Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG: Di Antara Runtuhannya Harapan dan Doa yang Salah
Sebelum dosa memiliki nama, dan sebelum malam belajar untuk menyembunyikan rahasia, takdir telah lebih dulu menenun sebuah lelucon yang kejam.
Dunia ini hanyalah panggung sandiwara yang usang, tempat boneka-boneka bernapas menari di atas tali yang rapuh. Di salah satu sudut panggung yang paling kelabu, di bawah langit yang selalu murung seolah menahan tangis ribuan tahun, ada sesuatu yang tertidur — namun tidak terlelap.
Ia adalah anomali. Sebuah kesalahan yang terukir indah di rahim semesta. Terlahir dari percampuran dua darah yang terlarang, ia adalah badai yang dipaksa masuk ke dalam raga manusia.
Ia menunggu di dalam keheningan batu, di sebuah penjara tanpa jeruji yang dibangun oleh cinta yang berkhianat. Ratusan musim berganti, daun-daun jatuh dan tumbuh kembali, kerajaan runtuh dan gedung pencakar langit berdiri, namun ia tetap di sana. Menghitung detik dengan detak dendam yang tak pernah melambat.
Ia adalah karma yang bersabar. Sebuah belati yang disimpan di balik punggung waktu, menunggu saat yang tepat untuk menghunuskan dirinya.
Dan nun jauh di sana, di tengah hiruk-pikuk kota yang bising namun tuli, ada sebutir cahaya yang nyaris padam. Sebuah jiwa yang retak, berjalan terseok-seok menyeret bayangannya sendiri. Ia adalah bunga yang dipaksa tumbuh di atas aspal panas; layu sebelum sempat mekar, hancur sebelum sempat harum. Ia tidak tahu bahwa napasnya yang berat adalah kunci yang dicari-cari oleh sang kegelapan. Ia tidak tahu bahwa air matanya adalah satu-satunya mantra yang mampu mematahkan segel abadi.
Mereka adalah dua garis paralel yang dipaksa bengkok oleh keputusasaan.
Satu mencari akhir dari rasa sakit, satu mencari awal dari kehancuran.
Ketika langit malam itu akhirnya tak sanggup lagi menahan beban air mata, dan hujan turun membasuh kota yang penuh dosa, sebuah perjanjian tak kasat mata mulai tergores. Bukan dengan tinta, melainkan dengan darah masa lalu yang menuntut bayaran.
Penjara telah terbuka.
Sang mimpi buruk telah terjaga.
Dan ia tersenyum, bukan karena bahagia, melainkan karena ia tahu...
...bahwa kali ini, domba yang tersesat itu akan ia tuntun bukan menuju padang rumput, melainkan menuju altar pengorbanan yang paling megah.
Kisah ini bukan tentang keselamatan. Ini adalah tentang betapa indahnya cara dunia ini terbakar.
.
.
.
Dunia ini tidak pernah benar-benar menginginkan keberadaanku. Aku tahu itu sejak pertama kali aku menyadari bahwa langit di atas kepalaku selalu tampak lebih rendah dibandingkan langit yang menaungi orang lain. Warnanya bukan biru cerah seperti dalam lukisan-lukisan Renaissance yang sering kulihat di buku seni perpustakaan, melainkan abu-abu—sebuah kanvas kotor yang lupa dicuci oleh Tuhan.
Namaku Lunaris Skyler, sebuah nama yang terdengar seperti janji tentang cahaya bulan yang menerangi langit malam, tapi hidupku lebih mirip gerhana yang tak kunjung usai.
Hari ini, hujan turun lagi. Bukan hujan yang romantis, bukan jenis hujan yang membuat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh sambil tertawa renyah. Ini adalah hujan yang marah. Airnya jatuh menghantam aspal seperti ribuan jarum kaca, mencuci dosa kota ini namun gagal membersihkan noda yang melekat di jiwaku.
Aku berjalan menyusuri trotoar yang retak, membiarkan air merembes masuk ke dalam sepatu ketsku yang sudah usang. Dingin. Tapi rasa dingin di kakiku tidak sebanding dengan kebekuan yang bersarang di rongga dadaku. Orang-orang berlalu-lalang di sekitarku, bersembunyi di balik payung warna-warni mereka, tampak seperti jamur-jamur plastik yang tumbuh subur di atas bangkai kota. Mereka tidak melihatku. Bagi mereka, aku hanyalah spasi kosong di antara paragraf kehidupan mereka yang sibuk. Sebuah bayangan yang lewat, tak bernama, tak berwajah.
