NovelToon NovelToon
Apex Of The Red Tower

Apex Of The Red Tower

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri
Popularitas:267
Nilai: 5
Nama Author: Cicilia_.

Terbangun di tengah hutan hitam yang mencekam tanpa ingatan sedikit pun adalah sebuah mimpi buruk. Namun bagi salah satu pemuda yang berjiwa kepemimpinan dan enam remaja lainnya, mimpi buruk itu baru saja dimulai. Tanpa identitas selain nama yang terukir di gelang logam misterius mereka, ketujuh jiwa ini harus bertahan hidup di "The Dead Forest" sebuah hutan liar yang tidak mengenal ampun, di mana predator tidak terlihat dan bayangan bisa membunuh. Di tengah kepanikan Rayden yang cerewet, kecerdasan tajam Naya, dan sifat dingin Zephyr, Arlo mulai dihantui oleh potongan memori masa lalu yang seharusnya tidak ia ingat. Di sisi lain, Selene, gadis misterius yang seolah tahu segalanya, menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan kepercayaan mereka satu sama lain. Siapakah mereka sebenarnya? Mengapa mereka dibuang ke hutan ini? Dan apakah ikatan tali persahabatan mereka cukup kuat untuk melawan kenyataan pahit yang menanti di ujung hutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cicilia_., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17# Rahasia di balik Kabut

Dasar jurang yang biasanya sunyi dan hanya dihiasi kerlip lumut biru kini mendadak ramai dengan kehadiran kelompok Arlo. Perkemahan yang dibangun oleh Dasha dan timnya terasa jauh lebih hangat dibandingkan Saka, namun ketegangan baru mulai muncul seiring dengan banyaknya pertanyaan yang belum terjawab. Bagi Harry, pemandangan sebagian remaja yang sudah bertahan selama berbulan-bulan di sini adalah sebuah tamparan keras sekaligus keajaiban.

Harry duduk di atas batu besar, menatap Tom dan Rony yang sedang membagikan air kepada teman-temannya yang lain. Wajah Harry tampak linglung. "Sembilan tahun..." gumam Harry pada diri sendiri. "Sembilan tahun aku merasa seperti satu-satunya manusia yang tersisa di neraka ini. Aku melewati musim-musim berdarah sendirian, mengubur teman-temanku, dan berpikir bahwa tidak akan ada lagi yang datang setelah aku. Ternyata selama berbulan-bulan, kalian ada di dunia ini... hanya terpisah beberapa kilometer dariku."

"Kami juga berpikir begitu, Pak Tua," sahut Rony sambil memberikan gelas kayu pada Harry. "Kami pikir kami adalah sisa terakhir dari peradaban yang dibuang. Hutan di atas sana terlalu luas, dan jurang ini adalah satu-satunya tempat di mana 'Mata Menara' tidak bisa melihat dengan jelas."

Di tengah keramaian itu, Arlo berdiri dengan gelisah di samping pohon tempat Selene beristirahat. Meskipun reuni dengan Tom dan Lily memberikan harapan, Arlo merasa waktu mereka semakin menipis. Setiap detik yang mereka habiskan untuk beristirahat adalah detik di mana Menara bisa saja menyiapkan serangan baru.

"Kita tidak bisa berlama-lama di sini," ucap Arlo tegas, suaranya memotong pembicaraan di sekitar api unggun. "Dasha, Tom... kalian tahu jalan keluar dari dasar jurang ini, dan arah tercepat menuju menara itu kan? Kita harus bergerak menuju Menara sekarang juga. Kita harus mengakhiri semua kegilaan ini sebelum ada lagi yang menjadi korban seperti Leo."

Tom berdiri, tubuhnya yang kekar menghalangi jalan Arlo. Ia menatap Arlo dengan tatapan yang sangat lelah namun penuh peringatan. "Percuma, Arlo. Kau pikir kami tidak pernah mencoba? Selama berbulan-bulan aku dan semuanya berada di sini, kami sudah mencoba setidaknya mencari jalan keluar dari dunia ini untuk menembus batas wilayah luar. Tapi rintangannya bukan sekadar monster. Menara itu memiliki sistem pertahanan yang bisa memanipulasi lingkungan. Banyak teman teman ku yang dulu dan teman teman Dasha yang mati karena mereka memaksakan diri untuk bergerak cepat."

"Tom benar," Dasha menimpali sambil mendekati mereka. "Jalur menuju Menara dari sini adalah medan bunuh diri. Ada wilayah yang disebut 'Lembah Tanpa Suara' di mana oksigen bisa menghilang tiba-tiba. Kami kehilangan tiga orang di sana."

"Lalu apa? Kita hanya duduk diam di sini menunggu mati?" bentak Arlo, rasa frustrasinya memuncak.

Melihat ketegangan itu, Dokter Luz melangkah maju ke tengah lingkaran. Jas laboratoriumnya yang kotor tampak kontras dengan pencahayaan biru lumut. "Kalian tidak akan pernah sampai ke sana jika kalian tidak mengerti apa sebenarnya tempat ini," suara Luz yang dingin dan berwibawa seketika membungkam semua orang.

