NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Keluarga / Mantan / Cintapertama / Romansa / Ibu Tiri
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jeda di Persimpangan Rasa

🕊

Hari-hari Alea berjalan dengan ritme yang aneh—terlihat normal di luar, tapi di dalam kepalanya berisik. Ia kembali bekerja seperti biasa, mengenakan seragam dengan rapi, menyematkan senyum profesional yang sudah menjadi refleks. Namun dibalik itu, hubungannya dengan Rehan terasa semakin melelahkan. Bukan karena pertengkaran besar, melainkan karena hal-hal kecil yang menumpuk, nada bicara yang menekan, sikap posesif yang dibungkus perhatian, dan kehadiran Rehan yang seolah selalu ada di pinggir hidupnya tanpa benar-benar masuk.

Dua bulan berlalu. Alea mulai terbiasa—atau mungkin mematikan rasa—dengan Rehan yang hanya menjemputnya sepulang kerja. Kadang mereka pulang dalam diam, kadang diselingi obrolan seadanya. Alea tidak lagi menunggu perubahan. Ia bekerja, pulang, tidur, dan mengulang. Hidupnya seperti berjalan di jalur aman yang hambar.

Sampai suatu hari, ada wajah baru di dapur.

Nama itu disebut pertama kali saat briefing singkat pagi hari.

“Anak baru di dapur, bagian koki. Namanya Arkana Pradipta Wicaksana,” ucap supervisor sambil menandai papan jadwal. Alea tidak terlalu memperhatikan—sampai ia melihatnya sendiri.

Arkana berdiri di dekat meja persiapan, postur nya tinggi, geraknya tenang. Rambut rapi, wajahnya bersih, hidungnya mancung. Yang paling mencolok bukan penampilannya, melainkan caranya hadir: kalem, tidak banyak bicara, tapi fokus. Saat ia menyapa, suaranya lembut, tidak terburu-buru, seolah tidak pernah berkompetisi dengan kebisingan sekitar. “Halo,” katanya ketika mata mereka bertemu. “Saya Arkana.”

“Alea,” jawab Alea, spontan tersenyum—senyum yang terasa berbeda dari senyum kerja biasanya.

Sejak hari itu, ada perubahan kecil yang pelan-pelan menggeser suasana Alea. Di sela istirahat, ia mendapati dirinya mendekat ke dapur, berpura-pura mencari air minum atau sekadar menanyakan stok. Arkana sering sedang membersihkan meja atau memeriksa adonan, dan selalu menjawab dengan sabar, tanpa nada terganggu.

“Capek?” tanya Alea suatu kali, menyandarkan siku di meja stainless. “Lumayan,” jawab Arkana sambil tersenyum tipis. “Tapi aku suka ritmenya.” Alea mengangguk. “Kamu kelihatan cocok di sini.”

“Semoga,” balasnya, sederhana.

Kadang Alea menggoda kecil—sekadar candaan ringan, nakal lucu tanpa niat berlebihan. Arkana menanggapinya dengan senyum yang tidak berisik, tawa kecil yang jujur. Tidak ada rayuan, tidak ada tekanan. Hanya percakapan yang mengalir.

Dan justru itu yang membuat Alea merasa aman.

Ia menyadari perubahannya sendiri. Ia tidak lagi mudah terpancing emosi. Ia lebih memilih diam, mengamati, menimbang. Arkana tidak mengubah hidupnya secara drastis—tidak menawarkan janji, tidak meminta apa pun—tapi kehadirannya seperti menenangkan gelombang di dada Alea yang selama ini tidak pernah benar-benar reda.

Suatu sore, saat Alea keluar lebih lambat karena membantu closing, Rehan sudah menunggu di parkiran. Wajahnya datar, matanya meneliti Alea dari ujung rambut sampai sepatu. “Kamu lama,” katanya. Alea hanya mengangguk. “Lagi rame.” Rehan menoleh ke arah dapur yang masih terang. “Itu anak baru ya?”

Alea mengikuti arah pandangnya. Arkana sedang mengelap meja, lalu mengangkat kepala dan melambaikan tangan kecil ke Alea. Refleks, Alea membalasnya. “Iya,” jawab Alea singkat.

Sepanjang perjalanan pulang, Alea menyadari sesuatu yang sederhana tapi penting: ia tidak merasa bersalah. Tidak merasa perlu menjelaskan. Tidak merasa harus mengecilkan dirinya sendiri agar orang lain nyaman.

Malam itu, sebelum tidur, Alea membuka notes kecil di tasnya—kebiasaan lama yang kembali ia rawat. Ia menulis satu kalimat pendek:

“Tenang itu penting. Dan orang yang membuatmu tenang—itu patut dijaga jaraknya, agar tetap murni.”

