NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENCARI PEMBUNUHNYA

"Genevieve, tenanglah. Alaric tidak pernah sekalipun menolak apa pun yang kuberikan padanya. Dia adalah putra yang sangat berbakti dan penurut kepadaku. Aku yakin, dia juga pasti akan menerimamu dengan tangan terbuka," ucap Ratu Isabelle sambil menepuk pelan lengan Lady Genevieve, mencoba menenangkan kegelisahan gadis cantik pilihannya itu dengan senyum penuh tipu daya.

Sementara itu, di dalam kamar pribadi pangeran yang luas dan diterangi cahaya temaram dari perapian...

"Hormat hamba, Yang Mulia Pangeran."

Vion menoleh dan melihat General Von Gardo baru saja masuk. Pria paruh baya dengan bekas luka di pipinya itu segera membungkuk dalam, meletakkan satu tangan di dadanya sebagai tanda hormat ksatria kepada tuannya.

Vion melangkah mendekat dengan cepat. Tanpa ragu, ia meraih kedua bahu kaku sang Jenderal, memaksanya untuk tegak kembali. Ia tidak terbiasa dengan formalitas berlebihan yang membuatnya merasa asing.

"Jangan terlalu kaku dan sopan padaku, Jenderal. Ayo, duduk di sini," ucap vion santai.

Tanpa mempedulikan protokol, vion mencekal lengan zirah perak Von Gardo dan menyeret ksatria tangguh itu untuk duduk di tepi tempat tidurnya yang empuk dan tertutup kelambu sutra.

Von Gardo tampak sangat terkejut. Matanya membelalak menatap pangerannya. Seumur hidupnya melayani keluarga kerajaan, belum pernah ada seorang anggota dinasti Valerius yang memperlakukan seorang prajurit sepertinya dengan cara yang begitu akrab—bahkan cenderung tidak sopan menurut aturan istana.

"Tapi, Yang Mulia... ini tidak pantas. Kursi ksatria ada di sana, hamba tidak seharusnya duduk di tempat tidur Anda," protes Von Gardo dengan suara yang bergetar karena bingung.

Vion hanya mendengus, duduk di samping sang Jenderal sambil menyandarkan punggungnya.

"Aturan itu membosankan, Jenderal. Aku butuh teman bicara yang jujur, bukan pajangan yang hanya bisa membungkuk."

Seketika itu juga, Von Gardo tersentak. Ia melangkah mundur dengan cepat, hampir menabrak tiang tempat tidur yang tinggi, lalu kembali membungkuk sedalam mungkin.

"Hamba terlalu lancang, Yang Mulia. Mohon ampuni ketidaksopanan hamba yang telah berani duduk sejajar dengan Anda," ucapnya dengan suara berat yang dipenuhi rasa bersalah.

Vion menghela napas panjang, bahunya merosot lesu. Ia hanya ingin seorang teman. Seseorang yang bisa diajak bicara apa adanya, selayaknya teman-teman tongkrongannya di Jakarta dulu yang tak perlu sungkan hanya untuk sekadar duduk bareng. Tapi di sini, kasta seolah menjadi tembok raksasa yang mustahil ditembus.

"Ya sudah, terserah kau saja," gumam vion menyerah.

"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia," sahut Von Gardo patuh.

Ia perlahan mengangkat kepalanya, menatap lurus ke arah mata sang Pangeran dengan loyalitas yang tak tergoyahkan.

Vion memperbaiki posisi duduknya, menatap tajam sang Jenderal.

"Raja... maksudku, Ayah, mengatakan bahwa kau adalah orang yang berada di lokasi saat kejadian penusukan itu. Benar begitu?"

"Benar, Yang Mulia. Hamba adalah orang pertama yang menemukan Anda di taman mawar belakang kastel," jawab Von Gardo dengan nada yang mendadak berubah serius.

Vion mengangguk pelan, jantungnya mulai berdegup kencang. Ia ingin tahu siapa yang mencoba menghabisi pemilik tubuh ini.

"Jelaskan padaku, seperti apa kejadiannya saat itu. Dan siapa sebenarnya orang yang telah melakukannya?"

Von Gardo terdiam sejenak, ia melirik ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, memastikan tidak ada telinga yang mencuri dengar di balik dinding batu yang dingin itu. Ia menarik napas dalam, seolah sedang menggali ingatan yang sangat buruk

"Baik, Yang Mulia. Jadi begini, kebetulan tepat di tengah malam saat itu adalah jadwal hamba untuk berpatroli. Pasukan hamba sudah berpencar menjaga sayap utama kastel tempat Baginda Raja beristirahat. Sementara itu, hamba berjalan sendirian mengitari koridor menuju The Prince’s Chamber; kamar Anda."

Von Gardo menjeda ceritanya sejenak, tatapannya menerawang.

