NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:56
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Jatuh ke Aspal

Pintu kaca lobi apartemen Pacific Place tertutup dengan bunyi *suction* yang halus namun final. Udara malam Jakarta langsung menyergap kulit Alana, lembap dan berbau asap knalpot, kontras tajam dengan aroma aromaterapi *lemongrass* di dalam gedung yang baru saja mengusirnya.

Alana berdiri mematung di trotoar. Pipi kirinya masih terasa panas, berdenyut seiring detak jantungnya. Tamparan Hendra tadi bukan hanya melukai fisik, tapi meruntuhkan pilar realitas yang selama dua puluh dua tahun menopang hidupnya. Di balik kaca lobi, Pak Asep, satpam yang biasa menyapanya dengan hormat setiap pagi, kini memalingkan wajah. Pria paruh baya itu sibuk berbicara lewat *handy talky*, berpura-pura tidak melihat putri pemilik *penthouse* yang baru saja diseret keluar seperti sampah.

"Pak Asep," panggil Alana. Suaranya serak, tenggelam oleh deru mobil sport yang melintas di jalanan SCBD.

Pak Asep menoleh sekilas, matanya menyiratkan rasa iba yang justru membuat Alana semakin mual, lalu menggeleng pelan. Pesan itu jelas: *Perintah Bapak mutlak. Jangan membuat saya kehilangan pekerjaan juga.*

Alana menunduk, menatap gaun *baby doll* berwarna pastel yang dipaksakan Siska padanya. Gaun itu kini tampak konyol. Kain satin mahal itu tidak dirancang untuk trotoar berdebu, apalagi untuk seorang wanita dewasa yang baru saja kehilangan segalanya. Ia meremas *clutch* kecil di tangannya—satu-satunya benda yang sempat ia bawa.

Ia membuka *clutch* itu dengan tangan gemetar. Isinya menyedihkan: sebuah ponsel dengan baterai 18 persen, satu lipstik *branded*, dan dompet kartu tipis. Tidak ada uang tunai.

Alana mengaktifkan layar ponselnya. Ada belasan notifikasi ucapan ulang tahun dari teman-teman sosialitanya di Instagram, orang-orang yang tadi ada di pesta dan hanya diam saat ayahnya memaki. Alana mengabaikan semuanya dan membuka aplikasi *m-banking*.

*Login Gagal. Hubungi Call Center.*

Ia mencoba kartu kredit. Membuka aplikasi transportasi *online*. Saat ia mencoba memesan mobil, notifikasi merah muncul: *Metode pembayaran ditolak.*

Hendra tidak main-main. Dalam hitungan menit sejak ia diseret dari ruang kerja ke lift, ayahnya telah memutus akses finansialnya. Ini bukan sekadar hukuman; ini adalah blokade total. Hendra ingin Alana merangkak kembali dan memohon ampun di kaki Siska.

"Tidak," desis Alana. Rahangnya mengeras. "Mati pun aku tidak akan kembali."

Ia mengecek saldo dompet digital pribadinya. Sisa tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Uang receh bagi Alana yang dulu, tapi malam ini, itu adalah nyawanya. Ia memesan taksi *online* paling murah, bukan layanan premium yang biasa ia gunakan.

Sambil menunggu, gerimis mulai turun. Titik-titik air membasahi tatanan rambutnya yang disasak tinggi ala boneka. Alana tidak berteduh. Ia membiarkan air hujan menghapus sisa *hairspray* dan bedak tebal di wajahnya. Ia ingin semua jejak pesta terkutuk ini luntur.

Sebuah mobil MPV tua berwarna hitam berhenti di depannya. Supirnya menatap Alana dengan curiga—seorang wanita muda dengan gaun pesta basah kuyup, berdiri sendirian di pinggir jalan SCBD jam satu pagi.

"Sesuai aplikasi ya, Mbak? Ke..." Supir itu menyipitkan mata melihat layar ponselnya. "Gang Kelinci III, Petamburan?"

"Jalan saja, Pak," jawab Alana dingin, masuk ke kursi belakang yang berbau rokok kretek.

Perjalanan itu terasa seperti melintasi dua dunia. Dari gemerlap lampu gedung pencakar langit Sudirman yang angkuh, mobil perlahan masuk ke jalanan yang lebih gelap, lebih padat, dan lebih nyata. Gedung kaca berganti ruko tua. Jalan aspal mulus berganti jalan berlubang yang membuat suspensi mobil tua itu menderit.

Alana tidak punya tujuan lain. Teman-temannya adalah teman ayahnya. Burhan, pengacaranya, tidak mungkin dihubungi jam segini untuk urusan tempat tinggal. Satu-satunya nama yang terlintas adalah Rini.

Mantan sekretaris ayahnya itu tinggal di kawasan padat penduduk di Petamburan. Alana ingat alamat itu dari formulir pesangon yang ia berikan secara diam-diam waktu itu.

Mobil berhenti di depan mulut gang sempit yang hanya muat satu motor.

"Cuma bisa sampai sini, Mbak," kata supir itu.

Alana turun. Sepatu hak tingginya langsung menancap ke tanah becek. Ia melepas sepatu mahalnya, menentengnya di tangan kiri, dan berjalan telanjang kaki menyusuri gang lembap itu. Tikus got seukuran lengan orang dewasa melintas di depannya, membuatnya hampir menjerit, tapi ia menelannya kembali. Ia tidak boleh lemah. Tidak sekarang.

