NovelToon NovelToon
Jerat Sumpah Sang Mantan

Jerat Sumpah Sang Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Menikahi tentara / Ibu susu / Mantan
Popularitas:21k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.

Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.

Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.

Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.

Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?

"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Siasat Di Balik Perhatian

     Senja itu, Daviko kembali ke dalam rumah dengan langkah yang terasa lebih berat. Tekad yang tadi ia gumamkan di taman belakang masih bergema di kepalanya. Jika Saliha ingin pergi setelah dua tahun, maka Daviko harus memastikan bahwa dalam waktu dua tahun itu, ikatan antara Saliha dan Kaffara, maupun dirinya, menjadi sesuatu yang mustahil untuk diputuskan.

     ​Malam harinya, meja makan yang biasanya hanya diisi oleh Daviko seorang diri, kini terasa berbeda. Saliha biasanya makan di dapur bersama Bi Tita setelah urusannya dengan Kaffara selesai, namun kali ini Daviko memanggil Bi Tita.

     ​"Bi, panggil Saliha ke sini. Suruh dia makan malam bersama saya," titah Daviko sambil merapikan letak sendoknya.

     ​Bi Tita sempat tertegun. "Tapi Den, Mbak Saliha sedang menidurkan Kaffara di bawah."

     ​"Kaffara bisa ditinggal sebentar dengan baby monitor. Katakan ini perintah saya!" Suara Daviko terdengar tegas, tapi tidak kasar.

     ​Tidak lama kemudian, Saliha datang dengan langkah ragu. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna abu-abu yang membuat wajahnya tampak semakin pucat di bawah sinar lampu ruang makan. Ia berdiri di ujung meja, tak berani duduk.

     ​"Bapak memanggil saya?" tanya Saliha lirih.

     ​"Duduklah, Saliha. Kita makan malam bersama," jawab Daviko tanpa menatapnya, pura-pura sibuk dengan hidangan di depannya.

     ​"Tapi Pak, saya lebih nyaman makan di belakang bersama Bi Tita." Saliha mencoba menolak dengan halus.

     ​Daviko meletakkan garpunya, lalu menatap Saliha dalam-dalam. "Di rumah ini, saya yang membuat aturan. Dan malam ini, saya ingin teman makan. Apakah itu terlalu sulit untuk dipenuhi oleh seorang pengasuh?"

     ​Mendengar kata 'pengasuh', Saliha terdiam. Ia menarik kursi dengan perlahan dan duduk di posisi terjauh dari Daviko. Suasana makan malam itu sangat sunyi, hanya terdengar denting sendok yang beradu dengan piring porselen. Namun, di balik kesunyian itu, Daviko diam-diam memperhatikan cara Saliha makan, yang sangat sopan dan teratur, persis seperti Saliha yang ia cintai dulu.

     ​"Saliha," panggil Daviko memecah keheningan.

     ​Saliha berhenti mengunyah. "Iya, Pak?"

     ​"Besok saya ada acara santai dengan beberapa rekan kantor. Saya ingin membawa Kaffara menghirup udara segar. Dan tentu saja, kamu harus ikut untuk menjaganya," ujar Daviko.

     ​Sebenarnya ini adalah alasan Daviko saja. Ia hanya ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan Saliha di luar rumah, tempat di mana tidak ada sekat majikan dan pelayan yang terlalu kaku.

     ​"Apakah harus saya, Pak? Bukankah Bapak bisa membawa Bi Tita?" Saliha mencoba menghindar. Instingnya mengatakan ada yang tidak beres dengan ajakan ini.

     ​"Bi Tita sudah tua, dia akan cepat lelah. Kamu yang paling tahu kebutuhan Kaffara. Jadi, tidak ada alasan untuk menolak," pungkas Daviko menutup pembicaraan dengan nada tidak terbantahkan.

     ​Saliha hanya bisa menghela napas pasrah. Ia merasa Daviko mulai sering memojokkannya dengan perintah-perintah yang sebenarnya bisa diwakilkan.

