Raka, seorang arsitek sukses namun kesepian di usia 30-an, menemukan kembali barang-barang lamanya saat hendak pindah rumah. Penemuan ini membawanya menelusuri kembali ingatan tentang Naya—seorang perempuan yang sangat biasa-biasa saja; tidak paling cantik, tidak paling pintar, dan sering terlupakan oleh orang lain. Namun, bagi Raka, Naya adalah satu-satunya anomali dalam hidupnya yang teratur. Cerita ini berjalan dalam dua garis waktu: masa kini (Raka yang mencoba berdamai dengan kehampaannya) dan masa lalu (bagaimana hal-hal remeh bersama Naya membentuk siapa Raka hari ini).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Hujan di Sepatu Kerja
Jarak dari minimarket ke lobi gedung kantor Raka hanya sekitar seratus meter, namun terik matahari pukul satu siang membuat jarak itu terasa seperti perjalanan panjang melintasi gurun. Aspal trotoar menguapkan sisa-sisa hujan semalam, menciptakan aroma aspal basah yang bercampur dengan asap knalpot Kopaja.
Raka melangkah cepat. Kemeja birunya yang sudah disetrika licin tadi pagi kini mulai terasa lembap di bagian punggung. Dia tidak suka sensasi ini—perasaan lengket yang menempel di kulit, mengingatkannya bahwa dia hanyalah satu dari ribuan pekerja yang berjuang melawan gerah di Jakarta.
Pintu kaca otomatis lobi kantor terbuka. Sambutan udara dingin dari pendingin ruangan yang disetel di angka delapan belas derajat langsung menampar wajahnya. Raka menghela napas panjang, membiarkan pori-porinya beradaptasi. Dia menempelkan kartu identitas pada gerbang putar keamanan. *Bip.* Lampu hijau menyala. Rutinitas berlanjut.
Di dalam lift yang membawanya ke lantai dua puluh, Raka berdiri di sudut belakang. Dia menatap pantulan dirinya di dinding logam lift. Wajah itu tampak datar. Tidak ada jejak kesedihan yang dramatis, tidak ada air mata. Hanya wajah seorang pria berusia dua puluh tujuh tahun yang kurang tidur dan baru saja memakan onigiri tuna mayo yang rasanya seperti kertas basah.
Raka merapikan kerah kemejanya. "Oke," gumamnya pelan, nyaris tanpa suara. Mantra harian untuk kembali menjadi robot korporat.
Ketika pintu lift terbuka, suara ketikan *keyboard* dan dering telepon samar-samar menyambutnya. Kantor itu adalah sebuah ekosistem yang teratur. Kubikel-kubikel abu-abu berjejer rapi seperti kotak sepatu. Raka berjalan menuju mejanya, melewati pantri yang menyisakan aroma kopi hangus.
Baru saja ia menjatuhkan pantat ke kursi ergonomisnya, Bayu muncul dari arah berlawanan. Wajahnya merah padam, keringat mengilap di dahinya, tapi senyumnya lebar. Dia membawa aroma bawang goreng dan kuah kaldu yang kuat.
"Parah lo, Ka. Nyesel nggak ikut," kata Bayu sambil mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, mencari angin. "Mie ayamnya lagi *perfect* banget hari ini. Pangsitnya garing."
Raka tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya melibatkan sudut bibir tanpa mencapai mata. "Antre nggak?"
"Banget. Tapi *worth it*," Bayu menarik kursi rodanya mendekat ke kubikel Raka, lalu meletakkan sebuah kantong plastik kecil di meja Raka. Ada logo minimarket terkenal di sana, tapi isinya bukan barang minimarket. "Nih. Gue beliin tahu goreng di depan. Lo tadi cuma makan nasi kepal doang, kan? Mana kenyang buat mikir laporan akhir bulan."
Raka menatap bungkusan berminyak itu. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadanya, bukan karena gorengan itu masih panas, tapi karena gestur kecil Bayu. Bayu adalah tipe orang yang terlalu peduli, tipe orang yang seharusnya Raka hindari agar dinding pertahanannya tidak runtuh. Tapi menolak kebaikan Bayu sama sulitnya dengan menahan kantuk setelah makan siang.
"Makasih, Bay. Nanti gue ganti," kata Raka.
"Elah, dua ribu perak doang pake diganti. Anggap aja sedekah biar gue cepet naik gaji," Bayu tertawa, lalu kembali memutar kursinya ke meja sendiri. "Udah, lanjut kerja. Si Bos kayaknya lagi PMS, email gue dibales pake *capslock* semua."