Dan mungkin, memang begitulah seharusnya.
Di sekolah, aku adalah hantu. Bukan hantu yang menakutkan, melainkan hantu yang menyedihkan. Aku ada untuk menjadi alas kaki bagi mereka yang terlahir dengan sendok perak di mulutnya. Aku ada untuk menjadi latar belakang yang buram agar sang "Pangeran" dan "Ratu" bisa bersinar lebih terang.
Bahkan Ibu... ah, Ibu. Wanita dengan punggung yang tak pernah tegak karena terlalu sering membungkuk pada majikan. Ia mencintaiku, aku tahu itu. Tapi cintanya terasa seperti rantai. Setiap kali ia memintaku untuk bersabar, setiap kali ia memintaku untuk menelan harga diri demi "masa depan", rasanya seperti ia sedang memintaku untuk perlahan-lahan mematikan nyala api yang tersisa dalam diriku.
"Bertahanlah, Lunaris. Sedikit lagi," Bisiknya setiap malam.
Tapi "sedikit lagi" itu tak pernah berakhir. Garis finis yang ia janjikan selalu bergerak menjauh setiap kali aku melangkah.
Aku berbelok ke sebuah gang sempit yang jarang dilewati orang. Bau sampah basah dan lumut menyeruak, tapi anehnya, aku merasa lebih nyaman di sini. Di sini sepi. Di sini tidak ada mata yang menghakimi, tidak ada tawa yang mengejek, tidak ada ekspektasi yang mencekik.
Langkahku membawaku semakin jauh dari pusat kota yang bising, menuju distrik tua yang telah lama ditinggalkan. Konon, tempat ini dulu adalah pusat peradaban sebelum kota modern dibangun di atasnya. Sekarang, ia hanyalah kumpulan tulang-belulang beton dan batu bata yang menyerah pada waktu. Gedung-gedung runtuh seperti orang tua yang lelah berdiri, jendela-jendela pecah menganga seperti mulut yang berteriak dalam diam.
Ada sebuah ironi yang pahit, aku merasa memiliki kekerabatan dengan reruntuhan ini. Kami sama-sama rusak, sama-sama dilupakan, dan sama-sama menunggu waktu untuk benar-benar roboh.
Aku berhenti di depan sebuah bangunan yang berbeda dari yang lain. Sebuah bangunan tua—mungkin kuil, mungkin makam—yang sebagian besar tertimbun tanah dan akar pohon beringin liar. Batu-batunya hitam legam, menyerap cahaya alih-alih memantulkannya. Ada aura aneh yang menguar dari tempat ini, sebuah getaran halus yang membuat bulu kuduku meremang. Bukan ketakutan, melainkan... panggilan.
Seolah-olah ada sesuatu di dalam sana yang berbisik, "Kemarilah, jiwa yang patah. Di sini kau bisa beristirahat."
Aku melangkah masuk melalui celah dinding yang runtuh. Bagian dalamnya gelap, hanya diterangi oleh bias cahaya suram yang menerobos masuk dari retakan di atap. Udara di sini berat, berbau debu kuno dan sesuatu yang metalik — seperti darah yang telah mengering selama berabad-abad.
Kakiku gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena kelelahan yang luar biasa. Aku lelah berpura-pura kuat. Aku lelah menjadi pion. Aku lelah menjadi putri seorang pelayan yang harus selalu tahu diri.
Aku merosot duduk di lantai batu yang dingin, bersandar pada sebuah pilar yang penuh dengan ukiran aneh. Tanganku merogoh saku jaket, mengeluarkan benda yang sejak tadi kugenggam erat, sebuah pecahan kaca tajam yang kupungut di jalan.
Aku menatap benda itu. Ia memantulkan bayangan mataku yang kosong. Hijau yang pudar. Hijau yang layu.
"Apa gunanya?" tanyaku pada kegelapan. Suaraku parau, pecah di tenggorokan. "Jika takdir memang ada, kenapa ia begitu membenciku?"
Air mata akhirnya jatuh. Satu tetes, dua tetes, lalu mengalir deras seperti hujan di luar sana. Tapi air mata ini terasa panas, membakar pipiku. Aku menekan pecahan kaca itu ke telapak tanganku, cukup kuat hingga kulitku robek. Rasa perih itu menyentakku, tapi juga memberiku kepuasan yang ganjil. Setidaknya, rasa sakit ini nyata. Setidaknya, rasa sakit ini milikku sendiri, bukan sesuatu yang diberikan orang lain.
