NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34

Amara berlari masuk ke dalam rumah bahkan sebelum motor Nicholas benar-benar berhenti sempurna di depan pagar. Ia tidak peduli lagi dengan tasnya yang sedikit miring atau napasnya yang tersengal. Begitu pintu depan terbuka, ia melihat Papa dan Bunda sudah berdiri di ruang tengah, seolah mereka memang sudah menunggu detik-detik kepulangan sang juara.

"Huaaa... Papa... Bunda..." suara Amara pecah. Ia langsung menghambur, menubruk tubuh kedua orang tuanya sekaligus.

"Aku... aku... Juara 1, Bun! Pa! Nilai aku paling tinggi!" isaknya kencang. Tangisannya bukan lagi tangisan sedih atau takut, melainkan luapan dari seluruh beban yang ia pikul selama berbulan-bulan. Bayangan malam-malam ia menangis karena soal kalkulus yang sulit, rasa kantuk yang ia lawan dengan kopi pahit, hingga rasa gugup yang hampir membuatnya pingsan di depan gerbang ujian, semuanya tumpah hari ini.

Bunda memeluk Amara sangat erat, air matanya juga ikut menetes membasahi bahu seragam Amara. "Bunda tahu, Sayang... Bunda tahu kamu kerja keras sekali. Masya Allah, anak Bunda hebat."

Papa mendekap keduanya, mencium puncak kepala Amara berulang kali. "Papa nggak pernah ragu sama kamu, Ifa. Peringkat satu itu bonus dari Allah buat kegigihan kamu. Papa bangga sekali, sangat bangga."

Nicholas berdiri di ambang pintu yang terbuka. Ia tidak masuk, hanya berdiri diam menyaksikan pemandangan yang menyentuh hati itu. Ia melihat bagaimana Amara, gadis yang biasanya galak dan ketus padanya, kini kembali menjadi anak bungsu yang rapuh sekaligus bahagia di pelukan keluarganya.

Ryan muncul dari arah dapur, mengucek matanya yang juga tampak sedikit basah. "Gila lo, Dek... Gue pikir lo bakal lulus mepet, ternyata lo beneran ngebantai semua orang di sekolah!" Ryan mendekat dan mengacak rambut Amara dengan sayang. "Selamat ya, calon mahasiswi UI."

Amara mendongak, masih dengan wajah sembab dan hidung merah. Ia melepaskan pelukannya, lalu matanya mencari sosok Nicholas. Ia melihat Nick tersenyum tipis di depan pintu.

"Kak Nick... aku lulus," ucap Amara lagi, kali ini lebih tenang namun tetap emosional.

"Gue tau, Ra. Udah liat tadi di papan," sahut Nick lembut.

Papa melepaskan pelukannya dan menoleh ke arah Nicholas. "Nicholas, sini masuk. Jangan berdiri di situ saja. Ini juga berkat bantuan kamu yang sering membimbing Ifa belajar."

Nicholas melangkah masuk dengan sopan. "Terima kasih, Om. Tapi ini murni karena Amara yang keras kepala kalau belajar. Saya cuma tukang antar jemput saja."

Sore itu juga, Bunda langsung sibuk di dapur. Tidak ada pesanan katering mewah, hanya masakan rumahan yang dimasak dengan penuh cinta. Aroma rendang dan sayur lodeh mulai memenuhi rumah.

"Hari ini kita makan besar lagi! Ryan, panggil teman-temanmu yang lain kalau mereka ada waktu. Nicholas, kamu jangan pulang dulu ya," perintah Bunda yang tidak bisa dibantah.

Amara duduk di sofa, memegang ponselnya yang terus bergetar karena ucapan selamat dari teman-teman dan guru-gurunya. Ia merasa seperti sedang bermimpi. Ia melirik jam tangan Nicholas yang masih melingkar di pergelangan tangannya—jam yang ia pakai saat ujian.

Ia melepaskan jam tangan itu, lalu menghampiri Nicholas yang sedang duduk di teras samping sendirian, sedang memandangi langit sore.

"Kak..." Amara mengulurkan jam tangan itu. "Makasih ya. Jam tangan ini beneran bawa keberuntungan. Tiap aku buntu pas ngerjain soal, aku denger detaknya dan aku ngerasa Kakak lagi jagain aku di luar."

Nicholas menerima jam tangan itu, namun ia tidak langsung memakainya. Ia justru menggenggam tangan Amara. "Keberuntungannya bukan di jam ini, Ra. Tapi di usaha lo. Jam ini cuma saksi kalau lo nggak pernah menyerah."

Tatapan Masa Depan

Nicholas menatap mata Amara dalam-dalam. "Sekarang lo udah lulus. Lo bakal jadi mahasiswi. Bakal banyak cowok-cowok pinter di kampus nanti yang bakal deketin lo."

Amara tertawa kecil, rasa percayanya dirinya kini jauh lebih kuat. "Terus? Kak Nick takut kesaing?"

Nicholas menyeringai—seringai khasnya yang penuh percaya diri namun kini tanpa nada mengancam. "Nggak akan. Karena mereka cuma liat lo sebagai juara satu sekolah, tapi gue liat lo dari saat lo masih jadi 'malaikat' yang nolongin gue di halte. Saingan gue berat, tapi posisi gue di hati lo nggak akan kegeser, kan?"

Amara terdiam, lalu ia mengangguk pelan sambil tersenyum manis. "Iya. Nggak akan ada yang bisa geser Kakak."

Malam itu, rumah Amara kembali ramai dengan tawa. Sarah datang membawa martabak sebagai kado, dan teman-teman Ryan kembali memenuhi ruang tamu. Di tengah kebisingan itu, Amara duduk di samping Nicholas, merasa sangat utuh. Ia telah memenangkan masa depannya, dan ia juga telah memenangkan hati seorang Nicholas Arisatya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!