NovelToon NovelToon
My Little Lily

My Little Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Cintapertama
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Nanawf_98

Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.

Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 27

"Ngapain kamu?"

"Nungguin Mas Andra." Jawab Lily dengan senyum lebar.

Kening Andra mengerut, merasa tak terbiasa melihat sang adik bertingkah seperti itu. Walau bagaimanapun mereka telah menjadi saudara bukan sehari atau dua hari, melainkan bertahun-tahun. Jadi ketika Lily berperilaku tak biasa, ia berpikir pasti ada sesuatu dibaliknya.

Helm yang masih terpasang dikepala, Andra lepas. Kemudian ditaruhnya di spion, hingga menutupi semua kacanya. Rambutnya menjadi berantakan, sangat tak beraturan, tetapi justru menambah kesan tampan. Tangannya tak bergerak, seolah membiarkannya tetap seperti itu. Andra masih diatas motor dengan tangan menyilang di dada, menatap Lily waspada.

"Jangan aneh-aneh yah bocah. Lagi cape banget ini." Peringatnya.

Bibir Lily maju beberapa senti. "Emang aku pernah aneh-aneh yah?" Gumamnya lirih. Yang ternyata masih bisa di dengar oleh sang kakak. Sebuah cibiran keluar dari bibir pria itu. Tanda tak setuju.

Wajah Andra memang terlihat sangat lelah saat ini. Entah apa yang telah dilakukannya disekolah. Selain pelajaran olahraga dan kerja bakti yang memang membutuhkan tenaga, Lily rasa proses pembelajaran lainnya hanya duduk saja. Dan hari ini, keduanya tidak ada dalam agenda. Karena Lily melihat sendiri jadwal yang terpasang di dinding di depan meja belajar sang kakak.

Andra turun dari motor, kemudian menghampiri Lily. Berdiri tepat di sebelahnya sembari bertolak pinggang. "Heh! Masih nggak sadar kamu kalau dari dulu tuh emang udah aneh banget?"

Nada suaranya tidak tinggi. Bahkan cenderung mendesis. Mulutnya tidak terbuka sempurna saat mengatakan itu. Matanya menyipit dan lubang hidungnya mengembang. Terlihat sangat kesal. Sementara rahangnya kaku seolah apa yang ia rasakan selama ini terkumpul dan tertahan disana.

Lily meringis mendengar itu, lantas menarik sudut bibirnya dengan paksa. Ia mencoba tetap bersabar menghadapi orang di depannya, dengan menurunkan nada bicaranya selembut dan sehalus mungkin. Seolah etiket perempuan yang ia pelajari dari ibunya telah ia hafal di luar kepala. Sementara kedua tangannya bertengger di lengan sang kakak, bergelayut manja.

"Iya Mas Andra, aku emang aneh. Sekarang ayo masuk." Ajaknya sembari menarik tangan Andra kuat. Sedikit menyeretnya.

Untuk saat ini biarlah, tidak ada salahnya mengalah. Tidak ada yang lebih penting dari di temani seseorang saat makan. Apalagi Mbak Nurul selalu melaporkan semua yang ia lakukan selama dirumah kepada ibunya. Termasuk apakah ia menghabiskan makanannya atau tidak.

Sementara Andra yang diseret hanya bisa pasrah. Jalannya lambat seperti siput, sedikit terseok-seok. Tubuhnya lelah, tak bertenaga. Kemanapun sang adik membawanya pergi, ia ikuti tanpa protes.

Mereka terus berjalan lurus melewati ruang tamu. Kemudian berbelok ke kiri, menuju dapur. Mata Andra berbinar cerah saat melihat banyaknya makanan yang tersaji diatas meja. Rasa lapar tiba-tiba menyerang. Membuat perutnya yang kosong, berbunyi keras seperti ada pertunjukan drumband anak TK di dalam sana.

"Wihh, masak banyak nih." Serunya senang.

Andra melempar asal tas sekolahnya yang masih bertengger di bahu. Sepatu yang lupa ia copot saat di depan tadi, Andra biarkan tetap terpasang. Biarlah nanti ia lepas setelah selesai makan. Urusan perut lebih penting, lebih darurat, lebih dari segalanya. Rasa lelahnya seolah terbayarkan melihat itu semua.