Ia menutup buku, mematikan lampu, dan tersenyum tipis. Hari-harinya memang belum berubah sepenuhnya. Tapi arah hatinya—perlahan—sudah mulai bergeser.

Alea menyadari perubahan itu tidak datang dengan suara keras—tidak ada kata-kata, tidak ada sikap kasar. Justru sebaliknya. Semuanya terasa terlalu halus untuk diabaikan.

Sejak siang, Alea memang sedang usil. Bukan usil yang berlebihan, hanya candaan kecil yang ia tahu cukup untuk membuat Arkana kikuk. Ia berdiri di sisi meja dapur, berpura-pura mengamati proses kerja, lalu sesekali melontarkan komentar ringan.

“Mas, kamu kalau fokus gini kelihatan serius banget,” kata Alea sambil sedikit menunduk agar sejajar dengan wajahnya. Arkana menoleh cepat. “Hah? Eh… biasa aja,” jawabnya, suaranya agak naik satu nada.

Alea menahan senyum. Ia melihat jelas—telinga Arkana memerah. Bukan merah marah, tapi merah malu yang jujur. Tangannya sedikit salah gerak saat meraih spatula, lalu ia tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri. “Kenapa sih kamu suka bikin aku salah fokus?” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

“Lah, siapa suruh gampang kepancing,” balas Alea, tertawa kecil. Momen-momen seperti itu membuat Alea merasa ringan. Tidak ada beban, tidak ada perhitungan. Hanya tawa singkat di sela suara dapur yang sibuk.

Sampai jam pulang tiba.

Alea melepas apron, merapikan jilbab, dan menyampirkan tas di bahunya. Arkana yang sedang mencuci tangan melirik jam di dinding, lalu menoleh ke arahnya. “Udah mau pulang?” tanyanya. “Iya,” jawab Alea santai.

Arkana mengangguk, lalu berhenti sejenak, seperti ragu. “Belum dijemput?” Alea menggeleng kepala. “Belum.” Arkana terdiam. Tangannya masih basah, air menetes ke lantai. Ia tampak berpikir, lalu bertanya lagi, lebih pelan, “Yang jemput… abang kamu?”

Alea kembali menggeleng, kali ini sambil tersenyum tipis. “Pacar.” Kata itu meluncur begitu saja, tanpa niat apa-apa. Bagi Alea, itu hanya jawaban jujur. Namun bagi Arkana, kalimat itu seperti mengetuk sesuatu di dalam dadanya yang belum sempat ia beri nama.

Ia terdiam.

Bukan diam canggung, melainkan diam yang tertata. Wajahnya tidak berubah drastis—tidak kaget berlebihan, tidak kecewa yang meledak. Tapi senyum tipis yang tadi ada di wajahnya menghilang. Matanya menunduk sebentar, lalu kembali menatap Alea dengan ekspresi yang lebih datar. “Oh,” katanya singkat. “Oke.” Nada suaranya tetap lembut, tapi ada jarak yang tiba-tiba tercipta.

Alea menangkapnya. Ia tidak tahu bagaimana, tapi ia merasakannya. Cara Arkana berdiri sedikit menjauh. Cara ia tidak lagi menatap terlalu lama. Cara bahunya seperti mengencang, meski sikapnya tetap sopan. “Kamu… kenapa?” tanya Alea spontan.

“Nggak apa-apa,” jawab Arkana cepat. “Hati-hati di jalan.” Ia berbalik lebih dulu, kembali ke dapur, seolah masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan—padahal area itu sudah hampir bersih.

Alea berdiri di tempatnya beberapa detik. Perasaan aneh merambat pelan. Bukan rasa bersalah, bukan juga senang. Lebih seperti bingung. “Barusan… kenapa?” batinnya.

Ia berjalan keluar restoran dengan langkah lebih lambat dari biasanya. Dari kaca depan, ia sempat melirik ke dalam. Arkana terlihat sibuk, tenang seperti biasa, tapi aura hangat yang tadi siang ada—itu menghilang.

Di parkiran, ponselnya bergetar. Nama Rehan muncul di layar. “Aku di depan,” tulisnya singkat.

Alea menghela napas. Ia menatap layar itu lama, lalu mengangkat pandangan ke langit yang mulai gelap. Untuk pertama kalinya, ia merasa satu jawaban jujur bisa mengubah suasana seseorang—dan ia tidak yakin apakah itu seharusnya membuatnya merasa bersalah… atau justru membuatnya sadar akan sesuatu yang selama ini ia abaikan.

Di dalam restoran, Arkana mencuci peralatan lebih lama dari biasanya. Air mengalir, pikirannya berisik. Ia tidak marah. Tidak menyalahkan Alea. Ia hanya terkejut oleh perasaan kecil yang ternyata sudah tumbuh—diam-diam—dan kini harus ia rapikan sendiri.