Darah segar menetes dari telapak tanganku, jatuh ke lantai batu yang hitam.
Tes.
Tes.
Tes.
Suara tetesan itu menggema aneh di ruangan luas ini, jauh lebih keras dari yang seharusnya. Dan saat darahku menyentuh ukiran di lantai, sesuatu terjadi.
Tanah bergemuruh pelan. Bukan gempa, tapi seperti detak jantung raksasa yang baru saja dibangunkan dari tidur panjang. Angin dingin berhembus entah dari mana, mematikan suara hujan di luar, menciptakan keheningan yang absolut. Udara di sekitarku memadat, seolah-olah gravitasi tiba-tiba melipatgandakan kekuatannya.
Lalu, di tengah kegelapan ruangan itu, sepasang mata terbuka.
Warnanya perak. Perak cair yang bersinar, dingin, dan tajam seperti pedang yang baru ditempa. Mata itu menatapku, menembus kulit, daging, hingga ke tulang sumsumku.
Aku terdiam, napasku tercekat. Rasa takut merayapi punggungku, tapi anehnya, kakiku menolak untuk lari.
Dari balik bayang-bayang pilar di depanku, sesosok tubuh mulai terwujud. Ia bukan monster bertaring atau hantu berwajah rusak seperti yang kubayangkan dalam mimpi burukku. Tidak. Ia... indah. Indah dengan cara yang mengerikan.
Seorang pemuda. Rambut hitamnya panjang dan berantakan, seolah ia baru saja bangun tidur setelah pesta yang panjang. Pakaiannya adalah campuran aneh antara jubah kuno yang compang-camping dan aura keagungan yang tak bisa disembunyikan. Ia meregangkan tubuhnya, sendi-sendinya berbunyi pelan, seolah-olah ia sudah membeku dalam posisi itu selama seribu tahun.
Ia melangkah maju, dan anehnya, langkah kakinya tidak menimbulkan suara sama sekali. Ia berhenti tepat di depanku, menunduk menatapku yang masih terduduk gemetar dengan tangan berdarah.
Senyum miring terbentuk di bibirnya. Senyum yang tidak menjanjikan keselamatan, tapi menawarkan sesuatu yang jauh lebih menggoda, pembalasan.
"Manusia," Suaranya rendah, serak namun melodius, seolah ia sedang membaca puisi kematian. "Kau punya sopan santun yang buruk. Membangunkan seseorang dengan bau darahmu yang menyedihkan itu."
Ia berjongkok, menyejajarkan wajahnya denganku. Mata peraknya menari-nari di wajahku, seolah sedang membaca sebuah buku yang membosankan namun terpaksa ia selesaikan.
"Kau datang ke sini untuk mati?" tanyanya, nada suaranya terdengar santai, bahkan sedikit mengejek. "Atau kau datang untuk membuat kesepakatan dengan iblis?"
Aku tidak bisa menjawab. Lidahku kelu. Tapi di dalam hatiku, di sudut tergelap jiwaku yang selama ini kutekan, ada suara yang berteriak lantang. Suara yang menginginkan kehancuran bagi mereka yang telah menghancurkanku.
Pemuda itu memiringkan kepalanya, seolah bisa mendengar teriakanku. Ia mengulurkan tangannya yang pucat ke arahku.
"Namaku Sirius," Katanya ringan, seolah sedang memperkenalkan diri di kedai kopi, bukan di dalam kuil terkutuk. "Dan kelihatannya, Nona Kecil, kau baru saja membuat kesalahan terbesar —atau mungkin terbaik— dalam hidupmu yang menyedihkan itu."
Pada detik itu, di bawah tatapan mata peraknya yang menghipnotis, aku menyadari satu hal. Doaku telah didengar. Bukan oleh Tuhan yang selama ini kuagungkan dalam diam, melainkan oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih gelap.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak peduli. Jika surga menutup pintunya untukku, maka aku akan berjalan bergandengan tangan dengan neraka.
Aku menatap tangan pucat itu. Darah di telapak tanganku masih mengalir, merah kontras dengan kulitnya yang putih.
Ini bukan akhir ceritaku.
Ini adalah awal dari bencana.