Piring di balik, kemudian dua centong nasi ditumpuk menjadi satu. Matanya memindai, memilih lauk mana yang akan ia ambil. Lalu pilihannya jatuh pada paha ayam yang terlihat sangat menggiurkan, beserta sambal sebagai pelengkap.

Lily mengikuti. Menarik kursi disamping Andra untuk ia duduki. Sementara netranya tak lepas dari apa yang ada di piring sang kakak, menatap penuh minat. Ia membalik piringnya sendiri dan mengambil makanan sesuai dengan apa yang Andra makan.

"Ini semua, aku yang masak." Katanya dengan penuh percaya diri. Dengan wajah yang begitu polos, juga tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Sendok yang masih menggantung di udara, tak jadi masuk ke mulut. Sebelum dapat menghindar, telunjuk Andra telah bergerak cepat mendorong dahi Lily. Membuat kepala itu terlempar ke belakang hampir mengenai sandaran kursi.

"Nggak usah mimpi. Kamu masuk dapur aja nggak pernah." Cibirnya. "Kecuali kalau mau makan." Tambah Andra kemudian.

Lily tak membantah. Ia hanya mengangkat bahunya sedikit dengan cengiran lebar. Karena itulah faktanya. Ia memang hanya asal bicara saja. Bahkan alien pun tidak akan percaya kalau ia pernah memegang pisau, apalagi panci atau wajan.

Ibunya berkata, ia masih anak-anak. Dan saat ini tugasnya hanya belajar dan belajar. Semua urusan rumah tangga biar ia dan Mbak Nurul yang mengerjakan. Meski begitu, Lily selalu diajari cara menghargai kerja keras orang lain seperti, memakan semua makanan yang telah di masak untuknya, meletakkan barang-barang sesuai dengan tempatnya agar tak menambah pekerjaan sang asisten rumah tangga dan yang terakhir tidak boleh banyak menuntut.

Jadi, bukan karena Lily tidak mau. Tapi karena ia tidak diperbolehkan. Semua yang ia butuhkan sudah tersedia. Lily hanya perlu meminta, maka semua akan ada di depan mata. Tanpa perlu merepotkan diri.

Di sudut yang tak terlihat, Mbak Nurul berdiri sembari menahan tawa. Tubuhnya perlahan mundur, hingga menghilang di balik pintu. Ia tak ingin mengganggu kebersamaan kakak beradik itu.

"Ada acara apa kok masak banyak?" Tanya Andra penasaran. Sementara tangannya kembali bergerak, menyendok dan menyendok. Sedangkan mulutnya terus mengunyah tanpa henti.

Jika Sarah atau Chandra tahu kelakuan putra dan putrinya yang terus bicara saat makan, mungkin keduanya telah dimarahi habis-habisan oleh mereka. Karena kini kebiasaan yang diterapkan oleh sang nenek, akhirnya terbawa sampai rumah setelah Lily tersedak hebat waktu itu.

Ayah mereka lah yang membuat hal itu terjadi. Dan semua orang tak bisa membantah saat Chandra sudah berbicara dengan nada keras dan tegas seperti saat ia berbicara dengan anak buahnya di militer. Tetapi walau bagaimanapun hal baik tidak sepatutnya dipermasalahkan.

"Nggak ada acara apa-apa. Mbak Nurul emang biasa masak segini kok." Jawab Lily.

"Masa sih?" Andra terlihat tak percaya. Pasalnya selama ia dirumah tak pernah merasakannya. Kecuali saat ada perayaan atau hari besar dan lainnya.

Lily mengangguk. "Mbak Nurul bilang, kan kita habis sekolah cape, jadi harus makan yang banyak biar tenaganya terisi lagi. Jadi besoknya otak bisa berpikir lebih keras. Mama juga sering bilang gitu."

Itulah yang selalu Lily dengar ketika ia malas makan. Entah kalimat itu hanya pancingan, atau memang benar adanya. Tapi kenyataannya, selama ini ia hanya butuh teman. "Emang kenapa sih?"

"Ya nggak papa. Enak yah kamu selalu makan dengan banyak pilihan lauk kaya di warteg." Sindir Andra. Menyesal ia tak pernah makan siang dirumah.