     ​Keesokan harinya, mereka berangkat menuju sebuah taman outdoor yang cukup eksklusif di pinggiran kota. Daviko menyetir sendiri mobilnya, sementara Saliha duduk di kursi belakang bersama Kaffara.

     Sepanjang perjalanan, Daviko terus melirik lewat spion tengah, melihat bagaimana Saliha begitu telaten mengajak Kaffara bercanda.

     ​Sesampainya di sana, Daviko tidak langsung bergabung dengan rekan-rekannya. Ia justru mengajak Saliha berjalan-jalan di area yang lebih sepi, di bawah pepohonan rindang.

     ​"Biar saya yang gendong Kaffara," ujar Daviko tiba-tiba sambil mengulurkan tangan.

     ​Saliha memberikan bayi itu dengan hati-hati. Melihat Daviko menggendong Kaffara dengan pakaian santainya, Saliha mendadak teringat pada bayangan keluarga kecil yang dulu sempat mereka impikan. Dadanya terasa sesak. Ia segera membuang muka, menatap hamparan rumput hijau agar air matanya tidak jatuh.

     ​"Kenapa diam saja?" tanya Daviko sambil menimang Kaffara. "Kamu tidak suka tempat ini?"

     ​"Tempatnya bagus, Pak. Kaffara sepertinya senang," jawab Saliha seadanya.

     ​"Bukan Kaffara, tapi kamu. Kamu senang?" Daviko menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Saliha.

     ​Saliha tersentak. Pertanyaan itu terlalu personal baginya. "Kesenangan saya tidak penting, Pak. Yang penting adalah kenyamanan Kaffara."

     ​Daviko tersenyum kecut. Lagi-lagi benteng itu. "Saliha, sampai kapan kamu akan terus bersembunyi di balik nama Kaffara? Apakah kamu benar-benar sudah menutup hati untuk sekadar berteman denganku?"

     ​Saliha menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk menatap mata pria yang pernah menjadi dunianya itu. "Berteman dengan Anda adalah kemewahan yang tidak sanggup saya bayar, Pak Viko. Saya tahu posisi saya. Dan saya harap Bapak juga ingat posisi saya di rumah itu."

     ​"Aku ingat, Saliha! Aku sangat ingat!" Suara Daviko meninggi, membuat Kaffara sedikit merengek. Daviko segera merendahkan suaranya kembali sambil menenangkan putranya. "Tapi apakah salah jika aku ingin memperbaiki apa yang rusak? Apakah salah jika aku ingin kamu merasa nyaman, bukan sebagai pekerja, tapi sebagai manusia?"

     ​"Perbaikan itu sudah terlambat, Pak. Sekarang, mari kita fokus pada Kaffara. Jika Bapak sudah selesai berjalan-jalannya, sebaiknya kita kembali ke mobil. Udara mulai dingin, tidak baik untuk Kaffara," ujar Saliha dengan nada dingin yang menusuk.

     ​Saliha segera mengambil alih Kaffara dari gendongan Daviko. Saat tangan mereka bersentuhan sesaat, sebuah getaran aneh merambat ke sekujur tubuh mereka berdua. Saliha secepat kilat menarik tangannya dan berjalan mendahului Daviko.

     ​Di belakang, Daviko hanya bisa mengepalkan tangan di saku celananya. Ia merasa sangat tidak berdaya. Ia memiliki segalanya, pangkat, harta, dan kekuasaan, namun ia tidak bisa memerintah hati seorang wanita di depannya untuk sekedar kembali dekat dengannya.

     ​Namun, pengakuan Saliha di dapur kemarin masih terngiang-ngiang. Mencari pendamping hidup...

     ​"Tidak akan kubiarkan," bisik Daviko pada angin yang berhembus. "Jika Kaffara adalah satu-satunya alasan yang bisa menahanmu, maka aku akan memastikan Kaffara tidak akan pernah bisa lepas darimu. Dan itu artinya, kamu juga tidak akan bisa lepas dariku."

