Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Sore harinya, sesuai janji, Alano sudah siap dengan jaket basketnya di depan rumah Ayra. Namun, suasana hati Ayra tampaknya belum sepenuhnya pulih dari "insiden bubur ayam" tadi pagi. Begitu ia keluar dari pagar dan melihat Alano, Ayra langsung menutup telinganya dengan kedua tangan.
"Lanooo! Siniii! Temenin aku jaaalannn!" Ayra kembali beraksi. Kali ini suaranya dibuat lebih melengking, lebih tinggi, dan lebih bergetar secara dramatis.
Alano hampir saja menjatuhkan helmnya. "Astaga, Ay! Itu suara apaan lagi? Lebih parah dari yang tadi pagi."
"Itu suara Siska, Lan! Menurutku suaranya tadi pagi tuh persis kayak ayam kejepit pintu garasi, tau nggak? Lanooo... Lanooo..." Ayra tertawa geli sendiri, namun matanya masih memancarkan kilatan jahil yang tajam. "Geli banget aku dengernya, sumpah astaga! Kok ada ya orang yang kalau ngomong nadanya kayak tangga nada yang rusak gitu?"
Alano tertawa terbahak-bahak hingga harus berpegangan pada jok motornya. "Ayam kejepit? Kejam banget lo, Ay! Siska kalau denger bisa langsung balik ke Bandung jalan kaki itu."
"Biarin! Habisnya dia nempel terus kayak perangko kurang lem," gerutu Ayra sambil naik ke boncengan motor. "Ayo jalan, sebelum 'ayamnya' bangun dari tidur siang terus nyariin kamu lagi."
Motor melaju menuju pusat perbelanjaan. Sepanjang jalan, Ayra masih beberapa kali menggumamkan parodi suara Siska yang membuat Alano tidak berhenti tersenyum di balik helmnya. Bagi Alano, sisi cemburu Ayra yang dibungkus dengan humor pedas ini jauh lebih menarik daripada sikap kaku Ayra yang dulu.
Sesampainya di toko buku, suasana menjadi sedikit lebih tenang. Bau kertas baru dan keheningan di antara rak-rak buku seolah mendinginkan kepala Ayra yang sejak pagi "panas" karena Siska.
Ayra berjalan menuju bagian referensi pendidikan dan buku-buku administrasi, sementara Alano dengan setia mengekor di belakangnya, membawa keranjang belanjaan seolah-olah dia adalah asisten pribadi sang Sekretaris OSIS.
"Ay, lo serius mau beli buku setebal ini?" tanya Alano saat Ayra memasukkan buku panduan manajemen organisasi yang beratnya hampir dua kilogram.
"Penting, Lan. Buat referensi program kerja semester depan," jawab Ayra serius.
"Sekali-kali beli komik kek, atau novel romantis. Biar otak lo nggak isinya pasal-pasal dan anggaran dana terus," saran Alano. Ia mengambil sebuah novel remaja secara acak dari rak. "Nih, judulnya 'Cintaku Nyangkut di Ring Basket'. Kayaknya cocok buat lo."
Ayra melirik novel itu, lalu menatap Alano dengan malas. "Judulnya norak. Lagian, ngapain baca novel kalau di kehidupan nyata aku udah punya 'objek penelitian' yang jauh lebih aneh?"
"Objek penelitian?" Alano menunjuk dirinya sendiri. "Gue?"
"Iya. Cowok yang rela makan tumpukan kacang demi nggak bikin ceweknya marah. Itu fenomena langka yang perlu diteliti," sahut Ayra sambil menyeringai kemenangan.
Setelah mendapatkan buku yang dicari, mereka duduk di pojok area baca yang disediakan. Ayra mulai membolak-balik halaman buku barunya, sementara Alano hanya duduk memperhatikannya. Cahaya lampu toko buku yang temaram memberikan efek bayangan yang cantik di wajah Ayra.
"Ay," panggil Alano pelan.
"Hm?"
"Kenapa tadi lo sampe segitunya niruin suara Siska? Gue tau lo kesel, tapi kayaknya lo bener-bener... geli?"
Ayra meletakkan bukunya. Ia menopang dagunya dengan tangan, menatap Alano lurus-lurus. "Bukan cuma geli, Lan. Aku cuma takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau suatu saat aku nggak bisa jadi 'asik' kayak dia. Aku ini kaku, Lan. Aku nggak jago ngerayu, nggak jago manggil nama kamu dengan suara manja, aku bahkan sering marahin kamu. Aku takut kamu bosen sama aku yang terlalu serius ini," Ayra mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam, sesuatu yang ia sembunyikan di balik parodi lucunya tadi.
Alano terdiam. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Ayra yang ada di atas meja.
"Ay, dengerin gue. Suara 'ayam kejepit' Siska itu mungkin berisik, tapi suara lo yang lagi marah-marah soal hasduk itu jauh lebih indah di kuping gue. Gue nggak butuh cewek yang manjanya dibuat-buat. Gue butuh lo, Ayra yang apa adanya. Yang galak karena peduli, yang kaku karena punya prinsip."
Alano mendekatkan wajahnya, suaranya kini selembut angin sore. "Jangan pernah bandingin diri lo sama siapapun. Karena di dunia ini, cuma ada satu Ayrania Johan yang bisa bikin kapten basket kayak gue mau dihukum push-up cuma buat dapet perhatiannya."
Ayra merasa matanya sedikit memanas. Rasa geli yang ia rasakan terhadap Siska tadi kini berganti dengan rasa haru yang luar biasa. Ia menyadari bahwa kekhawatirannya selama ini hanyalah bayang-bayang semu. Alano benar-benar menerima segala kekakuannya.
"Janji ya, nggak bakal cari 'ayam' lain?" bisik Ayra, mencoba kembali bercanda meski suaranya sedikit bergetar.
Alano tertawa pelan, lalu ia mengambil pulpen dari saku kemejanya. Ia menarik tangan Ayra dan menuliskan sesuatu di punggung tangan gadis itu.
"Milik Ayra. Jangan Diambil."
"Nih, udah gue kasih label. Jadi kalau ada ayam, kucing, atau macan yang mau deketin gue, mereka tau kalau gue udah ada yang punya," ucap Alano bangga.
Ayra melihat tulisan itu dan tidak bisa menahan tawa. "Lano! Malu tau, kayak anak TK!"
"Biarin. Anak TK yang paling bahagia sedunia," balas Alano sambil mengedipkan mata.
Sore itu, di antara ribuan buku, Ayra menuliskan sebuah bab baru dalam hatinya. Bab di mana ia tidak lagi perlu berpura-pura menjadi orang lain hanya untuk dicintai. Dan soal Siska? Bagi Ayra, suara itu tetaplah suara "ayam kejepit", tapi sekarang suara itu tidak lagi mengganggunya, karena ia tahu siapa yang memegang kunci kandangnya.