NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tim yang Selaras

🕊

Tujuh bulan berlalu tanpa Alea benar-benar menghitungnya. Ia baru sadar saat melihat kalender kecil di ponselnya, lalu tertawa pelan sendiri. Tujuh bulan. Angka yang dulu terasa mustahil untuk dicapai, kini terlewati begitu saja—pelan, tapi pasti. Sekarang Alea ditempatkan di bagian drive-thru.

Bagian yang tidak semua orang suka, karena ritmenya cepat, suaranya ramai, dan kesalahan kecil bisa langsung terdengar dari klakson atau nada kesal pelanggan. Tapi entah kenapa, Alea justru merasa cocok.

Ia berdiri di balik jendela kecil, mengenakan headset. Di depannya, antrean kendaraan bergerak perlahan. Suara mesin bercampur dengan suara pesanan yang masuk. “Selamat siang, Pizza Panas drive-thru, dengan Alea. Mau pesan apa?”

Suaranya mengalir ringan, tidak dibuat-buat. Tangannya sigap mencatat, matanya fokus ke layar. Di belakangnya, dapur bekerja seperti mesin yang terlatih—panas, ramai, tapi teratur.

Di sinilah Alea semakin dekat dengan dua orang yang sekarang rasanya seperti partner perang, Sasa dan Rita. “Lea, gue ke depan ya. Antrian depan udah numpuk,” kata Sasa sambil menyeka tangannya dengan lap.

“Oke, gue ambil order di belakang,” jawab Alea cepat, sudah mengganti posisi tanpa banyak bicara. Mereka sering bertukar posisi tanpa komando resmi. Tidak ada ego. Tidak ada “itu bukan tugas gue”. Yang ada hanya satu tujuan: pelanggan tidak menunggu terlalu lama, dan pekerjaan selesai tanpa drama.

Kadang Alea menerima pesanan lewat headset, kadang ia berdiri di depan, menyerahkan pizza panas ke tangan pelanggan dengan senyum kecil. “Ini pesanannya ya, Kak. Hati-hati masih panas.”

“Thank you, Mbak.”

“Terima kasih kembali.”

Sederhana. Berulang. Tapi entah kenapa tidak membosankan. Rita sering menggoda saat jeda sebentar. “Lea, dulu gue kira lo pendiam.” Alea tersenyum sambil merapikan struk. “Gue bukan pendiam. Gue cuma milih ngomong kalo perlu.”

Sasa tertawa kecil. “Kelihatan sih. Lo tuh kalem, tapi keliatan udah kenyang sama drama.”Alea tidak menyangkal. Ia hanya mengangkat bahu.

Drive-thru mengajarkannya satu hal penting: emosi itu pilihan.

Kalau dibawa naik, semuanya jadi berantakan.

Kalau dibawa santai, semua terasa lebih ringan.

Pernah ada pelanggan yang nadanya tinggi karena pesanannya sedikit terlambat. Dulu, mungkin Alea akan menegang, jantungnya naik, pikirannya panas. Sekarang, ia hanya menarik napas. “Mohon maaf ya, Kak. Pesanannya sedang kami siapkan. Kurang lebih dua menit lagi.” Nada suara stabil. Tatapan tenang.

Dan ajaibnya, pelanggan itu ikut menurunkan nada.

Saat jam sepi datang, Alea bersandar sebentar di dinding, headset dilepas. Ia memijat tengkuknya pelan. Capek, tentu. Tapi capek yang jujur. Capek yang tidak menyisakan sesak di dada.

Ia sadar, hidupnya sekarang tidak sempurna. Gajinya masih segitu-gitu saja. Masalah di rumah belum sepenuhnya hilang. Tapi satu hal berubah: cara ia menjalani hari. Ia tidak lagi membawa pulang emosi kerja. Tidak lagi membiarkan satu kejadian kecil merusak seluruh harinya.

“Lea,” panggil Rita pelan. “Shift sore besok bareng lagi, ya.” Alea mengangguk. “Siap.” Ia tersenyum kecil, menatap antrean kendaraan yang kembali bergerak.

Tujuh bulan.

Drive-thru.

Teman baru.

Ritme baru.

Dan untuk pertama kalinya, Alea benar-benar menikmati pekerjaannya—tanpa perlu membuktikan apa pun pada siapa pun. Cukup hadir, bekerja dengan benar, dan pulang dengan hati yang tidak berat.

Pagi itu, Alea melangkah masuk ke restoran dengan langkah ringan. Matahari baru saja menembus jendela kaca besar, menyoroti lantai bersih dan meja-meja rapi. Udara hangat bercampur aroma adonan pizza dan saus segar menyambutnya, membuat semangatnya sedikit melonjak.

“Selamat pagi, Lea!” sapa Rita, sambil melambaikan tangan dari jendela drive-thru. Senyum Rita selalu berhasil mencairkan ketegangan, seperti mentari yang menembus kabut pagi.

“Pagi, Rit,” jawab Alea sambil membalas lambaian itu. Ia memasang headset, memeriksa layar drive-thru. Hari ini Sasa ditempatkan di dalam restoran, membantu melayani pelanggan yang makan di tempat. Jadi hanya Alea dan Rita yang menangani antrean kendaraan. “Tenang aja, Lea. Kita berdua bisa kok,” kata Rita sambil menepuk pundak Alea.

Alea tersenyum tipis. “Iya. Santai aja. Nggak perlu terburu-buru.”