Raka membuka bungkusan itu. Tahu goreng itu sudah agak layu, minyaknya menempel di plastik. Dia menggigitnya sedikit. Rasanya asin, gurih, dan sangat manusiawi. Jauh lebih baik daripada onigiri dingin tadi.
Jam-jam berikutnya berlalu dalam kabut angka dan sel-sel *spreadsheet*. Raka menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Dia menyukai logika Excel. Jika ada kesalahan, ada rumus yang bisa memperbaikinya. Jika data tidak cocok, dia bisa mencari sumbernya. Semuanya beralasan, semuanya memiliki solusi. Tidak seperti ingatan di kepalanya yang muncul tanpa pola dan tanpa tombol *delete*.
Pukul lima sore, langit di luar jendela kaca gedung mulai berubah warna. Semburat oranye kusam bercampur dengan abu-abu polusi Jakarta. Lampu-lampu jalan mulai menyala, membentuk aliran sungai cahaya merah dan putih di jalan layang.
Raka membereskan mejanya. Dia tipe karyawan yang mejanya selalu bersih sebelum pulang. Bukan karena dia rajin, tapi karena dia tidak suka meninggalkan jejak. Pulpen masuk ke tempat pensil, dokumen masuk ke laci, gelas kopi dicuci dan diletakkan terbalik di atas tisu.
"Balik, Ka?" tanya Bayu yang masih sibuk mengetik.
"Duluan ya, Bay."
"Hati-hati. Awas macet bikin tua di jalan."
Perjalanan pulang adalah ujian ketahanan mental yang berbeda. Raka memilih menggunakan kereta *commuter line* karena lebih cepat, meski itu berarti dia harus merelakan ruang pribadinya diinvasi.
Stasiun Sudirman di jam pulang kantor adalah definisi dari kekacauan yang terorganisir. Ribuan manusia bergerak seperti arus air, berdesakan menuruni eskalator, berlarian mengejar kereta yang pintunya hampir tertutup. Aroma keringat, parfum murah, dan debu stasiun berbaur menjadi satu bau khas yang oleh Raka disebut sebagai "bau kelelahan".
Raka berhasil masuk ke gerbong tiga. Dia berdiri di dekat sambungan gerbong, berpegangan pada tiang besi yang licin oleh tangan-tangan orang lain. Di depannya, seorang bapak paruh baya tertidur sambil berdiri. Di sebelahnya, sepasang muda-mudi berbagi satu *earphone*.
Mata Raka tertuju pada pasangan itu. Si perempuan menyandarkan kepalanya di bahu si lelaki, matanya terpejam. Si lelaki sesekali mengusap punggung tangan perempuannya dengan ibu jari. Gerakan itu begitu kecil, begitu sederhana, namun bagi Raka, itu seperti melihat ledakan bom nuklir dalam gerak lambat.
Ingatan itu datang tanpa permisi.
*Gerbong kereta yang berbeda, tiga tahun lalu. Hujan deras di luar jendela membuat kaca kereta berembun. Dia—gadis itu—sedang menggambar pola abstrak di kaca yang berembun dengan telunjuknya. "Ka, kalau kita tua nanti, kita masih bakal naik kereta nggak ya?" tanyanya waktu itu.*
*"Mungkin," jawab Raka saat itu, masih naif dan penuh harap. "Tapi nanti kita duduk, nggak berdiri kayak gini."*
*Gadis itu tertawa. Tawa yang renyah. "Janji ya? Duduk di kursi prioritas berdua."*
Guncangan kereta saat mengerem di Stasiun Manggarai membuyarkan lamunan Raka. Dia hampir menabrak bapak yang tidur di depannya. Raka bergumam maaf pelan, lalu memalingkan wajah ke arah pintu yang terbuka. Pasangan muda-mudi itu turun, membawa serta kehangatan mereka, meninggalkan Raka yang kembali berdiri sendiri di tengah kerumunan yang asing.
Sesampainya di apartemen studio miliknya, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.
Apartemen Raka bersih. Terlalu bersih. Dindingnya dicat putih polos, tanpa lukisan atau foto. Furniturnya fungsional: satu tempat tidur *single*, satu lemari pakaian, satu meja kerja kecil, dan *kitchen set* minimalis. Tidak ada tanaman hias, tidak ada karpet bulu, tidak ada bantal sofa berwarna-warni. Tempat ini lebih mirip kamar hotel bintang tiga daripada sebuah rumah.
Raka melepaskan sepatu kerjanya dan meletakkannya di rak. Dia menyalakan lampu, lalu segera menutup tirai jendela. Dia tidak ingin melihat lampu-lampu kota lagi malam ini. Cukup sudah.