Rumah nomor 14B. Pagar besinya karatan, cat temboknya mengelupas. Ada jemuran pakaian dalam yang masih tergantung di teras sempit. Alana mengetuk pintu kayu itu dengan ragu.

Sekali. Dua kali. Hening.

Alana mengetuk lebih keras. "Mbak Rini? Ini Alana."

Suara kunci berputar. Pintu terbuka sedikit, menampakkan wajah Rini yang polos tanpa *makeup*, matanya bengkak seperti baru menangis, mengenakan daster batik lusuh. Rini membelalak saat melihat sosok di depannya: putri konglomerat Wardhana, basah kuyup, bertelanjang kaki, dengan maskara luntur yang menghitamkan pipi.

"Mbak Alana?" Rini membuka pintu lebih lebar, bingung. "Ya ampun, Mbak kenapa? Ada apa?"

Kaki Alana lemas. Adrenalin yang menopangnya sejak dari *penthouse* mendadak hilang. Ia ambruk ke lantai teras yang dingin.

"Bapak mengusirku, Mbak," suara Alana pecah, bukan karena sedih, tapi karena lelah yang amat sangat. "Siska menang."

Rini terdiam sejenak, memproses informasi itu. Ia melihat sekeliling gang yang sepi, lalu buru-buru menarik lengan Alana. "Masuk dulu, Mbak. Jangan di luar. Nanti tetangga liat."

Di dalam, rumah itu sempit. Ruang tamu merangkap ruang keluarga dan ruang makan. Hanya ada karpet plastik dan sebuah kipas angin yang berputar malas. Rini mendudukkan Alana di atas kasur lipat di sudut ruangan.

"Saya buatin teh hangat," kata Rini canggung. Ia tampak bingung harus bersikap bagaimana pada mantan bos kecilnya yang kini terlihat seperti gelandangan.

"Maaf aku datang malam-malam," kata Alana, menatap kakinya yang kotor oleh lumpur got. "Aku nggak tau harus ke mana. Semua kartuku diblokir."

Rini kembali dengan segelas teh manis panas. Ia duduk di lantai, di depan Alana. "Siska... wanita itu benar-benar setan, Mbak. Setelah saya dipecat, saya dengar dari teman kantor kalau dia langsung minta ruangan saya direnovasi jadi *walk-in closet* pribadi dia di kantor."

Alana menerima gelas itu. Hangatnya menjalar ke telapak tangannya yang beku. "Dia bukan cuma ambil ruanganmu, Mbak. Dia ambil rumahku. Dia tidur dengan papaku di ruang kerja saat pestaku berlangsung."

Rini menutup mulutnya, kaget. "Di ruang kerja?"

Alana mengangguk, tatapannya kosong menatap uap teh. "Aku melihatnya. Aku melabrak mereka. Dan Papa memilih dia."

Suasana hening mencekam. Suara rintik hujan di atap seng terdengar sangat keras dibandingkan di *penthouse* yang kedap suara.

"Mbak Alana bisa tinggal di sini malam ini," kata Rini pelan tapi tegas. "Tapi maaf, kondisinya begini. Saya belum dapat kerjaan baru setelah... kejadian kunci itu."

"Aku akan bayar sewa, Mbak. Nanti. Setelah aku cari cara," janji Alana cepat.

"Uang pesangon dari Mbak Alana waktu itu sudah cukup buat saya hidup tiga bulan ke depan. Anggap saja ini balas budi," potong Rini. Ia berdiri, mengambil handuk kasar dari gantungan. "Mandi dulu, Mbak. Airnya dingin, nggak ada *water heater*."

Alana masuk ke kamar mandi sempit dengan bak mandi plastik berwarna biru. Saat air gayung pertama mengguyur tubuhnya, dinginnya menusuk tulang. Ia menggosok kulitnya kasar, berusaha menghilangkan bekas sentuhan Hendra saat menyeretnya, berusaha menghilangkan bau parfum Siska yang seolah masih menempel di udara.

Ia menangis di sana. Tanpa suara. Air matanya bercampur dengan air bak mandi yang berbau kaporit.

Keluar dari kamar mandi, Alana mengenakan kaos oblong besar milik Rini dan celana pendek. Gaun pestanya tergeletak di lantai seperti bangkai binatang mahal.

"Besok kita pikirkan lagi, Mbak," kata Rini, menggelar sprei tambahan di samping kasurnya.

Alana berbaring. Kasurnya tipis, keras, dan berbau kapur barus. Ia menatap langit-langit rumah yang penuh bercak rembesan air. Di *penthouse*, langit-langitnya dilukis awan-awan bergaya Renaissance. Di sini, hanya ada jamur dan sawang.

Namun, anehnya, Alana merasa lebih aman di sini daripada di istana emas ayahnya. Di sini tidak ada kepalsuan. Tidak ada Siska yang tersenyum manis sambil memegang pisau.

Ia memiringkan tubuh, menatap dinding kusam. Rasa sakit di hatinya perlahan membeku menjadi sesuatu yang padat dan tajam. Hendra berpikir Alana akan hancur dan kembali merengek. Hendra salah.

Alana Wardhana yang manja dan naif sudah mati malam ini, tertinggal di lobi Pacific Place. Yang berbaring di kontrakan sempit Petamburan ini adalah seseorang yang baru. Seseorang yang tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, dan karena itu, dia menjadi berbahaya.

"Tunggu saja," bisik Alana pada kegelapan. "Aku akan ambil semuanya kembali."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!