Bagi Dasha, Rony, dan Becca, ini adalah pertama kalinya mereka melihat Dokter Luz. Mereka menatapnya dengan penuh kecurigaan. "Siapa wanita ini?" tanya Becca sambil menggenggam pisaunya.

"Dia adalah satu-satunya orang yang punya jawaban," jawab Arlo pendek. "Dokter, ceritakan pada mereka. Ceritakan semua yang kau katakan padaku di Saka."

Luz menghela napas panjang, matanya menatap satu per satu remaja yang terjebak di sana. "Dunia ini bukan sekadar hutan atau penjara. Ini adalah Sektor Eksperimental 0-A. Ayah Arlo membangun tempat ini sebagai ekosistem tertutup untuk menyelamatkan umat manusia dari kepunahan akibat perang biologis di dunia luar. Namun, sebuah pengkhianatan dari orang kepercayaannya mengubah segalanya. Virus predator disuntikkan ke dalam sistem Artificial Intelligence Menara, mengubah program pelindung menjadi program pemusnah."

Luz menatap Tom dan Dasha. "Kalian dikirim ke sini bukan untuk dibunuh secara acak. Kalian adalah subjek dengan profil genetik tertentu yang dianggap mampu beradaptasi dengan lingkungan baru. Helikopter yang dulu mengirimkan suplai pada Harry adalah bagian dari jalur logistik yang kini telah diputus oleh para pengkhianat di luar sana. Mereka ingin melihat berapa lama kalian bertahan sebelum mereka 'membersihkan' tempat ini dan mengambil data risetnya."

Suasana menjadi hening seketika. Finn yang biasanya suka bercanda, kini hanya bisa terdiam dengan wajah pucat. Rayden mulai gemetar lagi, ia memeluk tas pancinya erat-erat seolah benda itu bisa melindunginya dari kenyataan pahit ini. "Jadi... kita ini hanya kelinci percobaan?" bisik Rayden dengan suara gemetar.

"Ya," jawab Luz tanpa ragu. "Dan alasan kenapa Menara mengejar kalian, terutama Arlo, adalah karena Arlo memegang kunci akses biometrik terakhir untuk mematikan sistem pusat. Itulah kenapa kita harus ke sana. Bukan hanya untuk keluar, tapi untuk mematikan mesin pembunuh itu."

Arlo mengepalkan tangannya. Penjelasan Luz membuat darahnya mendidih. "Kalau begitu, kita harus bergerak sekarang! Jika Menara sedang mengamati kita, kita harus menyerang sebelum mereka siap!"

Arlo hendak melangkah mengambil barang-barangnya, namun sebuah tangan menahan lengannya. Itu adalah Lira.

"Arlo, berhenti," ucap Lira lembut namun tegas. Ia menunjuk ke arah Selene yang baru saja mencoba untuk duduk namun kembali meringis kesakitan. "Kita tidak bisa pergi secepat ini. Lihat Selene. Dia jatuh dari ketinggian puluhan meter. Meskipun lumut ini menahan jatuhnya, tulang rusuknya mungkin retak, dan dia masih sangat lemah. Jika kau memaksanya berjalan sekarang melalui medan berat yang dikatakan Tom, kau sama saja dengan membunuhnya."

Arlo menatap Selene. Mata gadis itu tampak sayu, namun ia berusaha memberikan senyum kecil untuk menenangkan Arlo. Arlo menarik napas panjang, bahunya merosot. Ego dan ambisinya untuk segera selesai kalah oleh rasa sayangnya pada Selene.

"Baiklah," Arlo akhirnya menyerah. "Kita akan tetap di sini untuk sementara. Kita pindah sepenuhnya ke perkemahan Dasha. Kita harus menyatukan semua persediaan kita dan mengobati yang terluka."

Malam itu, kelompok Arlo resmi bergabung dengan kelompok Dasha di base dasar jurang. Mereka mulai memindahkan sisa-sisa barang dari jalur pendakian ke tenda-tenda darurat Dasha yang lebih kokoh. Becca dan Naya mulai bekerja sama meracik obat-obatan, sementara Zephyr tetap berada di dekat Naya, sesekali membantunya mengangkat peralatan medis yang berat.

Meskipun mereka belum bergerak maju, bergabungnya dua kelompok ini menciptakan rasa kekeluargaan yang baru. Cicilia terlihat lebih tenang saat berbincang dengan Lily, meskipun sesekali ia masih melirik Naya dengan tatapan dingin.

Di bawah naungan lumut bercahaya, mereka mencoba memejamkan mata. Mereka tahu, ini adalah ketenangan terakhir sebelum mereka harus menghadapi perjalanan paling mematikan dalam hidup mereka. Di atas sana, di balik tebing yang menjulang, Menara merah terus berkedip, menunggu mangsanya keluar dari persembunyian.

1
only siskaa
cmngtt KK jngn lupa mmpir di karya aku yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!