     ​Rencana busuk tapi penuh cinta, mulai tersusun di otak Daviko. Ia sadar, caranya ini mungkin egois. Tapi kehilangan Saliha untuk kedua kalinya adalah kematian baginya. Ia akan menggunakan segala cara agar waktu dua tahun itu tidak pernah berakhir menjadi perpisahan.

     ​Malam itu, saat mereka sampai di rumah, Saliha langsung masuk ke kamarnya tanpa sepatah kata pun. Ia mengunci pintu dan merosot di balik daun pintu. Jantungnya masih berdegup kencang akibat sentuhan tangan Daviko tadi.

     ​"Ya Allah, kuatkan hamba... Jangan biarkan hamba jatuh lagi pada pria yang sama. Hamba tidak ingin hancur untuk kedua kalinya." Tangis Saliha pecah dalam kesunyian kamar.

     ​Tanpa ia tahu, di lantai atas, Daviko juga sedang menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan hancur yang sama. Mereka berada di bawah atap yang sama, mencintai bayi yang sama, namun dipisahkan oleh jurang masa lalu yang sangat dalam.

1
Arin
Takut banget harta Daviko benar-benar jatuh ke tangan Saliha😁😁😁. Padahal kepikiran aja gak Saliha. Dia udah sakit hati banget ke Daviko, Tari. Berarti dirimu yang berusaha deketin kakak iparmu demi hartanya, biar gak jatuh ke orang lain. Kalau bisa ya dirimu yang dilirik Daviko, jadi hartanya aman....
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya 🤪
Farid Atallah
maksih up nya Thor, ceritanya bagus sekali ☺️
semangat ya😚
Farid Atallah: semoga hari ini bisa up lagi 🤭
total 2 replies
Oki Rulianti
alhamdulillah,,up nya bnyak banget..cpet2 di sah kan aja..🤭🤭
Nasir: Ditunggu ya.
total 1 replies
Ai Oncom
Makasi kak dah up banyak, tpi ttp berasa kurang..🤭 ttp semangat di tunggu up selanjutnya..😄
Nasir: Mksh ya Kak... 🥰🥰🥰
total 3 replies
Pipit Rahma
penasaran keluarga saliha kemnh. bukannya ada kakaknya?
Nasir: Orang tuanya sudah meninggal, kakak Saliha yg perempuan setelah menikah, dibawa merantau oleh suaminya ke Pulau Sulawesi. Kisahnya sudah saya selipkan sedikit di bab2 awal. Tapi gak dijabarkan secara gamblang. Begitu Kak... lanjut ya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
Alhamdulillah.. Terima kasih up nya kak..
Nasir: Sama2 Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Pipit Rahma
lanjut semangat....
Nasir: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Ai Oncom
koq blm up kak..?
Farid Atallah
kok blm up sih Thor 😥
Nasir: Besok aja ya Kak. Jam segini idenya msh ngambang.. 🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Farid Atallah
semangat selalu 🤭
Farid Atallah
di tunggu up selanjutnya ya Thor 😚
Nasir: Siap Kak... mksh dukungannya.... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Mama lilik Lilik
nah,mentingin ego sama kemakan omongan mantan mertua nya,tinggal penyesalan,rasain tuh🤭
Dini Hidayani
lanjut dong lagi ramai nih
Nasir: Iya Kak... nanti ya....
total 1 replies
Ai Oncom
lanjut donk kak..🙏
Nasir: Hehe... nanti sore ya....
total 1 replies
Tini Uje
lanjott thor..tpi ntar dlu deh masih ngos ngosan 😅🫰
Nasir: Hehheeh.... tenang Kak.... 🙏🙏
total 1 replies
Ai Oncom
makin seru ceritanya..
Nasir: Mksh Kak..
total 1 replies
Tini Uje
dipinggirin dlu duo dajjal npa thor..pokus salihah sama daviko aja dlu 🤭
Nasir: Hehehh..... 👍👍👍👍
total 1 replies
Arin
Makanya hati-hati dengan mulut.... Sekali terucap hal yang menyakitkan hati akan terus terasa dan diingat....
Nasir: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Afternoon Honey
sudah saya kirim ☕ tambah 🌹
Nasir: Wahhhh.... mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!