Shift pagi berjalan seperti ritme yang familiar. Alea mulai menikmati keseimbangan baru ini—tidak ada tekanan berlebih, tidak ada senioritas yang mengintimidasi. Semua berjalan lancar. Ia menerima pesanan, menyiapkan struk, menyerahkan pizza dengan senyum, sementara Rita sigap di belakang menangani pembayaran dan memanggil pesanan ke dapur.

“Lea, lihat nih, pelanggan terakhir tadi senyum sama lo. Kayak lega gitu,” kata Rita pelan sambil menunjuk kendaraan yang baru meninggalkan drive-thru. Alea tersenyum, tidak terlalu bangga, tapi terasa hangat di dada. “Bagus, berarti semuanya sesuai target.”

Di sela-sela shift, Pak Doni, kepala koki restoran, memanggil Alea. Suara pria itu tegas tapi bersahabat. “Lea, sebentar sini,” panggilnya dari dapur. Alea mendekat, melihat tangan Pak Doni sibuk menyiapkan adonan.

“Ini, gue mau ajarin lo beberapa teknik dasar bikin pizza,” kata Pak Doni sambil menyerahkan adonan ke Alea. “Kadang kalau drive-thru ramai, para koki nggak sempat. Jadi, staf pelayanan juga harus bisa. Jangan cuma tangan lo di depan jendela.” Alea menatap adonan itu dengan antusias. “Siap, Pak. Gue mau belajar.”

Selama setengah jam berikutnya, Alea belajar membuat adonan tipis, meratakan saus, dan menabur topping dengan rapi. Pak Doni terus memberi koreksi, tapi dengan cara yang mendorong, bukan menekan. “Bagus, Lea. Tapi ingat, jangan terlalu cepat. Hasilnya harus rapi, baru enak. Sama kayak melayani pelanggan, semua butuh ketelitian dan kesabaran,” ucap Pak Doni sambil tersenyum.

Alea tersenyum, menatap hasil karyanya. Pizza itu mungkin tidak sempurna seperti buatan koki senior, tapi ia tahu ini langkahnya untuk lebih mandiri. Ia bisa merasakan keterampilannya bertambah, tidak hanya sebagai pelayan, tapi juga sebagai staf yang lebih terlatih.

Saat istirahat, Alea duduk di kursi sambil mengelap keringat. Wajahnya cerah, seperti sinar matahari kecil di tengah restoran yang sibuk. Kehadirannya membuat beberapa rekan kerja tersenyum, suasana jadi lebih ringan. “Lea, senyum terus dong. Bikin suasana restoran jadi enak,” kata Rita sambil duduk di sampingnya.

Alea tertawa kecil. “Iya, nggak ada salahnya. Lagi pula, senyum bisa bikin gue tetap tenang juga.” Ia mengambil notes dari saku blazer, menuliskan beberapa hal: “Belajar pizza dan saus spaghetti—praktik besok. Evaluasi pesanan drive-thru—lebih cepat dan rapi.” Menulis membuat pikirannya lebih teratur, seolah menenangkan semua kekhawatiran yang mungkin muncul.

Hari itu berlanjut tanpa drama. Pelanggan tetap puas, rekan kerja mulai terbiasa dengan ritme Alea, dan bahkan Sasa di dalam restoran mengirimkan senyum dan acungan jempol ketika melihat Alea berhasil mengatur antrian.

Saat jam pulang hampir tiba, Alea duduk sebentar di kursi kosong, menatap dapur yang kini bersih, wangi, dan teratur. Ia menarik napas dalam-dalam. “Enak juga rasanya kalau semuanya berjalan sesuai ritme,” gumamnya pelan.

Ritanya, Alea, dan Sasa kini benar-benar menjadi tim yang selaras—tanpa drama, tanpa pertengkaran, semua saling mengisi dan menutupi kekurangan satu sama lain. Alea tersenyum, tahu bahwa di sini, ia tidak hanya bekerja. Ia berkembang, belajar, dan menemukan cara menghadapi dunia dengan lebih dewasa, lebih tenang, dan lebih percaya diri.

Di perjalanan pulang, Alea menatap langit sore yang mulai kemerahan. Ia menaruh ponselnya kembali di tas, merapikan notes, dan berkata pelan, “Ini baru langkah awal, tapi gue udah bangga sama diri sendiri. Gue bisa, dan gue mau lebih baik lagi.”

Hari itu, Alea pulang dengan rasa lega. Tidak ada ketegangan yang mengikutinya. Hanya kepuasan, semangat, dan ketenangan yang terasa nyata, menemaninya menuju hari esok yang pasti akan membawa tantangan baru.

Bagian yang tersembunyi..

Alea saat ini berada di tempat dealer motor, ia disini berdiri bersama adiknya, Dika, Alea sengaja membawa Dika karena, pertama dia belum lancar bawa motor, kedua Dika sudah lancar bawa motor. Apalagi sampai motor Ibu tiri mereka lecet dan berakhir bertengkar dengan papa mereka.  “Ka, lo serius?”

“Serius, ini juga bakal lo pake buat keliling ngasih lamaran kerja.”

Dika mengangguk, “terbantu sekali gue, ka.” Alea menoleh menatap Dika dengan tatapan tajam, “gue serius dik, jaga motor gue, jangan sampai lecet kek punya ibu.” Dika mengangguk, “itukan lecet karena gue baru belajar motor, tenang aja, motor lo bakal aman sama gue.”

“Jangan lupa ajarin gue juga. Nih motor bakal jadi partner gue kerja.”

“Sip.”

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!