya yang masih dia punya cuma kamu, jadi dia berusaha menakut-nakuti.”
Vano lalu menambahkan dengan nada seolah sedang menyampaikan fakta mutlak, “Lagian, di kota ini siapa yang tidak tahu, semua kekuasaan atas nama keluarga Haris sudah sepenuhnya dipegang Nurma. Aku juga sudah menyelidiki, kalau Kevin ingin kembali ke lingkaran itu, satu-satunya jalan dia harus menikahi Nurma, wanita yang usianya sudah kepala enam.”
Iren akhirnya menoleh, matanya membesar.
“Menikah?” bisiknya.
Fatma yang sejak tadi duduk sambil mendengarkan langsung ikut menyahut, suaranya penuh kepastian, “Hah, mana mungkin. Dia itu terlalu tergila-gila sama kamu.”
Ia berdiri, lalu mengusap rambut Iren dengan lembut, penuh rasa memiliki.
“Tenang saja, Nak,” lanjut Fatma, “besok juga dia akan kembali jadi suami sekaligus mantu penurut seperti dulu.”
Fatma tersenyum puas, lalu menatap wajah Iren dengan bangga. “Anak ibu ini cantik, siapa sih yang tidak bertekuk lutut sama kamu.”
Kemudian senyum itu berubah miring saat ia melirik ke arah Vano.
“Kecuali lelaki bodoh ini,” sindirnya, “yang dulu ninggalin kamu demi perempuan tidak jelas, sekarang baru menyesal, iya kan.”
Vano menarik sudut bibirnya, tidak membalas. Ia sudah terbiasa dengan sikap Fatma. Kalau bukan demi saham yang masih dipegang Iren, dan peluang kembali menguasai harta keluarga, mana mungkin ia bertahan dengan sikap bermuka dua seperti ini.
Ia sangat tahu, Fatma adalah penjilat nomor satu di kota ini, manis pada yang menguntungkan, kejam pada yang tidak disukai.
“Bu, jangan bicara seperti itu,” ujar Iren cepat, lalu membela, “setiap orang punya masa lalu.”
Vano memanfaatkan momen itu. Ia menatap Iren dengan wajah penuh penyesalan yang dibuat-buat.
“Ren, ibumu benar,” katanya pelan, “aku dulu memang bodoh, buta, jadi wajar kalau aku kehilangan sesuatu yang paling berharga.”
Iren mengangkat wajahnya menatap Vano dengan tatapan hangat.
Vano melanjutkan, suaranya semakin lembut, “tapi sekarang, kalau kamu—”
“Vano,” Iren langsung menyela, pipinya memanas, “aku masih istri Kevin. Jangan bilang begitu.”
Vano tersenyum kecil, seolah mengerti dan berusaha menujukan sikap sabar.
“Tentu,” katanya, “aku cuma ingin kamu tahu, apa pun yang terjadi, aku ada di pihakmu.”
Iren terdiam. Entah kenapa, kata-kata itu tidak sepenuhnya menenangkan. Bayangan wajah Kevin yang dingin, tatapan tanpa emosi, kembali melintas di kepalanya. Ia memaksa tersenyum, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
“Dia memang tidak mungkin melakukan apa-apa,” gumam Iren pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Fatma mengibaskan tangan seolah ingin mengusir sisa ketegangan di ruangan itu.
“Sudahlah,” katanya ringan, “bagaimana kalau kita sekarang makan di restoran yang baru buka. Ibu lapar.”
Iren tersentak kecil, lalu mengangguk pelan. “Iya, Bu.”
Ia mengambil tasnya, namun sebelum melangkah, pandangannya kembali melirik ke arah pintu kamar Kevin. Hatinya terasa tidak enak, seperti ada sesuatu yang tertinggal.
Vano menyadari itu. Ia segera berdiri di sisi Iren, menutup jarak pandangnya dengan tubuhnya sendiri. “Ayo,” ujarnya lembut, “jangan dipikirkan lagi. Kevin itu selalu begitu, banyak gaya tapi ujung-ujungnya tidak ke mana-mana.”