Rutinitas malamnya sama mekanisnya dengan rutinitas pagi. Mandi air hangat untuk meluruhkan debu Jakarta, memakai kaos oblong yang sudah agak belel tapi nyaman, lalu memikirkan makan malam.
Dia membuka kulkas. Isinya menyedihkan: dua butir telur, sebotol air mineral dingin, dan sisa saus saset dari restoran cepat saji.
"Telur lagi," gumamnya.
Saat dia mengambil wajan kecil dari laci bawah kompor, tangannya menyenggol tumpukan kertas resep dokter yang sudah lama tidak terpakai. Kertas-kertas itu berserakan di lantai.
Raka mendengus kesal. Dia berjongkok untuk memungutinya. Resep obat flu tahun lalu, brosur *laundry*, dan... sebuah pembatas buku.
Gerakan tangan Raka terhenti.
Itu bukan pembatas buku biasa. Itu adalah potongan tiket bioskop yang sudah memudar tintanya, dilaminating dengan selotip bening secara asal-asalan, lalu diberi pita merah di ujungnya. Sebuah kerajinan tangan yang buruk, tapi dibuat dengan niat yang tulus.
Raka duduk bersila di lantai dapur yang dingin. Wajan di tangannya sudah diletakkan begitu saja. Dia memegang pembatas buku itu dengan dua jari, seolah benda itu rapuh dan bisa hancur kapan saja.
Dia ingat hari itu. Mereka menonton film horor yang sangat buruk sehingga penonton satu bioskop malah tertawa di adegan seramnya. Setelah film selesai, gadis itu memungut tiket Raka yang hendak dibuang ke tempat sampah.
*"Jangan dibuang! Ini kenang-kenangan kalau kita pernah nonton film terjelek sepanjang masa,"* katanya waktu itu. Besoknya, dia memberikan tiket itu kembali dalam bentuk pembatas buku ini. *"Buat lo baca buku, biar nggak ngelipet halaman buku lagi. Kebiasaan lo ngerusak buku itu nyebelin, tau."*
Raka meraba permukaan plastik selotip yang kasar. Dia bisa merasakan tekstur pita merah itu. Garis waktu memang terus berjalan maju. Raka sudah berganti pekerjaan, sudah pindah apartemen, bahkan model rambutnya sudah berubah. Tapi benda kecil ini—sampah yang seharusnya sudah hancur di tempat pembuangan akhir—justru selamat dan kini ada di tangannya, menariknya mundur paksa ke masa lalu.
Ada dorongan kuat untuk meremas pembatas buku itu dan membuangnya ke tempat sampah di bawah wastafel. Itu akan mudah. *Tinggal remas, lempar, selesai.* Dia bisa menghapus jejak fisiknya.
Tapi Raka tidak melakukannya.
Tangannya gemetar pelan. Dia meletakkan pembatas buku itu di atas meja makan, jauh dari kompor. Dia bangkit berdiri, menyalakan api kompor, dan memecahkan telur ke wajan. Bunyi mendesis minyak panas memecah kesunyian apartemen.
Raka memasak sambil sesekali melirik ke arah meja makan, memastikan benda itu masih di sana, seolah takut benda itu akan lari. Atau mungkin, dia takut benda itu akan menghilang dan membuktikan bahwa semua kenangan itu hanyalah halusinasi.
Malam itu, Raka makan nasi telur dadar dalam diam. Dia tidak menyalakan televisi. Dia tidak memutar musik. Dia hanya makan, mengunyah perlahan, sambil menatap pita merah kecil yang tergeletak di meja makannya.
Dia menyadari satu hal malam ini: dia bisa saja berlari sejauh mungkin dari warung mie ayam, dia bisa menghindari lagu-lagu pop lawas, tapi dia tidak bisa lari dari fakta bahwa sebagian dirinya masih tertinggal di masa lalu, terperangkap dalam benda-benda remeh yang lupa dia buang.
Setelah mencuci piring, Raka mengambil pembatas buku itu. Dia tidak membuangnya. Dia berjalan ke rak buku kecil di sudut kamar, mengambil sebuah novel tebal yang belum pernah dia selesaikan, dan menyelipkan pembatas buku itu di halaman tengah. Menutup bukunya rapat-rapat.
Menyembunyikannya lagi. Menundanya lagi.
Raka mematikan lampu dan naik ke tempat tidur. Di kegelapan, dia menatap langit-langit kamar yang samar.
"Besok," bisiknya pada kegelapan. "Besok gue akan baik-baik aja lagi."
Tapi malam ini, dia membiarkan dirinya rindu. Hanya sedikit.
***