"Apakah kamu kira tempurung pantas merangkai permata? Mana mungkin anakku pantas bersanding dengan gadis miskin tak berpunya seperti dirimu!"
Runi ternhenyak menahan segala rasa akit di hatinya atas hinaan yang di lontarkan oleh nenek dari bayi yang di kandungnya.
"Mas, kamu akan bertanggung jawab 'kan?" tanya runi pada lelaki yang telah menodai dirinya. meskipun ia sangat mencintai lelaki itu, tetapi tak pernah ada niat sedikitpun untuk melakukan perbuatan dosa. semua yang terjadi karena paksaan oleh lelaki itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Risnawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ungkapan perasaan Runi
"Kenapa, kamu sudah ngantuk?" tanya Yandra saat kedapatan Runi sedang menatap dirinya.
Runi tersenyum sembari menggelengkan kepala. "Aku hanya ingin menatap wajah tampan mas Yandra," jawab terpesona.
Yandra terdiam sembari mengedikkan kedua bahunya. Entahlah, entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Apakah orang hamil memang suka aneh begitu?
"Mas?" panggilan Runi.
"Ya?" jawab Yandra menoleh sesaat.
"Jika hasil tes DNA itu sudah keluar, dan menyatakan bayi ini anak kamu. Lalu apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Runi ingin tahu.
"Perasaan pertanyaan seperti ini sudah pernah kamu utarakan. Kenapa suka sekali mengulang," jawab Yandra acuh.
"Aku hanya ingin jawaban yang jujur dari mas Yandra," timpal Runi.
"Kamu ingin aku jujur seperti apalagi? Aku sudah jawab, aku akan bertanggung jawab atas bayi itu."
"Apakah hanya untuk bayi ini saja? Apakah mas tidak ingin bertanggung jawab juga pada diriku?"
Yandra menghentikan pekerjaannya. Ia menatap runi lekat.
"Bukankah dengan menikahimu sudah bentuk tanggung jawab? Lalu yang seperti apalagi yang kamu inginkan?"
"Aku juga ingin cinta dari kamu, mas," jawab Runi membuat Yandra ternganga tidak percaya.
"Runi sudahlah, ini sudah cukup larut. Ayo sekarang kamu kembali ke tempat tidur." Yandra tak ingin membahas hal itu sekarang. Untuk saat ini ia belum bisa memastikan perasaannya terhadap Runi.
Runi enggan beranjak. Ia sangat berharap jawaban dari sang suami. Sepertinya Yandra bukanlah tipe lelaki yang mudah jatuh cinta. Mungkin dia bisa memperlakukan wanita dengan baik, tetapi tidak dengan hatinya. Karena wanita secantik Gracia saja, Yandra tidak bisa membalas perasaannya, apalagi dirinya yang bukan siapa-siapa.
"Kenapa masih melamun? Ayo sekarang tidur!" titah Yandra berdiri lebih dulu untuk membantu Runi kembali ke tempat tidurnya.
Runi terpaksa mengikuti perintah sang suami. Ia tidak boleh egois, karena cinta tidak bisa di paksakan. Dengan Yandra bersikap baik saja ia sudah sangat bersyukur.
"Pelan-pelan," ucap Yandra membantu Runi berbaring.
Yandra memperbaiki selang infus yang sedikit bermasalah, mungkin karena Runi sering bergerak sehingga membuat air infusnya macet.
Setelah selesai, Yandra hendak kembali ke sofa. Ada beberapa soal lagi yang belum selesai ia kerjakan.
"Mas?" panggil Runi membuat niat Yandra urung.
"Ada apa?" tanya Yandra.
"Apakah setelah bayi kita lahir, mas akan menceraikan aku?" tanya rundi menatap sendu.
Yandra menghela nafas dalam. Kenapa ada saja yang di pertanyakan oleh wanita hamil ini.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu? Apakah kamu ada niat untuk kita berpisah? Atau kamu sudah ada janji dengan pilot itu?"
"Ng-nggak. Aku nggak ada niat seperti itu. bahkan aku tidak pernah lagi berkomunikasi dengan mas kiram," jawab Runi jujur.
"Yasudah kalau begitu. Jangan bertanya yang aneh-aneh lagi."
"Mas!" Runi meraih tangan lelaki itu. Sungguh ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya. Ia takut tidak sempat mengatakan tentang rasa cinta yang selama ini ia pendam sendiri.
"Ada apalagi, Runi?" tanya Yandra mencoba untuk tetap bersabar.
Runi tak lantas menjawab. Ia menatap wajah Yandra begitu lekat. Perlahan ia meraih tangan Yandra lalu meletakkan di pipinya.
"Mas, aku.... Aku mencintaimu," ucap Runi membuat Yandra terpaku.
Yandra membisu. Ia tak tahu harus bagaimana menanggapinya. Sejak kapan Runi memiliki perasaan pada dirinya?
"Maaf jika kejujuranku membuat mas tidak suka." Runi masih menyatukan tangannya dengan tangan Yandra.
Bersambung....