Tenang, katanya pada diri sendiri.

Tetap profesional.

Namun satu hal tidak bisa disangkal: Sejak detik itu, caranya memandang Alea—sudah tidak lagi sama.

Keesokan harinya, Alea benar-benar mengambil jeda.

Libur satu hari itu ia niatkan untuk dirinya sendiri—tanpa jadwal, tanpa kewajiban, tanpa siapa pun yang harus ia pikirkan. Ia mengenakan pakaian santai celana kain longgar warna krem, kaos putih polos, dan outer tipis. Rambutnya tertutup jilbab sederhana. Wajahnya bersih, nyaris tanpa riasan. Ia hanya ingin berjalan, melihat-lihat buku, menenangkan kepala yang belakangan terlalu penuh.

Toko buku itu tenang seperti biasa. Aroma kertas dan tinta menyambutnya, rak-rak tinggi berjajar rapi. Alea langsung menuju bagian novel dan esai, tangannya menyusuri punggung buku satu per satu. Ia membaca judul, membuka halaman acak, lalu menutupnya kembali. Tidak terburu-buru.

Sampai sebuah suara memanggil namanya. “Alea?” Ia menoleh.

Fadil.

Pria itu berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan kemeja kasual dan celana jeans. Rambut rapi, sepatunya bersih—tapi entah kenapa, hari itu Alea tidak menemukan karisma apa pun di wajahnya. Tidak ada aura hangat. Tidak ada getar yang dulu sempat membuatnya merasa “diterima” saat ia sedang kosong.

“Hai,” sapa Alea singkat, sopan. “Kamu… sendirian?” tanya Fadil, senyumnya langsung mengembang seperti orang yang menemukan sesuatu yang ia cari. Alea mengangguk jujur. “Iya. Lagi pengen sendiri aja.”

Mata Fadil tampak berbinar. Seperti ada udara segar yang tiba-tiba masuk ke paru-parunya. “Kebetulan banget. Aku juga lagi nggak ada agenda. Temenin keliling, yuk?” Alea ragu diam sedetik. Tapi hanya sebentar. Ia tidak merasa ingin menolak, juga tidak merasa antusias. Netral. Kosong.

“Ya udah,” jawabnya akhirnya. “Sebentar saja.”

Mereka keluar dari toko buku dan mulai berjalan menyusuri lorong mall. Fadil banyak bicara—tentang hal-hal ringan, tentang kerja, tentang rencana yang entah sungguh atau hanya basa-basi. Alea mendengarkan, sesekali menanggapi dengan anggukan atau senyum kecil. Ia tidak membuka cerita, tidak juga menutup diri. Ia ada, tapi tidak sepenuhnya hadir.

Di sebuah toko tas, Fadil berhenti. “Kamu tunggu sebentar,” katanya, lalu masuk. Alea berdiri di luar, menatap etalase. Ia tahu apa yang sedang terjadi bahkan sebelum Fadil keluar membawa sebuah paper bag.

“Ini,” kata Fadil sambil menyodorkan tas itu. “Buat kamu.” Alea menatapnya. Tidak kaget. Tidak juga senang. Ia hanya… diam.

“Kenapa?” tanya Fadil cepat, seolah takut ditolak. “Aku cuma pengen bikin kamu senang.” Alea menerima tas itu. Tangannya menutup pegangan dengan gerakan otomatis. “Kalau dikasih ya diterima aja,” ucapnya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri daripada pada Fadil.

Fadil tersenyum puas. Ia mengira itu tanda kedekatan. Ia tidak tahu—atau mungkin tidak mau tahu—bahwa Alea tidak sedang merasa apa-apa.

Mereka duduk sebentar di kafe. Fadil memesan minum, Alea mengaduk sedotannya tanpa benar-benar menyesap. Pikirannya melayang. Entah ke mana. Ke wajah Arkana yang kemarin berubah tanpa kata. Ke Rehan yang hubungannya semakin membingungkan. Ke dirinya sendiri yang mulai bertanya: sebenarnya aku lagi ngapain?

Saat mereka berpisah, Fadil terlihat ringan. Alea tidak. Di perjalanan pulang, ia membuka tas hadiah itu sekali lagi, lalu menutupnya. Bukan karena tidak suka. Tapi karena ia sadar—menerima bukan berarti memiliki rasa.

Hari itu Alea pulang dengan langkah pelan. Me time-nya tetap terjadi, tapi bukan dengan cara yang ia bayangkan. Ia tidak merasa bahagia, juga tidak menyesal. Ia sedang berjalan di wilayah abu-abu yang terlalu lama dibiarkan, dan cepat atau lambat, ia harus memilih—bertahan di kabut, atau berani keluar darinya.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!