Lily tersenyum bangga ketika melihat gelagat tak biasa dari sang kakak. Kini saatnya ia menyombong. "Ohh iya dong. Mbak Nurul itu yah mas, the best banget lah pokoknya. Masakannya enak banget, udah gitu ganti-ganti setiap harinya. Dan bla bla bla..."

Andra mendengus keras. Ia mengunyah dengan cepat sembari memutar bola matanya. Tak lagi ia dengarkan apa yang adiknya katakan.

"Mas..." Panggil Lily di tengah kunyahannya. Nasi di piring tinggal sedikit, tetapi perutnya terasa penuh. Tak muat lagi diisi. Ia sudah kekenyangan.

"Apa?" Balas Andra malas.

Setelah menaruh gelas yang telah kosong ke atas meja, Lily kembali berkata. "Gimana mas rasanya dihukum sama guru?"

Dahi Andra mengerut tak mengerti. "Apa maksudnya?"

Lily menatap intens sang kakak, tepat dikedua matanya. Dengan alis yang naik satu, berusaha menggoda. "Alah nggak usah pura-pura nggak tahu."

Andra memutar bola matanya. "Emang nggak tahu. Makanya ngomong yang jelas, nggak usah muter-muter. Kamu habis dihukum sama guru?" Tuduhnya.

Lily menggeleng. Telunjuknya bergerak ke kanan dan ke kiri. "No no bukan aku, tapi Mas Andra. Bukannya bunga yang mas bawa pagi ini itu hukuman yah karena bolos kelas?"

Tubuh Andra menegang, sedikit gemetar. Sementara bola matanya membulat sempurna. "Kamu..."

Ada jeda sejenak. Andra berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan. Kemudian ia berusaha bersikap senormal mungkin. "Itu semua nggak bener, itu fitnah." Sanggahnya.

"Kali ini Mas Andra nggak bisa bohong. Karena Mas Jeffrey sendiri yang bilang." Kata Lily senang.

"Ohhh... Jadi Jeffrey yang ngadu sama kamu??! Wahh sialan!! Awas aja, habis dia nanti!" Ujar Andra kesal. Wajahnya memerah dengan kedua alis menukik tajam.

"Mas Andra mau apa? Emang berani sama Mas Jeffrey?" Tantang Lily.

Andra menggulung lengan bajunya. Yang sebenarnya tak ada karena seragam sekolahnya memilik lengan yang pendek. Bahunya naik, sementara dagunya terangkat tinggi. Seperti seseorang yang tak takut pada apapun.

"Ya berani lah. Cuma Jeffrey kan? Bukan Deddy Corbuzier atau papa? Alah gampang itu." Ucapnya jumawa.

"Oh ya?"

Suara berat dan dalam itu mengudara ditengah suasana yang sedikit tegang di meja makan. Angin berhembus kencang. Membuat dedaunan kering berguguran. Memberikan kesan magis pada kedatangan Jeffrey yang tiba-tiba.

Lily menatap tak berkedip. Begitu takjub, begitu terpesona akan kehadiran pria itu. Cahaya matahari yang menembus kaca, menyoroti wajahnya yang tampan. Alisnya lurus, hidungnya mancung dan rahangnya tegas. Sementara sudut bibirnya terangkat, bukan karena senyum, melainkan dalam ekspresi dingin yang membuat bulu kuduk siapa saja berdiri.

Nadanya ketika berbicara begitu rendah, datar dan menusuk. Sedingin salju di kutub yang mampu membekukan apapun. Termasuk tubuh-tubuh dengan jiwa yang rapuh.

Andra yang semula terdiam, perlahan berdiri. Ia berjalan menghampiri Jeffrey dengan hati-hati. Wajahnya kaku, bahkan untuk tersenyum pun rasanya sulit.

"Kamu datang Jeff?" Tanyanya.

Jeffrey semakin mendekat. "Ya."

Lengan Jeffrey di tarik lembut. Dibawanya ke salah satu kursi di seberang meja. Sebelum Jeffrey duduk, Andra mengelap kursi itu terlebih dahulu. Bertindak layaknya pelayan dalam sebuah kerajaan, dengan Jeffrey sebagai rajanya.

"Silahkan duduk." Ujarnya.

Ditempatnya, Lily menutup mulut menahan tawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!