"Awalnya hamba mendengar suara keributan dari dalam kamar Anda. Hampir saja hamba mendobrak pintu itu, namun hamba mengurungkan niat karena melihat Nona Meiden keluar dengan isak tangis yang hebat. Saat hamba baru saja hendak melangkah pergi, hamba mendengar Anda berteriak meminta pertolongan. Tak lama kemudian, seorang pria dengan jubah pengawal yang tampak asing melompat kabur melalui jendela. Saat itu, hamba tidak terlalu fokus pada teriakan Anda karena hamba lebih memilih untuk mengejar penyusup itu." Kembali Von Gardo menundukkan kepalanya dengan penuh penyesalan.

Vion terdiam, mencoba berpikir dalam. Di sini memang sangat nyaman; ranjang empuk, makanan mewah, dan pelayan yang selalu siap siaga.

Tapi tetap saja, ia merasa lebih nyaman di dunianya sendiri. Di sini, nyawanya selalu berada di ujung tanduk tanpa ia tahu siapa yang benar-benar bisa dipercaya.

"Von Gardo," tanya vion setelah lama terdiam,

"di mana belati yang digunakan untuk menusukku malam itu?"

"Benda itu tersimpan di dalam peti penyimpanan barang bukti, Yang Mulia," jawab Von Gardo.

"Bawakan kemari, aku ingin melihatnya secara langsung."

"Baik, Yang Mulia," patuh Von Gardo. Ia melangkah mundur dengan penuh hormat, lalu keluar dari kamar untuk mengambil benda yang diminta.

Tak lama kemudian, Von Gardo kembali. Namun, bukan belati kecil yang ia bawa, melainkan sebuah pedang panjang yang terbungkus kain beludru hitam. Ia menyerahkan senjata itu dengan kedua tangannya kepada vion.

Pelan-pelan, vion menerima pedang itu. Terasa berat dan dingin di telapak tangannya. Seumur hidupnya, ia sama sekali belum pernah memegang pedang asli; paling banter ia hanya pernah memegang replika plastik saat acara karnaval di sekolahnya dulu.

Ia membolak-balikkan pedang itu, memperhatikan setiap detailnya dengan rasa ngeri sekaligus penasaran.

Tiba-tiba, kedua mata vion melotot lebar. Ia terpaku melihat ukiran lambang yang ada pada pangkal pedang tebal itu—sebuah ukiran kepala serigala dengan mata merah yang sangat detail.

Ingatannya mendadak terlempar kembali ke detik-detik sebelum ia "mati" di dunianya yang asli. Sebelum binatang-binatang liar itu menyerangnya di hutan, ia ingat betul melihat seorang pria misterius berdiri di balik pepohonan, memegang pedang dengan ukiran yang persis sama seperti ini.

Jantung vion berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Dengan gerakan kasar, ia beranjak dari tempat tidurnya, menunjuk ke arah pedang itu dengan tangan gemetar, lalu menatap Von Gardo dengan pandangan penuh selidik dan kemarahan yang meluap.

"Di mana dia?!" teriak vion, suaranya menggelegar di dalam kamar yang sunyi itu.

Von Gardo tampak terkejut melihat reaksi pangerannya yang mendadak meledak. "Siapa yang Anda maksud, Yang Mulia?"

"Pemilik pedang ini! Orang yang membawa pedang ini malam itu! Di mana dia sekarang."

Seketika itu juga, Von Gardo menjatuhkan diri ke lantai, berlutut dengan satu kaki sembari mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas dada. Wajahnya menunduk penuh penyesalan.

"Ampuni hamba, Yang Mulia! Pria itu telah tewas bunuh diri dengan menelan racun sebelum hamba sempat menyeretnya ke hadapan Baginda Raja untuk menjelaskan segalanya," ucapnya dengan nada penuh rasa bersalah.

Vion menyentak napas kasar, menyapu wajahnya dengan satu tangan karena frustrasi. Harapannya untuk mendapatkan jawaban instan musnah seketika.

"Sudahlah, jangan terus-terusan berlutut seperti itu. Cepat bangun," suruhnya dengan nada tidak sabar. Ia sendiri kembali tenggelam dalam pikirannya, mencoba menyambungkan kepingan puzzle yang mustahil ini.

"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Yang Mulia," ucap Von Gardo seraya berdiri tegak kembali.

Ia tetap diam di tempatnya, menatap punggung vion yang berdiri kaku menatap jauh ke luar jendela yang menampilkan pemandangan hutan pinus dan menara-menara kastel yang suram.

"Von Gardo," panggil vion dengan suara yang terdengar lemah dan bimbang.

"Apa kau tahu... kira-kira siapa pandai besi yang menempa pedang ini? Atau di mana simbol serigala ini biasanya dibuat?"

Kedua alis Von Gardo bertaut rapat. Kali ini ia benar-benar dibuat bingung oleh sikap Pangeran Alaric.

Pangeran yang biasanya hanya peduli pada kehalusan kain sutra dan aroma parfum, kini justru menanyakan detail teknis tentang asal-usul senjata tajam dengan nada yang begitu serius.

"Sejujurnya, Yang Mulia... ukiran itu sangat asing. Bukan berasal dari bengkel senjata di wilayah pusat kerajaan kita," jawab Von Gardo dengan penuh rasa ingin tahu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!