Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - Belajar Bernapas Ulang
Jam enam pagi.
Nadira terbangun sebelum alarm. Kebiasaan baru. Dia duduk di tepi kasur beberapa detik, memastikan napasnya teratur. Tidak terburu-buru. Tidak panik.
Di dapur kecil, ia menyeduh kopi instan. Tidak ada mesin mahal, tidak ada pilihan biji kopi. Hanya air panas dan bubuk sachet.
"Cukup." Gumamnya.
Ponselnya bergetar. Pesan dari koordinator lembaga riset independen.
[Rapat jam 9. Topik : pembagian tugas lapangan.]
Nadira membalas singkat.
[Siap.]
Dia mengenakan kemeja polos dan celana kain. Tidak ada identitas besar di tasnya. Hanya notebook, pulpen, dan rekam suara murah.
Di halte, dia berdiri di antara orang-orang yang tampak tahu ke mana mereka pergi. Nadira juga tahu setidaknya hari ini.
Di kantor kecil lembaga riset, dindingnya tipis, kursinya tidak seragam.
"Kamu Nadira, ya?" Sapa seorang perempuan berambut pendek.
"Iya."
"Aku Sinta. Kita satu tim."
Mereka duduk berdampingan.
"Maaf kalau ritmenya agak berantakan." Kata Sinta. "Kami kecil."
"Tidak apa-apa." Jawab Nadira. "Aku juga sedang belajar pelan-pelan."
Rapat dimulai. Tidak ada presentasi panjang. Tidak ada jargon.
"Kita turun lapangan minggu depan." Kata koordinator. "Bayaran tidak besar. Tapi data kita jujur."
Nadira mengangguk. "Itu yang saya cari."
Koordinator tersenyum kecil. "Bagus. Karena tidak semua orang kuat dengan kejujuran."
Siang itu, Nadira duduk sendirian di taman kecil dekat kantor. Dia membuka catatan, menulis poin-poin observasi. Tangannya sempat berhenti. Dia menatap halaman kosong berikutnya.
"Aku stabil." Gumamnya. "Tapi kenapa rasanya seperti lantai ini bisa runtuh kapan saja?"
Dia menarik napas panjang. Stabil bukan berarti aman. Stabil hanya berarti sementara tidak jatuh.
Ponselnya bergetar.
Arvin.
"Kamu sudah mulai?" Tanya Arvin di telepon.
"Iya. Tim kecil. Kerja lapangan."
"Kamu terdengar... hati-hati."
"Karena aku tidak punya bantalan." Jawab Nadira jujur.
Arvin terdiam sejenak. "Itu wajar. Ritme baru selalu rapuh."
"Dan kalau aku jatuh lagi?"
"Kamu sudah tahu caranya bangun." Jawab Arvin. "Itu bedanya."
***
"Angkatnya jangan pakai punggung, pakai kaki."
Pak Jaya menegur Raka yang sedang memindahkan mesin kecil. Raka mengangguk, mengulang dengan benar. Keringat menetes ke pelipisnya. Tangannya pegal. Bau oli menempel di kulit.
"Capek?" Tanya Pak Jaya.
"Iya." awab Raka jujur.
"Menyesal?"
Raka berhenti sejenak. "Tidak. Tapi... kaget."
Pak Jaya tertawa. "Kaget itu bagus. Artinya kamu masih sadar."
Siang hari, mereka makan di warung sederhana.
"Nasi satu. Lauk apa adanya." Kata Pak Jaya.
Raka mengangguk.
Saat makan, Raka membuka ponsel. Saldo rekeningnya tipis.
Dia menutup layar.
"Pak." Katanya tiba-tiba, "kalau hidup begini terus... cukup tidak?"
Pak Jaya mengunyah pelan. "Cukup itu bukan angka. Itu perasaan."
"Dan Bapak?"
"Dulu saya mengejar hal besar. Sekarang saya kejar tenang."
Raka mengangguk.
"Aku belum bisa tenang."
"Wajar." Kata Pak Jaya. "Kamu baru turun dari menara."
Sore itu, Raka pulang lebih lambat. Dia duduk di kos, membuka lemari. Jas lamanya tergantung rapi, tidak terpakai. Dia menyentuh kainnya sebentar, lalu menutup lemari.
Ponselnya bergetar. Pesan dari teman lama.
[Rak, ada lowongan. Tapi butuh rekomendasi BEM.]
Raka menatap pesan itu lama. Dia mengetik... lalu menghapus. Akhirnya ia membalas,
[Terima kasih. Aku lewat dulu.]
Lalu dia meletakkan ponselnya.
"Ini ujiannya." Gumamnya. "Benar-benar mau sederhana atau cuma sementara?"
