Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9Awal yang Baru
Beberapa bulan kemudian.
Kehidupan di California terasa sangat berbeda bagi Amara. Kini ia tidak lagi memakai dress pink yang terbuka. Ia tampil anggun dengan jilbab berwarna pastel yang senada dengan wajahnya yang kini tampak lebih bercahaya dan tenang.
Sore itu, mereka kembali ke pantai tempat pertama kali mereka bertemu. Bukan sebagai dua orang asing yang tidak sengaja bertabrakan, melainkan sebagai sepasang suami istri.
"Mas Hannan," panggil Amara—ia sekarang memanggil Hannan dengan sebutan 'Mas'.
Hannan yang sedang memperhatikan ombak menoleh. "Iya, Sayang?"
"Dulu, aku pikir tabrakan kita di pantai ini adalah kecelakaan paling sial dalam hidupku karena aku sedang ketakutan dikejar Papa. Tapi sekarang aku sadar, itu adalah cara Allah 'menabrakkan' takdirku dengan takdirmu agar aku bisa pulang," ucap Amara tulus.
Hannan tersenyum, senyum paling indah yang pernah Amara lihat. Ia menggenggam tangan istrinya dengan erat.
"Allah itu sebaik-baiknya perencana, Amara. Aku datang ke Amerika untuk mencari ilmu, tapi ternyata Allah juga memberiku amanah untuk menjagamu. Mari kita teruskan perjalanan ini, bukan hanya sampai di pantai ini, tapi sampai ke surga-Nya."
Di bawah langit senja Santa Monica yang berwarna keemasan, Muhammad Hannan dan Amara Nagita Slavina melangkah bersama, memulai babak baru kehidupan mereka yang penuh keberkahan
***
Matahari pagi menyusup malu-malu lewat celah jendela apartemen Hannan yang sederhana di Los Angeles. Amara terbangun dengan perasaan yang sangat asing. Biasanya, ia bangun dengan rasa cemas akan ancaman Bastian, namun pagi ini, yang ia dengar adalah suara gemericik air wudhu dan lantunan ayat suci yang sangat lembut dari ruang tengah.
Amara beranjak dari tempat tidur. Ia melihat Hannan sedang duduk di atas sajadah, masih mengenakan sarung dan baju koko putihnya.
"Mas Hannan?" panggil Amara ragu.
Hannan menoleh, lalu menutup mushaf kecilnya. Ia tersenyum sangat tulus. "Sudah bangun? Maaf kalau suara Mas mengganggu tidurmu."
Amara menggeleng cepat. "Tidak, Mas. Suaranya justru sangat menenangkan. Tapi... aku merasa bersalah. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku belum bisa salat, aku belum bisa mengaji..."
Hannan berdiri, ia menghampiri istrinya namun tetap menjaga jarak yang sopan meski mereka sudah sah. Ia mengerti, Amara butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan identitas barunya sebagai seorang Muslimah dan seorang istri.
"Amara, menikah itu bukan tentang siapa yang sudah sempurna, tapi tentang siapa yang mau belajar bersama. Hari ini, Mas akan ajarkan kamu gerakan salat yang paling dasar dulu, mau?"
Mata Amara berbinar. "Mau, Mas!"
"Tapi sebelum itu," Hannan melirik ke arah dapur. "Sepertinya Mas gagal membuat sarapan. Mas hanya bisa membuat telur ceplok yang sedikit gosong."
Amara tertawa lepas. Ini pertama kalinya Hannan melihat istrinya tertawa tanpa beban. "Biar aku saja yang masak, Mas. Meski aku belum mahir agama, kalau urusan dapur, aku bisa diandalkan."
Saat Amara sibuk di dapur, Hannan memperhatikannya dari meja makan. Ada kebahagiaan tersendiri melihat rumah yang biasanya sepi kini terasa lebih hidup. Namun, tiba-tiba ponsel Hannan bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Pernikahanmu tidak akan bertahan lama, Hannan. Kau menikahi seorang pelarian yang memiliki rahasia besar yang belum kau ketahui.”
Senyum Hannan memudar. Ia menatap Amara yang sedang bernyanyi kecil sambil menggoreng telur. Rahasia apa yang dimaksud pesan itu?