Iren tersenyum tipis. Semua yang dikatakan ibu dan Vano terdengar masuk akal. Mungkin ia memang terlalu banyak berpikir. Selama empat tahun ini Kevin sangat mencintainya, bahkan bisa dibilang obsesi terbesar Kevin adalah dirinya. Mana mungkin lelaki itu tega membuatnya menderita. Akhirnya, Iren melangkah pergi makan bersama mereka, meninggalkan Kevin sendirian di rumah itu.
***
Di dalam kamar, Kevin merasakan perubahan suasana di luar. Keributan yang tadi memenuhi rumah kini lenyap, berganti sunyi yang menekan. Ia tahu, mereka semua sudah pergi.
Tubuhnya masih terbaring di atas kasur, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Perlahan, ia meraih ponselnya. Ucapan Nurma kembali terngiang jelas di kepalanya, seolah wanita itu berdiri tepat di samping telinganya.
“Kamu sudah memilih jalan ini. Jangan pernah menoleh ke belakang lagi. Setiap langkah yang kamu ambil, kamu pasti tahu konsekuensinya.”
Kevin memejamkan mata sesaat, lalu bangkit setengah duduk. Dari saku jas yang sempat ia lempar sembarangan, ia mengeluarkan sebuah kartu nama. Karton tipis berwarna putih dengan satu nama tercetak tegas di tengahnya, Lidya Azzahra.
Tatapan Kevin tertahan beberapa detik. Bukan karena ragu, melainkan karena ia paham betul arti kartu itu. Wanita yang secara tidak langsung dipilih kakeknya sebagai pijakan pertama agar ia bisa kembali ke puncak.
Tanpa banyak pertimbangan, Kevin menekan satu per satu angka yang tertera, lalu menyimpannya ke dalam kontak. Tak lama, ia membuka aplikasi pesan berlogo gagang telepon berwarna hijau.
“Ternyata kakek punya selera bagus,” gumamnya pelan saat foto profil itu muncul di layar.
Kevin menatap foto tersebut lebih lama.
Bukan wajah yang dipamerkan, bukan pula senyum murahan. Hanya siluet seorang wanita di balik kaca gedung tinggi, tubuhnya tegak, bahunya lurus, seolah dunia berada tepat di bawah telapak kakinya.
Rambutnya tergerai rapi tanpa satu helai pun terlihat berantakan. Dari pantulan kaca, samar tampak sorot mata yang tajam dan tenang. Mata orang yang terbiasa memberi perintah, bukan menerima.
Kevin menghela napas pelan. Ini tipe wanita yang tidak banyak bicara, tetapi sekali membuka mulut, orang-orang memilih diam. Tidak ada perhiasan mencolok, tidak ada upaya menarik simpati. Segalanya terlihat mahal tanpa perlu dipamerkan.
“Berkelas,” gumam Kevin.
Dalam benaknya, Lidya Azzahra adalah wanita dengan langkah mantap, suara rendah, dan tatapan yang mampu membekukan ruang rapat. Sosok yang tidak mudah disentuh, apalagi dikendalikan. Seseorang yang layak dijadikan pijakan. Kevin tersenyum tipis. Setidaknya, itu yang ia pikirkan.
Ia lalu mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya.
[Apa kita bisa bertemu?
Kevin]
Tidak sampai satu menit, pesan itu terbaca. Balasannya langsung masuk.
[Bisa. Temui aku di sini.]
Sebuah lokasi terlampir di bawah pesan itu.
Setelah mendapatkan balasan, Kevin langsung bersiap. Ia menutup ponselnya dan meninggalkan rumah tanpa menoleh lagi.
Lokasi yang dikirim Lidya tidak jauh dari pusat kota. Kevin tiba lebih dulu. Ia duduk tenang, punggung tegak, tangan bersedekap. Dalam kepalanya, bayangan Lidya masih sama seperti foto profil itu. Elegan, dingin dan berwibawa.
Beberapa menit berlalu seseorang melangkah masuk. Kevin mendongak dan di detik itu juga, rahangnya mengeras.
“Kakek,” gumamnya pelan, nyaris tanpa suara, “sepertinya aku harus menarik kata-kataku tadi.”