Dia berbaring, menatap langit-langit. Untuk pertama kalinya, tidak ada rencana cadangan.
***
Ruang sidang itu dingin.
Aluna duduk di kursi kayu, mengenakan pakaian sederhana. Tidak ada tas mahal. Tidak ada aksesori mencolok. Rambutnya diikat rapi, bukan untuk gaya, tapi untuk menahan diri.
"Saudari Aluna Prameswari." Panggil hakim.
Aluna berdiri.
Dia menatap ruangan. Beberapa wajah asing. Beberapa wajah yang dulu tersenyum padanya, kini datar.
Pengacaranya berbisik, "Tenang."
Hakim membuka berkas. "Sidang ini untuk mendengar keterangan awal. Saudari mengerti?"
"Iya." Jawab Aluna pelan.
Ketika namanya disebut, jantungnya berdegup keras. Tidak ada panggilan hormat. Tidak ada kekaguman. Hanya nama... Tanpa embel-embel...
"Kami mencabut akses organisasi dan jabatan simbolik Anda." Kata perwakilan lembaga. "Efektif hari ini."
Aluna mengangguk. Di dalam dirinya, sesuatu runtuh, pelan tapi pasti. Simbol-simbol itu yang dulu membuatnya merasa aman. Sekarang, ia hanya seseorang yang harus bertanggung jawab.
Di luar ruang sidang, Aluna duduk di bangku panjang. Ibunya duduk di sampingnya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya ibunya khawatir.
Aluna menggeleng.
Ibunya menggenggam tangannya.
"Ini bukan akhir."
"Aku kehilangan semuanya." Kata Aluna lirih.
Ibunya menatapnya. "Kamu kehilangan topengmu. Itu beda."
Air mata jatuh. "Tanpa itu, aku tidak tahu siapa aku."
Ibunya menghela napas panjang. "Mungkin itu yang harus kamu cari."
***
Malam hari, Nadira menerima email.
[Maaf, proyek lapangan minggu depan ditunda. Dana belum cair.]
Nadira menatap layar lama. Ditunda berarti bayaran tertunda. Ditunda berarti rutinitas goyah. Dia menutup laptop, bersandar di kursi.
"Aku tahu ini bisa terjadi." Gumamnya. "Tapi kenapa tetap sakit?"
Dia menelepon Raka. "Kamu sibuk?"
"Baru selesai kerja. Kenapa?"
"Aku cuma... butuh suara manusia."
Raka tersenyum di seberang. "Aku juga."
Mereka terdiam sejenak, sunyi yang nyaman.
"Hidup sederhana itu berat." Kata Raka akhirnya.
"Iya." Jawab Nadira. "Tapi hidup pura-pura lebih berat."
Raka tertawa kecil. "Setuju."
Beberapa hari kemudian, Pak Jaya memanggil Raka. "Ada tawaran proyek besar. Tapi butuh lembur tanpa bayaran awal."
Raka mengernyit. "Itu... adil?"
Pak Jaya menghela napas. "Tidak sepenuhnya. Tapi kalau kita tolak, bengkel bisa sepi."
Raka terdiam.
Dia menatap tangannya kasar, kotor, nyata. "Apa Bapak mau ambil?" Tanya Raka.
Pak Jaya menatapnya. "Aku tanya kamu. Kamu yang akan paling capek."
Raka berpikir lama. "Aku mau." Katanya akhirnya. "Tapi kita catat semuanya. Tidak mau abu-abu."
Pak Jaya tersenyum. "Kamu konsisten."
"Kalau aku goyah sekarang." Jawab Raka pelan, "aku tidak tahu aku ini siapa."
***
Malam itu, Aluna membuka ponsel. Undangan acara hilang. Grup organisasi mengeluarkannya. Pesan pribadi sepi.
Dia mengetik satu pesan ke Nadira... lalu berhenti. Dia menghapusnya.
"Tidak semua luka butuh penonton." Bisiknya.
Dia mematikan ponsel. Untuk pertama kalinya, dia duduk dengan dirinya sendiri tanpa panggung.
Di waktu yang hampir bersamaan
Nadira hidup dalam ritme baru yang lebih jujur, lebih stabil, tapi masih rapuh oleh ketidakpastian.
Raka berdiri di titik nol, diuji apakah kesederhanaan adalah pilihan atau hukuman.
Aluna kehilangan simbol kekuasaannya, dan dipaksa bertemu dirinya sendiri tanpa topeng.
Tidak ada yang benar-benar aman. Tapi untuk pertama kalinya, mereka hidup tanpa kebohongan besar. Dan itu meski menakutkan adalah dasar yang nyata.
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚
𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁
𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